Bara perhatikan Sania melayani Nania. Sikapnya tulus seakan sedang layani kakak sendiri. Mata Bara makin terbuka terhadap sosok Sania. Gadis sebaik ini tersiakan gara Bobby tergiur kecantikan bintang sinetron top. Suatu saat Bobby pasti akan menyesal meninggalkan Sania untuk Ranti.
"Kamu makan saja Sania. Biar kusuap Nania!" Bara mengambil mangkok bubur dari tangan Sania.
"Mas Bara benar Sania. Ini sudah lewat jam makan. Kamu makan dulu. Aku bisa sendiri. Bukan kah kamu bilang aku harus semangat?" Nania menepuk punggung tangan Sania yang sudah diangkat hendak suap Nania.
Sania tersenyum, "Ya mbak.."
Bara berikan mangkok pada Nania harap bininya bisa makin mandiri. Kesehatan Nania kan makin bagus dibarengi semangat juang tinggi. Meratapi nasib akan mengantar dia makin cepat menuju ke alam baka. Bara bersyukur jumpa gadis sebaik Sania.
Sania baru muncul dalam hidupnya namun telah bawa banyak angin positif. Dalam diri Sania tersimpan power tersembunyi. Sania boleh nampak konyol namun setiap tindak tanduknya cerminkan orang terpelajar.
Semoga ke depan Sania akan beri kedamaian bagi keluarga Bara.
Akhirnya Roy datang walau agak telat. Bara yang sudah kelaparan langsung ajak Roy nikmati nasi nasi aneka rasa. Roy tak bisa makan banyak karena baru siap makan dicafe. Roy datang demi temani sahabat kental dari masa ke masa.
Nania tertidur setelah makan. Fisik Nania tak sebagus orang sehat. Nania cepat lelah tak bisa banyak aktifitas. Karena kondisi ini Nania tak berani banyak protes walau dijahati kakaknya. Nania perlu bantuan Nada sang kakak untuk lengkapi segala keperluan sehari hari. Sayang Nada ambil kesempatan ingin kuasai Bara untuk diri sendiri.
"Maaf pak..mbak Nania sudah tidur! Aku mau pulang. Besok masih ke kantor." Sania pamitan setelah Nania tertidur
Bara mengangguk. Hari sudah larut malam. Sania memang harus pulang istirahat. Bara yakin Sania cukup lelah hari ini. Dari pagi dia lakukan aktifitas tanpa kenal lelah. Teken kontrak, tinjau lokasi proyek dan terakhir temani Bara jaga Nania.
"Kau antar Sania ya Roy!" pinta Bara pada sahabatnya.
Roy angguk tak tolak antar gadis muda nan cantik. Hitung hitung jalin persahabatan lebih intim. Siapa tahu bisa klop hasilnya nada lebih mesra. Roy masih jomblo. Tak salah mencoba daun segar baru.
"Tak usah pak! Aku pulang sama taksi saja. Mobilku masih di kantor." tolak Sania halus.
"Tak baik anak gadis pulang sendiri di malam hari. Nanti diculik vampire lho!" canda Roy mengharap Sania mau diantar.
"Roy benar. Tinggalkan saja mobilmu di kantor! Besok kau datang sama taksi. Aku tak tenang kau pulang sendiri."
"Ok...Aku lelah hari ini. Besok mungkin agak telat dikit ke kantor. Jangan dipecat lho pak!" olok Sania
"Iya..hati hati di jalan! Roy...antar sampai rumahnya ya!"
"Siap! Kalau terlalu malam boleh dong diajak nginap."
"Boleh..di gudang kantor satpam. Di situ ada cewek mungil pinter cium laki mesum. Jamin bibirnya jontor disosor tikus mungil nan manis." sahut Sania bikin Roy meringis.
"Sadis amat! Masa diumpan ke tikus lapar. Bisa hilang masa depanku digerayangi makhluk menjijikkan."
"Yang penting betina toh! Makanya cari pacar!"
"Belum ketemu yang klop! Rata jumpa yang kuras kantong beli bedak. Dikerok bedak di wajah bisa dapat sepiring." ujar Roy tumpahkan isi hati.
"Di kampung saudaraku ada yang tak perlu berbedak tapi tetap berharga. Mau?" tawar Sania serius.
Roy langsung mangut. Bara memilin bibir merasa ada nada tak sedap tawaran Sania. Makin lama bersama Sania makin terasa sifat iseng Sania.
"Mau langsung lamar atau pedekate dulu?"
"Kenalan dulu dong! Masak main embat. Janda atau gadis?" tanya Roy mulai bergairah ditawari gadis cantik.
"Janda atau gadis aku tak tahu! Soalnya dia liar..suka nyari makan di mana mana. Kadang kecantol jantan tetangga juga tak tahu. Rasanya tidak gadis deh!"
Roy tersadar dikerjain Sania lagi. "Gila lhu! Mau nawarin kambing ya!"
Bara dan Sania tergelak gelak lihat Roy manyun dikerjain Sania. Roy sudah semangat kontan loyo.
"Sorry Pak Roy...cuma guyon! InsyaAllah Pak Roy akan temukan gadis impian bapak." Sania membungkuk sopan pada Roy tanda minta maaf. Roy juga tahu Sania hanya sekedar guyon.
"Amin..ayok berangkat! Sudah malam.." ketus Roy dahului Sania.
Sania memandangi Bara minta pamit tanpa keluarkan kata kata. Antara mereka masih banyak waktu ngobrol soal penyakit Nania. Sania ingin tahu riwayat penyakit Nania. Siapa tahu dia bisa kasih masukkan pada Bara cari pengobatan lebih baik.
Roy tepati janji antar Sania sampai di tempat. Setelah yakin Sania selamat masuk gedung apartemen Roy pamit. Malam merangkak jauh menuju esok penuh harapan.
Sania sangat lelah langsung mandi dan tidur menyongsong fajar. Semoga esok hari semua berjalan lebih lancar dari kemarin.
Azan subuh paksa Sania bangun menghadap Yang Maha Kuasa. Sebenarnya Sania masih ngantuk namun panggilan sholat jauh lebih penting dari sekedar tidur.
Dengan bertatih-tatih Sania masuk kamar mandi ambil air wudhu. Tersentuh air dingin subuh bangkitkan Sania dari rasa ngantuk. Seketika ngantuk Sania sirna berganti rasa haru masih diberi waktu jalani sholat. Sania puji syukur bisa laksanakan sholat tepat waktu.
Bayangan Nania dengan segala penderitaan bermain di mata Sania. Sampai kapan Nania harus menanggung derita cukup berat. Wajar wanita itu putus asa jalani hari hari tak pasti.
Sania memohon pada Illahi agar segala sakit Nania diangkat diberi kesembuhan. Nania berhak mendapat kebahagiaan bersama Bara.
Seusai sholat Sania mencoba meneleponi seseorang jauh dari mata. Sania tak segan angkat ponsel karena yakin orang yang diteleponi bakal angkat teleponnya.
"Halo..."
"Halo my baby..apa kabar? Tumben telepon?"
"Baik mas... lagi ngapain?"
"Lagi piket..Indonesia sedang menangis?"
"Ngak lucu..adikmu bukan kerupuk mudah hancur. Gimana bibi dan paman?"
"Sudah balik ke Amsterdam. Mbak Susi melahirkan. Ada apa telepon?"
"Mbak Susi sudah lahiran? Anaknya condong ke timur atau barat?"
"Barat. Mirip banget sama Lewis. Imut banget!"
"Aku jadi pingin pulang sana."
"Pulang saja. Lupakan semua masalahmu sayang! Kau bisa hidup tenang di sini. Mau sama aku atau sama Opa di Belanda juga boleh."
"Kasih aku waktu. Aku pasti pulang kalau misiku selesai. Oya Mas Ghani..Sania mau tanya soal kanker stadium empat."
"What? Kau kena kanker?" seru suara seberang nyaris tulikan kuping Sania. Sania terpaksa jauhkan ponsel sebelum gendang telinga jebol.
"Ssssttt..jangan gila! Bukan aku tapi sahabatku."
"Oh..kanker apa? Kanker itu banyak jenis. Ada yang jinak dan ada yang ganas. Penyembuhan tergantung stadium berapa."
Sania termenung tak bisa kasih jawaban pasti. Dia sendiri belum jelas jenis apa kanker di tubuh Nania.
"Aku juga belum jelas Mas..cuma sekedar ingin tambah ilmu doang. Apa ada kemungkinan sembuh kalau kena kanker?"
"Masmu bukan Tuhan. Kita sebagai manusia hanya bisa usaha. Keputusan tetap di Atas."
Sania benarkan kata kata Mas Ghani sepupu Sania yang tinggal di Amerika berprofesi dokter.
"Terima kasih Mas...oya kapan kenalkan calon bini? Jangan yang pirang ya! Usahakan gadis tanah air."
"Di sini susah dapat gadis tanah air. Adapun rata bergaul bebas sok ikut hidup orang barat. Mas gk suka gadis urakan. Kalau kau bukan adik mas sudah mas nikahi."
"Buang pikiran kotormu ya! Ini sudah seratus kali mas bilang gitu."
Ghani tertawa bikin pekak kuping Sania. Ghani sayang sekali pada adik sepupunya sampai tak rela kalau ada yang sakiti gadis piatu itu. Papa Ghani adalah abang mama Sania. Mama Sania sudah meninggal 15 tahun lalu karena kecelakaan mobil.
Sania dibawa pergi oleh keluarga mamanya begitu mama meninggal. Sania tinggalkan tanah air saat berumur delapan tahun. Sekian lama menanti akhirnya Sania kembali ke tanah air cari penyebab mamanya meninggal. Sania sudah kumpul semua data tentang kematian mamanya yang tak wajar. Sania bersumpah akan hancurkan orang yang telah rengut nyawa mamanya.
"Sayang..kau masih dengar?" suara Ghani buyarkan lamunan Sania.
"Iya mas..Sania akan hubung mas lagi kalau sudah jelas jenis kanker temanku. Tolong cari tahu dokter mana sanggup tangani dia."
"Sayangku...kau tetap malaikat tanpa sayap bagi orang. Tapi kenapa kau tak jadi peri untuk dirimu sendiri? Lepaskan semuanya. Kau akan bahagia."
"Ada saatnya mas...aku masih ada kerja hari ini. Doakan aku dapat proyek besar lagi ya! Biar tambah kaya."
"Apa semua warisan Opa belum cukup? Apa yang kau cari Sania?"
"Keadilan..."
"Ok..cepat balik sini kalau sudah bosan main! Mas hanya bisa doakan kamu."
"Terima kasih masku terganteng. Byee...love you."
"Love you too.."
Sania menyimpan ponselnya di meja nakas sambil menghela nafas. Bayangan buruk masa lalu masih hantui benak gadis muda ini. Bertahun dia lewati berteman rasa dendam pada satu keluarga yang menyebabkan kehancuran besar dalam hidup Sania.
"Kalian akan rasakan deritaku." desis Sania monolog.
Sania berangkat kantor seperti biasa tidak telat. Hari ini Sania pergi dengan taksi online karena mobilnya masih tertinggal di kantor.
Suasana kantor masih sepi waktu Sania masuk kantor hanya ada satu dua karyawan sedang beres beres hendak lakukan kegiatan kerja.
Sugeng menghadang Sania di bawah tangga sebelum sempat Sania naik ke tingkat atas tempat dia lakukan kegiatan.
"San...apa iya kita dapat proyek kelas kakap?"
"Bukan kakap tapi ikan bandeng. Sedang sedang gitu. Kenapa? Tak senang?"
"Ya Allah...kok tanya gitu? Ya senang...Sudah lama kita dicemooh perusahaan kelas teri. Kini kita bangkit..apa harus tambah pegawai? Ada temanku ingin kerja sini."
Sania menggeleng tak pasti. Sania bukan bos mana bisa tentukan rekrut tenaga baru. Semua berpulang pada Bara.
"Aku tak tahu...tunggu keputusan Pak Bara!"
"Kau benar.."
"Bu Dea akan bagi rancangan kerja kalian. Kalau Pak Bara datang kita akan adakan rapat bahas kerja kita."
"Siap!" Sugeng posisikan tangan di jidat tanda siaga.
Sania hadiahkan senyum manis pada Sugeng sebagai balasan kepatuhan anak laki itu. Sania segera naik ke lantai dua untuk mulai laksanakan tugas sebagai perancang bangunan di perusahaan Bara.
Sania buka hidupkan pc di depan meja mulai bekerja maksimal selesaikan design gambar untuk ajukan tender pada PT SHINY. Segala cara harus ditempuh untuk dapatkan mega proyek harga trilliunan. Sania ingin ganjal Bobby supaya gagal dapatkan proyek ini. Laki tak bermoral macam Bobby tak pantas diberi panggung. Harusnya hancur lebur tak bersisa.
"Pagi Sania..." sapa Dea yang baru datang. Pagi ini Dea tampak cerah dalam busana biru langit. Warna kulit gelapnya makin gelap di padu warna terang. Pemilihan busana lumayan buruk.
"Pagi Bu Dea...Gimana anakmu?"
"Puji Tuhan sehat...kau kurang tidur ya?"
"Bu Dea kok tahu? Ada bakat jadi peramal deh!"
"Peramal apaan? Tuh mata pandamu kasih tahu semua orang kau tak tidur nyenyak."
Secara reflek Sania meraba mata yang memang sedikit pedih. Semalam telat tidur namun cepat bangun. Biasa seusai sholat subuh Sania akan curi waktu tidur kembali sampai jam 6 pagi. Tapi pagi ini Sania langsung bangun karena ngobrol dengan saudara sepupu.
"Gitu ya!" gumam Sania.
Dea tak mau sok akrab tanya penyebab Sania tak tidur baik. Gadis muda macam Sania pasti punya masalah pribadi. Ntah masalah keluarga taupun pacar. Beda dengan dia yang sudah punya keluarga. Masalah Dea ya seputar anak juga suami! Terakhir baru soal kerja. Keluarga tetap jadi topik utama. Perhatian pada keluarga harus imbang dengan tugas. Keduanya sama penting.
"Kalau ada waktu coba istirahat sebentar! Matamu kehilangan cahaya bintang. Biasa mata seperti bintang kejora berkilau sihir orang dalam danau matamu."
Sania tertawa geli dipuji Dea setinggi langit. Kata kata Dea persis anak lajang ngerayu cewek. Kalau kalimat itu keluar dari mulut seorang cowok pastilah rayuan gombal.
"Bu Dea macam saja. Aku memang agak lelah tapikita kejar target. Proyek kita sudah harus dimulai sepuluh hari lagi. Maka kuusulkan rapat biar kita bisa bahas bersama."
"Kau gadis hebat. Semuda gini sudah punya taring panjang."
"Emang gadis muda hanya boleh ada gigi gisul?" gurau Sania halau rasa tegang.
"Gisul atau taring aku tetap the best. Eh..jam segini Pak Bara kok belum muncul? Jangan jangan bininya sakit lagi!"
"Mungkin.." Sania tak enak cerita kalau dia tahu Nania sakit. Baru dua hari kerja sudah masuk terlalu jauh dalam kehidupan pribadi Bara. Itu bukan hal bagus. Sania harus tahu diri jaga batasan antara bos dan pegawai.
Hampir jam sepuluh Bara baru sampai kantor. Lagi lagi Bara datang dengan tampang lesu. Sania menduga semalaman Bara jaga Nania di rumah sakit hingga tak dapat istirahat dengan baik.
Mau tanya Sania segan. Di kantor tak mungkin bawa urusan pribadi. Apalagi sekarang mereka punya tugas lebih penting yakni bahas masalah proyek.
"Dea..beritahu kita rapat sepuluh menit lagi." Bara beri perintah pada Dea kumpulkan para pegawai di ruang rapat.
"Baik pak..." sahut Dea tanggap.
Sania segera persiapkan semua dokumen untuk dibawa ke ruang rapat. Sania sudah persiapkan beberapa rangkap sketsa rancangan untuk dibagi pada seluruh peserta rapat.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 187 Episodes
Comments
Nur Mei
oh.....ternyata Sania anak orang kaya ya .....
2022-11-11
1
玫瑰
Walau mereka tak ramai, namun kerjasama nya amat bagus.
2022-10-19
2
Jumi Roh
Sania kocak anaknya tapi juga sopan
2022-03-12
1