Besi tipis itu terasa sangat dingin di leher Asih. Apa yang harus aku lakukan. Asih berusaha berpikir jernih, tas serta handphone ia tinggalkan di dalam mobil. Semua orang tak ada yang berani mendekat.
❄❄❄❄❄❄❄❄❄❄❄❄
Sebuah tangan besar dan dingin membekap adit dari belakang tanpa sepengetahuan dirinya, membuat pisau yang hampir menggores leher mulus Asih terlepas begitu saja. Layaknya bermain boneka dirinya memelintir Adit ke belakang, kemudian menlumpuhkannya dalam satu kali gerakan.
Bukan sebuah ancaman besar baginya, pisau kecil untuk bermain masak masakan bukan lah tandingan dirinya. Jika saja hati nuraninya tak gelisah, maaf saja ia ikut campur urusan asmara orang lain.
Cekalan itu terlepas, refleks Asih menjauh dari Adit. Ketika ia menoleh ke belakang, tatapan keduanya bertemu. Pria itu melihat Asih dalam diam. Adit memberontak membuat pria itu sadar apa yang membawanya kemari, " Lepaskan saya, siapa anda. Jangan ikut campur urusan orang lain. " Bentak Adit tak Terima.
" Jayden, ingat nama itu baik baik. Anda menganggu Ketertiban mall disini, membuat jalanan begitu ramai. Segerahlah pergi dari sini sebelum aku berubah pikiran dan menjebloskan anda ke dalam penjara. " Jelas Jayden tegas
Asih terkejut mendengar apa yang di katakan oleh pria berpakaian serba hitam di depan nya ini. Namun ia hanya diam tak mengucapkan sedikit kata apa pun . Aura yang di pancarkan lelaki itu amat pekat, dingin dan tampan di saat yang bersamaan.
Adit mengaku kalah kali ini, ia berdiri dan menatap tajam Asih sebelum undur diri.
Sepeninggal Adit, asisten Jayden mengusir semua orang yang membuat keramaian. Asih mendekat kearah Jayden yang sibuk dengan handphone nya.
" Permisi, terimakasih pak telah menyelamatkan saya. " Ucap Asih sedikit membungkuk.
Jayden sedikit melirik Asih yang berbicara dan tersenyum ke arah nya. " Hemm... " Hanya itu kata yang keluar dari mulut Jayden.
Bagaimana ada orang sedingin ini. Apakah kata kata ku kurang sopan. Batin Asih.
" Maaf Pak, sebagai rasa terimakasih. Bagaimana jika saya mentraktir bapak makan siang. " Untuk kedua kalinya Asih berkata sangat sopan serta menawarkan jamuan terimakasih.
Jayden sekali lagi melirik Asih, namun kali ini tatapan nya sangat menusuk, " Apakah saya setua itu hingga mengharuskan Anda memanggil saya dengan sebutan bapak. " Balas Jayden sinis.
Satu, dua, tiga, Asih tak dapat mengeluarkan suaranya. Aura serta tatapan pria berbaju serba hitam ini mampu membuat kakinya bergetar hebat.
Jayden mengulurkan tangannya, " Jayden. "
" A... Asih. " Jawab Asih setelah menyambut uluran tangan Jayden.
" Bukankah Anda bilang ingin mentraktir saya makan, kebetulan saya sedang lapar. Jadi... Dimana kita akan makan siang. " Sindir Jayden matanya menerawang setiap restoran yang berdiri kokoh di halaman depan mall.
Asih tergagap, ia menelan slavinanya dengan amat berat.
" Oh.. Ah... Itu saja, restaurant Korea. Ya, makanan disana enak. Apakah bap... Oh sorry. Apakah anda tak masalah jika makanan Korea? " Asih melirik raut wajah Jayden.
Asisten Jayden yang mendengar restaurant Korea menyipitkan matanya, ia memandang sang Tuan.
Jayden berjalan dengan santai " Baiklah. Lin hubungi rayen bilang padanya aku akan sedikit terlambat. " Jayden melempar tatapan perintah ke colin asisten pribadi nya.
Asih speechless melihat sang asisten melakukan perintah tuannya dengan sangat patuh. Tanpa bantahan, tanpa balik bertanya seperti kebanyakan orang, dan tanpa sedikit pun menunjukan ketidaksukaan.
" Apa anda akan diam saja disana. Berdiri layaknya patung, aku tak membawa dompet, dan sekarang perut ku sangat lapar. " Jayden menyadarkan lamunan Asih.
Asih tergagap kedua kalinya, ia segera berlari ke mobil dan mengambil tas di sana. Lalu segera menyusul Jayden yang hampir sampai di pintu restaurant.
......
Pesanan mereka telah terhidang, berbagai macam daging dan sayur, tersedia di atas meja. Colin asisten Jayden juga ikut bergabung setelah Asih sedikit memaksanya.
Tangan Colin begetar hebat saat menyumpit daging di atas panggangan, Jayden melirik tajam ke arah nya. Dengan sigap ia kembali profesional. Ini kali pertama Colin duduk semeja dengan sang majikan, membuatnya takut sekaligus gugup.
Sepanjang acara makan siang, semuanya hening. " Apakah anda tadi terluka? " Tanya Asih basa basi mencoba mencairkan suasana.
" Tidak, " Hanya itu.
" Terimakasih telah menyelamatkan saya tuan, " Ucap Asih lagi.
Jayden meletakan sumpit nya dan menatap Asih " Ini sudah yang ke tiga kalinya anda mengatakan terimakasih, haruskah saya menjawab sama sama, lalu anda bisa berhenti mengatakan terimakasih , lagi. " Skak mat.
Apakah perkataan ku kelewatan, hingga membuatnya marah. Benak Asih bertanya tanya.
" Maaf. " Satu kata penutup sebelum Asih diam seribu bahasa.
" Jadi, siapa pria yang hampir memotong leher mu itu? "
Asih terbatuk batuk mendengar kata memotong leher yang keluar dengan santai dari mulut Jayden.
Jayden menyerahkan segelas air minum, yang langsung di sambut oleh Asih. Ia meminum nya hingga tandas.
" Dia, pria gila yang tak sengaja nyasar masuk ke salon saya. " Jawab Asih menutupi fakta sebenarnya.
Jayden mengangguk anggukan kepalanya, " Pria gila. Ya sedikit terlihat tidak waras. " Ucap Jayden sembari
mengelap sisa sisa saos di permukaan bibirnya yang seksi.
Jauhkan pikiran kotor itu, jauhkan pikiran kotor itu Asih . Asih bergumam di dalam hati.
Tak ada lagi percakapan, hingga semua makanan lenyap. Jayden beserta asisten keluar dari restaurant meninggalkan Asih seorang diri.
Lagi - lagi, membuat asih terbengong. Tak ada kata terimakasih, tak ada basa basi. Pergi begitu saja. Sesulit itukan mengatakan Terimakasih sudah mentraktir makan siang, huhf.... Yang penting balas budi ini telah impas. Bisik asih dalam hati.
Asih berjalan pelan menuju meja kasir, ia hendak mengeluarkan dompetnya, " Maaf miss, pesanan meja 10 billnya sudah di bayar. Dan ini titipan yang di tinggalkan. Terimakasih " Ucap kasir restaurant sopan.
Di bayar, ya ampun... Bahkan tadi aku mengatainya tidak tau terimakasih. Lagi lagi Asih bergumam dalam hati.
Ia menerima name card, yang hanya tertulis nama serta no telpon di atasnya. Aneh, apa maksud nya ini. Apa aku harus menghubungi nya untuk membayar bill makanan siang ini. Ia segera menyimpan name card itu ke dalam tas, tanpa menghubungi nomor yang tertera.
Aku tak ingin berurusan dengannya lagi, membuat aura serta diriku merasa terintimidasi. Pikir Asih merinding.
............
Jayden yang mengintip dari balik mobil menghembuskan nafas kasar melihat Asih menyimpan kembali name card yang sengaja di tinggal kan nya.
" Kembali ke perusahaan tuan? " Tanya Colin
Lama Jayden menjawab, dirinya fokus melihat Asih yang menyebrang jalan dari kejauhan.
Sebenarnya sebelum Jayden keluar dari pusat perbelanjaan itu, dirinya telah makan siang bersama beberapa klien yang akan menanam saham di beberapa perusahaannya. Entah karna dorongan apa membuatnya mengiyakan permintaan wanita yang baru di temuinya ini. Wanita dengan mata yang sangat berbinar. Wanita pertama yang mampu menarik seluruh fokusnya.
" Jalan sekarang. " Perintah Jayden sulit di bantah.
Mobil Jayden pergi membelah jalan raya.
.....
Dreeet.. Dreeet... Drettt.. Dreeettt...
2 panggilan tak terjawab menghentikan Asih melakukan aktifitas nya, menyalakan mesin mobil.
Panggilan ketiga Asih mengankatnya, nama Siska adik Ratna tertera disana.
[ " Assalamu'alaikum sis, " Jawab Asih. ]
[ ka tolongin ka Ratna ka. Ka Ratna jatuh dari tangga ka... Hiks... Hiks... Bayi nya... Bayinya pendarahan ka... ] jerit Siska di seberang telpon.
Dug dag dug,... Jantung Asih serasa di pacu berlari jarak jauh.
Ia segera Menstarter mobilnya, melaju dengan kecepatan gas yang entah sudah habis di injaknya. Sepanjang jalan Asih merapalkan banyak doa. Tiara yang menunggunya di rumah, bahaya jalanan kecelakaan tak di gubris nya.
Tepat di halaman rumah Ratna, tiara segera membanting pintu mobilnya. Ia berlari secepat kilat menerjang apa yang menghalanginya.
Hingga ia melihat Ratna yang sudah terduduk di sudut tangga tak berdaya.
Asih yang di bantu oleh Siska mengotong Ratna masuk ke dalam mobil, banyak pertanyaan muncul di kepala asih.
Seperti, dimana suaminya. Mengapa ia bisa jatuh, mengapa suaminya tak ada di tempat, dan masih banyak lagi.
Namun keselamatan Ratna lebih utama di banding segalanya. Asih memacu mobilnya membela jalan raya, menuju rumah sakit terdekat.
Sampai di UGD, Ratna di pindahkan ke bangkar, jeritan ketakutan Siska menambah kepanikan semua orang, hingga Ratna di masukan ke dalam sebuah ruangan.
Siska yang menggis ketakutan dan Asih terduduk lemas di tembok rumah sakit.
❄❄❄❄❄❄❄❄❄❄❄❄❄
bela belain begadang demi up 😁😁😁
Vitamin othor jangan lupa ya kk. biar tambah semangat..
tab love
vote
comment
+ favorite
hehe
mksi kk semua
live you all 🥰
sehat selalu ya ka 🙏🏻😘
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 39 Episodes
Comments
ciru
cakep
2023-07-30
0
kavena ayunda
wah david ada saingan mafia.kayaknya😂🙄
2022-12-13
0
Sarah
yg sering up y thor
2022-03-02
0