Sania persiapkan diri rapat bersama rekan baru di PT Bara. Sania sudah terbiasa kerja sama dengan rekanan di PT Bobby. Di sana semua saling memahami karena sudah sering kerja sama. Kini Sania dihadapkan suasana baru juga bos baru. Ntah bagaimana karakter masing masing peserta. Sania perlu waktu memahami rekanan baru. Hanya ada satu tujuan Sania yakni bisa saling memahami pola pikir setiap pegawai.
Ternyata ruang rapat berada di tingkat tiga yang biasa kosong. Ruangnya plong hanya diisi meja besar dan kursi kursi untuk peserta rapat. Di dinding ada layar besar untuk tampilkan gambar gambar yang bakal dijadikan bahan pembahasan.
Tidak ada kemewahan di ruang rapat itu. Malah sangat sederhana. Bagi Sania itu tidak penting. Yang jadi pokok utama adalah hasil dari ruang rapat.
Pegawai inti semua hadir di situ. Pegawai Bara memang cuma beberapa orang. Gampang diatur.
Bara datang setelah semua anggota hadir di ruang rapat. Bara langsung ambil tempat di depan meja besar posisikan diri sebagai pemimpin rapat. Sania sengaja duduk tak jauh dari Bara untuk memudahkan diri menerangkan pokok bahasan. Sania yang rancang semua konsep proyek otomatis dia yang paling ngerti keseluruhan proyek.
Dea membantu Sania hubungkan laptop Sania ke layar agar semua bisa lebih jelas isi bahasan.
"Kita dapat proyek untuk bangun perumahan. Skema rancangan dikerjakan nona Sania. Maka itu lebih baik nona yang jelaskan pada semua rekan." kata Bara tanpa bermaksud sok pinter.
Walau Bara sebagai pemimpin namun dia belum paham benar soal rancangan Sania. Semalam dia tak sempat pelajari karena jaga Nania yang tiba tiba kumat sakit.
Sania bangkit dari tempat duduk maju ke depan layar. Satu persatu gambar Sania terangkan dengan sabar dan jelas. Tak semua orang mendapat karunia otak cerdas. Tapi asal dibarengi usaha dan kerja keras pasti akan bawa hasil memuaskan.
Sampai diujung pembahasan Sania jeda beri kesempatan pada anggota rapat untuk kemukakan ide. Sania pandangi satu persatu anggota mengharap ada ide dari mereka.
"Aku punya plan lain soal jalan seputar perumahan. Selama ini semua pakai wavin blok. Itu cepat rusak dan sering tumbuh rumput. Bagaimana kalau kita ganti aspal permanen." Bara keluarkan ide sebagai pemimpin.
"Tapi itu perlu biaya sangat besar pak! Belum lagi pengerjaan sangat repot." tukas Sania
Bara menggeleng, "Kita cuma perlu tambah sedikit biaya. Di sini kita bisa gunakan alat berat untuk hemat waktu. Tapi hasilnya jauh sempurna dari wavin blok. Kita buat terobosan baru. Pak Wandi pasti suka. Kita masih mengharap tahap selanjutnya maka perlihatkan niat baik."
Semua mangut mangut setuju pada ide Bara. Selebihnya tak ada hambatan mengingat semua rancangan Sania nyaris sempurna. Sania merasa ide Bara memang baik namun butuh biaya lebih besar di banding wavin blok.
Sania sebagai pegawai hanya bisa mendukung asal Bara tak keberatan keuntungan berkurang. Pengetahuan Sania terhadap bertambah. Laki itu benar manusia bertanggung jawab. Baik terhadap keluarga maupun tugas. Bara tetap urus sang bini walau sakitan. Kalau laki lain mungkin sudah campakkan wanita penyakitan macam Nania. Tapi Bara tetap setia rawat Nania di antara berbagai godaan. Wanita wanita penggoda macam Arsy dan Nada lengket bak lintah kehausan darah.
Sania merasa terpanggil selamatkan Nania dari pelakor pelakor kondang itu. Sania belum punya jurus jitu saat ini. Untuk sementara Sania mau fokus pada tender proyek PT SHINY. Gimanapun cara Sania harus dapat proyek ini. Demi nama baiknya juga untuk Nania. Andai keuangan Bara makin bagus maka kesempatan berobat di luar negeri makin terbuka.
"Cukup sekian rapat kita hari ini. Dan mulai detik ini kita tak boleh kendor mencapai target. Semoga semua bekerja sepenuh hati." Bara akhiri rapat sambil beri sedikit wejangan.
Anggota rapat tepuk tangan beri applaus pada Bara sebagai tanda penghargaan. Sania sendiri ikut beri tepuk tangan agar Bara yakin pada kemampuan sendiri sebagai pemimpin perusahaan.
Satu persatu anggota kerja kembali ke ruang masing masing. Hati mereka puas karena bakal dapat tantangan besar bangun perumahan besar. Bukan proyek proyek kecil yang hanya makan waktu singkat.
Semangat membara berkobar dalam hati masing masing. Sudah saatnya tunjukkan skill mereka di ajang pertarungan lebih besar.
Dalam ruang rapat tinggal Sania dan Bara. Tak ada yang ingin mulai percakapan antara dua orang ini. Sania membereskan berkas berkas ke dalam map bermaksud kembali ke mejanya.
"Sania...aku harap kamu mau datang ke rumahku kawani Nania. Dia tanyain kamu terusan." suara Bara memecahkan keheningan.
"Akan kuusahakan. Dan sebelum itu bapak harus balik ke kantor Pak Wandi kasih tahu soal perubahan di struktur jalan. Memang menguntungkan mereka namun kita ikuti prosedur lapor duluan."
Bara mengangguk dengan tatapan mata lelah. Sania jadi kasihan pada laki ini. Menanggung beban tak kecil. Hati Sania makin yakin bantu Bara untuk berdiri makin kokoh melawan terpaan badai.
"Setelah makan siang aku akan pergi. Mungkin aku tak balik sini lagi. Harus pulang kawani Nania."
"Iya pak! Aku akan urus semuanya. Bapak fokus saja sama mbak Nania. Besok pagi aku akan cari contoh tanaman untuk diperlihatkan pada Pak Wandi. Bapak tak keberatan bukan?"
"Soal itu biar aku dan Roy saja. Roy itu ahli taman. Karena sepi job dia alih ke cafe. Dia pasti senang dilibatkan dalam proyek kita."
"Baiklah! Kalau gitu bapak tolong urus orang lapangan agar temui aku! Kita mulai kasih pengarahan pada pekerja lapangan."
"Pekerja kita tak banyak. Mungkin kita perlu rekrut orang baru untuk lapangan. Mungkin kau ada solusi?"
"Aku punya tim kerja tapi masih di PT BUILD. Nanti kucoba hubungi mandor ku yang dulu. Aku akan kasih kabar pada bapak."
"Ya.."
"Aku permisi dulu pak." Sania mengangkat seluruh dokumen balik ke lantai dua tempatnya bertugas.
Tinggal Bara termenung di ruang rapat. Bara akui kehebatan Sania dalam merancang perumahan. Sangat detail dan indah. Pantas gadis ini disukai para investor. Sania diterima karena tampang namun skill mumpuni.
Nasib bagus sedang berpihak padanya dapat pegawai handal sedikit bocor. Mulut tajam menusuk hati. Kadang keluar kalimat tanpa disaring. Seperti dia ngaku calon Bara. Orang yang tak paham akan kira Sania ngaku calon isteri. Padahal niat Sania hanya goda Arsy. Arsy termakan kata Sania pikir Sania calon bini baru Bara.
"Gadis konyol tapi menarik." gumam Bara
Bara melihat ruang rapat sudah sepi mengambil inisiatif tinggalkan ruang rapat menuju ke lantai bawah di mana adanya Sania dan Dea.
Bara dapatkan kedua wanita itu tekun kerjakan tugas semestinya. Mereka berdua tampak serius sampai Bara lewat depan mereka tak ada gerakan sama sekali.
Bara masuk ruangnya lalu mulai pelajari gambar Sania lebih lanjut. Semua tenggelam dalam tugas tersendiri.
Tak terasa matahari bersinar tegak di atap bangunan. Panggilan pulau tengah berkumandang minta diisi dengan aneka makanan sesuai selera masing masing.
Dea yang baru melahirkan segera sadar perutnya mulai berontak dengan kasar. Wanita Batak ini melirik Sania yang masih tekun pelototi PC. Tangannya bergerak lincah di atas keypad komputer. Ntah apa diketik gadis cantik ini.
"San...mau makan?" tanya Dea pelan takut Sania kaget.
Sania melirik Dea lalu mangut tanpa tinggalkan keypad. Jari lentik Sania masih bermain di keypad melanjutkan pekerjaan.
"Titip beli roti dan salad saja. Minum teh hangat tanpa gula."
Sania merogoh tas selempang keluarkan selembar uang warna merah. Sania tak mungkin titip pakai mulut saja. Mereka hanya pekerja biasa dengan dana pas pasan. Sania mana tega nebeng makan tak punya hati nurani.
Dea menerima uang Sania malu malu. Andai dia kaya tentu tak sudi minta uang dari Sania yang sudah bawa angin segar di kantor. Fakta dia hanya pegawai kecil bergaji tak besar.
"Oya Bu Dea...ini kutambah uangnya. Sekalian belikan untuk teman lain." tiba tiba Sania sodorkan beberapa lembar uang lagi.
Dea tercengang dapat traktiran dari Sania. Dea mendesah dalam hati. Sudah pinter dan cantik. Murah hati pula. Betulan gadis sempurna.
"Terima kasih Sania..." Dea berkata penuh keharuan. Gayanya dramatis seperti kisah kisah di sinetron orang haru biru. Sania malah geli lihat gaya norak Dea. Bulu kuduk sampai merinding di tonton kan cara terima kasih lebay.
"Aduh Bu Dea...ngak usah drama! Utamakan isi perut dulu."
Dea geli sendiri ditegur Sania bertingkah lebay. "Iseng doang! Kita sini sudah lama gersang. Kamu bawa angin mamiri sejukkan hati kami." Dea mulai lagi hendak haru biru.
Sania besarkan mata melotot pura pura hendak marah. Dea bukannya takut tapi merasa lucu cara marah. Siapapun tak takut malah ingin kecup sepasang telaga bening itu.
"Aku pergi...tak mau makanan cuci mulut? Es cream atau puding coklat?"
"Boleh..puding vanilla."
Dea acung jempol berlari kecil ke lantai bawah kabarkan Sania traktir mereka makan. Bagi orang lain perhatian dari Sania hanya sekedar basa basi rekan baru. Tapi bagi Dea cs perhatian Sania merupakan jalinan persahabatan antara sesama rekan sejawat.
Sania tersenyum tanggapi kegembiraan rekan rekan sekantor. Uang segitu tak ada nilai bila dibanding keutuhan satu tim.
Sania kembali konsentrasi pada PC di meja. Mimik wajah Sania terukir keseriusan. Sania benamkan diri dalam tugas demi perusahaan. Bara harus maju ke depan halau rintangan di depan mata.
"Mau ikut makan?"
Suara bass Bara bikin Sania kaget. Bara muncul tanpa suara tak ubah hantu gentayangan.
"Keturunan hantu ya. Jalan tak ada suara. Gimana kalau aku ada penyakit jantung?" omel Sania lancarkan wajah musuhan.
"Bukankah kau masih hidup?"
"Aku cepat mati kalau lama jadi pegawaimu." Sania masih tak senang dikagetin Bara.
"Tuhan menolak terima kamu. Proyekmu belum jalan masak sudah mati. Aku mau makan. Ikut ngak?"
"Tidak....terima kasih. Dea sudah beli makan siangku. Pak Bara jangan lupa singgah di kantor Pak Wandi ya! Telepon dulu pastikan beliau ada di tempat."
Bara mengangguk. Laki ini melangkah pergi setelah tahu Sania sudah ada jatah makan siang. Derap sepatu Bara tinggalkan suara di ruang nan sepi. Perlahan suara itu menghilang sisakan keheningan.
Sania melepaskan tatapan ke arah tangga harap Dea cepat balik. Ada rasa takut ditinggal sendirian di tempat baru. Sania belum akrab sekali pada kondisi kantor Bara. Masih termasuk daerah asing. Sania perlu waktu adaptasi dengan lingkungan baru ini.
Sania coba fokus kerja halau rasa takut. Semoga Dea cepat balik itu harapan Sania.
Tiba tiba di bawah terdengar suara ribut ribut suara seorang wanita. Suara itu nyaring bernada kasar. Apa suara Dea? Kok Dea bisa kasar?
Sania bangkit dari tempat duduk turun pantau keadaan. Bisa jadi Dea ribut sama teman soal pembagian jatah makan siang. Ada ada saja tingkah teman barunya.
Sania tertegun tatkala menangkap bayangan tamu tak diundang. Tamu tak tahu sopan santun itu marah marah tak tentu arah bak kompas rusak.
"Ada apa?" tanya Sania dingin. Suara Sania tak ada irama hangat secuilpun.
Wanita itu melihat Sania berdiri kokoh di antara anak tangga dengan wajah dingin.
"Kau pelacur murahan. Beraninya kau rebut proyek suamiku. Dasar wanita murahan..." tanpa permisi Ranti serang Sania.
"Apa di rumahmu tak ada kaca? Perlu kusumbang biar kau bisa lihat siapa kamu?" tanya Sania masih tenang. Lawan wanita tak tahu macam Ranti tak perlu bersitegang. Cukup mainkan kata kata menusuk jantung.
"Apa maksudmu?"
"Kau teriak pelacur..kenapa tak tanya sendiri siapa yang pelacur? Kau pakai gaun pengantinku, kau berzinah di tempat tidur yang kubeli, kau ambil semua kemegahanku. Aku belum bikin perhitungan denganmu tapi kau sudah berani unjuk diri di sini. Kau masih punya ******** tidak? Ops...kau mana punya ********. Barangmu kan obralan..pergilah dari sini sebelum kupanggil satpam!"
"Kau marah dicampak Bobby? Bobby tak pernah cinta padamu. Dia hanya manfaatkan kamu."
"Aku tahu..laki sampah itu cocok kawin sama bangkai busuk macam kamu. Kalian dua serasi! Silahkan ambil sampah busuk itu!" suara Sania tak goyah sedikitpun walau Ranti keluarkan kata tak sedap.
"Kau wanita tolol...jangan coba coba dekati suamiku kalau mau aman! Aku tak segan habisin kamu."
Sania tertawa sinis diancam Ranti. Ancaman Ranti bagai angin lalu bagi Sania. Tak ada kata takut dalam kamus Sania hadapi manusia munafik macam Ranti. Di luar bergaya elite bintang top. Dalam busuk penuh belatung. Ibarat buah mangga mulus di luar dalam berisi jutaan belatung gerogoti isi mangga. Busuk dalam.
"Kau jaga suamimu baik baik! Jangan sampai dia dekati aku! Aku tak segan lapor polisi kalau kalian datang ke kantor ini bikin onar. Kau sudah melanggar aturan menyerang orang di wilayah orang lain. Silahkan keluar!" bentak Sania mulai tak sabar Ranti buat onar di kantor Bara.
Apa kata orang tentang Sania dimaki dalam kantor. Reputasi Sania akan hancur bila orang tak tahu pangkal masalah. Orang pasti akan berpikir Sania memang wanita brengsek tukang ganggu suami orang. Orang mana pikir fakta sesungguhnya. Terlebih Ranti bintang top pujaan lapisan masyarakat.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 187 Episodes
Comments
Sri Murti
ààL
2023-03-23
1
玫瑰
Semakin aku baca ke sini..baru perasan ada persamaan sifat antara Sania dan Adeeva ya?
Kedua-duanya multi talenta. Rindu dengan cerita Ezra dan sedozen ulat bulu..hahaha
2022-10-19
2
Jumi Roh
heeem Ranti sok pinter pdhl bodoh
2022-03-12
0