Sebuah layar pada benda pipih di tangan Morean menjadi pemandangan indah yang ia lihat saat ini, potret Sarla yang tampak mengusap peluh mengangkat barang pindahannya ke rumah sebelah tampil disana, Morean mengulas senyuman lalu meletakkan ponselnya.
“Dia benar-benar mengakhiri, hunungannya dengan Juless!” Morean menyeringai lebar, ia sedang membayangkan pasti saat ini Juless sedang mencari keberadaan Sarla.
"Juless...Juless aku bahkan begitu gila menempuh pendidikan saat berusia mu dulu, hidup tidak melulu tentang cinta, kau seperti mendiang ayah mu, terlalu mudah menjadi budak cinta...."
Cklak.
Suara pintu ruangan Morean tiba-tiba dibuka, mata Morean terbelalak melihat sang keponakan yang baru ia fikirkan sudah ada disana, “Bagaimana bisa kau masuk tanpa akses dariku!”
Tatapan Juless menegas kepada sang paman, “Stop berakting More, apa yang kau buat kepada ku! Apa yang kau buat dengan urusan pribadiku. Aku tau kau yang membesarkan ku! Membuat aku hingga menjadi seperti ini, tapi kau tidak berhak terus membuat aku seperti boneka mu, aku punya kehidupan aku juga punya masa depan—“
“Katakan saja intinya, apa yang kau maksud? Perbuatan apa yang sudah aku lakukan!” Tatap Morean tidak kalah dinginnya.
“OMONG KOSONG MORE! Kau mengancam Sarla pasti kau menemui dia!”
“Sarla siapa?” Hahah….”Kau fikir aku tidak punya kerjaan lain mengurusi bocah-bocah ingusan seperti kalian, Keluar Juless! tamuku akan datang, aku tidak ada urusan dengan mu, jangan salahkan orang lain atas apapun yang terjadi jika tidak ada bukti, bisa saja mungkin dia sudah bosan denganmu dan mencari yang lain yang lebih baik, berjuta kali ku katakan Juless, perbaiki dirimu, kwalitas mu, sekolah yang benar kau adalah penerus keluarga Rodriguez Sanden jika kau sudah di posisi itu bukan kau yang mengejar mereka tapi mereka. Kau bisa lihat aku sekarang, hanya saja aku tidak tertarik!”
Sebuah hantaman seakan memukul ke dada Juless, Sarla mencari lelaki yang lebih baik,tidak! Tidak mungkin Sarla tidak seperti itu. Lalu apa yang membuatnya mengakhiri begitu saja, kesalahan apa yang aku lakukan?
Nafas Juless memburu dengan tatapan tajamnya kepada Moran belum menyurut, tiba-tiba Juless segera pergi dari ruangan Morean begitu saja tanpa berucap apapun.
Juless tampak begitu frustasi Sarla bahkan sudah tidak ada di kontrakannya, ia juga tidak ada di tempat Virel, apa ini semua kenapa dia pergi? Pergi kemana dia? Sesuatu yang besar apa yang mengusiknya hingga dia sampai berpindah.
...***...
Beberapa hari berlalu, Sarla masih belum memutuskan mencari kerja ia sedang menikmati waktu istirahatnya sembari pemulihan paska kecelakaan kemarin, jarang sekali ia bisa beristirahat seperti ini tapi hidupnya selalu saja di habiskan untuk bekerja dan bekerja.
“Sarlaaa! Sarla!” Molina keluar dari kamarnya mencari sang adik yang tengah memasak makan siang di dapur.
Sarla pun menoleh menatap serius, “Ada apa Kak? Ada yang terjadi?”
“Kau dengar suara-suara itu?” Molona menunjuk arah suara yang ia dengar.
Segera mungkin Sarla mematikan kompor listriknya dan mencari suara yang Molina maksud, ia pun bergegas berjalan keluar tampak terasa berisik sekali suara-suara disana, ia membuka gorden jendela kecil rumah sementaranya.
“Ramai sekali, oh perbaikan jalan kak dan pemasangan instalasi mungkin seperti lampu jalan…kenapa merak sangat kompak sekali, mungkinkah akan ada kampanye apa di kota ini?”
“Apakah biasanya tidak ada lampu?”
“Ini kota kecil kak dan tempatnya parah buruh berpendapatan kecil, kota yang juga sedikit tertinggal, siapa yang peduli akan kota ini!”
“Kenapa kau memilih tempat ini Sarla , lalu bagaimana kau akan bekerja?” Molina terus melangkah maju menggunkan tongkatnya meraba lantai.
“Tidak masalah, 1 kilo meter dari sini adalah sebuah daerah sedikit perkotaan ada pasar mungkin ada juga toko-toko dan restoran disana aku bisa mencari kerja disana.”
Sejenak Molina terdiam ia mengingat sesuatu, “Juless tidakkah dia tahu kepindahan kita? Kau tidak mengabarinya?”
Sarla menutup lagi gordennya, ia menarik nafasnya berat berlalu meninggalkan Molina, “Jangan bahas Juless lagi kak, aku dan dia sudah berakhir.”
Molina terkesiap, “Berakhir, apa yang terjadi Sarla?”
“Sudahlah kak, Ini lebih baik untuk dia….”
Sarla enggan menjelaskan beberapa hal tentang dia juga yang nyaman terus-terusan menjadi beban, takut sang kakak berkecil hati atas penyakitnya.
“Sarla, Juless—“
“Kakak, Kumohon mengertilah … jangan bahas lagi.” Suara Sarla memelas sungguh ia tidak ingin memabahas ini, ini semua pun bukan sebuah hal yan mudah baginya.
***
Pagi hari yang cerah di kota itu, Sarla pun berpamitan pada sang kakak untuk mulai mencari pekerjaan, ia sudah menyiapkan semuanya yang kakaknya mau dan memperingatkan sang kakak untuk tidak berjalan-jalan keluar sebab dia belum hafal kawasan ini, sangat berbahaya jika dia tersesat.
Sarla akan memulai hari pertama beraktivitasnya di kota itu, ia berjalan kaki untuk menuju 1 km ke sebuah tempat yang katanya ada pasar dan pusat pertokoan disana, melewati jalanan yang sudah tampak rapi tiang-tiang lampuan jalan yang sudah berdiri , gadis itu pun berharap ada banyak peluang disana.
Beberapa ratus meter saja sudah terasa ramai, beberapa toko-toko roti berjajar rapi, restoran dan toko pakaian juga tampak disana, Sarla berhenti disana ia melihat papan pemberitahuan dan kertas-kertas yang tertempel pada toko-toko tersebut.
“Membutuhkan Karyawan…”
Mata indah Sarla memancarkan sinar kebahagiaan, ada begitu banyak pilihan pekerjaan di sini, ia bahkan bingung akan memasuki yang mana lebih dulu, berulang kali matanya melihat bergantian melihat , Restoran, toko roti, toko fashion? Ia pun menimbang-nimbang yang mana yang mungkin akan mengahsilkan gaji yang lumayan.
Sarla pun mengayunkan pasti langkahnya, ia akan mencoba memilih sebuah restoran untuk ia masukan lamaran lebih dulu dan juga toko roti setelahnya, “Ini kehidupan baru mu di kota ini Sarla. Kau pasti bisa lebih baik tanpa siapapun….kau berharga Sarla…” Ia pun menyemangati dirinya sendiri.
***
Menjelang sore hari suasana Sarla tidak kunjung kembali, Molina mulai merasa jengah berada di rumah, suasana musim semi dan udara yang begitu segar membuat Molina ingin pergi keluar dari rumahnya ia nekat keluar dari rumah itu.
Tongkat besi itu mengetuk-ngetuk dibawah sana, suasana segar dari pohon-pohon terasa menghembus di rambutnya, ia melangkah terus kedepan sana namun tidka beranjak pergi jauh dari rumah takut benar akan tersesat pulang.
Beberapa kali kendaraan membunyikan klakson padanya dan mebuatnya menyingkir, Molina menjadi takut saat ini, apakah langkanya sudah jauh.
“Nona Molina, kau disini?” tegur suara seorang lelaki itu.
Molina yang kehilangan pengelihatannya seakan begitu begitu peka suara apapun segera menoleh kearah suara itu sedikit terkesiap seperti pernah dengar suara itu. “Tuan Sanden? Apakah kau tuan Sanden yang saat itu? Ah tapi bagaimana bisa kau disini?”
Morean diam sejenak lelaki itu sendirian datang melihat langsung keadaan disana sebab dia tahu Sarla tidak ada disana, “Aku juga tidak menyangka akan bertemu dengan anda Nona Molina, aku sedang bekerja separuh waktu di sini memperbaiki instalasi listri di kawasan kota ini.”
“Oh ya senang bertemu dengan mu Tuan Sanden… aku juga baru saja pindah beberapa hari lalu ke kota ini, adik ku ingin mencari peluang di tempat yang baru tadinya ku fikir dia memang membawa ku pindah karena mendapatkan sebuah pekerjaan nyatanya dia bahhkan belum tahu akan bekerja apa… ya ku rasa dia sedang ada maslaah dengan kekasihnya.”
Morean berdehem, “Kau mau meminum secangkir kopi dengan ku Nona Molina? Di sana ada sebuah coffee shop yang terkenal enak.”
“Sepertinya adikku akan pulang, aku akan mengabarinya dulu agar dia tidak khawatir mencariku.”
Luke di mobil tertawa Bos sekaligus lelaki yang sudah menjadi sahabatnya itu benar-benar tidak adak kerjaan dia mengajak kakak dari gadis itu menikmati kopi sore hari, apa lagi yang sedang ia rencanakan.
Next >>>
🌹
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 95 Episodes
Comments
⏤͟͟͞͞RL𝖎𝖓𝖆 𝕯𝖆𝖓𝖎𝖊𝖑🧢
🤣🤣🤣🤣🤣 more arogant
2022-12-29
0
💕febhy ajah💕
cih dibilang julles gampang bucin
noh kalau kau apa????? baru semalam kenal dah ngikutin kemane mane
2022-11-10
0
Najwa_auliarahma
kalau sering ketemu gini, lama" Molina bisa naksir tu sama morean..
2022-03-28
0