Jumpa

Bara mangut mangut benarkan kata kata Sania. Bobby tidak melakukan apapun mana berhak meminta proyek ini dari Sania. Semua Sania yang kerjakan jadi wajar Sania berhak tentu mau dibawa ke mana proyek ini. Kebetulan Sania kerja di kantornya maka wajar Sania rekomendasi proyek ini ke Bara.

Dea masuk membawa makan siang ke ruang Bara. Sania pamitan pada Bara tahu bosnya hendak makan siang. Seorang pegawai baru macam Sania belum punya kekuatan besar duduk semeja dengan bos nikmati makan siang.

"Ikut makan sini!" ntah itu perintah atau permintaan. Suara Bara terdengar ramah walau tak seramah resepsionis.

Dea dan Sania saling berpandangan. Kata kata itu ditujukan pada Dea atau Sania. Bara tak jelaskan siapa yang diundang. Kedua wanita ini sama sama menahan langkah tunggu kalimat selanjutnya dari sang pemimpin.

Bara tersadar kalau di ruangnya ada dua wanita yang siap diajak makan. Keluarkan kalimat tanpa makna jelas bikin kedua orang dalam ruangan bingung.

"Sania tinggal makan di sini."

"Oh...aku makan bersama Bu Dea saja pak!" Sania merasa tak enak hati pada Dea lebih senior.

"Sudah San..temani Pak Bara. Kalian bisa bahas proyek sambil makan." Dea menepuk bahu Sania pengertian. Bara mana mungkin undang dia makan. Bertahun kerja di tempat Bara belum pernah sekalipun melihat Bara ajak seorang pegawai ikut makan di ruangannya. Mungkin Sania sudah bawa proyek makan Bara ingin ucapkan terima kasih.

Dea keluar dari ruang Bara sambil lempar senyum manis pada Sania tanda semua tak ada masalah. Sania mematung masih segan duduk semeja dengan bos baru yang selalu bawa kulkas lima pintu. Isinya es beku melulu.

"Ayok makan! Nanti sudah dingin tak enak lagi." ucap Bara mengajak Sania duduk nikmati makan siang.

"Iya pak! Terima kasih."

Mata Sania terbelalak lihat makanan yang dibeli Dea. Full kalori tinggi. Semur daging dan udang bakar. Sungguh bukan makanan favourite Sania.

"Mengapa meringis? Tak sesuai selera?"

"Terlalu high class...Aku makan acar saja."

"Kamu sudah terlalu kurus untuk diet. Makan yang banyak biar sehat. Jangan seperti papan pengilasan!"

"Apa ada papan pengilasan yang bisa pegang laptop dan hp? Terlebih bisa gampar mulut kelewat nyinyir." balas Sania tak manis.

Bara menatap Sania sekilas lalu tekuni makanan tanpa banyak mulut lagi. Bara tahu Sania tersinggung diejek terlalu kurus. Bara tak paham kalau wanita jaman sekarang tak ada yang mau jadi gentong lemak. Lemak menonjol sana sini bikin penampilan jadi berantakan.

Sania hanya makan acar dan sepotong udang bakar sebagai kawan nasi. Nasi juga tak habis. Punya Bara ludes bersih bagai disapu angin ****** beliung. Bersih tuntas.

Bara sendiri heran mengapa hari ini dia sangat berselera makan. Biasa dia jarang bisa habiskan makanan. Bahkan tak jarang lewatkan jam makan. Mungkin karena dapat proyek atau karena ditemani gadis cantik. Sania sedikit judes di mata Bara. Apa karena pengalaman buruk di masa lalu rengut sifat cerianya.

"Siap berangkat?" tanya Bara seusai makan.

"Siap tapi aku mau ke toilet dulu. Bapak persiapkan barang yang bapak rasa harus dibawa ke lokasi."

Bara mengerut kening berusaha paham apa maksud Sania. "Maksudmu?"

"Bawa kertas atau apa saja bisa jadi catatan bapak. Mana tahu setelah sampai lokasi bapak ada ide baru. Bisa kita rembuk kan sama Pak Wandi. Kita saling mengisi dan koreksi."

Bara makin kagum pada gadis muda di depannya. Cara pikir Sania adalah sistim jangka panjang. Segalanya menuju ke depan. Semoga saja gadis ini juga bisa berpikir waras lupakan Bobby buka lembaran baru ke depan.

"Aku menunggumu di bawah." Bara segera siapkan peralatan sepeti saran Sania. Terpakai atau tidak lebih baik dipersiapkan.

Bobby melempar ponselnya ke lantai sisakan pemandangan miris. Barang tak berdosa itu hancur berkeping. Kalau ponsel itu bisa ajukan protes pasti akan bertanya apa salahnya. Mengapa tanpa sebab dieksekusi mati. Penjahat saja disidang dulu baru dihukum. Ini tanpa tahu salah apa divonis mati.

"Sialan..." desis Bobby marah.

Pak Anton bawa kabar kalau Bara dari PT ANGKASA JAYA telah teken kontrak dengan Pak Wandi tender perumahan lumayan besar.

Bobby tahu ini pasti ulah Sania bawa Bara dapatkan proyek yang sudah lama jadi incaran perusahaannya. Pak Wandi sudah berkali minta Sania tangani proyek ini. Sania sangat sibuk hingga tender ini tertunda. Sekarang Sania mengambil alih tanpa diketahui Bobby. Bobby memang tak berhak melarang mengingat belum ada kesepakatan antara mereka.

Harapan Bobby pupus lagi. Sudah mega proyek milik PT SHINY mengambang tak jelas kini satu proyek lolos dari tangannya. Bobby benar benar hancur sejak kawin sama wanita bernama Ranti. Kebanggaan mempunyai isteri bintang top terasa sia sia setelah korbankan gudang uangnya.

"Pak Anton tolong selidiki sampai di mana perjanjian Pak Wandi dengan Bara. Seingatku keuangan mereka tak bagus. Mana mungkin sanggup handle proyek sebesar ini."

Pak Anton menunduk lemas. "Pak Wandi berikan mereka dana 70%."

"What??? Gila..keenakan si Bara. Padahal proyek itu punya kita. Kan sudah masuk daftar kerja kita."

"Betul tapi semua data dibawa Sania. Mereka dapatkan proyek tanpa tender karena Sania yang terjun langsung urus proyek ini. Pak Wandi tak ragu berikan permintaan Sania."

Bobby mendengus kesal. Amarah mencekik leher bikin laki ini tak mampu bernafas baik.

"Acchhh..." Bobby menggebrak meja saking marahnya.

Pak Anton makin rajin menekuni debu debu di lantai ruang Bobby. Tak ada debu namun tetap lebih baik ketimbang tatap wajah full emosi milik Bobby.

"Apa rencana kita pak? Untuk sementara kita hanya finishing. Selanjutnya tak ada kegiatan lagi. Gimana mega proyek PT SHINY?"

"Kita tak punya dasar apapun. Siapa bisa bikin data dalam waktu singkat. Wanita sialan itu sudah bawa semua rancangan juga data hasil survey. Semua data terkunci di tangan Sania." ujar Bobby putus asa.

"Apapun kita kerjakan pasti ada harganya Pak Bobby."

Bobby tak tahu apa maksud kata Pak Anton. Otak Bobby sangat mumet tak mampu berpikir apapun saat ini. Nasib ratusan karyawan tergantung pada perusahaan ini. Kalau mereka asyik minus kerja bisa jadi akan terjadi PHK besaran terutama pekerja lapangan.

"Lebih baik Pak Bobby coba terjun ke pulau B. Bapak bisa bikin rancangan dan kita kebut bersama. Bapak kan bisa contek ide Sania sedikit dikit. Apa Sania tak perlihatkan sketsa pada bapak?"

Sania memang ada ajak Bobby diskusi namun Bobby anggap remeh pikir Sania sanggup tangani sendiri. Bobby lagi asyik pacaran sama Ranti sampai lupa diri. Mengajak Sania menikah agar gadis ini makin terlena hingga makin rajin. Semua hanya modus Bobby bodohi Sania.

Bau busuk bangkai tetap tercium walau dibungkus rapi. Segala keburukan Bobby dibongkar sendiri oleh Sania. Wajar kalau Sania sakit dan dendam. Lucunya Bobby masih pede akan bodohi Sania selanjutnya.

"Aku akan cari Sania bawa dia balik sini. Dia itu masih pacar aku."

Pak Anton menggeleng tak tahu cara pikir Bobby. Sania mana mungkin mau balik setelah lalui badai sebesar ini. Harga diri Sania mau tarok di mana bila balik sama Bobby yang notabene laki orang. Andai Sania masih sayang pada Bobby pasti akan muncul bikin perhitungan. Fakta Sania sama sekali tak tampak batang hidung. Gadis itu menghilang hindari Bobby.

"Lebih baik kita mulai survey sendiri. Tak usah pikir Sania lagi. Biarkan dia bebas lakukan apa maunya! Kita juga punya insinyur handal di sini. Atau aku dan Reza ke sana!"

Bobby lemparkan pandangan mematikan pada Pak Anton. Pak Anton dan Reza tak selihay Sania urusan design gambar. Bakat Sania tak tertandingi. Setiap rancangan gadis itu pasti menarik penuh kreasi juga banyak rincian baik ataupun buruk. Semua investor kagum pada ide gadis muda ini.

"Kalian tak sebanding Sania."

"Kalau sudah tahu Sania sangat potensi kenapa bapak campakkan dia?" tegur Pak Anton mulai gemas pada kepala batu Bobby.

Bobby mengira Sania gadis tolol bisa disetir sesuka hati. Bobby lupa kalau Sania sanggup tangani proyek besar tentu lebih mampu tangani laki brengsek macam Bobby.

"Pak Anton...kalau bukan ingat masa bakti bapak di perusahaan ini sudah kupecat bapak. Beraninya bapak omong gitu padaku. Aku pimpinan sini. Ingat itu!"

"Aku tak lupa...justru karena aku sayang perusahaan ini maka ingatkan Pak Bobby agar jangan ngoyo. Orang maju terus sementara kita hanya menanti nasib. Terserah mau pilih jalan apa! Permisi..!" Pak Anton keluar dari ruang Bobby dengan hati kesal.

Pak Anton bukan mau bela Sania tapi memikirkan nasib perusahaan yg diambang maut. Jerih payah bertahun tahun hancur gara gara ***** duniawi. Pak Anton yakin Bobby bukan cinta tulus pada Ranti. Laki itu hanya ingin nama besar. Bobby hanya cinta pada diri sendiri.

Menjelang sore Bara dan Sania baru kembali dari meninjau lokasi proyek. Bara puas dengan segala penjelasan Sania tentang proyek yang bakal digarap. Persiapan Sania patut diacung jempol. Sempurna itu kata tepat untuk hargai rancangan Sania. Kelihatannya nasib mujur sedang berpihak pada Bara. Beruntung dapat karyawan berotak licin macam Sania. Bara harus berterima kasih pada sahabatnya Roy telah beri spirit agar terima Sania bekerja di perusahaannya.

Sebelum tiba di kantor, ponsel Bara berbunyi tanda ada panggilan masuk. Bara meraih ponsel yang terletak di samping pintu mobil.

"Ya?" Bara langsung jawab panggilan.

Sania pura pura tak dengar karena bukan urusannya. Kepo urusan orang bukan gaya Sania.

"Nyonya sakit pak! Segera pulang ya!"

"Ya...jaga nyonya dengan baik! Aku segera datang." Bara melajukan mobil dengan kencang tanpa beritahu Sania. Sania sempat kaget namun gadis ini coba kuasai diri jangan panik.

Wajah Bara tampak cemas dapat kabar kalau bininya drop lagi. Isteri Bara sudah sakitan sejak tiga tahun terakhir ini. Bara tak putus asa upayakan kesembuhan isteri tercinta. Segala cara dia lakukan agar isterinya mendapat pengobatan layak walau harus korbankan tenaga dan materi. Bara tak peduli semua pengorbanan, yang penting isterinya sembuh.

"Maaf nona Sania..Kita ke rumahku dulu ya! Isteriku mendadak drop."

Sania tentu saja tak menampik permintaan sederhana ini. Malah dalam hati Sania memuji Bara setinggi langit. Seorang suami baik dan setia. Sungguh beruntung wanita yang jadi isteri Bara. Dapat suami setia bonus wajah tampan.

"Tak apa pak. Kesehatan ibu jauh lebih penting." sahut Sania sambil melirik wajah tampan digantungi awan mendung. Mendung tapi tetap keren.

Sania hanya berani memuji dalam hati tak berani ungkapkan. Bara adalah laki orang tak pantas dipuji secara langsung. Cukup simpan dalam hati nilai plus laki ganteng itu.

Tak lama mereka tiba di rumah cukup mewah. Terdiri dari dua lantai dengan halaman sangat luas. Tanaman hias tertata rapi beraturan sehingga hasilkan taman asri menyejukkan.

Sania kagum pada tangan dingin orang yang menata halaman depan jadi kebun bunga kecil. Bunga bunga bermekaran hiasi setiap sudut taman mengundang kupu kupu singgah ikut menikmati keindahan taman mini ini.

"Ayok masuk!" suara Bara ajak Sania masuk ke dalam rumah.

Sania hentikan mengagumi taman Bara memilih ikut masuk ke rumah mewah Bara. Pintu rumah sudah terbuka seakan tahu Bara bakal tiba.

Dengan langkah tergesa Bara menuju ke arah di mana isterinya berada. Kecemasan terukir di wajah tampan itu.

Sania tak berani ikut masuk kamar isteri Bara menjaga privasi laki itu. Sania belum berhak masuk terjauh di keluarga Bara. Sania bisa sampai di rumah Bara hanya karena kebetulan.

Sania memilih duduk di sofa warna gading di ruang tamu walau tak ada yang ijinkan Sania istirahatkan bokong bahenolnya di sofa empuk.

Sania melihat seorang wanita seumuran Bara keluar dari kamar yang dimasuki Bara tadi. Penampilan wanita ini bak bintang hollywood full make up serta pakaian luks. Satu kata untuk wanita itu. Mewah.

"Hei..siapa kamu?" seru wanita itu garang.

Sania cepat cepat bangun dari sofa empuk beri hormat pada wanita itu. Siapapun dia pasti ada hubungan dengan keluarga ini. Kalau tidak bagaimana mungkin bisa berada dalam kamar isteri Bara.

"Saya pegawai Pak Bara."

"Pegawai? Bukan selingkuhan?" wanita itu memantau Sania dari ubun hingga ujung sepatu. Matanya liar seperti pemangsa dapat makanan lezat. Sania merasa tak enak hati datang datang dituduh yang bukan bukan. Penyambutan tak ramah.

"Maaf bu..aku memang pegawai Pak Bara. Kami baru pulang meninjau proyek baru." jelas Sania tak mau bikin wanita itu salah sangka.

"Proyek? Proyek apa lagi? Buat wc umum atau selokan?" ejek wanita itu sinis.

"Maaf bu..proyek kami bukan proyek abal abal seperti dugaan ibu. Kami akan bangun perumahan mewah di bilangan C."

"Yang benar? Proyek besar toh? Wah...pasti uangnya banyak!" seru wanita itu histeris. Suara kayak kuntilanak ketemu darah segar bergema di seluruh ruangan. Sania merasa bulu kuduknya merinding. Wanita mengerikan.

"Masalah dana aku tak tahu karena itu wewenang Pak Bara." sahut Sania mulai resah berhadapan dengan wanita histeris begitu dengar Bara dapat proyek besar. Siapa adanya wanita mengerikan plus histeris ini.

Terpopuler

Comments

𝓜𝓪𝔀𝓪𝓻

𝓜𝓪𝔀𝓪𝓻

ii siapa pula?

2022-10-19

1

Jumi Roh

Jumi Roh

waduh udaah ada ular dirumah pa Bara

2022-03-12

0

lihat semua
Episodes
1 Patah hati
2 Kekacauan
3 CEO PUSING
4 Laki Culas
5 Lembaran Baru
6 Karyawan Baru
7 Karyawan rajin
8 Kesal
9 Mulai berkarya
10 Proyek Perdana
11 Berjumpa
12 Jumpa
13 Kenalan
14 Makin Dekat
15 Pengawal Nania
16 Serangan Musuh
17 Bara
18 Permintaan Nania
19 Nania Drop
20 Restu Keluarga
21 Jumpa Keluarga
22 Kumpul Keluarga
23 Adu Mulut
24 Jumpa Camer
25 Berbengkel
26 Rangga Abangku
27 Berbagi
28 Hadiah Untuk Rangga
29 Mencari Fakta
30 Dendam
31 Agra
32 Kumpul keluarga
33 Lamaran
34 Kesepakatan
35 Mobil Untuk Agra
36 Melawan
37 Tamu Tak Diundang
38 Ijab Kabul
39 Acara Keluarga
40 Berbagi Ranjang
41 Kebahagiaan Nania
42 Keisengan Bara
43 CS Gila
44 Tuyul Pengacau
45 Saingan Dalam Rumah
46 Kecurigaan Dea
47 Perasaan Bara
48 Suami Siaga
49 Konflik Kecil
50 Berdamai
51 Kekacauan Di Pagi Hari
52 Menuai Karma
53 Buka Kisah Lama
54 Shopping
55 Bersikap Jujur
56 Semangat Baru
57 Terkuak Rahasia
58 Lokasi Proyek
59 Curhat author
60 Survey
61 Cinta
62 Kintan
63 Jumpa Bapak Kintan
64 Prahara
65 Bini Muda Rebutan
66 Tua Muda Sakit
67 Dua Wanita Sakit
68 Nania Kritis
69 Pesan Nania
70 Nania Pergi
71 Tidur Bersama
72 Bara Ngambek
73 Rudi Diakui Keluarga
74 Tahlilan
75 Ciuman Subuh
76 Salah Paham
77 Akting Tak Lulus
78 Jenguk Kintan
79 Berdebat Soal Rudi
80 Nyaris
81 Mohon Dukungan
82 Menantu Idaman
83 Nyaris 2
84 Runtuhnya Gelar Perawan
85 Rahasia Kecil Ranti
86 Gerakan Perdana Sania
87 Rangga Naik Pangkat
88 Pengacau Baru
89 Maya
90 Bertengkar
91 Kesedihan Sania
92 Ketegasan Bara
93 Menang Tender
94 Jumpa Musuh
95 Berita Buruk
96 Maya Bunuh Diri
97 Niat Busuk Amanda
98 Ancaman Bertubi
99 Kehancuran Bobby
100 Bobby Terkapar
101 Menantu Norak
102 Buka Jati Diri
103 Pengumuman Pemenang
104 Kerja Bakti
105 Tamu Tak Diundang
106 Bersikap Jujur
107 Lari Pagi
108 Kantor Baru
109 Rekan Lama
110 Lagi Lagi Maya
111 Berdamai
112 Ranti Berulah
113 Kacau
114 Sukacita Diatas Duka
115 Kabar Bagus
116 Sania Yang Berubah
117 Debat Santai
118 Gerakan Amanda
119 Amanda Stress
120 Perhatian Mertua
121 Emosi Sania
122 Sania
123 Sania Berkepribadian Ganda
124 Pasangan Baru
125 Cerita Rumit
126 Bertamu Ke Kantor Polisi.
127 Keadilan
128 Sania Ngambek
129 Salah Arti
130 Rayuan Bara
131 Plan Ke Pulau B
132 Berdebat Lagi
133 Dosa Bara
134 Rasa Bersalah itu
135 Cinta Usang Terbit
136 Janji Bara
137 Fadil Pulang
138 Bara Terjebak
139 Sania Pergi
140 Sidang Tengah Malam.
141 Rangga Marah
142 Chat Sania
143 Terungkap
144 Dua Wanita Culas
145 Rindu Sania
146 Joachim
147 Bara Nelangsa
148 Rangga Jatuh Cinta
149 Lisa Hamil
150 Sania Berang
151 Arsy Nekat
152 Roy Sekar Jadian
153 Pengawalan Bara
154 Bara Selamat
155 Penyesalan Bara
156 Sania pulang
157 Sania Kejar Rangga
158 Bara Bersumpah
159 Sania Balik Kantor
160 Persoalan Baru
161 Membalas
162 Ngidam Sania
163 Burung Piaraan Pak Slamet
164 Suami Baru
165 Ngidam Terpenuhi
166 Berdamai Dengan Hati
167 Suhada Dioperasi
168 Sania Mengalah
169 Damai
170 Ungkap Fakta
171 Makan Malam
172 Penculikan Suhada
173 Amanda Meninggal
174 Operasi Sukses
175 Akhir Kisah Amanda
176 Cari Ketenangan
177 Pesta
178 CEO Cantik
179 Undian Mobil
180 Dukungan Bara
181 Kelaparan
182 Oleh-oleh
183 Harga Oleh-oleh
184 Ranti Melahirkan
185 Sania Lahiran
186 Jalan Mulai Terang
187 End
Episodes

Updated 187 Episodes

1
Patah hati
2
Kekacauan
3
CEO PUSING
4
Laki Culas
5
Lembaran Baru
6
Karyawan Baru
7
Karyawan rajin
8
Kesal
9
Mulai berkarya
10
Proyek Perdana
11
Berjumpa
12
Jumpa
13
Kenalan
14
Makin Dekat
15
Pengawal Nania
16
Serangan Musuh
17
Bara
18
Permintaan Nania
19
Nania Drop
20
Restu Keluarga
21
Jumpa Keluarga
22
Kumpul Keluarga
23
Adu Mulut
24
Jumpa Camer
25
Berbengkel
26
Rangga Abangku
27
Berbagi
28
Hadiah Untuk Rangga
29
Mencari Fakta
30
Dendam
31
Agra
32
Kumpul keluarga
33
Lamaran
34
Kesepakatan
35
Mobil Untuk Agra
36
Melawan
37
Tamu Tak Diundang
38
Ijab Kabul
39
Acara Keluarga
40
Berbagi Ranjang
41
Kebahagiaan Nania
42
Keisengan Bara
43
CS Gila
44
Tuyul Pengacau
45
Saingan Dalam Rumah
46
Kecurigaan Dea
47
Perasaan Bara
48
Suami Siaga
49
Konflik Kecil
50
Berdamai
51
Kekacauan Di Pagi Hari
52
Menuai Karma
53
Buka Kisah Lama
54
Shopping
55
Bersikap Jujur
56
Semangat Baru
57
Terkuak Rahasia
58
Lokasi Proyek
59
Curhat author
60
Survey
61
Cinta
62
Kintan
63
Jumpa Bapak Kintan
64
Prahara
65
Bini Muda Rebutan
66
Tua Muda Sakit
67
Dua Wanita Sakit
68
Nania Kritis
69
Pesan Nania
70
Nania Pergi
71
Tidur Bersama
72
Bara Ngambek
73
Rudi Diakui Keluarga
74
Tahlilan
75
Ciuman Subuh
76
Salah Paham
77
Akting Tak Lulus
78
Jenguk Kintan
79
Berdebat Soal Rudi
80
Nyaris
81
Mohon Dukungan
82
Menantu Idaman
83
Nyaris 2
84
Runtuhnya Gelar Perawan
85
Rahasia Kecil Ranti
86
Gerakan Perdana Sania
87
Rangga Naik Pangkat
88
Pengacau Baru
89
Maya
90
Bertengkar
91
Kesedihan Sania
92
Ketegasan Bara
93
Menang Tender
94
Jumpa Musuh
95
Berita Buruk
96
Maya Bunuh Diri
97
Niat Busuk Amanda
98
Ancaman Bertubi
99
Kehancuran Bobby
100
Bobby Terkapar
101
Menantu Norak
102
Buka Jati Diri
103
Pengumuman Pemenang
104
Kerja Bakti
105
Tamu Tak Diundang
106
Bersikap Jujur
107
Lari Pagi
108
Kantor Baru
109
Rekan Lama
110
Lagi Lagi Maya
111
Berdamai
112
Ranti Berulah
113
Kacau
114
Sukacita Diatas Duka
115
Kabar Bagus
116
Sania Yang Berubah
117
Debat Santai
118
Gerakan Amanda
119
Amanda Stress
120
Perhatian Mertua
121
Emosi Sania
122
Sania
123
Sania Berkepribadian Ganda
124
Pasangan Baru
125
Cerita Rumit
126
Bertamu Ke Kantor Polisi.
127
Keadilan
128
Sania Ngambek
129
Salah Arti
130
Rayuan Bara
131
Plan Ke Pulau B
132
Berdebat Lagi
133
Dosa Bara
134
Rasa Bersalah itu
135
Cinta Usang Terbit
136
Janji Bara
137
Fadil Pulang
138
Bara Terjebak
139
Sania Pergi
140
Sidang Tengah Malam.
141
Rangga Marah
142
Chat Sania
143
Terungkap
144
Dua Wanita Culas
145
Rindu Sania
146
Joachim
147
Bara Nelangsa
148
Rangga Jatuh Cinta
149
Lisa Hamil
150
Sania Berang
151
Arsy Nekat
152
Roy Sekar Jadian
153
Pengawalan Bara
154
Bara Selamat
155
Penyesalan Bara
156
Sania pulang
157
Sania Kejar Rangga
158
Bara Bersumpah
159
Sania Balik Kantor
160
Persoalan Baru
161
Membalas
162
Ngidam Sania
163
Burung Piaraan Pak Slamet
164
Suami Baru
165
Ngidam Terpenuhi
166
Berdamai Dengan Hati
167
Suhada Dioperasi
168
Sania Mengalah
169
Damai
170
Ungkap Fakta
171
Makan Malam
172
Penculikan Suhada
173
Amanda Meninggal
174
Operasi Sukses
175
Akhir Kisah Amanda
176
Cari Ketenangan
177
Pesta
178
CEO Cantik
179
Undian Mobil
180
Dukungan Bara
181
Kelaparan
182
Oleh-oleh
183
Harga Oleh-oleh
184
Ranti Melahirkan
185
Sania Lahiran
186
Jalan Mulai Terang
187
End

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!