Lisa besarkan mata dengar kata kata yang menghina Sania. Gampang sekali ucap sayang namun hanya ingin jadikan Sania sebagai bini kedua. Di mana otak lelaki yang jadi panutan semua karyawan kantor ini.
"Sania menghilang karena tak mau berhubungan dengan bapak lagi. Kalau dia masih ada rasa sama bapak pasti sudah muncul. Kini malah tak tahu di mana posisinya. Lebih baik bapak fokus sama kerja dan lupakan Sania. Kami yakin dia akan temukan jodoh lebih baik."
"Kenapa kamu bicara tak sopan pada atasan kamu? Hanya aku yang dicintai Sania. Mungkin dia perlu waktu untuk hilangkan rasa kesal. Dia pasti kembali ke sini."
"Terserah bapak saja. Aku yakin Sania takkan kembali." ketus Lisa masih ngotot tak mau mengalah. Rasa hormat pada Bobby makin sirna. Laki brengsek tak bermoral anggap semua wanita silau akan harta. Lisa yakin Sania bukan gadis bermata hijau lihat duit.
"Ya sudah! Kembali kerja sana. Langsung kabari aku bila ada kabar Sania." ujar Bobby sedikit kasar.
Lisa langsung melengos pergi tanpa permisi. Laki jahat macam Bobby tak pantas dihargai. Biarlah dia tanggung semua derita bila semua proyek tersendat.
Di satu perusahaan yang bergerak di bidang pembangunan sedang interview beberapa orang untuk dijadikan karyawan. Perusahaan ini tak sebesar PT BUILD BARATA namun lumayan nyaman.
Sania berada di antara pelamar untuk ikutan di wawancara. Sania bisa saja minta bantuan PT SHINY masukkan dia ke perusahaan manapun dia mau namun Sania bukan orang yang mau masuk lewat pintu samping. Sania mau kerja andalkan kemampuan sendiri.
Satu persatu dipanggil untuk diwawancara di ruang pemimpin untuk duduki posisi sebagai perancang bangunan. Yang hadir rata rata laki. Cuma Sania satu satunya wanita yang ikut sesi wawancara. Sania tak gentar walau harus bertarung dengan para pejantan. Rekam jejak Sania sudah cukup lumayan dalam hal bangun membangun. Apa lagi Sania lulusan S2 terbaik dari universitas ternama Harvard Amerika. Ini akan jadi acuan maju ke depan.
Akhirnya Sania dapat giliran dipanggil langsung ke ruang pimpinan. Orang yang bertanggung jawab wawancara adalah pemilik perusahaan. Perusahaan tentu ingin miliki karyawan dengan skill terbaik agar bisa jadi karyawan diandalkan.
Sania diantar ke satu ruang hanya dibatasi kaca tebal dengan ruang lain. Cukup sederhana untuk satu perusahaan. Sania dapat menilai kalau pemimpin perusahaan bukan orang mesum. Andai pemimpin lain akan buat pembatas agar tak dapat diintip agar gampang berbuat sesuatu dalam tanpa terlihat dari luar. Tanpa sadar Sania tersenyum sendiri bayangkan bos culun dengan kepala botak berwajah lugu.
Namun sayang bayangan Sania bertolak belakang. Orang yang duduk di meja pemimpin justru lelaki tampan berwajah sangar penuh kharisma. Kulit bersih terawat tanpa serabut kumis atau jambang. Sungguh klimis. Sania beri nilai 9 untuk tampang laki itu. Cuma Sania belum tahu bagaimana sifat laki itu. Kejam atau nyiur melambai mengarah ke sifat feminim.
"Mau lamar kerja atau lamar suami?" tanya laki itu mematahkan lamunan Sania. Suara itu dingin plus sinis.
"Oh maaf pak...aku datang melamar kerja." Sania melirik laki lain yang duduk di bangku. Laki itu tertawa kecil lihat Sania langsung kena teguran tak ramah.
Sania tarik kembali nilai 9 untuk laki itu karena kasar terhadap orang baru. Seharusnya seorang pemimpin beri contoh bagus buat karyawan supaya tampak budaya asli dari timur yang terkenal ramah tamah.
"Duduk...berdiri terus tambah pendek." kata laki itu datar.
Sania besarkan mata saking gemas pada orang demikian sok. Mata indah Sania pelototi bos sinting itu sambil keluarkan suara ******* kecil. Baru pertama jumpa sudah kasih perasaan tak nyaman. Bagaimana mau kerjasama. Namun Sania coba bertahan dengan bersikap netral walau kesal.
Sania tempatkan pantat perlahan seakan takut lukai bangku busa dengan bokong indahnya.
"Sania Stuart...nama barat. Tak ada keluarga. Lulusan terbaik Harvard. Dalam usia 24 sudah S2. Mengagumkan.. Beri alasan kenapa aku harus pekerjakan kamu?" ujar sang bos tak ramah.
Sania menelan ludah sebanyak mungkin agar kerongkongan lebih adem. Emosi Sania sudah naik ke ubun-ubun hendak meledak sembur hawa panas ke muka bos sinting itu. Sania sudah yakin tak mau kerja di perusahaan yang dipimpin orang sinting.
"Alasan? Pertama agar punya dana untuk isi perut dan beli pakaian dalam. Kedua agar bisa sombong tunjukkan prestasi bahwa gelar ku bukan kutilep dari laci Rektor. Ketiga yakni kumpul duit buat beli suami yang ramah dan sayang wanita. Itu saja." sahut Sania tanpa beban. Sania sengaja asal jawab karena memang tak ada rencana kerja di situ. Bossnya seperti orang sinting sok berkuasa.
"Mau pamer masih jomblo?" suara sinis sang pemimpin muncul lagi.
Sania memilih bibir menahan rasa kesal agar jangan sempat meledak dari bibir mungilnya.
"Aku jomblo tak ada sangkut paut sama bapak karena anda bukan typeku. Bapak sudah terlalu tua untuk gadis muda macam aku. Ya setara sama petugas siskamling di daerahku." jawab Sania santai tak mau kalah.
"Apa tampangku demikian tua? Umurku baru 33." gumam sang bos menyentuh wajah sendiri termakan omongan Sania.
"Lha...pamer umur toh? Artinya muka bapak boros.." ejek Sania bikin laki lain yang dalam ruangan tak dapat tahan tawa lagi.
Sesi wawancara jadi ajang adu mulut antara pemimpin dan calon pegawai. Terlihat konyol dan lucu. Siapapun bakal terpingkal lihat kondisi menggelikan ini.
Bos sinting khayalan Sania menatap Sania lekat lekat seakan tak terima dibilang bertampang tua. Wajahnya selalu jadi dambaan para wanita, kharisma bikin para wanita histeris ingin berlabuh dalam pelukannya. Yang ini malah menghina habisan. Sungguh suatu tantangan bagi Bara sang pemimpin sinting itu.
"Apa ada pertanyaan lain? Kalau tidak aku permisi. Kalau bapak rasa aku bisa diajak kerja sama ya hubungi aku. Kalau tidak ya tak apa." kata Sania sedikit angkuh.
Bara benar benar dibuat penasaran oleh gadis angkuh ini. Yang lain merendah harap diterima, yang ini malah kasih tantangan buat pemimpin.
"Kau pernah kerja?"
"Pernah tapi tidak kerasan karena bossnya berotak miring. Aku resign..resign resmi kok."
"Ada bawa surat resign secara resmi?"
Sania ragu keluarkan surat resign yang sudah ditanda tangani Bobby. Sania tak mau hidupnya dihubungkan dengan laki tak bermoral itu. Hati Sania sudah tertutup untuk berada dalam lingkungan laki itu.
"Ada apa? Dipecat secara tak hormat?" pancing Bara mau tahu kebenaran status Sania di perusahaan lama.
"Aku benaran resign..cuma aku tak mau berhubungan dengan perusahaan itu lagi. Kalau percaya padaku syukurlah! Kalau mau selidiki aku lebih baik tak usah sama sekali." ujar Sania dengan wajah serius.
"Baik..kalau kau diterima artinya kau karyawan sini. Untuk apa buka lembaran lama."
"Ok...terima kasih! Hargai aku sebagai pegawai sini. Tak usah hubung dengan perusahaan gilingan tebu." ucap Sania bikin Bara dan laki yang satu lagi melongo. Aapa hubungan kerja dan penggilingan tebu.
"Apa maksudmu?"
"Habis manis sepah dibuang. Tukang peras tak berperasaan."
Bara mangut mangut makin tertarik pada gadis muda bermulut tajam di hadapannya. Merekrut Sania bagai satu tantangan bagi Bara.
"Mana suratnya?"
Sania membuka tas selempang nya lalu serahkan surat resign nya yang berhasil Lisa selipkan dalam file kerja Bobby. Surat itu resi karena ada cap perusahaan dan tanda tangan Bobby.
Bara menghembus nafas melihat nama perusahaan tempat Sania kerja dulu. Satu perusahaan besar yang sangat disegani. Mengapa Sania keluar dari perusahaan yang menjanjikan masa depan cerah. Pasti ada sesuatu luar biasa baru bisa menghentikan seorang pegawai dari perusahaan.
"Nona Sania..perusahaan kami kecil. Gaji di sini juga tak sebagus perusahaan lamamu. Apa kau tak keberatan?"
"Tidak..asal cukup buat beli makan sudah cukup. Dan bapak jangan sungkan kalau memang tak ingin rekrut aku. Aku ini orangnya fair dan pengertian."
"Baiklah! Besok kami akan hubungi nona. Biar kami bikin perbandingan dengan calon lain."
"Ok...kalau gitu aku permisi. Oya bapak jangan lupa senyum dikit biar keriputnya berkurang. Permisi.." Sania langsung keluar dari ruang Bara tanpa menoleh ke belakang lagi.
Bara tercengang diberi nasehat tak terduga dari gadis muda yang cukup lucu. Wajah Bara makin berkerut menambah kesan tua.
Roy teman Bara terpingkal pingkal setelah Sania menghilang dari kantor. Baru kali ini ada calon pegawai demikian berani kritik calon majikan. Sania memberi kesan akan bawa angin segar dalam kantor.
"Selidiki dia Roy! Dia itu mantan anak buah Bobby. Mengapa dia keluar?"
"Sip..dia lucu juga berani. Kau rekrut saja agar kantor ini tak tegang seperti sasana pelatihan olah raga berat."
Bara memejamkan mata perlihatkan kelelahan mendalam. Banyak beban yang harus dia pikul membuat laki yang belum tua ini tampak seperti orang berumur tua.
"Dia sangat muda apa mampu bekerja berat? Perusahaanku tak sebesar dulu lagi. Kita hanya dapat proyek kecilan untuk menyambung hidup." desah Bara agak putus asa.
"Jangan pesimis bro! Harus tetap semangat walau jalan ke depan makin terjal. Kurasa kau coba dulu cewek lucu tadi. Dia lugu ceplas-ceplos ceplos."
"Kau cari tahu dulu siapa dia."
"Ok deh! Aku ada teman kerja di sana. Biar kutelepon sebentar."
Roy segera angkat benda tipis berwarna hitam menghubungi seseorang. Cukup lama Roy ngobrol dengan orang itu sampai terbelalak kaget. Info yang didapat cukup buat Roy terpana.
Bara perhatikan Roy bicara dengan hati penasaran. Kelihatannya pembicaraan sangat seru. Temannya itu sampai terkaget kaget dengar cerita dari seberang.
Tak lama kemudian Roy menutup hpnya menatap Bara. Roy menggeleng tak percaya berita yang di dapatnya mengenai calon pegawai barunya.
"Gimana? Gadis bermasalah?"
"Yang masalah si Bobby. Sania itu pegawai terbaik perusahaan itu. Semua proyek dihandle dengan baik. Cuma Bobby silap berpaling dari Sania yang dia janji akan kawini. Si Bobby kan kawini bintang top. Ya Sania marah karena segalanya sudah dia persiapkan. Yang nikah malah orang lain. Wajar dia resign. Si Bobby lagi nyari Sania untuk diajak kerja lagi."
Bara melongo." Apa ada manusia berhati setan gitu. Campakkan anak orang lalu ajak kerja lagi. Dasar gila!"
Roy meremas tangan ikutan kesal pada tingkah Bobby yang semena pada gadis muda nan cantik itu.
"Dasar sontoloyo...kalau Sania adik gue sudah ku kasih bogem mentah. Sudahlah Bara! Kau rekrut dia sekaligus kasih perlindungan dari orang kurang waras itu. Kasihan anak yatim toh!"
"Baiklah! Besok akan ku panggil dia! Semoga dia bukan jual tampang dalam tugas. Aku tak butuh gadis cantik tapi gadis jenius."
"Kujamin akan kau dapatkan. Ok bro...aku pulang dulu. Sebentar lagi buka cafe."
"Trims sobat! Yang laris ya!" Bara mengangkat tangan beri tanda Victoria dua jari.
Roy tersenyum hargai doa temannya. Kini tinggal Bara memandangi data Sania yang tercantum dalam lembaran kertas. Sania sangat cantik dan segar. Dalam usia relatif muda sudah mencapai prestasi mengagumkan. Mengapa Bobby tega campakkan seorang gadis muda demi seorang wanita yang jauh lebih tua. Apa mungkin Sania matre atau kurang pas dalam bergaul hingga Bobby malu tampilkan gadis muda ini di publik.
"Maaf pak...wawancara selanjutnya bagaimana?" Maya sang sekretaris muncul tanpa ketok pintu lagi.
"Lanjutkan..panggil yang berikutnya." Bara beri tanda agar pelamar selanjutnya juga diberi kesempatan beri jawaban terbaik agar lolos seleksi.
Sania keluar dari gedung perusahaan PT ANGKASA JAYA dengan langkah ringan. Sania sudah berusaha melamar kerja. Di terima atau tidak itu urusan nanti. Kini Sania sudah bisa lepaskan segala kesedihan yang sudah berlalu. Sania harus bangkit menata hidup lebih sempurna.
Sania mengeluarkan ponsel meneleponi seseorang untuk kasih kabar bahwa dia sudah berusaha cari kerja walau tak semegah PT BUILD BARATA.
"Halo say...assalamualaikum."
"Waalaikumsalam...di mana kau sayangku?"
"Lagi mau pulang..aku mau singgah ke rumahmu. Sudah kangen tak jumpa hampir sebulan."
"Aku masih ngantor sayang..atau kau main saja sampai sore. Kau tunggu aku di rumah."
"Aku ke bengkel papa saja ya. Sekalian mau lihat gimana perkembangan bengkel papa."
"Boleh..boleh..papa sangat berterima kasih atas pinjaman uangmu. Semoga cepat balik modal. Bisa cicil uangmu."
"Jangan pikir itu! Yang penting bengkel papa tambah maju. Bukankah aku juga bagian keluarga kalian?"
"Tentu..kau adalah teman sejatiku juga adikku yang konyol. Sudah ya! Nanti ketahuan sama si bobo kita ngobrol. Dia lagi nyari kamu."
"Ciiisss...emang aku cewek gampangan? Di gaji semilyar sebulan juga ogah. Nanti kita ngobrol di rumah. Aku akan nginap di rumahmu malam ini."
"Okay...ntar aku beliin kamu pizza vegetarian kesukaanmu! Bye sayang tercinta."
Sania tersenyum bayangkan mulut Lisa tambah panjang satu senti ucapkan kata bye.
Gadis muda ini masuk ke dalam mobil sederhana yang sudah temani dia selama dua tahun terakhir ini. Mobil ini di beli dengan hasil keringat Sania. Sania tak pernah minta barang mewah pada Bobby apa lagi memoroti uang laki itu. Malah Sania matian bantu Bobby cari duit supaya perusahaan makin kokoh. Tak disangka Bobby tega khianati kesungguhan gadis muda ini.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 187 Episodes
Comments
Bunda
ikutan ngakak di part ini 😀😀😀
2024-12-28
0
L
ingin tertawa ,tp malu sama Author 😁😁😁
2022-10-23
1
玫瑰
aduh...lucu sangat..hahaha
baru kenal, sudah ribut...
2022-10-19
1