Bab 16

“More, kenapa kau menurunkan ku disini? Ini bukan Eddewars tower.” Valeria terperangah dibuat turun oleh Morean disebuah hotel. wamita itu panik terus melihat kesekitar ini benar-benar bukan rencana tujuan mereka untuk ke Appartement milik Morean itu.

“Aku ada urusan mendadak Valerie, semoga kau berbahagia di negara barumu, sampai jumpa lagi...” Mobil mewah itu pun melaju pergi dari sana. "

“More…Morean…Arghhhttt!” Wanita yang masih berteriak-teriak itu menggeram kesal bagaimana bisa ia di tinggakan di sebuah tempat lain setelah tadi terasa begitu sangat manis dan ia fikir kenangan mereka malam ini akan membuatnya sulit sekali pergi dari negera ini.

"Apa yang terjadi, kenapa mendadak semuanya berubah!" Valeria menatap bodoh pada mobol yang meninggalkannya dijalanan itu.

Luke memberikan jadwal pada Morean yang sudah begitu menumpuk, akan ia pastikan Morean tidak akan mangkir lagi, ini menjadi kali keduanya Morean seperti ini setelah dulu Summer kekasih pertamanya ada disini, dia si gila kerja terbuyarkan oleh hal-hal yang rasanya tidak terlalu penting, menurut Luke dia nyaris hampir sama dengan Juless hanya saja Morean tidak terlalu parah selepas perginya Summer dulu Morean hanya seharian saja mengalami kekacauan.

Morean mengembalikan gawai itu kepada Luke, “Setelah pertemuan dengan veloz nanti aku akan pulang cepat Luke, jika bisa pindahkan jadwal hari sore ini untuk besok saja.”

“Terakhir Bos, setelah hari ini pastikan kau membayar semua jadwal mu, sebab aku tidak akan membantu mu jika terjadi masalah.”

Morean menyeringai lebar, “Hanya kau satu-satunya bawahan yang berani mengancam seperti itu pada pada bos yang membayarmu.”

“Aku hanya menjalankan perintah mendiang ibu anda nyonya Lusiana saat dia akan pergi dulu, selagi aku bisa mencegah mu melakukan hal yang salah, aku harus mencegahnya.”

“Sayangnya tidak ada yang lebih handal darimu Luke, Jika ada, aku sudah menyingkirkan mu.” Morean sedikit mengulas tawa.

"Terserah bos!"

***

Menjelang sore setelah pertemuannya dengan Veloz rekannya Morean melirik waktu sepertinya 1 jam lagi Sarla akan pulang, ia pun bergegas mencari cara agar bisa pergi dan hanya sendiri tanpa di ketahui Luke dia akan pergi lahi ke kota kecil itu, hinga hampir sore beberapa urusannya sudah ia selesaikan hanya beberapa lagi malam nanti atau besok namun ia terus memaksa kepada Luke agar mengganti besok.

Morean menghubungi seseorang agar menyiapkannya sebuah mobil, dia akan pergi sekarang, Morean menyugar rapi rambutnya mencibir kala membayangkan Sarla yang menatap takut dan benci kepadanya.

“Malaikat mautmu akan segera tiba Nona Wilamo kita akan bermain-main…”

Tanpa disadari Morean, Juless di tempat lain saat ini sedang menyelidikinya sungguh ia yakin kepergian Sarla mungkin ada kaitannya dengan sang paman, hanya dia satu-satunya orang yang tidak menyukai hubungan dia dengan Sarla.

Juless yang tidak pernah datang ke perusahaan milik keluargnya itu kini bahkan dia menjadi ingin bekerja paruh waktu disana yang mana memang juga dia mendapatkan tugas dari universitasnya untuk melakukan sebuah observasi, ia pun akan membuat ini sekaligus menyelidiki Morean sebab mereka jarang sekali bertemu saat dirumah.

Juless bersumpah jika benar Morean yang membuat ini semua ini dia tidak akan pernah memberi ampun sekalipun Morean yang sudah membesarkannya, Morean terlalu sering mencampuri bahkan terkadang membuat dia susah mendapatkan teman atau lingkungan yang bisa menerimanya sebagai anak normal bukan karena keluarganya, hanya Sarla lah yang tidak pernah ingin tahu sebab Sarla tahu dia tidak disukai keluarga Juless.

Langkah Morean sampai di sebuah kubikel besi yang akan menghantarkannya turun, seketika pintu itu ditahan seseorang dan membuatnya tidak jadi tertutup, “Kau akan kemana Bos?”

“Luke, kau tidak ada pekerjaa lain? Atau kau tidak ingin menikmati tidur siang atau buang air besar mu yang lama? Aku ingin pergi sendiri saat ini.”

Luke dengan wajah datarnya pun berdiri santai disebelah Morean, “Berhati-hatilah saat pergi, kau tidak tahu Juless sedang melakukan penelitian tugas dari kampusnya disini aku yakin dia juga ingin mengawasimu terkait wanita itu?”

Morean memasukan tangannya pada saku celannya, “Dia disini bagaimana bisa? Hemmm, kau benar…sudah jelas dia sedang menyelidiki sesuatu, kau tahu dia seperti apa sangat enggan untuk diminta belajar mengelola bisnis disini sebelumnya.”

Hingga sampai di lantai dasar dimana basemant berada, Morean dan Luke berpisah disana, Luke menepi ketempat lain memastikan dari jauh tidak ada yang mengkuti Morean, beberapa menit kemudian Morean pun masuk kedalam mobil dan segera melajukan pergi mobilnya.

Dan benar saja dugaan buruk mereka Juless pun turun dari sana, Luke melihat dia dari jauh dan segera membuat system keamanan pada pintu keluar rusak dengan menekan tombol pada benda berbentuk gawai berlayar kecil ditangannya milik Morean yang bisa mengedalikan apapun hanya dengan sebuah sentuhan angka-angka.

“Maafkan aku Juless…” Luke pun segera pergi dari sana.

"SIAL, apa yang terjadi!" Juless yang hendak pergi terjebak, para petugas disana panik yang mana beberapa pintu dan portal masuk langsung terkunci sendiri.

***

"Sampai jumpa Sanden terimakasih banyak!" Morean baru saja menemui Molina melakukan sebuah rencana besarnya dan membuat beberapa orang mendatangi Molina.

Saat Molina fikir dia melambai pada seorang Sanden yang berjalan kaki nyatanya dia salah, Morean segera mengemudi begitu kencang di menuju ke resto lagi dan lagi ia melakukan kerja gila pergi kesana ketempat yang seharusnya tidak perlu ia datangi jelas saja Luke selalu marahi tingkahnya.

Langit sore mulai tampak merah dengan yang cuaca tidak terlalu menyengat walau musim panas, tidak lama mengemudi Morean pun sampai di pusat kota itu tepat di pusat pertokoan dan banyak kehidupan ekonomi berjalan.

Ini adalah lintasan dimana Sarla akan pulang dari jauh ia lihat sepertinya restoran itu sudah akan tutup artinya Sarla sudah akan pulang, Morean pun memutar baliknya jangan-jangan dia sudah terlambat untuk bertemu Sarla membuat perhitungan padanya telah membuat dia meledak-ledak pagi tadi.

SIAL…

Tepat di depan sana, Morean melihat Sarla sedang berjalan keluar dari sebuah grocery disebelah restorannya membawa kantung belanjaan bersama lelaki yang juga pekerja restoran itu tadi, mereka berjalan kaki mengulas senyuman melakukan percakapan.

Morean memukul stering mobilnya pelan sedikit kesal, Sarla semakin menjadi-jadi, jika dia ternyata menjalin hubungan dengan lelaki lain untuk apa dia memutusi Juless, lihatlah tatapan lelaki itu jelas sekali dia menyiratkan ketertarikan pada Sarla.

Morean menyunggikan bibirnya kesal melihat itu, tidak menunggu ia pun turun dari mobil segera melangkah gagah dan lebar tanpa mereka sadari Morean dibelakang sana dan menarik kasar Sarla.

Mata Sarla membola melihat tangannya di tarik dan membuatnya sangat terkesiap, lagi dan lagi iblis itu, "APA YANG KAU LAKUKAN!" Pekik Sarla, berusaha menepis.

Lelaki yang bersama Sarla itu itu pun berusaha menolong Sarla namun seketika ia lihat wajah Morean ia pun menjadi mundur.

Morean semakin leluasa menarik Sarla tidak peduli perlawanan dan caci makiannya. "Sialan, iblis lepaskan aku!"

“Liam, tolong aku!”

Sarla memekik terus meminta pertolongan, sialnya lelaki itu tidak berani dia lebih menyayangi nyawanya dan kehidupannya dari pada menjadi mangsa salah satu anak dari keluarga konglomerat Rodriguez Sanden yang ia sendiri baru lihat wajahnya pagi tadi secara tidak langsung dan diberintahu oleh sang pemilik restoran, selama ini keluaga Rodriguez Sanden sedikit low profile hanya sang ayah yang di kenal semua orang sebab kejayaannya sejak puluhan tahun silam.

“Iblis lepaskan aku, LEPASKAN!” Emosi Sarla langsung membuncah melihat wajah yang ia benci itu.

“Iblis?” Morean menyeringai lebar ia menggenggam kuat lengan Sarla membuat Sarla bahkan bukan berjalan namun di tarik paska.

“MASUK!” Buka Morean pintu mobilnya.

“Lepaskan atau aku akan berteriak!”

“Teriak! Teriak sekarang,” Morean begitu santainya ia mendorong Sarla membuat dia masuk kesebelah kemudi dengan terpaksa, Morean pun segera menutup pintunya cepat dan berlari ke tempatnya.

Sarla tidak menyerah melihat Morean berputar dia pun berhasil membuka pintu lagi dan siap melompat, “BEDEBAAH SIALAN!” Sarla melompat seketika.

“Molina Orion Wilamo, semuanya ada di tangan adikmu!” Morean bersuara tinggi, ia tahu ini adalah sebuah senjata yang sangat tepat bisa membuat Sarla lemah dan takut, benar saja Sarla langsung berhenti seketika dan berbalik menatap terkesiap pada lelaki itu bagaimana bisa ia mengenal sang kakak.

Dengan tatapan penuh mebencian Sarla berhenti berteriak dan diam seketika, "Dari mana tahu Molina!" Kegusaran pun menyelimutinya seketika.

.

.

.

.

Nenxt>>

Dukung author dengan memberikan hadiah, vote, comment dan like, jangan jadi pembaca gaib ae🤭

Terpopuler

Comments

⏤͟͟͞͞RL𝖎𝖓𝖆 𝕯𝖆𝖓𝖎𝖊𝖑🧢

⏤͟͟͞͞RL𝖎𝖓𝖆 𝕯𝖆𝖓𝖎𝖊𝖑🧢

jangan galak2 yuan mouren

2022-12-29

0

Farida Wahyuni

Farida Wahyuni

morean kalau sikap kamu gitu terus, yang ada sarla bakal makin benci, dan mungkin juga bakal pergi dari kamu. harusnya kalau kamu sayang, atau cinta. ataupun kamu mau bertanggung jawab, atau apapun namanya, kamu harusnya minta maaf dulu dg apa yg sdh kamu lalukan, dan dekati dia dengan halus, bukan dg cara yg kasar, apalagi memaksa kayak gitu.

2022-11-13

0

Anonymous

Anonymous

morean penasaran y...

2022-05-02

0

lihat semua
Episodes

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!