Sania menghela nafas tak tahu harus jawab apa. Pak Wandi pasti percaya padanya karena Sania pernah kerja sama waktu masih kerja di Build. Terlalu banyak bela diri nanti dikira menyombongkan diri.
"Kita coba saja dulu pak! Aku percaya Pak Wandi takkan pelit sama kita."
"Kau yakin?" mata Bara menyipit kecil.
"Sudah kubilang kita coba. Belum coba gimana tahu. Siap berangkat?" Sania malah menantang bos barunya yang kurang pede. Seluruh tubuh Bara melukiskan kalau laki itu sedang dalam lubang penuh masalah.
Bentuk tubuh indah dan wajah tampan tak mampu menghalau segala beban yang sudah tersirat di mata.
"Baiklah! Aku coba percaya pada anak kecil macam kamu." Bara bangkit menuju keluar ruangan tanpa peduli Sania yang masih mematung.
Benar benar manusia kayu. Tegang tak ada lentur nya. Sania tak diberi waktu memikirkan tingkah lebih jauh. Gadis ini cepat cepat menyusul sambil meraih tas selempang juga file dan laptop kerjanya. Sania mengedipkan mata pada Dea sambil acungkan tangan.
Dea cepat tanggap bikin tanda dua jari Victoria. Semoga kehadiran Sania bawa angin segar dalam perusahaan. Gadis cantik penuh energik.
Di parkiran Bara sudah menanti di depan mobil warna hitam tak terlalu mewah. Badan mobil lumayan besar bisa muat 6 atau 7 orang. Mobil Sania seperti liliput bertarung dengan raksasa. Sama sama dari kaleng namun beda kasta. Mobil Sania dari kasta terendah tak ada nilai walau masih bisa bermanfaat sedangkan mobil Bara dari kasta elite bisa angkuh. Sania menunduk sedih melihat nasib mobilnya yang tak bisa dibanggakan.
"Katanya kejar waktu tapi melamun. Memikirkan mantan?" tegur Bara antar Sania ke alam sadar.
"Ciiisss..mantan dipikir! Apa faedahnya? Virus yang harus dijauhi...Pak Bara silahkan jalan duluan. Aku akan ikut dari belakang."
Bara tak habis pikir apa yang ada di otak anak muda. Kenapa mereka harus pisah mobil bila tujuan sama. Sania segan berduaan dengan Bara mengingat laki itu punya isteri. Wanita manapun akan sedih bila lihat suami berdekatan dengan perempuan lain. Sania sudah pernah merasakan sakit hati mendalam atas pengkhianatan Bobby maka itu Sania sadar diri tak mau sakiti wanita lain.
"Kamu mandi kelewat lama ya!" kata Bara dingin.
Sania melongo ditanya pertanyaan aneh. Untuk apa Bara mengurus masalah pribadi wanita. Jangan jangan laki ini ada kelainan jiwa suka campuri urusan orang.
"Apa urusan bapak?"
"Lama mandi bikin otakmu terendam air."
Sania bukan orang bodoh tak tahu Bara sedang mengejeknya. Bara ingin katakan Sania tak berakal waras otak kena banjir. Tak bisa berpikir waras.
Kalau bukan Bara seorang ceo rasanya ingin Sania ***** moncong kasarnya. Sania hanya bisa mengurut dada menahan rasa kesal.
"Mau bilang apa? To the point saja." Sania lontarkan pandangan tak bersahabat pada Bara sebagai balasan mulut lancang Bara.
"Naik ke mobilku! Mengapa harus pergi dengan mobilmu kalau kita searah. Mungkin kau mau kasih tahu semua orang kita musuhan?"
"Siapa musuhan denganmu? Isi kulkas dibawa ke kantor! Dingin.." Sania tak mau berdebat mengingat Pak Wandi sedang menunggu mereka. Kesempatan bagus takkan terulang bila terlewatkan.
Sania naik ke mobil Bara tanpa banyak mulut lagi. Bara ikutan masuk tanpa keluarkan sepatah katapun. Sikapnya sungguh tak bersahabat.
Keadaan dalam mobil dingin ditambah hembusan AC makin dingin tak ubah seperti di kutub utara. Sania maupun Bara tak berniat ringan mulut mengajak satu pihak ngobrol. Sania tahu diri tak berani buka mulut duluan karena yang sekarang duduk di sampingnya adalah bos juga suami orang.
Suasana hening dalam mobil terus berlangsung sampai di depan kantor Pak Wandi yang mewah. Pak Wandi pemilik real estate top negara ini. Bapak ini punya perumahan besar nyaris menyentuh seluruh kota di Indonesia. Sania dan Bara beruntung dapat beruntung dapat kepercayaan Pak Wandi tangani proyek besarnya kali ini.
Sania turun dari mobil tanpa menunggu Bara. Sania biarkan laki itu parkir mobil di tempat semestinya. Kantor Pak Wandi berada di jantung kota dengan halaman luas. Mobil aneka mobil berjejeran rapi menunjukkan kualitas perusahaan yang elite. Halaman depan kantor bersih tanpa sampah sedikitpun.
Pak Wandi bukan orang sembarangan bisa percaya pada orang bila orang itu tak berkualitas. Sania adalah gadis beruntung bisa meraih simpati Pak Wandi. Kini tinggal bagaimana Sania tunjukkan kualitas seorang insinyur berkualitas.
Bara menyusul Sania yang duluan masuk kantor Pak Wandi. Suasana kantor tenang walau banyak anggota kerja. Semua terlihat sopan dan damai. Sania terlihat ngobrol dengan seorang wanita berpakaian ketat layak asisten pribadi maupun sekretaris pemilik perusahaan.
Bara mendekati Sania tanpa menimbulkan suara bising derap sepatu. Bara berhenti persis di belakang Sania memberi pandangan mengganggu mata. Si mungil dan di jangkung tampil bersama.
"Yok...mari ku antar nona Sania. Anda sudah ditunggu." wanita berdandan menor tadi mempersilahkan Sania menuju ke ruang kantor utama Pak Wandi. Sania memutar badan mencari Bara yang menurutnya belum muncul.
Begitu balik badan Sania menabrak tubuh tegap langsung menempel di dada orang itu. Jidat Sania terantuk di dada Bara. Untuk sesaat Sania bengong merasa bau maskulin yang memabukkan wanita.
Wanita menor tadi tertawa kecil menyaksikan adegan konyol antara Sania dan Bara. Jarang jarang ada adegan lucu di kantor mereka karena bos mereka orangnya sangat hati hati tak suka huru hara. Semua patuh tak berani buat ulah kalau masih mau jadi pegawai Pak Wandi.
"Masih betah nempel di tubuhku?" suara Bara membuat Sania mundur teratur.
Sania merasa malu langsung berjalan ke depan tanpa menoleh pada Bara lagi. Pipi Sania bersemu merah bagai tomat siap dipetik untuk diracik jadi makanan lezat. Bara ikut dari belakang dikawani wanita menor tadi menuju ke lantai. Sania menanti di lift tanpa berani menatap Bara.
Sania merujuk dalam hati mengapa bisa sekonyol gitu. Mengapa manusia sebesar gitu tak tampak di mata. Gimana kalau di depan mata adalah semut pasti hilang bagai abu. Mengapa Sania sering hilang fokus bila bersama Bara. Padahal waktu berstatus pacar Bobby dia tetap konsentrasi dalam segala hal. Mengapa pesona Bara bisa mengganggu fokus Sania.
Bara melirik Sania yang menunduk tak berani menatap wajahnya. Bara maklum gadis muda ini merasa malu habis melempar tubuh pada bos sendiri. Bara yakin Sania bukan sengaja melakukannya. Sania bukan gadis penggoda seperti wanita wanita sekelilingnya.
Gadis muda ini malah berkesan menjauh bila tak ada urusan penting untuk bahas soal kerja. Bara belum kenal Sania seutuhnya karena baru kenal beberapa hari namun kesan yang diberi Sania cukup mendalam. Pinter, cantik, konyol dan teledor.
Tiiinnnggg.
Pintu lift terbuka langsung ke lantai ruang kantor Pak Wandi. Rasa adem menyambut ketiga manusia berkepentingan dalam bisnis itu. Wanita berdandan menor tadi mempersilahkan Sania dan Bara masuk ke ruangan pimpinan setelah ketok pintu.
"Masuk!" terdengar suara dari dalam.
"Silahkan nona Sania dan Pak.." Wanita itu tak dapat lanjutkan kalimat karena tak tahu nama Bara.
"Bara.." sahut Bara cepat.
"Oh pak Bara..silahkan! Sudah ditunggu."
Sania dan Bara masuk ke dalam. Ruang kantor bak dalam taman eden. Segar sejuk menenangkan hati. Hati yang galau bisa nyaman berada di tempat senyaman ini. Pak Wandi memang pengembang sejati karena untuk diri sendiri juga tertata bagus.
"Nak Sania..akhirnya muncul!" Suara ceria Pak Wandi hangat menyambut kehadiran Bara dan Sania." Ayok duduk!"
"Perkenalkan ini pimpinan baruku Pak Bara dari PT ANGKASA JAYA." Sania bertindak sopan perkenalkan Bara pada Pak Wandi.
Bara langsung mengangguk tak kalah sopan sambil ulurkan tangan menyalami Pak Wandi.
Pak Wandi tertawa lebar menyambut tangan Bara. Wajah Pak Wandi begitu cerah tanpa beban. Tampang Pak Wandi jauh lebih muda dari umurnya. Kelihatannya tampang Pak Wandi seperti berumur empat puluhan padahal yang sebenarnya hampir enam puluh tahun. Bapak tua yang segar.
"ACH..Pak Bara..semoga kita bisa kerjasama dengan baik. Anda beruntung dapat karyawan sebaik nak Sania."
"Terima kasih Pak Wandi. Kami akan berusaha sebaik mungkin."
"Duduk dulu! Mau minum apa? Kopi atau teh?" tawar Pak Wandi tetap ramah.
Sania dan Bara saling berpandangan agak segan karena Pak Wandi sangat ramah bikin tak enak hati. Raut wajah Pak Wandi berseri seri bak dapat undian nomor satu. Ntah mengapa Pak Wandi sangat suka pada Sania. Semoga rasa suka itu murni dari prestasi Sania bukan diembel-embeli niat lain.
"Pak Wandi sangat perhatian bikin kita jadi malu." ucap Sania agak malu.
Pak Wandi menggoyang tangan tanda tak masalah. Bagi Pak Wandi anak muda berbakat macam Sania harus dihargai supaya tambah semangat melaksanakan tugas. Banyak anak muda sekarang habiskan waktu dengan huru hara. Bahkan tak jarang terjebak dalam narkoba. Ada saja tingkah anak muda sekarang hanya sekedar cari sensasi.
Anak muda macam Sania sudah langka maka Pak Wandi betul betul hargai remaja full talenta macam Sania.
"Kami minta teh saja Pak! Itu kalau tak merepotkan." suara bass Bara mengusir rasa sungkan antara mereka.
Pak Wandi mengangguk lalu meminta sekretarisnya menyediakan apa yang diminta kedua anak muda ini.
"Ok anak muda...kita mulai bisnis kita. Seperti janjiku akan percayakan proyek ini pada kalian. Ini baru tahap awal. Kalau kinerja kalian bagus maka kita akan lanjutkan ke tahap tahap selanjutnya. Sebelumnya bapak mau tanya apa kalian sanggup ambil tanggung jawab atas proyek ini?" tanya Pak Wandi serius sambil menatap Sania dan Bara silih berganti.
"Selama bapak percaya pada kami maka kami akan sekuat tenaga tuntaskan kepercayaan yang Bapak berikan pada kami. Kami janji walau belum tentu sempurna." sahut Bara mantap.
"Bagus...dan kau gadis kecil. Siap bertempur? Bapak tahu ini bukan proyek besar bagimu tapi kali ini timmu sudah beda. Mampukah kau kerja sama dengan tim barumu?" Pak Wandi menatap Sania lekat lekat.
"InsyaAllah...Di mana kita berdiri di situ langit dijunjung. Aku akan adaptasi dengan tim baruku. Dan bapak jangan segan menegur kalau ada yang tak sesuai. Kita akan gotong royong selesaikan misi dari bapak."
"Ok..bapak anggap kau mampu. Bapak harap minggu depan sudah ada kegiatan."
Sania menatap Bara minta persetujuan untuk iyakan atau bosnya itu masih perlu waktu untuk evaluasi kerja yang belum dia tinjau sama sekali. Bara pasti bukan asalan yang hanya mendengar tanpa ada melihat lokasi.
Pintu ruang Pak Wandi diketok dari luar menghalang Bara untuk segera menjawab.
"Masuk..!" perintah Pak Wandi.
Seorang laki muda mengantar minuman pesanan Bara. Setelah meletakkan minuman laki itu langsung pamit dengan sopan. Wangi teh menyeruak di meja kerja Pak Wandi hasilkan rasa tenang. Teh wangi bak aroma terapi bisa hangatkan jiwa.
"Ayo diminum!"
"Terima kasih pak..mengenai permintaan bapak agar ada kegiatan dalam minggu ini mungkin kami akan minta waktu dikit lagi. Kami minta sepuluh hari. Kami mau seleksi tanaman yang bakal kita tanam duluan agar bisa tumbuh sehat sambil menunggu kita membangun. Selesai pembangunan tanaman sudah hidup subur. Itu point tak kalah penting dari perumahan kita." Bara langsung utarakan maksud hati supaya sama sama puas.
"Deal..bapak suka aak muda yang memikirkan segala hal dalam jangka panjang. Nak Sania..bosmu kali ini lebih teliti. Mari kita langsung teken kontrak. Sebelumnya bapak mau pastikan Sania harus ikut teken dan menjadi penanggung jawab utama." Nada suara Pak Wandi menekan dan serius.
"Sania jamin pak! Sania akan tanggung jawab sampai tuntas. Dan terpenting adalah doa bapak buat kami. Semoga segala diperlancar. Doa bapak adalah sumber kekuatan kami." Sania berkata penuh keyakinan.
Pak Wandi kelihatan senang dihargai Sania demikian tinggi. Sania pandai menngambil hati orang ditambah tampang imutnya bikin hati makin bahagia.
"Bapak akan kirim doa berton ton. Ayok kita bismillah!" Pak Wandi mengeluarkan map hitam lalu sodorkan pada Bara selaku atasan Sania. Bara mengambil dokumen itu lalu membaca agar tak ada rasa was was. Seluruh point point kerja tertera jelas antara pemilik proyek dan Bara sebagai pelaksana.
Cukup lama Bara pelajari setiap huruf dan angka yang tercantum di dokumen. Sania dan Pak Wandi menanti Bara pelajari tanpa bersuara. Sania malah santai menikmati teh pagi yang belum sempat dia nikmati di rumah.
Keheningan merajai seluruh ruangan. Pak Wandi asyik mainkan ponsel sambil menunggu Bara pahami isi kontrak. Sania percaya Bara akan hati hati maka tak terlalu pusing isi kontrak. Bara bukan orang bodoh gampang dikelabui.
Akhirnya Bara selesai membaca dan mengangguk puas. Kerja sama yang diberi Pak Wandi sangat memuaskan. Cukup banyak kemudahan.
"Kuterima Pak Wandi. Bapak sangat murah hati pada kami." ujar tak malu akui kebaikan Pak Wandi pada mereka.
"Well..anak muda. Berapa persen uang muka?" tanya Pak Wandi pada Sania selaku penanggung jawab kerja.
Sania tertawa kecil ditanya soal dana. Maunya memang banyak mengingat modal Bara tak besar tangani proyek lumayan besar ini.
"Jujur ya Pak! Modal kami kecil. Kalau bisa ya di luar kebiasaan!" kata Sania sambil canda.
"60%?" tawar Pak Wandi bikin Bara tersentak.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 187 Episodes
Comments
玫瑰
Percaya dengan kemampuan nya..itulah Sania
2022-10-19
2
Jumi Roh
pinter kau Sania
2022-03-12
1
Dewi Kijang
lanjut 👍👍👍
2021-10-13
1