“Ini sebuah tempat minum kopi yang terkenal itu? Apakah ini sebuah tempat mahal?” Molina merasakan hawa segar seperti sebuah tempat mewah disana.
Morean menggaruk pelipisnya, “Hemm menurutmu…?”
“Apakah kau sanggup mentraktirku? ku rasa ini adalah sebuah tempat mahal, kau bahkan harus bekerja di toko roti Santana dan juga menjadi pekerja separuh waktu sampai di kota yang jauh ini.”
Morean menarik sebuah kursi untuk Molina dan menuntunnya duduk, “Bagaimana kau bisa menebak ini sebuah tempat mahal?”
“Menurutku saja....”
“Tidak masalah, aku baru mendapatkan tips tadi dari seorang kontraktor mungkin aku bisa sedikit mentraktirmu.”
Di tempat lain, Sarla berlari-lari setelah mendapatkan sebuah pesan dari Molina yang diketik Morean, Sarla meremas ponsel tua milik sang kakak yang dia bawanya agar bisa tahu kabar Molina selalu sebab dia belum bisa membeli ponsel lagi setelah hilang dimalam itu.
Layar ponselnya hanya bisa menampilkan separuh pesan sebab layarnya sudah pecah dan rusak, “Kakak pergi bersama teman—“
Sarla hanya menerima sepotong kata yang membuatnya ambigu, membuatnya begitu khawatir dan takut.
“Pergi kemana, siapa yang membantu mengirim pesan? Ada apa, kakak marah pada ku?”
Langkah gadis itu begitu lebar, ia bergegas masuk ke perkarangan rumah yang ia tempati, “Tu-tuan kalian melihat kakak ku, dia tidak bisa melihat?” Sarla bertanya pada para pekerja yang merenovasi rumah sebelahnya.
“Gadis itu, yang membawa tongkat?” Tanya balik seorang lelaki tua.
“Ya…ya benar, rambutnya panjang dia mungkin memakai rok panjang!” Sarla begitu paniknya.
“Dia berjalan ke sebelah sana lalu tidak tahu lagi kemana perginya.” Tunjuk lelaki itu dan di iyakan oleh orang-orang lain disana.
“Baiklah terimakasih!” Sarla mengangguk hormat ,kemudian ia pun segera pergi dari sana, ia mengedarkan pandangannya kesekitar dan terus berlari kearah yang di tunjuk orang tadi, dan ini adalah arah menuju ke kota tempat ia pergi tadi.
Sarla menerka-nerka fikirannya berkelana kemana-mana seperti langkahnya yang tidak menyurut dia pun tidak tahu harus kemana, Molina bersama siapa? dia tidak mungkin sendiri, siapa yang kenal dengannya disini? Apakah dia mengundang temannya untuk datang?
Tidak, Sarla belum pernah memberitahukan alamat pada sang kakak, dia hanya pernah mendeskripsikan saja tempat ini bagaimana.
“Oh Tuhan Molina kau kemana?” Kekhawatiran Sarla semakin menjadi-jadi, Sarla berhenti sejenak, menarik nafasnya yang rasanya begitu lelah dengan masih terus mengedarkan matanya .
***
Disebuah coffee shop Morean masih tampak bersantai mensesap kopinya bersama Molina yang begitu tampak sangat suka berbicara, mereka tidak berdua, Luke ada disana tepat disebelah meja mereka lelaki itu diam bersantai membaca surat kabar seraya terus mendengarkan ocehan Morean yang semakin mengada-ngada. "Terserah apa kata mu, Bos."
“Apa? kau 10 bersaudara, Sanden?” Molina terkesiap. Morean yang memperkenalkan dirinya adalah seorang anak peternak domba dan memiliki 10 saudara.
“Ya aku anak ke 8 dan lelaki satu-satunya.”
Molina sedikit tertawa, “Ah tidak aku hanya tidak menyangka saja, apakah itu sebabnya kau bekerja keras, ya... aku suka seorang pekerja keras, aku bahkan sedari muda sudah bekerja.”
"10 bersaudara, 1 kau saja sudah menyusahkan bos." Umpat Luke menahan tawa.
Morean tahu Luke mentertawakannya dia pun ikut tertawa menahan,“Hemm...Ya mungkin itu salah satunya, bagaimana dengan mu kau hanya mempunyai satu adik?”
“Ya dia Sarla, kami sudah dari kecil di panti, dulu ayah dan ibuku meninggal dalam sebuah bencana alam aku tidak tahu bencana alam apa yang pastinya aku dan Sarla dulu tinggal di sebuah panti di Granada lalu panti asuhan yang kami tempati mengalami kelebihan kapasitas sebab itu beberapa dari kami yang sudah beranjak dewasa diminta pergi mencari kehidupan yang baru, aku pun pergi membawa Sarla saat itu.”
Lagi-lagi Morean mengetahui semuanya, semua bahkan hal kelam hidup Sarla dan kakaknya ini.
“Hemm…aku turut berduka atas apa yang menimpa kedua orang tua mu.”
“Sudah berlalu, saat ini aku dan Sarla sudah bahagia, Hem… ku rasa tidak juga… sejak aku seperti ini Sarla tidak bisa lagi melanjutkan kuliahnya, dia hanya sibuk dengan kehidpan kami dan kesembuhan ku, dan biaya pengobatan ku yang sangat mahal.”
“Apa yang terjadi dengan matamu?”
“Teramat panjang ini mungkin sebuah penyakit keturunan, sudah lama aku mengalami keluhan pada mata namun di malam itu setelah aku pulang bekerja aku merasa sesuatu menyerang mata ku, aku kesakitan awalnya hanya biasa saja berair lama-lama mata ku mengalami pembengkakan, sudah dua kali aku melakukan operasi dan itu pun sebab— seseorang baik membantu kami.”
“Kekasih mu?” Morean memancing.
“Bukan, tapi kekasih Sarla.”
Morean terdiam, kini sudah jelas semua bahkan ia mendengar langsung dari mulut seseorang yang Juless bantu itu, perbincangan sudah sangat panjang dan lama, bahkan mereka tidak lagi bersuara, tidak lama Molina pun hendak berpamitan pulang, saat ia rasa dia sudah cukup lama di luar
.
Akan tetapi Molina tidak ingin di hantarkan sebab ia ingin mengenal jalanan disana agar ia bisa pergi sendiri, dan tidak perlu mengkhawatirkannya ia akan menghubungi sang adik jika tersesat.
***
Tidak lama Morean pun mengajak Luke untuk kembali dari sana, akan melewati Molina juga memastikan dia kembali dengan selamat.
“Kau ingin memastikan nona buta itu apa adiknya?”
Morean melebarkan tawanya, “Persetan dengan mu Luke!” Mereka pun tertawa keluar dari coffe shop itu, tiba-tiba saja Luke melihat Sarla disana.
“Bos, Masuk! Cepat masuk!” Luke mendorong Morean kedalam lagi. “Gadis itu!” Tunjuk Luke dari kaca, tampak Sarla begitu gusar, ia terlihat kebingungan menyapukan pandangannya kesekitar mencari-cari sesuatu.
“Dia mencari kakaknya, ayo keluar kenapa harus takut? Ini lumayan jauh dari tempat tinggalnya apa yang mau dia fikirkan jika melihat ku disini.”
Morean pun memutuskan keluar lagi, memakai kaca matanya berjalan kearah mobilnya di parkiran dan tepat sekali Sarla pun berada disana ia melihat dari jauh semua toko-toko dan keramaian disana apakah ada sang kakak yang mungkin tersesat.
Seketika Sarla mundur, ia melihat sosok manusia yang begitu sangat ia benci dan yang selalu ia harap tidak pernah ia lihat lagi dalam hidupnya.
Sialnya kakinya seperti sangat berat saat ketakutan ia malah tidak bisa melangkah sama sekali.
“Bedebah! kenapa dia disini?”
“Apa yang dia lakukan?”
Sarla terus mengerutu, mengumpati lelaki itu dengan tatapan penuh kebencian dan seketika saja amarah yang sudah ia redam kemarin datang lagi, Sialnya, Morean melangkah mendekat, bukan di sengaja namun sebab mobilnya memang berada disebelah Sarla.
Seketika Morean melepaskan kaca matanya, ia berhenti dan melihat pada Sarla, seolah-olah terkesiap. “Sepertinya kita pernah bertemu.”
Sarla menunduk sangat tidak sudi melihat wajah itu, “Permisi, anda salah orang!” Ia pun berlalu melewati Morean.
Sekilat mungkin Morean menarik tangannya, seakan tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan. “Urusan kita belum selesai!”
Sarla menarik kuat tangannya melepaskan, “Kau salah orang, jangan sentuh aku!” Sarla menentang ia tidak takut untuk beranjak pergi.
Morean seketika menarik tubuh Sarla, membuatnya tertarik kuat dan di dorong ke pintu mobil, “Kau tahu apa kesalahamu?” Morean menatap tajam dengan tubuh Sarla ia kunci tidak bisa bergerak.
“Omong kosong! Kau yang bersalah padaku! Lepaskan aku! aku tidak lagi mau berusursan dengan iblis seperti mu!” Ucapan Sarla begitu pelan namun menusuk dalam dengan kedua bola mata indahnya yang menatap tajam menusuk pada mata Morean.
“Oh ya?” Morean menyeringai lebar, “Senang bertemu lagi dengan mu, Nona Sarla Wilamo….apa yang harus aku lakukan untuk membayar kerugianmu?”
“MATI SAJA KAU!!!!!” Sarla yang merasa jijik pun mendorong kasar Morean.
Sial, tenaganya tidsk cukup kuat mendorong ia bahkan semakin di kunci dengan wajah mereka saling bersitatap hanya berjarak beberapa centi, “Kau tidak bisa pergi…”Morean berbisik tersenyum kepada wajah cantik itu.
“Iblis lepaskan aku dari tangan kotor mu! Kau bukan manusia, kau tidak pantas jadi manusia!”
Morean tidak peduli ia pun menguasap pada pipi mulus Sarla, kemudian menahan raha Sarla, membuat Sarla menahan nafas dengan berusaha menjauhkan wajahnya. “Iblis ini tampakanya suka bermain-main dengan mu.”
“AKU TIDAK SUDI!”
Cup, Morean berhasil menutup bibir Sarla yang selalu mengeluarkan kalimat tajam itu dengan bibirnya, memainkannya dengan lembut, Sarla terus berusaha menutup bibirnya menolak pagutan itu dengan berusaha mendorong namun segera Morean mengigit Sarla gemas.
“IBLISSSSS!!!!!!!” Sarla mendorong kuat, mengaduh dalam hati merasakan sakit akan dibibirnya yang digigit, segera ia berlari, berlari sangat kencang saat Morean sedikit terdorong tadi.
Morean mengusap bibirnya yang basah, ia mengulas senyuman wanita itu benar-benar sepertinya membuat dia tertarik untuk bermain-main. “Baiklah kita mulai.…Let's Play, Nona Sarla Wilamo....” Morean segera masuk kedalam mobilnya.
Next >>>
Lemparin bunga dong🌹🤗
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 95 Episodes
Comments
Biva Nurhuda
/Rose//Rose//Rose/
2025-03-24
0
⏤͟͟͞͞RL𝖎𝖓𝖆 𝕯𝖆𝖓𝖎𝖊𝖑🧢
ciyeeee tuan moerennn
2022-12-29
1
Diana Cindy
semua karya mu bagus thor,,,
the best pokok nya dah,,, 🥰🥰
2022-12-15
0