Di kediaman keluarga Rodriguez Sanden,
Morean baru saja tiba disana segera menghampiri sang ayah, lelaki tua itu sedang menikmati waktu bersantainya di sebuah ruangan besar kediaman mereka, sebuah televisi besar menyala namun ia tengah membaca berita pada gadgednya.
Morean berdehem menyapa,“Kenapa kau belum kembali ke kamar mu?” Tegur lelaki yang terlihat dingin dan seperti iblis di luar namun sangat begitu seperti malaikat saat dirumah begitu menyayangi keluarganya.
“Ehem…” Lelaki tua itu menoleh pada sang anak, “Kau sudah kembali More? Apakah semua baik-baik saja?” Selidik lelaki itu dia seperti mengetahui sesuatu hal.
“Kenapa? Menurut ayah apakah terlihat sedang terjadi sesuatu? tenanglah semua baik-baik saja tidak ada apapun yang mengkhawatirkan, fikirkan kesehatan mu itu yang terpenting.” Morean meregangkan kerahnya, ia pun segera pergi dari sana. “Selamat malam ayah, segera kembalilah ke kamar….”
Di langkahnya menuju ke kamar miliknya Morean berpapasan dengan Juless, Keponakkannya itu menyeringaikan cibiran menerka-nerka apa yang terjadi pada sang paman dia tahu sebuah hal terlah terjadi di malam itu namun karena terlanjur mencari Sarla yang tidak pulang, dia tidak peduli apapun yang terjadi diappartemen semuanya pun sudah tidak terlihat lagi saat ia kembali kesana.
Mereka bersitatap Morean menatap begitu dingin semetara Juless menyeringaikan cibirian, “Kau baik-baik saja More?”
Morean mendengkus ia pun tersenyum atas cibiran Juless, “Kau lihat seperti apa? Bersiaplah untuk perpindahan mu ke Amerika Juless! Aku tidak bermain-main, kau adalah harapan keluarga ini selain aku!”
Juless berlalu dengan santai, “Lakukan jika kau bisa membuatnya! Tuan More….” Juless pun berlalu masih terus mengejek ia yakin Morean yang ia tebak sedang sangat pusing atas masalah yang tengah terjadi.
"Itu bukan sebuah hal yang sulit untukku Juless..." Morean pun berlalu, “Kenapa dia ada dirumah apakah dia sudah tahu keberadaan wanita itu?” Morean bergumam pelan melanjutkan langkahnya lagi ke kamarnya.
"Ya lakukan Paman ku tersayang, lakukan jika kau bisa. Tidakkah harusnya kau urusi saja dirimu yang padahal sudah cukup matang untuk mempunyai keturunan, mungkin saja keturunan mu bisa membantu mu, tidak perlu memaksakan kemauan mu atas ku! Baiklah selamat malam More, selamat bersenang-senang...." Juless pun mengejek sang paman lagi segera berjalan cepat naik ke kamarnya.
"Dan aku sudah bersenang-senang Juless bersama dia gadis mu!" Morean pun memijat pelipisnya, sungguh dia sangat tidak menginginkan semua ini.
...*** ...
Bulir-bulir basah masih terlihat di tubuh atletis itu, ia mengeringkan rambutnya seraya menatap pada kaca di kamarnya, tiba-tiba ia melihat sebekas merah kebiruan didekat dadanya, Morean mengulas senyuman kapan ini ada, apakah ini sisa kemarin sungguh dia tidak sadar lagi, seharian kemarin benar-benar sangat sibuk sekali segala hal sekaligus saja terjadi.
Morean membuka pada laci disana ia ingat ponsel Sarla diberikan Luke padanya juga tas milik wanita itu ada disana, Morean pun mengambil benda pipih milik wanita itu sebuah benda yang sudah ketinggalan tahun, kemudian ia nyalakan, ponsel itu tidak menggunakan sebuah akses khusus untuk dibuka, Langkah Morean mundur untuk duduk di ranjanganya melihat apa yang mungkin ada didalamnya.
Sebuah folder penyimpanan foto disana ia buka, Morean menggeser-geser disana, ada berbagai macam potret cantiknya disana dari bangun tidur, keseharianya hingga potert cantik ia memakain gaun untuk siap pergi, bisa-bisanya Morean terus menggeser kebawah hingga habis seakan tidak ingin berhenti melihat semuanya, seakan tampilan itu mempunyai daya tarik yang membuatnya terus ingin melihat.
Sampailah di sebuah folder lain terlihat ada potret Juless disana, Morean mengetahui sesuatu hal ternyata Juless dan Sarla pernah pergi berlibur ke Sevilla berdua, Morean melihat details waktunya ini adalah tanggal dimana Juless hilang beberapa hari dan tidak mengabari membuat sang kakek dan dia begitu khawatir saat itu.
Morean tidak ingin melihatnya lagi, sebuah titik tidak suka muncul kepermukaan hatinya, ia pun kemudian mematikan ponsel itu dan mengembalikannya ke laci nakas, Morean menyimpul senyum mencibir pada dirnya, kisah apa ini, sang keponakan yang menjalin hubungan tapi dia yang menjadi pertama untuk kekasihnya.
Siapakah yang berengsek disini aku atau Juless?
...*** ...
Pagi-pagi sekali bahkan matahari belum naik kepermukaan, Sarla yang sudah lebih baik kembali kerumah menemui sang kakak, ia mengemasi cepat barang-barang yang penting mIlik mereka untuk berpindah tempat tinggal.
semalaman dia tidak tidur terus berfikir rasanya ia benar harus mengakhiri hubungannya dengan Juless. Sungguh kali ini dia semakin merasa rendah diri dan tidak pantas untuk lelaki itu, mungkin benar biarlah Juless pergi ke luar negri seperti yang diminta keluarganya itu, sebab dia adalah harapan keluarganya dan merupakan satu-satunya cucu di keluarga itu.
Bahkan hingga hari ini Sarla tidak pernah bertemu atau mengenal keluarga Juless, hanya saja di kampus dulu banyak yang mengatakan Juless adalah seorang anak dari keluarga kaya raya, Sarla tidak pernah ingin tahu itu ia juga tidak pernah menuntut untuk harus tahu begitu sadar diri siapa dia dan bagaimana kehidupannya.
Namun Sarla sempat mendengar perdebatan antara Juless dan sang paman di telepon yang begitu marah seperti tidak menyukai Juless berhubungan dengan gadis sepertinya tapi Juless menutupi itu, Sarla tidaklah bodoh dari sana dia bisa menebak keluarga Juless memang tidak menyukai hubungan mereka apa lagi mungkin Juless sering membantunya dan bisa saja di anggap memanfaati.
Sarla menyeka air matanya, ia menangis terseduh-seduh sangat berat sekali memutuskan ini, sungguh ia begitu tulus mencintai lelaki itu tapi jika seperti ini sudahlah biarkan mereka berakhir, Sarla merasa dirinya penuh noda, Isakannya kala memasukan barang-barangnya kedalam kopernya membuat sang kaka mendengar.
“Apa yang terjadi Sarla? Kenapa kau menangis dan kenapa kita harus pindah?”
Sarla mengulas senyuman dan bangkit meraih tangan sang kakak yang meraba-raba, “Tidak ada kak, aku baru menemukan tempat tinggal yang lebih murah dan dekat dengan tempat ku bekerja sekarang, aku tidak menangis karena sedih hanya sedang terharu saja kitaharus meninggalkan tempat yang sudah kita lama tempati ini.”
“Kau tidak sedang berbohong Sarla?” Molina hendak meraih rambut sang adik, namun Sarla menghindar sebab masih ada perban di kepalanya, kemudian dia membuat Molina menyentuh sisi kepalanya yang lain.
“Maafkan kakak terlalu banyak menyusahkan mu.” Molina mengharu dia merasa Sarla seperti sedang banyak beban saat ini, tidak terdengar suara tawanya atau dia yang bercanda menggoda sang kakak.
“Tidak ada yang dibenani, kau juga sudah banyak melakukan banyak hal sedari aku kecil kak.” Sarla pun memeluk sang kakak.
Menggunakan sisa-sisa uang yang ia miliki ditabungan dan menjadi uang terakhirnya Sarla pun dapat menyewa sebuah kontrakan kecil di ujung kota dan lumayan jauh dari mereka tinggal, menatap nanar pada rumah yang sudah sangat membuatnya nyaman Sarla pun pergi dari sana berharap kedepan semuanya bisa jauh lebih baik.
Sarla tiba-tiba mengingat wajah lelaki itu, lelaki sialan yang sudah memperkosanya, rasanya ia ingin menangis saking bencinya, pasti laki-laki itu sedang bahagia disana dan tidak merasa bersalah apapun. Bahkan dia tidak peduli atau mencarinya saat dia lari, tanggung jawab seperti apa yang dia maksud? Jika pun benar apakah dia fikir aku mau?
Berengsek.... manusia berhati iblis!....
Bagi sebagian orang dinegara itu mungkin hal biasa, banyak juga remaja dan teman-temanya yang sudah sering melakukan hubungan semacam itu namun tidak baginya kehilangan sesuatu yang berharaga dari dirinya untuk lelaki asing dan berengsek seperti lelaki itu adalah hal yang sangat menghancurkan hidupnya, apa lagi dia tahu apakah dia akan mengandung atau tidak nanti.
Tuhan tolong aku….jangan semakin persulit semunya..
Sarla meremasi tangannya menatap pada jalannan disana sekarang dia harus berjuang sendiri tidak lagi ada penghilang lelahnya pendengar keluh kesahnya sekarang Juless bisa terbebas dari gadis sial dan menyedihkan seperti dia.
Di sisi yang jauh Luke terus mengikuti taksi yang memabawa Sarla pergi bersama sang kakak, lelaki itu pun terus langsung pada Morean apa yang sedang terjadi saat ini, tidak lama taksi pun berhenti Sarla turun di depan sebuah universitas, kemudian dia berjalan jauh ke sebuah taman disana meninggalkan Molina di taksi.
Ya Sarla hendak menemui Juless dan mengakhiri semuanya secara langsung seperti bagaimana mereka memulai dulu secara langsung.
Beberapa bulir beninganya pun jatuh lagi, rasanya begitu berat keputusan ini untuk dia yang benar-benar sudah banyak mengukir kisah bersama Juless dan melewati banyak hal tapi ia yakin ini adalah pilihan yang terbaik untuk dia dan Juless juga masa depan mereka semua.
Next>>
Pastikan selalu like atau comment ya, hadiah dan vote hahah🙃
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 95 Episodes
Comments
Biva Nurhuda
rumit dan berat😢
2025-03-12
0
Sri Widjiastuti
awal yg rumit u sharla bertemu morean😘😘
2023-01-04
0
⏤͟͟͞͞RL𝖎𝖓𝖆 𝕯𝖆𝖓𝖎𝖊𝖑🧢
kasian sarla
2022-12-28
0