Lagi-lagi ancaman Morean membuatnya menciut, helaan nafas beratnya kembali mengudara dengan wajah gusar dan takut, ia melepaskan kuat tangan Morean yang memeganginya, “Apa maumu sebenarnya, aku tidak meminta bantuanmu untuk kakakku, aku bisa menanganinya sendiri!”
Morean yang masih duduk di ranjang pun bangkit ia berjalan lagi kearah gelas anggurnya, “Sudahku katakan sebelumnya aku mau kau dan hidupmu…”
“Omong kosong! Aku tidak akan sudi! Tidak akan pernah sudi!” Sarla memekik ia sungguh sangat enggan.
“Itu urusamu, terserah jika kau ingin membuat semua impian kakak mu hanya sia-sia.” Morean pun melakukan panggilan membuat suara panggilan masuk terdengar beberapa kali berdering hingga seseorang yang jauh disana mengangkatnya.
“Hallo, Sarla Ya?”
Sarla terbelalak lelaki itu bahkan tahu nomor ponsel sang kakak, ia pun segera bangkit dan turun dari tempat tidur, sekilat mungkin meraih ponsel Morean, “Kakak!”
“Sarla, maafkan kakak tidak mengabarimu, teman kakak Sanden tetanga kita di tempat tinggal lama yang pernah kakak ceritakan, memperkenalkan kakak pada sepupunya yang bekerja disebuah rumah sakit mata terbaik di Centavilla, kata Sanden dia bisa membuat kakak melihat lagi, sepupunya Senorita sangat baik kakak baru saja melakukan pengecekkan dan mungkin akan melanjutkan tahap pengobatan selanjutnya….”
“Kakak—“ Bibir Sarla kelu, rasanya ia tidak sanggup berbicara sang kakak bahkan tidak mengerti dia sedang menjadi sebuah umpan.
“Kau jangan fikirkan soal biaya, mereka bilang ini gratis merupakan bantuan dari pemerintah setempat, Sarla jangan khawatirkan kakak, kakak baik-baik saja, kakak menyayangi mu…sudah dulu, kakak sedang dalam ruangan ini.” Molina pun mematikan panggilannya.
Sarla berjongkok seketika kedua tanganya seakan-akan ingin menjambaki rambutnya, sungguh kakaknya begitu sangat mudah dimanfaatkan padahal hanya bertemu beberpaa kali dengan lelaki bernama Sanden itu, ini sebab Molina terlalu berharap kesembuhannya terjadi, tapi semuanya adalah kebohongan ini semua adalah lelaki ini yang membuatnya, bantuan pemerintah dan dialah pemerintah itu, dialah yang membayar mahal untuk semuanya.
Sarla berangsur duduk dilantai saking hidupnya rasanya di anatara posisi yang terjepit. Bibir Sarla rasanya sulit sekali berucap ia mengadah ke atas, “Berapa lama kau menginginkan hidupku, harus berapa lama aku membayar semuanya.” Kedua bola mata Sarla membasah ia hancur, hidupnya benar-benar hancur semuanya jadi semakin melilitnya.
Jelas sekali padahal aku adalah korban, kenapa menjadi aku terjepit atas semua.
“Bangkitlah!” Morean mengulur tangannya, Namun Sarla enggan menyambut ia memilih bangkit sendiri.
“Kau adalah Sanden itu, kau yang menemui kakaku bukan? Kau iblis—“
Morean mendekat ia menahan bibir Sarla dengan jemarinya, “Berhenti mengucapkan kalimat yang tidak baik dari bibirmu yang sempurna,” Morean menyentuh lembut bibir ranum Sarla mengusapnya lembut garis bibir itu membuat Sarla mematung takut, “Jika aku iblis aku bisa membuat hal yang lebih gila tanpa harus memperdulikan orang yang terpenting dihidupmu.”
“Kau bukan memperdulikan tapi memanfaatkan!” Lantang Sarla lagi. “Berhenti berbasa basi, tulis dan buat secara perjanjian harus berapa lama aku membayar semua yang sudah kau perbuat untuk Molina, jika dinominalkan dalam uang, tuliskan aku harus membayarkannya dalam jumlah berapa banyak.”
Morean tertawa, “Kau sangat pintar dalam berbisnis ternyata, kau sangat tidak ingin dirugikan…”
Sarla pun berlalu menuju kamar mandi, “Segera buat, aku harap kau masih punya setengah hati dari manusia mau memikirkan nasib kehidupan wanita malang seperti ku.”
***
Morean kembali duduk bersantai disebuah sofa menaikan satukakinya keatas sembabri menunggu Sarla yang entah melakukan apa didalam sana, jika berfikir akan melarikan diri itu adalah hal bodoh dan tidak mungkin sebab kini mereka berada disebuah lantai 25.
Tidak lama Sarla pun kembali ke kamr ia lebih tampak segar mungkin habis mencuci wajahnya, tatapan Sarla masih selalu dingin kepada Morean, “Mana asistenmu, mana surat perjanjiannya?”
Morean menunjuk dengan dagunya pada selembaran kertas dan sebuah pena disana, “Tidak ada perjanjian! Tulis saja apa yang kau mau, aku tidak bisa memastikan berapa lama, mungkin 6 ulan, 10 bulan atau mungkin setahun, dua tahun…tidak tahu yang pasti hingga aku bosan...”
Sarla seperti tertampar dirinya sudah seperti tidak ada harganya, Sarla memilih tidak berkomentar, “Beri aku kepastian dan nominalnya.”
“Nominal? Kau berharap bisa membayarnya?” Morean pun tertawa mencibir Sarla. “Kau tidak perlu memikirkan itu, aku tidak butuh recehan uangmu, berterimakasihlah aku hanya sedang tertarik padamu Nona Wilamo kau mengesankan…” Morean sungguh memebuat Sarla semaki jijik, jelas sekalai dia mengingatkan kisah dimalam itu.
”Tulis, aku butuh kepastian!” Sarla pun terus bersikeras.
“Aku tidak bisa, yang pasti permintaan ku, kau ada kapanpun saat aku butuhkan, melayaniku dengan baik saat aku disni, kau mungkin akan menetap disini, satu hal yang haris kau ingat, tidak berhubungan pada siapapun teman atau lelaki manapun bahkan pelayan sekalipun.”
“Pekerjaanku?”
“Kau bekerja untuku! Molina akan sangat lama disana aku membuatnya melakukan pengobatan yang sangat terbaik pastikan kau juga akan melayani ku dengan baik,” Morean melihat pada arlojinya, “Baiklah ku rasa aku tidak perlu mengulang-ulang penjelasanku, aku akan kerumah sakit menjenguk ayahku setelah mandi, segera tulis hal-hal lain yang kau mau disana segera kirimkan pada Luke asistenku, aku mungkin tidak akan kembali malam ini.”
Persetan atas kau, bathin Sarla, melebarkan senyumannya dibelakang Morean.
Sungguh dia harus mencari cara untuk menemui Juless dan membuat perhitungan atas itu, dia pun begitu tidak sabar agar lelaki ini segera pergi.
“Ada puluhan cctv disini yang langsung tersambung pada gawaiku, pastikan kau tidak melakukan hal-hal yang sudah ku larang, hapus semua fikiran mu tentang kau akan mencari cara menemui Juless jika kau tidak ingin terjadi hal buruk pada kakakmu disana.” Morean melepaskan jasnya ia berdehem. “Tugas pertamamu lepaskan ini…lakukan apapun dengan senyuman pastikan kau tidak memeperlihatkan wajah dinginmu dihadapanku.”
SIALAN DIA TAHU....
Senyuman untukmu yang benar saja, sungguh kau tidak pantas mendapatkan senyuman, Iblis.
Sarla dengan wajah sedikit kesalnya danntidak ikhlas pin berjalan terpaksa mendekat pada Morean membantunya membuka dasi lelaki itu, sungguh dia sangat tidak ingin melihat wajah iblis ini, “Melepaskan semuanya, celanamu juga?” tangan Sarla dengan lembut menangalkan dasi dari leher Morean dan kemudian kancing kemejanya
Morean tertawa menatap pada wajah cantik tang menunduk itu, “Jika kau bersedia…. mungkin lain kali.” Lelaki itu berlalu meningglkan Sarla.
Sarla bernafas lega tidak melakukan hal-hal gila diawal, ia mungkin akan menyiapkan pakaian lelaki itu saat ini, agar dia tidak berlama-lama disini, setidkanya walaupun dia akan menjadi tawanan dia tidka melihat iblisnya disana.
Sunguh Sarla tidak paham lelaki itu akan memakai apa, Sarla pun mengedarkan pandangannya di kamar mewah lelaki itu, melihat pada sisi lain walkin closet lelaki ini yang cukup besar disana, ia pun akan segera kesana mengambilkan pakaiannya, hingga tiba-tiba pintu kamar itu diketuk, Sarla yang akan beranjak ke walk in closet pun berbalik ke arah pintu untuk segera membukanya.
“Permisi nona ini pakain-pakaian tuan Morean, saya akan memasukkannya.” Dorong wanita itu dorongan yang berisi sususan pakaian seperti sudah snagat paham jadwal lelaki itu.
“Baiklah biar aku saja!” Sarla pun membawa itu kedalam kamar dan mempersilahkan pelayan itu keluar.
“Sarlaaa!”
"Sial, kenapa sedang mandipun harus memanggilku, apa yang dia mau?" Sarla meninggalkan deretan pakaian itu disana ia segera datang.
“SARLAAAA!"
Morean pun beryeriak lagi, membuat Sarla segera berlari-lari kemar mandi, Tuhan kenapa dia harus terjebak dalam sebuah masalah bersama lelaki ini, sungguh Juless jika benar kau pelakunya kau benar-benar sukses membuat ku hancur, sangat hancur.
“Ya?” Sarla mendorong pintu, menundukkan wajahnya melihat lelaki itu sudah membasahi tubuhnya dibawah kucuran shower memperlihatkan tubuh atletisnya dan balutan ****** ***** merek ternama yang masih terpasang disana.
.
“Buka bajumu, mandilah!”
Degh.... A-apa?
.
.
.
.
Next » Tap Like
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 95 Episodes
Comments
⏤͟͟͞͞RL𝖎𝖓𝖆 𝕯𝖆𝖓𝖎𝖊𝖑🧢
uhuyyyyy .andi bareng🤣🤣🤣
2022-12-29
0
Najwa_auliarahma
Weh weh Weh mau mandi bareng ni ceritanya, enak banget lu more 🤣🤣🤣🤣
2022-03-28
0
Juliezaskia
bucin
2022-03-26
0