Restu Keluarga

Bara tak mau berzinah karena sadar di larang agama. Kalau sedang bergairah paling Bara selesaikan dengan bersolo karier. Memang tak ada rasa tapi lebih bagus daripada buang bibit pada tempat tak halal.

Hiruk pikuk kegiatan rumah sakit bangkitkan Sania dari tidur nyenyak. Sania membuka mata kaget melihat dia tidur berbantal bahu Bara. Laki itu juga tidur memeluk tangan sendiri.

Sania malu kedapatan tidur nyenyak bersandar pada calon suami yang tak diharap. Sania cepat cepat menjauh sebelum Bara sadar dari tidur.

Sania masuk ke ruang IGD pantau kondisi Nania. Tujuan Sania ada di rumah sakit untuk Nania maka yang pertama harus dilihat adalah wanita penyakitan itu.

Nania sudah bangun kelihatan sangat segar. Seorang perawat sedang tensi tekanan darah Nania pastikan wanita itu sudah pulih. Perawat itu tersenyum ramah pada Nania sebagai penghargaan pada kesehatan Nania yang membaik.

"Nyonya sudah baikan. Sudah boleh pulang. Tapi kita tunggu perintah dokter." ujar perawat ramah itu manis. Keramahan tenaga medis akan kurangi rasa sakit di badan pasien. Andai jutek malah bikin pasien makin drop.

"Terima kasih sus. Aku pingin cepat pulang."

"Nyonya tak boleh datang sini lagi sebagai pasien. Rajin konsumsi obat ya! Patuhi semua kata dokter."

Nania mengangguk pasti. Nania tak sabar hendak pulang urus acara nikah Bara dan Sania. Nania memang tak mampu bergerak bebas namun niat ikut atur acara bergelora dalam dada.

Bagi Nania cahaya terang akan bersinar di rumah yang sudah lama membeku. Kesuraman warnai setiap sudut rumah hadirkan kekelaman. Sudah tiba masanya Bara bangkit dari kesuraman gara dia sakit.

"Mbak...gimana kondisimu?" Sania datang hampiri Nania pasang wajah cerah biar Nania ikut cerah.

"Sania..kau masih di sini?"

"Ya masihlah mbak! Aku kan sudah janji akan tunggu mbak sehat. Pak Bara masih tidur di luar sana."

"Oh..kau pulanglah! Mandi dan lanjutkan tidurmu! Mbak minta maaf sudah merepotkan kamu."

Sania menggoyang tangan tak setuju kata kata Nania. Mereka akan segera berkeluarga untuk apa sungkan lagi. Cuma posisi Sania sangat tidak manis. Di selipkan ke arah manapun tetap jadi batu kerikil rumah tangga Nania dan Bara. Mana ada bini muda dihargai orang. Cibiran demi cibiran akan menerpa tubuh Sania.

"Jangan omong gitu mbak! Aku kan sudah janji akan ada untuk mbak. Aku akan pulang dan ke kantor. Banyak tugas menunggu kami. Segala sesuatu aku serahkan pada mbak dan Pak Bara. Aku siap kapan saja."

Mata Nania makin berbinar dengar janji Sania ikuti semua permintaannya. Yang menikah Sania tapi yang bahagia justru Nania.

"Pulanglah! Mbak baik baik saja. Kau adalah obat bagi mbak."

"Pahit dong! Aku gini manis masa pahit."

Nania tertawa geli digoda Sania. Rasa rasanya Nania sembuh total bila bersama Sania. Sania memang seperti obat mujarab bagi Nania. Melihat senyum Sania saja hati Nania kontan plong. Lega seakan tak ada sakit.

"Aku pulang dulu ya mbak! Bilangin Pak Bara aku sudah pulang! Jumpa di kantor nanti."

"Pergilah!"

"Assalamualaikum..." Sania mengecup pipi tirus Nania lalu balik badan tinggalkan ruang IGD.

"Waalaikumsalam.." lirih Nania

Sania lewati Bara yang masih lelap di bangku ruang tunggu. Gaya tidur Bara masih posisi semula bersidekap dada.

Mengingat kejadian semalam Sania tidur berbantal bahu Bara bikin rona merah menyembul di pipi cantik Sania. Ada rasa malu menjalar dalam hati telah menyentuh laki yang bukan muhrim. Tak sengaja Sania telah buat dosa. Mungkin Allah akan maklumi kondisi Sania tak sengaja berbuat dosa. Sania betul tak sadar telah tertidur di bahu Bara.

Sania pulang ke apartemen bersihkan diri. Tanpa tunda Sania berangkat kerja. Proyek Pak Wandi akan segera dikerjakan. Sania tak ada waktu berleha menanti teguran Pak Wandi kalau tidak on time.

Sania yakin Bara tak dapat cepat sampai ke kantor. Sania maklumi keadaan Bara yang harus merawat isteri tercinta sebelum berangkat kerja.

Sania malah hargai laki bertanggung jawab macam Bara. Dia tetap beri perhatian pad Nania walau isterinya jauh dari kata ibu rumah tangga sempurna.

Di rumah Bara menemani Nania yang baru pulang dari rumah sakit. Kondisi Nania sangat bagus. Raut wajah lebih cerah juga lebih semangat.

Tampak Nania bahagia berhasil boyong Sania ke dalam rumah tangga mereka. Suatu hal aneh bin ajaib. Isteri bahagia suami punya bini muda. Mungkin Nania satu satunya wanita tersebut.

Bara memberi pesan pada Bik Sur melarang siapapun datang termasuk keluarga Nania. Nania sudah cerita semua keburukan keluarganya maka Bara tak mau ambil resiko bikin Nania drop lagi.

Bara sudah harus mulai kerjakan proyek. Dia tak mungkin asyik di rumah temani Nania. Kerja selalu terbelangkai kalau Nania mulai minta perhatian lebih.

Kini Bara tahu mengapa Nania sering kumat sakitnya. Ternyata selama ini dia masukkan hantu ke rumah ganggu Nania. Hantu berkedok manusia tak pantas diberi tempat.

Sebelum ke kantor Bara larikan mobil ke arah rumah orang tuanya. Bara mau kasih tahu kalau dia akan menikah lagi dengan pegawai kantor. Orang tua Bara seratus persen akan dukung Bara menikah lagi. Dari Nania masa depan Bara hilang. Bara sudah hilang kesempatan jadi orang tua karena Nania sudah diangkat rahim gegara kanker tumbuh subur di sana.

Sudah berkali orang tua Bara minta Bara kawin lagi namun ditolak. Bara tak mau sakiti hati wanita yang berapa tahun ini jadi pendamping hidupnya.

Keluarga Bara memang tak setuju Bara nikahi Nania. Tapi Bara ngotot mau kawin sama Nania walau Nania bekas pacar temannya. Ada janji tak tertulis antara Bara dengan temannya yang sudah meninggal karena kecelakaan mobil.

Mobil Bara memasuki halaman rumah super mewah. Bangunan besar di dominasi warna silver terpapang megah di depan mata Bara. Sudah cukup lama Bara tak injak rumah utama keluarga ini. Mungkin sejak menikah dengan Nania. Bara komunikasi dengan orang tua hanya lewat ponsel. Itupun hanya basa basi tanya kabar. Bara dikucilkan keluarga gara Nania.

Bara bawa langkah sampai depan pintu mewah. Ada keraguan dalam diri Bara untuk ketok pintu. Bagaimana tanggapan keluarga terhadap rencana nikah kedua kali.

Belum sempat Bara ketok pintu tiba tiba pintu terbuka lebar. Sesosok perempuan paro baya berdiri di hadapan Bara perlihatkan ekspresi tak dapat dilukis dengan kata kata. Ada rindu juga amarah tersurat di wajah wanita mulai senja itu.

"Ma..apa kabar?"

Wanita yang dipanggil mama tak menjawab malah meninggalkan Bara di depan pintu. Bara tahu diri segera ikut langkah mamanya masuk ke dalam.

Di dalam ada papa Bara sedang baca koran ditemani teh hangat. Papa Bara tak pindahkan koran walau tahu anak lakinya sudah datang.

"Pa..."

Papa Bara turunkan koran setelah disapa Bara. Raut wajah sang papa tak jauh beda dengan mama. Datar tanpa ekspresi.

Bara jadi tak enak hati dapat sambutan tak ramah dari keluarga sendiri.

"Masih ingat punya orang tua?" tanya Pak Jaya papa Bara.

"Pa...kenapa omong gitu? Aku ini anak kalian. Wajar aku datang."

"Mau minta tolong selamatkan perusahaanmu yang hampir bangkrut?"

"Tidak..perusahaanku baik saja walau tak besar. Aku datang minta restu papa dan mama karena aku akan menikah lagi."

Pak Jaya dan Bu Jaya saling berpandangan surprise dengar akhirnya Bara bersedia menikah lagi.

"Dengan siapa?" tanya Bu Jaya masih tak ramah.

"Dengan pegawaiku. Namanya Sania.."

"Syukurlah bukan dengan Arsy maupun Nada! Ceritakan tentang calonmu!" Mama Bara mulai perlihatkan sifat aslinya periang. Wanita ini bahagia tak terhingga dengar Bara mau buka diri menikah lagi.

"Dia sarjana S2 lulusan Harvard. Anak yatim dan pegawai Bara. Dia sudah bawa proyek besar buat Bara."

"Anak yatim punya kemampuan bawa proyek besar? Proyek apa?" tukas Pak Jaya belum percaya seratus persen pada cerita Bara.

"Proyek Pak Wandi..bangun perumahan 300 unit tahap awal. Masih dilanjutkan kalau kerja kami bagus."

Pak Jaya mulai tertarik pada cerita Bara tentang proyek Pak Wandi. Pak Wandi adalah pengusaha top. Dia punya real estate di mana mana. Cuma orangnya sulit ditembus kalau tak ada kemampuan perfect.

"Kau punya modal cukup? Dananya sangat besar. Papa rasa kamu belum mampu handle proyek ini. Apa perlu bantuan papa?"

"Tidak perlu..Pak Wandi sudah kucurkan dana 70% buat pembangunan tahap awal." cerita Bara tanpa tambah kurang cerita.

Pak Jaya melongo. Mana ada proyek dapat suntikan dana sampai 70%. Ini sudah capai dana penyelesaian pembangunan. Mungkin Pak Wandi sudah mulai pikun salurkan dana sebesar itu buat Bara.

"Kau menang tender?"

"Tidak tender..Pak Wandi tawarkan proyek itu bagi Sania."

"Siapa Sania?" tanya mama Bara masih penasaran.

"Itulah calon mantu mama." kata Bara berusaha tak ketawa melihat sang mama dikit bingung.

"Jangan jangan calonmu gula gula Pak Wandi!"

"Astagfirullah Ma...Sania itu anak sholeha. Dia sedang godok proyek PT SHINY saat ini." kata Bara santai.

"Apa? Mega proyek PT SHINY? Bukankah sudah ada bayangan jatuh ke tangan PT BUILD?"

"Di PT BUILD Sania perancangnya. Sania sudah keluar dari PT BUILD dan kerja di kantorku."

"Aku pernah dengar PT BUILD ada arsitek muda berotak licin. Nyatanya calon binimu toh! Kok dia mau ya?" tanya Pak Jaya pandang enteng pada Bara.

"Sejujurnya Nania yang paksa Sania jadi bini keduaku. Nania sangat sayang pada Sania maka ingin dia masuk keluarga kami."

Pak Jaya dan Bu Jaya terpana. Cerita Bara sangat tak masuk akal. Mana ada bini tua cariin suami bini muda. Karangan Bara hindari amarah keluarga atau lelucon pagi hari.

"Kau sehat nak?" Bu Jaya dekati Bara meraba kening Bara cari tahu anaknya tidak sakit.

"Ma...jangan konyol! Aku datang minta restu bukan jadi badut kalian."

Pak Jaya terkekeh lihat Bara mulai kesal dianggap bohong.

"Tentu kami restui. Cuma kami mau jumpa dia dulu. Memang cerdas atau hanya jual tampang. Sekarang kan banyak wanita jual tampang capai maksud tujuan tak peduli halal atau tidak."

"Malam ini jumpa di rumah Bara. Nania tak mungkin ke sini karena kalian tahu dia kurang sehat."

"Baiklah! Papa dan mama akan datang bersama adikmu. Kami mau lihat calonmu model apa?"

"Bara tunggu..Bara ke kantor dulu. Kami sudah harus atur para pekerja terjun lokasi."

"Apa yang bisa papa bantu?"

"Kami kekurangan kuli kasar. Papa bisa rekomendasi?"

Pak Jaya termenung sejenak memikirkan para pekerja lapangan yang dibayar harian. Pak Jaya tak punya pekerja kasar karena bidangnya beda dengan Bara. Pak Jaya bergerak di bidang otomotif dan bahan texstil. Keluarga Bara cukup terpandang karena kekayaan lumayan berlimpah. Cuma putra sulung mereka terjebak dalam perkawinan tak semestinya. Menikahi Nania adalah kesalahan fatal di mata keluarga.

"Papa akan minta buruh Ommu! Diapun lagi sepi job. Mungkin bisa bantu kamu. Oya apa benar calon binimu mampu tembus tender PT SHINY? Papa dengar bos besar pt itu ada di luar negeri."

"Lagi usaha pa..doakan saja! Bara nikahi Sania bukan karena dia pinter tapi memang desakan Nania. Sania sayang pada Nania maka bersedia menikah denganku. Dia muda sekali. Sekitar 24 tahun."

"Nasibmu nak. Mama tak sabaran mau jumpa calon mantu baru." timpal Bu Jaya berapi api. Semoga kali ini Bara tak salah pilih lagi.

"Bara mohon papa dan mama jangan kucilkan Nania! Dia sudah cukup menderita jadi Bara harap kalian beri dikit perhatian."

"Ok..berhubung dia tahu diri ijinkan kamu kawin lagi maka mama akan coba baik padanya. Cuma mama mau dan calon mu menikah resmi secara hukum dan agama. Tak boleh nikah siri."

"Pasti..Nania janji akan ijinkan secara resmi. Kami akan nikah sah hukum dan agama. Cuma kami tak mau pesta atau keramaian. Kesehatan Nania tak bagus jadi sederhana saja."

"Baiklah! Segalanya akan kita atur. Keluarga besar kita harus hadir. Kami tak mau dibilang kamu kawin kucing kucingan."

"Emang ada kawin kucing?" olok Bara agak santai setelah dapat restu keluarga walau kedua orang tuanya belum jumpa Sania.

Mama Bara tertawa geli karena keluar istilah baru dari mulutnya.

"Ya ada...asal ada wanita main embat."

"Ma itu bukan Bara. Kami rencana menikah di mesjid saja. Biar saklar."

"Papa yang atur setelah jumpa calon mu! Papa mau lihat model apa wanita piihanmu." sambut Pak Jaya mau atur pernikahan anaknya kali ini. Pernikahan Bara dan Nania tak dihadiri keluarga besar berhubung tak restui pernikahan Bara dan Nania.

"Terserah papa dan mama. Bara berangkat kerja dulu. Nanti malam kita makan bersama di rumah Bara. Bara pastikan Sania akan hadir." Bara bangkit dari sofa hendak berangkat kerja. Bara yakin orang di kantor sudah menanti Bara memberi pengarahan mulai langkah pertama.

Bu Jaya ikuti Bara dari belakang berdoa semoga pilihan Bara kali ini betul betul bawa kebahagiaan bagi anaknya.

Kadang Bu Jaya kasihan pada Bara menahan perasaan. Bara dihadapkan dilema antara keluarga dan janji pada sahabat yang sudah meninggal. Bara termakan janji akan menjaga Nania sampai akhir hayat.

Terpopuler

Comments

Hot Red Gingger

Hot Red Gingger

kok bisa 24 yah. lulus S2 usia 24th trus kerja sdh 2 th atau 3 rh sama bobby. harusnya umur 26 atau 27 lah.

2022-11-02

1

Anonymous

Anonymous

sakral atuh, saklar kebayang listrik 😆

2022-06-14

1

Jumi Roh

Jumi Roh

uh kalo saja ada dunia maya suami kaya pak Bara🤭🤭

2022-03-12

0

lihat semua
Episodes
1 Patah hati
2 Kekacauan
3 CEO PUSING
4 Laki Culas
5 Lembaran Baru
6 Karyawan Baru
7 Karyawan rajin
8 Kesal
9 Mulai berkarya
10 Proyek Perdana
11 Berjumpa
12 Jumpa
13 Kenalan
14 Makin Dekat
15 Pengawal Nania
16 Serangan Musuh
17 Bara
18 Permintaan Nania
19 Nania Drop
20 Restu Keluarga
21 Jumpa Keluarga
22 Kumpul Keluarga
23 Adu Mulut
24 Jumpa Camer
25 Berbengkel
26 Rangga Abangku
27 Berbagi
28 Hadiah Untuk Rangga
29 Mencari Fakta
30 Dendam
31 Agra
32 Kumpul keluarga
33 Lamaran
34 Kesepakatan
35 Mobil Untuk Agra
36 Melawan
37 Tamu Tak Diundang
38 Ijab Kabul
39 Acara Keluarga
40 Berbagi Ranjang
41 Kebahagiaan Nania
42 Keisengan Bara
43 CS Gila
44 Tuyul Pengacau
45 Saingan Dalam Rumah
46 Kecurigaan Dea
47 Perasaan Bara
48 Suami Siaga
49 Konflik Kecil
50 Berdamai
51 Kekacauan Di Pagi Hari
52 Menuai Karma
53 Buka Kisah Lama
54 Shopping
55 Bersikap Jujur
56 Semangat Baru
57 Terkuak Rahasia
58 Lokasi Proyek
59 Curhat author
60 Survey
61 Cinta
62 Kintan
63 Jumpa Bapak Kintan
64 Prahara
65 Bini Muda Rebutan
66 Tua Muda Sakit
67 Dua Wanita Sakit
68 Nania Kritis
69 Pesan Nania
70 Nania Pergi
71 Tidur Bersama
72 Bara Ngambek
73 Rudi Diakui Keluarga
74 Tahlilan
75 Ciuman Subuh
76 Salah Paham
77 Akting Tak Lulus
78 Jenguk Kintan
79 Berdebat Soal Rudi
80 Nyaris
81 Mohon Dukungan
82 Menantu Idaman
83 Nyaris 2
84 Runtuhnya Gelar Perawan
85 Rahasia Kecil Ranti
86 Gerakan Perdana Sania
87 Rangga Naik Pangkat
88 Pengacau Baru
89 Maya
90 Bertengkar
91 Kesedihan Sania
92 Ketegasan Bara
93 Menang Tender
94 Jumpa Musuh
95 Berita Buruk
96 Maya Bunuh Diri
97 Niat Busuk Amanda
98 Ancaman Bertubi
99 Kehancuran Bobby
100 Bobby Terkapar
101 Menantu Norak
102 Buka Jati Diri
103 Pengumuman Pemenang
104 Kerja Bakti
105 Tamu Tak Diundang
106 Bersikap Jujur
107 Lari Pagi
108 Kantor Baru
109 Rekan Lama
110 Lagi Lagi Maya
111 Berdamai
112 Ranti Berulah
113 Kacau
114 Sukacita Diatas Duka
115 Kabar Bagus
116 Sania Yang Berubah
117 Debat Santai
118 Gerakan Amanda
119 Amanda Stress
120 Perhatian Mertua
121 Emosi Sania
122 Sania
123 Sania Berkepribadian Ganda
124 Pasangan Baru
125 Cerita Rumit
126 Bertamu Ke Kantor Polisi.
127 Keadilan
128 Sania Ngambek
129 Salah Arti
130 Rayuan Bara
131 Plan Ke Pulau B
132 Berdebat Lagi
133 Dosa Bara
134 Rasa Bersalah itu
135 Cinta Usang Terbit
136 Janji Bara
137 Fadil Pulang
138 Bara Terjebak
139 Sania Pergi
140 Sidang Tengah Malam.
141 Rangga Marah
142 Chat Sania
143 Terungkap
144 Dua Wanita Culas
145 Rindu Sania
146 Joachim
147 Bara Nelangsa
148 Rangga Jatuh Cinta
149 Lisa Hamil
150 Sania Berang
151 Arsy Nekat
152 Roy Sekar Jadian
153 Pengawalan Bara
154 Bara Selamat
155 Penyesalan Bara
156 Sania pulang
157 Sania Kejar Rangga
158 Bara Bersumpah
159 Sania Balik Kantor
160 Persoalan Baru
161 Membalas
162 Ngidam Sania
163 Burung Piaraan Pak Slamet
164 Suami Baru
165 Ngidam Terpenuhi
166 Berdamai Dengan Hati
167 Suhada Dioperasi
168 Sania Mengalah
169 Damai
170 Ungkap Fakta
171 Makan Malam
172 Penculikan Suhada
173 Amanda Meninggal
174 Operasi Sukses
175 Akhir Kisah Amanda
176 Cari Ketenangan
177 Pesta
178 CEO Cantik
179 Undian Mobil
180 Dukungan Bara
181 Kelaparan
182 Oleh-oleh
183 Harga Oleh-oleh
184 Ranti Melahirkan
185 Sania Lahiran
186 Jalan Mulai Terang
187 End
Episodes

Updated 187 Episodes

1
Patah hati
2
Kekacauan
3
CEO PUSING
4
Laki Culas
5
Lembaran Baru
6
Karyawan Baru
7
Karyawan rajin
8
Kesal
9
Mulai berkarya
10
Proyek Perdana
11
Berjumpa
12
Jumpa
13
Kenalan
14
Makin Dekat
15
Pengawal Nania
16
Serangan Musuh
17
Bara
18
Permintaan Nania
19
Nania Drop
20
Restu Keluarga
21
Jumpa Keluarga
22
Kumpul Keluarga
23
Adu Mulut
24
Jumpa Camer
25
Berbengkel
26
Rangga Abangku
27
Berbagi
28
Hadiah Untuk Rangga
29
Mencari Fakta
30
Dendam
31
Agra
32
Kumpul keluarga
33
Lamaran
34
Kesepakatan
35
Mobil Untuk Agra
36
Melawan
37
Tamu Tak Diundang
38
Ijab Kabul
39
Acara Keluarga
40
Berbagi Ranjang
41
Kebahagiaan Nania
42
Keisengan Bara
43
CS Gila
44
Tuyul Pengacau
45
Saingan Dalam Rumah
46
Kecurigaan Dea
47
Perasaan Bara
48
Suami Siaga
49
Konflik Kecil
50
Berdamai
51
Kekacauan Di Pagi Hari
52
Menuai Karma
53
Buka Kisah Lama
54
Shopping
55
Bersikap Jujur
56
Semangat Baru
57
Terkuak Rahasia
58
Lokasi Proyek
59
Curhat author
60
Survey
61
Cinta
62
Kintan
63
Jumpa Bapak Kintan
64
Prahara
65
Bini Muda Rebutan
66
Tua Muda Sakit
67
Dua Wanita Sakit
68
Nania Kritis
69
Pesan Nania
70
Nania Pergi
71
Tidur Bersama
72
Bara Ngambek
73
Rudi Diakui Keluarga
74
Tahlilan
75
Ciuman Subuh
76
Salah Paham
77
Akting Tak Lulus
78
Jenguk Kintan
79
Berdebat Soal Rudi
80
Nyaris
81
Mohon Dukungan
82
Menantu Idaman
83
Nyaris 2
84
Runtuhnya Gelar Perawan
85
Rahasia Kecil Ranti
86
Gerakan Perdana Sania
87
Rangga Naik Pangkat
88
Pengacau Baru
89
Maya
90
Bertengkar
91
Kesedihan Sania
92
Ketegasan Bara
93
Menang Tender
94
Jumpa Musuh
95
Berita Buruk
96
Maya Bunuh Diri
97
Niat Busuk Amanda
98
Ancaman Bertubi
99
Kehancuran Bobby
100
Bobby Terkapar
101
Menantu Norak
102
Buka Jati Diri
103
Pengumuman Pemenang
104
Kerja Bakti
105
Tamu Tak Diundang
106
Bersikap Jujur
107
Lari Pagi
108
Kantor Baru
109
Rekan Lama
110
Lagi Lagi Maya
111
Berdamai
112
Ranti Berulah
113
Kacau
114
Sukacita Diatas Duka
115
Kabar Bagus
116
Sania Yang Berubah
117
Debat Santai
118
Gerakan Amanda
119
Amanda Stress
120
Perhatian Mertua
121
Emosi Sania
122
Sania
123
Sania Berkepribadian Ganda
124
Pasangan Baru
125
Cerita Rumit
126
Bertamu Ke Kantor Polisi.
127
Keadilan
128
Sania Ngambek
129
Salah Arti
130
Rayuan Bara
131
Plan Ke Pulau B
132
Berdebat Lagi
133
Dosa Bara
134
Rasa Bersalah itu
135
Cinta Usang Terbit
136
Janji Bara
137
Fadil Pulang
138
Bara Terjebak
139
Sania Pergi
140
Sidang Tengah Malam.
141
Rangga Marah
142
Chat Sania
143
Terungkap
144
Dua Wanita Culas
145
Rindu Sania
146
Joachim
147
Bara Nelangsa
148
Rangga Jatuh Cinta
149
Lisa Hamil
150
Sania Berang
151
Arsy Nekat
152
Roy Sekar Jadian
153
Pengawalan Bara
154
Bara Selamat
155
Penyesalan Bara
156
Sania pulang
157
Sania Kejar Rangga
158
Bara Bersumpah
159
Sania Balik Kantor
160
Persoalan Baru
161
Membalas
162
Ngidam Sania
163
Burung Piaraan Pak Slamet
164
Suami Baru
165
Ngidam Terpenuhi
166
Berdamai Dengan Hati
167
Suhada Dioperasi
168
Sania Mengalah
169
Damai
170
Ungkap Fakta
171
Makan Malam
172
Penculikan Suhada
173
Amanda Meninggal
174
Operasi Sukses
175
Akhir Kisah Amanda
176
Cari Ketenangan
177
Pesta
178
CEO Cantik
179
Undian Mobil
180
Dukungan Bara
181
Kelaparan
182
Oleh-oleh
183
Harga Oleh-oleh
184
Ranti Melahirkan
185
Sania Lahiran
186
Jalan Mulai Terang
187
End

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!