( Author pov)
Setelah cukup dekat, Asih menoleh " Mas Adit, " Bisiknya.
Secepat kilat ia menoleh kan kembali wajah nya yang telah bercucuran air mata itu.
Mau apa dia kesini. Ucap Asih dalam hati.
Asih kembali melihat buah hatinya, terbaring lemah, bahkan genggaman tangan nya yang semula kuat kini terlepas.
Tak lama selepas kepergian reno dan dewi, tiara kejang kejang. Asih yang sedang mengusap pelan kepala tiara terkejut bukan main. Ia berlari secepat mungkin menuju ruang perawat, kepanikan membuatnya lupa jika pihak rumah sakit menyediakan tombol emergency di setiap kamar.
Setelah di periksa secara cepat, dokter mengatakan jika tiara harus di pindahkan ke rumah sakit yang lebih besar, karena peralatan di sana lebih memadai dari rumah sakit yang di pijak nya sekarang.
🌸🌸🌸
" Dek, tiara kenapa? " Tanya Adit setelah ia mengatur laju nafasnya.
Belum sempat asih menjawab mobil ambulan berhenti tepat di depan mereka, membuat mereka beserta para perawat sibuk memindahkan tiara ke dalam mobil.
" Dok.. " Panggil asih parau, menghentikan dokter yang hendak meninggalkan mereka saat mobil ambulan akan di tutup.
" Saya tau kegelisahan ibu, saya sudah menghubungi pihak rumah sakit di sana untuk segera memberikan tindakan atas anak ibu tiara. Ibu jangan risau, teruslah berdoa. Saya akan segera menyusul, dan akan terus memantau, " Tukas dokter secara cepat, Asih mengangguk pasrah.
Pintu ambulan di tutup, asih menggenggam tangan mungil tiara. Ia terkulai lemas sekali di bankar ambulan, entah sudah berapa banyak air mata yang di tumpahkan Asih sejak tadi pagi, seakan sumber air mata itu tak pernah kering. Pekikan klakson ambulan menambah rasa cemas di relung hati Asih, hingga kesadaran kembali menerpa nya kala Adit meggenggam sebelah tangan Asih.
Ia baru teringat jika saat ini Adit juga turut duduk di ambulan, dan tepat di kursi sebelahnya.
Secepat kilat Asih menarik tangannya, " Apa yang kamu lakukan mas, kita bukan lagi muhrim," Betak Asih seraya menepis tangan Adit yang berusaha meraih tangannya.
" Maaf, aku hanya ingin memberikan mu ketenangan, dek, " Sahut Adit yang di balas tatapan garang Asih.
Asih menggeser tubuhnya sedikit menjauhi Adit yang sejak tadi duduk mendekat kearahnya, " Aku tak butuh, berhentilah membuat ku muak dan jijik akan tingkah laku mu, mas. Dan satu lagi berhentilah memaggilku dengan sebutan dek, kita tak punya hubungan apa pun yang membuatmu berhak memanggilku dengan sebutan itu," Sarkar Asih di sela kecemasan nya.
Adit menunduk dan memandang tangannya " Maaf sih, aku hanya ingin mengatakan aku menyesal melepasmu, kamu wanita yang baik. Apakah aku masih memiliki kesempatan.... "
" Berhentilah membual mas, aku tidak dalam kondisi yang waras untuk meladeni bualan mu. Diam atau turun dari ambulan ini, " Sentak Asih menyela perkataan Adit.
Sentakan Asih mampu membungkam mulut manis Adit. Ia diam seribu bahasa, mata nya sibuk memandang tiara yang terkulai lemas, sesekali ia melirik ke luar jendela ambulan. Semua mobil menyingkir kala mobil ambulan ini melaju di sibuknya lalu lalang jalan raya, ciri khas suara ambulan serta klakson yang sejak tadi tak pernah berhenti membuat semua orang menyingkir tanpa perlu berteriak teriak dan memaki pengendara yang tak mau menyingkir.
Disaat hati Asih gunda gulana memikirkan nasip buah hatinya, lain lagi yang di pikirkan Adit. Ia menyusun rencana untuk kembali mendapatkan hati Asih. Ntah hanya di mulutnya saja yang mengatakan menyesal karena pertengkaran pertamanya dengan dahlia atau dari lubuk hatinya yang terdalam ia mengatakan menyesal telah melepas Asih dan mengharapkan kesempatan kedua.
Tak ada yang di pikirkan Asih saat ini kecuali kesembuhan dan pemulihan tiara. Perkataan Adit barusan di anggap nya angin lewat, hembusan semata. Hatinya cemas, apa yang terjadi pada buah hatinya ini. Pasalnya tiara hanya terjatuh dari pohon, jika cidera kaki yang di Terima nya itu alami masih masuk akal, tapi ini kejang kejang. Sangat tidak masuk akal. Perasaan cemas yang melingkupi hatinya membuatnya tak tenang, ia menggengam kuat baju atasannya, keringat dingin bercampur menjadi satu dengan air matanya.
Mulutnya terus komat kamit merapalkan doa, berharap kesembuhan malaikat kecilnya.
Mengapa rumah sakit ini terasa sangat jauh, keluh Asih dalam hati.
Tak berselang lama, mereka tiba di rumah sakit terlengkap di kota ini. Tak sabar lagi rasanya Asih menunggu para petugas membuka pintu belakang mobil ambulan. Tubuh kurus tiara di pindahkan ke bankar baru setelah pintu ambulan terbuka.
Asih, Adit beserta para perawat berlari menuju IGD dan langsung menuju ruang khusus. Ternyata benar yang di katakan dokter tadi, jika pihak rumah sakit ini telah menyiapkan segalanya. Dari kedatangan mereka, para perawat beserta dokter telah menungu mereka di pintu depan, hingga mereka masuk ke sebuah ruangan para dokter telah siap dengan alat dan baju khusus.
"Maaf Bu, silakan tunggu di depan, " Ujar suster menghentikan langkah Asih yang hendak masuk menyusul bankar tiara.
Belum sempat Asih menjawab pintu ruangan itu tertutup menyisahkan deguban dan perasaan cemas berkali kali lipat. Ini kedua kalinya dalam satu hari Asih menyaksikan tiara sang buah hati masuk ke dalam ruangan yang terhalang pintu besi.
Asih berjalan kesana kemari dengan gusar, air matanya tak berhenti mengalir.
Adit yang melihat ibu dari anak nya itu gelisah merasa tak tega, ia hendak menghampiri " Dek, " Panggil Adit yang menghentikan keseruan Asih berjalan kesana kemari.
Asih menatap tajam ke arah Adit " BERHENTILAH MEMANGGILKU DENGAN SEBUTAN ITU," Pekiknya meluapkan emosi yang sejak tadi membendung di hatinya.
Adit memandang Asih dengan tak percaya, baru kali ini ia melihat dan mendengar Asih menjerit sekeras itu.
Asih menunjuk wajah Adit dengan murka " Semua ini karena kalian, jika saja ibumu tidak datang kerumah ku. Tiara tidak akan ku tinggalkan sendirian di halaman belakang. Semua ini karena kalian... Karena kalian.. Hiks.. Hiks.. Karena kalian hiks... " Asih terduduk bersender di dinding. Ia menutup wajah dengan kedua tangannya. Menyesali tindakannya tadi pagi yang meninggalkan tiara sendirian di halaman belakang, bahkan dirinya masih sempat bercanda gurau dengan mbah mina.
Adit bergeming, ia tidak tau jika ibu nya berkunjung ke rumah Asih dan hendak mengambil tiara. Setau Adit ibunya tak begitu menyukai tiara, dan kejadian di sekolah tiara saat itu hanyalah akal akalan Adit yang mengatakan jika sang nenek merindukan cucunya.
Adit hendak mendekati Asih yang sedang menangis sesegukan dengan menutupi wajahnya " Aku... A... ".
" ASIIIHH, " Teriak seseorang memotong perkataan Adit.
Adit maupun Asih serentak menoleh ke sumber suara.
" Mbak.... " Orang itu berlari kemudian memeluk Asih dengan sangat erat.
Asih kembali terisak di pelukan orang tersebut, ia menumpahkan segala gundah gulana hatinya. Helusan di punggung nya, dan bisikan doa mampu meredahkan tangis asih.
" Mbak ratna, tiara... " Bisik Asih di sela sela tangis nya.
Ya, Ratna. Hari ini jadwal nya beserta suami kontrol kesehatan sebelum ia mengikuti program bayi tabung. Dirinya baru saja tiba di rumah sakit tidak sengaja melihat Asih dan Adit beserta para perawat mendorong bankar yang mana seorang anak kecil tertidur lelap di atasnya, ia menebak jika itu adalah tiara.
" Mas, mas.. Itu Asih kan? " Tanya Ratna kala mereka baru tiba di rumah sakit yang mana pintu masuknya bersebelahan dengan pintu masuk IGD.
Suami Ratna memicingkan matanya, " Loh iya dek, itu Asih, " Balas sang suami.
" Mas, kontrol nya besok aja. Aku mau nengok Asih mas, itu pasti tiara mas. Ya ampun kenapa orang satu itu gak ngomong ada kejadian kayak gini, ayo mas. Nanti kita ketinggalan, " Seru Ratna setengah berlari meninggalkan suaminya dan mengejar rombongan Asih yang sudah tidak terlihat.
...
" Udah gak apa apa kok, tiara pasti sembuh. Tiara kan anak yang kuat, kalo nanti tiara sudah sadar, liat kamu gini nanti dia tambah sedih. " Ucap Ratna menenangkan Asih yang masih sesegukan.
Hati ibu mana yang tega melihat anak satu satu nya sakit, terbaring lemah dengan penyakit yang tidak tau apa dan mengapa bisa seperti sekarang.
Asih mengangguk lemah mendengar penuturan mbak Ratna. Ia membenarkan ucapan mbak Ratna, saat ini tiara hanya mempunyai dirinya terlepas dari ayah kandungnya yang tidak bisa di harapkan. Sebisa mungkin dirinya harus tenang dan kuat, demi tiara apa pun akan dilakukannya.
Bugh... Satu bogem mentah melayang ke kepala Adit yang sedang tertunduk menahan kantuk.
Semua orang menoleh terlebih lagi Adit yang sudah tersungkur di lantai juga ikut menoleh.
" Bapak... " Seru asih seraya membulatkan matanya melihat pahlawan dalam hidup nya berdiri dengan mata yang memerah menahan amarah yang siap di muntahkan.
🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸
othor up yeeeeeee 🥳🥳🥳🥳🤗
sorry ya kk readers 🙏🏻
jangan lupa meninggalkan jejak seperti biasa 🤭
peluk sayang dari jauh 😘😘😘😘😘🥰😆🤣
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 39 Episodes
Comments
ciru
cakep
2023-07-30
0
Uswatun Khasanah
hajar aja tuh mantan gila busuk hati y ibu y ga ank stress semua.
2022-03-24
0
Andreas Tedano
kenapa belum ada lanjutannya, Thor?.... ayo semangat....
2022-02-17
1