( Asih pov)
Setelah sholat subuh, mbak Ratna menelpon jika hari ini akan mengajak ku mengunjungi bangunan yang akan jadi cabang dari salon yang mana mbak Ratna menyuruhku mengelolanya.
Sesudah masak dan sarapan, aku mengantar tiara ke sekolah.
" Mama, tiara suka mobil ini " Ucap anak ku yang sudah duduk di dalam mobil.
" Nanti kalo tiara sudah besar, mama beliin satu buat tiara " Raut wajah bahagianya membuat hatiku ikut bahagia.
" Beneran ma?, horeee " Teriaknya.
" Nanti kalo tiara sudah punya mobil, tiara mau ajak mama jalan jalan keliling dunia " Sambung tiara.
" Beneran, tiara tau dari mana keliling dunia ? "
" Iya, ibu guru bilang kalo sudah besar, harus membahagiakan orang tua. Contohnya jalan jalan keliling dunia, nanti kalo tiara sudah besar tiara mau ajak mama, tapi tiara gak mau ajak papa. Papa gak sayang sama tiara, jadi tiara gak mau ajak papa jalan " Jelasnya dengan wajah merengut.
" Papa kan orang tua tiara, mama kan sudah bilang tiara gak boleh jahat sama papa "
" Iya ma, tapi tiara tetap gak suka sama papa " Ku usap kepala anak ku.
Kumatikan mesin mobil tepat di depan gerbang sekolah tiara. Ku lepaskan safety belt nya. Dan menampung wajah mungil tiara menggunakan kedua tangan ku.
" Tiara, kan mama sudah bilang, kalo papa tetep papa nya tiara, jadi tiara gak boleh kurang ajar ya. Kalo nanti tiara sudah besar, tiara juga harus berbakti sama papa. Oke sayang ". Tiara tidak menjawab hanya mengangguk mengiyakan ucapan ku. Ku kecup kening nya sebentar, dan kami turun dari mobil.
Tiara berlari sambil melambai ke arah ku, " Nanti mama jemput nak " Teriak ku, sebelum ia masuk ke dalam kelas.
Ibu muda yang saat itu mengatakan jika aku adalah pembantu mas Adit, ia memandang tak percaya kepadaku yang pergi menaiki mobil meninggalkannya.
..................................
Mbak Ratna melambaikan tangannya, ketika melihat mobil ku mendekat.
" Assalamu'alaikum mbak " Ucap ku setelah di samping nya.
" Waalaikum salam sih " Jawab mbak Ratna.
Kami menatap ruko tiga lantai yang ada di depan pusat perbelanjaan modern, " Asih, mbak sudah tanda tangan kontrak ruko yang di depan sana " Tunjuk mbak Ratna ruko berwarna pink baby.
Ruko tiga lantai itu sangat bagus, dan feminim namun tidak mengurangi kemewahan struktur bagunan nya, " Bagus banget mbak " Balas ku.
" Ayo kita liat lebih dekat sih, mbak yakin kamu pasti suka. Kawasan ini selalu ramai, belum lagi ini di pusat kota. Mbak sudah dari dulu ngincer daerah sini sih, emang rejeki kamu sangat bagus" Papar mbak Ratna.
Mbak Ratna membuka rolling door ruko ini, bagian dalamnya becat putih pink, sangat indah. Lantainya kermik bercorak cantik, belum lagi pintu kaca yang menambah kesan elegand. Mbak Ratna benar, aku sangat menyukai ruko ini.
" Liat mata mu, berbinar binar " Ucap mbak Ratna, lantas aku memeluk tubuh langsing mbak Ratna.
" Terimakasih mbak " Bisik ku pada mbak Ratna.
" Iya sama sama, kuncinya mbak pegang dulu. Masih mau di isi, kemungkinan minggu depan baru mulai operasi. Gimana kamu suka kan? " tanya mbak Ratna yang kubalas anggukan kebahagiaan.
" Suka banget mbak " Jawab ku yang tak kuasa menahan senyum.
" Untuk foto baner nya, kita pake foto mu aja gimana? Kan kamu udah lumayan terkenal di youtube. "
" Iya mbak, Asih gak masalah. "
" Gimana youtube kamu sekarang? , masih sering upload video, jangan bilang gak tau loh ya, mbak setengah mati ngajari kamu bikin video, "
Aku cengengesan " Masih mbak, pengikut asih tambah banyak. Asih juga sekarang lagi nulis novel, baru tanda tangan kontak kemarin. Rencananya asih juga mau jual buku disini mbak. "
Mbak Ratna menepuk bahu ku " Terserah kamu sih, ini kan juga kamu yang ngelola nya. Mbak mau pensiun, mbak pengen punya anak ".
Ku rangkul bahu mbak Ratna " Asih do'ain semoga mbak cepet dapet dedek bayi, biar mbak bisa ngerasain bahagianya ada sesuatu yang hidup di sini " Ku elus perut mbak Ratna.
Ia tersenyum pada ku. " Amin " Ucap kami berdua.
Kami menutup lagi ruko itu, dan mbak Ratna menemani ku melihat perumahan yang akan ku beli.
Sudah tiga perumahan yang kami kelilingi, namun hasilnya nihil. Tak ada yang kosong, hari semakin siang. Ku putuskan untuk menjemput tiara dulu, dan mengantar mbak Ratna pulang.
" Yakin kamu mau pulang? " Tanya mbak Ratna.
" Iya mbak, mbak itu gak boleh capek. Asih juga sekalian mau jemput tiara sekolah, "
" Kamu enak ya sih, sudah lepas dari mertua julid mu itu. Mbak capek di guguhin mertua biar cepet cepet punya anak, hampir tiap datang kerumah di bilang mandul " Astaga ku pikir selama ini mbak Ratna hidup tenang, karna tak pernah ia curhat masalah rumah tangga nya pada ku.
Ku tepuk pelan punggung mbak Ratna " Sabar mbak, kalo kita ikhtiar dan berusaha pasti yang maha kuasa menjabah doa kita mbak. Mbak sudah berobat ke dokter? " Tanya ku hati hati
" Sudah sih, kami berdua sehat subur. Cuma ya belum di amanahin buat punya anak, segala cara sudah di coba. Bahkan ke dukun pun sudah."
Aku sedikit terkejut, karna aku tidak percaya yang sejenis dukun " Maaf mbak tapi kenapa ke dukun, bukannya itu musyrik mbak. "
" Mbak tau sih, mertua mbak yang maksa. Mbak di paksa cerai kalo gak mau nurut. Mbak masih cinta sama suami mbak, dia gak pernah nuntut apa pun sih, walaupun mbak tau kalo suami mbak juga pengen gendong anak, " Bulir bening jatuh dari kelopak mbak Ratna. Ku ulurkan sebungkus tisu padanya.
" Menangis lah mbak, terkadang saat kita menangis batu ganjalan hati ini lega. Beban terasa ringan, maaf selama ini asih kurang perhatian mbak, asih gak tau kalo beban mbak seberat ini, " Aku ikut meneteskan air mata mendegar penuturan mbak Ratna.
Lika liku rumah tangga, terkadang membawa kehangatan tapi tidak sedikit menggores luka yang sangat dalam hingga rasa sakit itu mengalahkan rasa cinta. Mengakibatkan bahtera rumah tangga hancur melalui perpisahan.
" Bukan salah mu sih, mbak sebenarnya gak mau ceritain aib keluarga. Tapi mbak sudah gak kuat lagi, mbak butuh teman curhat. Sebenarnya mbak juga sudah pasrah, sepuluh tahun pernikahan, sudah kebal telinga ini dengar caci maki mertua, sampe mbak pernah ngizinin suami mbak menikah lagi. Tapi dianya gak mau, " Isak mbak Ratna.
ku sapu pelan punggung Mbak Ratna.
ternyata masih ada lelaki seperti itu di dunia ini. Suami mbak Ratna sungguh jauh berbeda dari mas Adit, membuat ku sangat kagum akan rasa cinta nya kepada mbak Ratna.
" mbak sangat beruntung, mempunyai suami yang sangat mencintai mbak. Sekarang kan mbak sudah program bayi tabung, biar asih bawa mbak dalam doa, semoga program bayi tabung ini berhasil " Ku aminkan dalam hati.
Mbak Ratna menghapus sisa air mata yang di tumpahkan bersamaan dengan ganjalan di hatinya.
" Makasih asih, mbak juga beruntung ketemu kamu, gak pernah terbayang bisa bayar program bayi tabung yang mahal ini. Kita itu sama sama menguntungkan, liat mbak juga beruntung. Jangan kamu aja yang sering bilang terimakasih, " mbak Ratna tersenyum ke arah ku.
Ternyata rencana Tuhan baik untuk semuanya, bukan suatu kebetulan aku bertemu dengan mbak Ratna. Alur yang di siapkan Tuhan, dan pelangi setelah badai semua itu nyata adanya. Terimakasih Tuhan, terimakasih.
" Mbak jangan sedih, kalo ada apa apa asih siap bantu, mbak tinggal bilang aja. Asih sudah anggep mbak itu mbak kandung asih, mbak harus semangat. Gak boleh banyak pikiran, biar program nya berhasil, " Sambung ku sebelum mbak Ratna turun dari mobil.
" Asih jadi bawel ya sekarang. Tapi mbak suka, hehe.. Makasih sayang. Hati hati ya, " Ucap mbak Ratna yang melambai kepadaku.
Ku balas lambaian mbak Ratna, kemudian melajukan mobil ini menjemput malaikat kecil ku.
Lima belas menit sudah aku menunggu di depan gerbang sekolah tiara, dan tak lama bunyi bel sekolah nya berbunyi menandakan para siswa boleh pulang.
Tiara berlari ke arah ku, ku peluk malaikat kecil ku ini. Tak lama terdengar bunyi motor yang sangat ku kenal suaranya. Mas Adit bersama istri barunya berdiri di depan kami.
" Mau apa kamu mas? " Tanya ku was was.
" Aku mau menjemput tiara, ibu kangen padanya, " Jawabnya yang telah turun dari motor.
" Sejak kapan ibu mu peduli sama tiara, itu hanya akalan mu ingin memisahkan ku dari tiara, " Balas ku dengan tatapan tajam.
Ia hendak menarik tangan tiara, namun tiara berlari ke belakang badan ku.
" Tiara ayo kita kerumah nenek, " Ajak nya membujuk anak ku dan mengabaikan perkataan ku barusan.
" Tidak, tiara tidak suka papa, tiara tidak suka nenek. Papa jahat, nenek jahat. " Teriak tiara dari belakang badan ku.
" Apa yang kamu katakan kepadanya Asih, tiara itu anak ku. Darah daging ku... "
" Tiara memang darah daging mu, tapi dia punya hak memilih untuk tinggal dengan siapa yang dia mau, sejak kapan kamu peduli pada anak mu. Bahkan uang sekolah tiara tak pernah kamu bayarkan mas, tubuh kurusnya pun tak pernah kamu indahkan. Jangan sok peduli, membuat ku semakin jijik melihat mu, " Maki ku akhirnya.
wajah tak senang mas Adit setiap kali aku membalas omongan yang di lontarkan nya dengan kasar tercetak jelas disana.
' Jangan harap kamu bisa mengambil tiara dari ku mas. Langkahi dulu mayat ku ' kesal ku dalam hati.
Ia hendak melayangkan tangannya, aku memejamkan mata.
Satu, dua, tiga. Kok gak sakit.
Ku buka mata ini.
ternyata suami mbak Ratna menggenggam tangan mas Adit.
" Saya tidak bisa diam melihat seorang wanita di sakiti oleh pria, apalagi itu adalah mantan, " Suara barinton suami mbak Ratna terdengar tegas, wajar saja suami mbak Ratna adalah anggota TNI . Badan nya lebih tinggi dan lebih besar dari mas Adit.
Mas Adit mundur selangkah " Siapa anda, jangan mencampuri urusan rumah tangga saya, " Teriaknya menunjuk wajah suami mbak Ratna.
Mbak Ratna yang berdiri di samping ku terlihat sangat geram " Dasar lelaki gak tau malu, urusan rumah tangga apa ? , asih sudah kamu ceraikan, statusnya bukan lagi istri mu. jangan mengada ngada, mau apa kamu hah. Mau nampar asih, sekali kamu menyakiti nya. Akan ku laporkan kalian sekeluarga ke polisi, biar di jebloskan ke penjara. Rekaman ibu mu saat itu cukup menjadi buktinya, bahkan aku sudah merekan dirimu yang hendak menampar asih. Ayo hajar dia mas, gerem aku. " sentak mbak Ratna membuat mas Adit bungkam.
aku bersyukur dalam hati, Tuhan mengirimkan seseorang untuk membantu ku.
Mas Adit mendelik tajam ke arah ku, ku balas tatapan itu lebih tajam lagi. Sedangkan dahlia hanya terdiam di tempat, kemudian mereka menghidupkan motornya lalu pergi dengan raut wajah marah.
" Makasih mbak, mas sudah menolong Asih, tapi kok bisa ada disini mbak? " Tanya ku yang sedikit bingung.
" Mbak mau beli bubur sum sum, dari jauh liat kamu adu mulut sama mantan suami mu itu, jadi mbak suruh mas mu nyamperin. Untung tepat waktu, kamu kok mau di tampar diem aja. Di lawan, jangan mau di gituin. kalo kamu kesel, tendang aja anu nya. " cerocos mbak Ratna.
" Dek, " Panggil suami mbak Ratna.
" Cuma ngasih tau mas, adek gak mungkin peraktekin ke mas, kecuali mas selingkuh, " Aku dan mbak Ratna tertawa bersamaan.
🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸
Mohon dukungannya kakak 😘
Dan jangan lupa untuk meninggalkan jejak
Tab vote, love and comment
Biar author semangat update 🙏🏻😁
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 39 Episodes
Comments
ciru
cakeep
2023-07-30
0
Bhebz
wah anunya?
2022-03-22
0
Sukarmi Iskandar
hahaha ada ada aja ini othor
2021-11-17
0