dokter david

" Bapak... " Seru asih seraya membulatkan matanya melihat pahlawan dalam hidup nya berdiri dengan mata memerah menahan amarah yang siap di muntahkan.

Baik Ratna, suaminya serta Adit semuanya mematung, diam tak bersuara.

Tatapan Adit layu menunduk dengan takut, amarah yang siap meledak hilang entah kemana.

" Dulu saat kamu mengambilnya dari ku, kamu memohon dengan sangat, dan berjanji akan membahagiakannya. Apakah pesan ku saat itu kurang jelas, jika kamu tak mencintainya lagi kembalikan ia padaku, tapi mengapa kamu menindasnya bajingan! " Sentak pak praman hendak menerjang Adit, untung saja suami Ratna dengan sigap menghalau nya.

Asih terkejut, ia berlari dan langsung memeluk pak praman.

" Maaf kan Asih pak, " Bisik Asih di dalam dekapan sang ayah.

" Bapak yang minta maaf nduk, bapak menyesal mengiyakan pinangan bajingan itu dulu. Pulang ke kampung ya nduk. Bapak masih sanggup menghidupi kamu serta tiara, " Lelehan air mata pak praman menandakan ia sangat menyesal saat mendengar pahitnya rumah tangga yang di alami buah hati pertamanya itu kandas bahkan anak yang sangat di sayanginya itu sampai di tindas membuat sayatan di hatinya tergores perih, sakit itulah yang di rasakan seorang ayah ketika mendengar anak terkasih menderita dan semua itu di telan nya seorang diri.

" Maaf Pak tapi saya juga ingin melihat tiara, " Sambung Adit yang tertunduk. Matanya tak berani menatap pak praman.

" Pergila, selagi aku bicara baik baik. " Tegas pak praman.

Dengan sigap suami Ratna menarik paksa tangan Adit. Jika saja ini bukan di rumah sakit dan tidak dalam keadaan seperti sekarang ia tak perduli dan juga tidak akan ikut campur urusan rumah tangga orang lain.

" Ayo dit, ini di rumah sakit tak baik bertengkar disini. Bisa jadi para dokter akan terganggu, jika tiara sudah keluar dan siuman kami akan memberitahu mu, ayo mengalah lah, " Bisik suami Ratna menenangkan Adit.

Sekilas ia mengintip raut wajahnya Asih di dalam dekapan sang ayah. Adit melangkah kan kaki nya dengan sangat terpaksa, berat.

...

Baik Asih, Ratna serta pak praman terdiam, membisu. Tak ada yang memulai obrolan sejak Adit meninggalkan ruang tunggu operasi.

Mereka semua tenggelam dalam pikiran masing masing, hingga deratan pintu membuyarkan lamunan mereka.

Asih berjalan cepat menuju pintu operasi, " Bagaimana dok?, bagaimana anak saya dok? " Cerca Asih tidak sabaran.

Ratna menggenggam lembut pundak Asih.

" Cidera di kaki anak ibu memang sedikit parah, jika terlambat sedikit saja bisa mengalami kelumpuhan... "

" Apa dok? , lumpuh? " Kedua pupil mata Asih membulat sempurna.

" Maaf Bu, saya belum selesai. Tapi pengobatan serta pertolongan pertama yang sigap menyelamatkan anak ibu, anak ibu sudah dalam keadaan baik. Namun untuk sementara waktu tiara belum bisa berjalan, akan ada terapi khusus untuk membantunya berlatih. Ada lagi bu? " Tanya dokter sopan.

" Kenapa anak saya kejang kejang dok? "

Dokter mengangguk kan kepala nya " Untuk masalah itu, kemungkinan efek syok yang di terimanya. Ibu tenang saja setelah hasilnya keluar, akan saya jelaskan lebih rinci. Baiklah, saya permisi ibu, pak ". Jawab dokter sopan.

Dokter berlalu meninggalkan Asih serta kedua orang dewasa yang menemaninya, " Keluarga tiara ". Teriakan dari dalam ruangan itu, membuat Asih serta yang lain melangkah ke dalam nya.

.....

Suasana tegang menyelimuti kedua insan yang usia nya terpaut sangat jauh. Seorang ayah yang memendam luka, serta seorang anak yang menerima luka terdiam membisu, enggan memulai, takut melukai satu sama lain.

Hingga bisikan angin memberanikan Asih menatap raut tua wajah sang ayah " Pak, Asih minta maaf ". Bisiknya pelan, menggenggam erat tangan yang sejak tadi basah. Bulir kristal itu meluncur tanpa permisi.

Pak praman memeluk erat putrinya, " Bapak yang salah nduk, bapak yang salah.... ". Tetes demi tetes air mata kedua nya membasahi pundak masing masing, dalam dekapan asih menggeleng kuat.

" Asih yang salah pak, hiks... Hiks.... Asih anak durhaka, asih... Asih... Asih bikin bapak sakit hati, bikin bapak sedih. Maafin Asih pak ", isaknya di sela sela tangisan.

Pak praman menepuk pelan punggung sang anak, " Sudah nduk, kalian ikut bapak pulang ke kampung ya. Ibuk mu juga rindu sama kalian nduk. Pulang ya, " Pinta pak praman lembut.

Asih mengusap pelan pipi serta matanya... Ia tersenyum memandang raut tua sang ayah " Pak, Asih rencananya mau boyong bapak, ibu, serta rita ke kota. Asih sudah punya pekerjaan bagus disini, bapak gak perlu nyawah lagi. Nikmati masa tua di sini aja, bareng ibu, asih, rita sama tiara. Mau ya pak? " Pinta Asih penuh harap sesekali menghapus jejak bulir kristal itu.

Manik mata sayu pak praman menatap lekat mata buah cintanya, menangkap maksud baik Asih namun ia menggeleng pelan. " Bapak mu, buk e mu sudah tua nduk. Kamu sukses kami juga senang, bahagia. Tapi pak e, buk e mau menikmati masa tua di kampung. Jangan pikirkan kami, bapak masih khawatir keadaan mu. Kenapa kamu gak cerita, kesel hati pak e. Kesel sama diri sendiri, kamu... " Bulir itu mengalir lagi.

" .... Kamu di apain sama bajingan itu. Bapak gak Terima, gak ridho ". Maki pak praman menggenggam erat tangan nya sedangkan air matanya tak berhenti mengalir.

Semakin besar rasa bersalah menyelimuti hati Asih, " Maafkan Asih pak, Asih gak mau bebani bapak dan ibu di kampung. Asih masih kuat pak, tiara kekuatan Asih. Bapak jangan sedih... Liat Asih sudah jadi wanita sukses, sudah cantik, Asih bahagia pak. " Bisiknya mengusap pelan air mata pak praman.

Di balik semua itu, Ratna yang tidak sengaja mendengar obrolan kedua orang yang saling menyanyangi itu ikut bersedih, ia menangis haru mendengar penuturan keduanya.

Tiap tetes air mata yang di keluarkan nya, ia mengucap syukur kepada yang maha kuasa. Tuhan menempatkan hidupnya di saat yang tepat dan dengan waktu yang tepat. Di saat dirinya juga putus asa, ia bertemu teman sejatinya dan ikut ambil adil dalam perjalanan hidup asih.

' terimakasih Tuhan, terimakasih. ' bisiknya dalam hati.

. ........

Asih menceritakan semua yang terjadi, semua yang di alaminya kepada cinta pertamanya, pak praman. " Tapi pak,... Asih mohon jangan kasih tau buk e, jangan kasih tau rita juga. Sekarang Asih bahagia pak, biarlah semua itu menjadi masa lalu dan pelajaran untuk Asih. Asih mohon pak. " Pinta nya dengan ketulusan yang penuh.

Lama pak praman menjawab nya, ia tau jika sang istri mengidap penyakit jantung yang mungkin akan menimbulkan bahaya lain jika saja ia mengetahui apa yang di alami anak mereka. Dan lagi Rita, ia sangat tau kenekatan putri keduanya, Rita tidak akan diam jika ia mengetahui apa yang di alami sang kakak. Sifat keduanya berbanding terbalik, jika Asih bisa menerima semua luka dengan hati yang lapang, namun apabila itu Rita ia tak akan bisa tidur sebelum melepaskan rasa dendam nya. Karna itulah Asih menyimpan nya seorang diri selama ini.

Berapa menit telah berlalu, akhirnya pak praman mengangguk setuju, hanya saja dengan satu syarat. " Pak e bisa bantu kamu, tapi dengan syarat kedepan nya tak ada yang di sembunyikan dari bapak. " Tegas pak praman yang dibalas anggukan serta pelukan hangat Asih.

Dengan air mata yang masih menggenang kedua nya tersenyum. Bukannya pak praman tidak terkejut akan perubahan putrinya yang bisa di katakan lebih cantik dari saat ia belum menikah. Ia sangat sangat terkejut, terlebih lagi kesuksesan yang Asih raih. Ia sangat bersyukur, tapi di balik semua itu pasti asih melewatinya dengan sangat berat.

" asih, kamu di panggil dokter. " Seru Ratna menghampiri Asih di kursi taman belakang.

" Pak Asih pergi dulu ya, " Pamit Asih kepada pak praman.

" Permisi pak, " Panggil Ratna sopan.

Pak praman mengangguk tersenyum menyiakan.

" Sore dok, " Ucap asih setelah mengetuk pintu dan melangkahkan kakinya memasuki ruangan benuansa putih itu. Sementara Ratna di pertengahan jalan bertemu suaminya dan melanjutkan sesi kontrol mereka.

Seorang pria muda yang mengenakan jas putih ciri khas seorang dokter berdiri mengulurkan tangan ke arah Asih.

" Sore bu, saya dokter David penanggung jawab pasien tiara anak ibu. Silakan duduk, " Seyum David.

Setelah melepas jabat tangan, Asih menarik kursi yang ada di depan meja dokter David.

" Mengenai penyakit anak ibu, bisa saya bantu jelaskan? " Senyum David duduk di depan meja ruang kerja nya.

Asih mengangguk mengiyakan penuturan dokter muda di depan nya ini.

" Baiklah, untuk keadaan anak ibu sekarang. Tiara mengalami fraktur tulang atau bisa disebut patah tulang. Cidera yang di alaminya memang sedikit parah sehingga kami para dokter harus mengambil tindakan operasi pemasangan pen, surat yang ibu tanda tangani saat operasi di laksanakan tadi. " Jelas david

" Pemasangan pen? " Tanya Asih bingung, karna ia hanya tanda tangan tanpa membaca apa isi surat yang di tanda tangani nya.

" Iya, pemasangan pen. Pen adalah implan sejenis logam yang berguna untuk mengatasi patah tulang dengan cara memastikan tulang yang patah berada di posisi struktur tulang yang tepat sementara tulang tersebut terus tumbuh dan menyambung kembali, singkatnya seperti itu. Hanya itu alternatif yang bisa kita para dokter usahakan saat ini, dan lagi pen ini nantinya akan kita lepaskan lagi jika saat di rontgen tulang tiara sudah kembali normal " Sambung David.

" Maksud dokter tiara akan kembali di operasi untuk melepaskan pen yang ada di kaki nya? " Asih menautkan kedua alisnya yang mulai sedikit cemas.

" Tenang bu, itu memang sedikit menyeramkan jika di bayangkan. Tapi ini bukan operasi yang berbahaya, hanya mencabut pen yang nantinya tidak akan mengganggu aktifitas tiara dalam kesehariannya. Kemungkinan berhasilnya 99% , ibu tidak perlu khawatir, " Jelas David.

" Pen yang ada di kaki tiara, kemungkinan akan memakan waktu yang sedikit lebih lama. Tergantung dari reaksi tubuhnya, biasanya akan memakan waktu 15 hari lebih untuk pelepasan pen. Bisa jadi lebih dari itu, dan setelah pelepasan pen, kita akan menganjurkan ibu untuk melakukan fisioterapi. Karna kaki yang telah lama tidak di gerakan akan memerlukan sedikit terapi, untuk kedepannya bisa berjalan dengan normal kembali. Untuk sementara saya akan meresepkan beberapa obat. Seperti obat nyeri, karna pen yang ada di dalam kakinya akan sedikit menimbulkan nyeri. Dan lagi ada obat radang, yang juga untuk nyeri, satu lagi antibiotik untuk mencegah infeksi. Untuk sementara tiara akan di rawat inap, tapi jika kondisinya memungkinan untuk di bawa pulang, akan saya kabari lebih lanjut. "

" Maaf dok, bisa di jelaskan kenapa anak saya bisa kejang kejang? " Pertanyaan yang selalu berputar di kepala Asih, yang selalu membuatnya khawatir.

David tersenyum sangat manis, " Dalam beberapa kasus fraktur tulang atau patah tulang bisa membuat seseorang menjadi pusing, sesak hingga pingsan. Dan kemungkinan kejang kejang itu sebagian dari trauma atau efek tiara terjatuh. " Jelas David lagi.

Asih menekuk kedua alisnya " Artinya itu tidak bahaya atau penyakit lain dok? "

David menggeleng pelan, " Saya sudah membaca hasil lab tiara tidak ada keanehan, atau penyakit yang bisa menimbulkan kejang kejang, jadi ibu tidak perlu khawatir. "

Asih menarik nafas panjang, kemudian menghembuskannya perlahan. Ia memegang dadanya, mengucap syukur dalam hati. Kemudian ia tersenyum.

David yang melihat senyuman tulus itu sedikit merasa aneh. ' gila nih gue, sadar woy... Bini orang ' batin nya.

" Terimakasih dok, terimakasih, " Ucapnya penuh haru. Asih tersenyum sangat manis.

" Sama sama bu, ada yang ingin ibu tanyakan lagi? " David menatap manik coklat Asih.

Asih menggeleng, seraya berdiri. " Tidak dok, terimakasih penjelasannya, terimakasih sudah mengobati anak saya. Sekai lagi terimakasih dok, " Asih mengulur tangannya.

David berdiri, kemudian menyambut uluran tangan Asih " Sama sama bu, kami dokter hanya penyambung tangan Tuhan. Semua terjadi berkat Tuhan bu, saya hanya sebagai perantara. " Ucap David lantas melepas genggaman tangan keduanya.

David memberikan resep obat kepada suster yang telah masuk ke dalam ruangan setelah David memencet tombol di meja nya, ia meminta suster membantu Asih mengantarnya kembali ke ruangan rawat inap tiara.

Dari kejauhan banyak orang berlarian menuju ruang rawat inap bougenville tempat blok kamar tiara. Perasaan Asih merasa sedikit tidak enak, namun ia menepisnya jauh jauh.

Hingga dari kejauhan ia melihat banyak orang ramai berkumpul di kamar yang ia sangat tau itu kamar rawat inap tiara.

" Buugghhh... " Adit terlempar dengan bebas ke lantai dengan bibir yang sudah sobek. Darah mengalir dari sudut bibirnya. Ia memegangi perutnya meringis kesakitan.

Badan tegap dengan punggung lebar, Asih sangat tau siapa pemilik tubuh itu, ia Hendak menghajar Adit yang terbaring tak berdaya di lantai.

Terpopuler

Comments

ciru

ciru

cakeep

2023-07-30

0

Nonny

Nonny

sampai sini dulu ya ka, next mmpir lg

2022-03-03

1

Hannii

Hannii

d tungguu lanjuutttanya thoorrr

2022-02-23

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!