Freya, Nania, Nuna dan Aruna sedang berada di taman, taman yang menghubungkan sekolah mereka dengan kampus yang ada di sebelahnya.
"Bantuin aku, dong."
"Bantu apa?" tanya Aruna yang melihat wajah serius Freya.
"Bantu aku agar bisa cerai dari tuh cowok."
"Hah?"
"Jangan ngaco deh, Ya," Aruna tak habis pikir dengan keinginan sahabatnya itu.
"Ck, aku serius."
"Kenapa kamu mau pisah?"
"Kenapa masih nanya?"
"Pernikahan kamu baru seumur jagung, Ya."
Aruna mencoba mengingatkan Freya bahwa pernikahannya masih seumur jagung, sedangkan Nuna diam saja. Begitu juga dengan Nania yang diam saja, bukannya dia ingin sahabatnya itu berpisah, hanya saja dia tahu bagaimana perasaan Freya.
"Apa susahnya sih, Ya, menjalankan pernikahan itu?" tanya Aruna.
"Kamu nanya apa susahnya? Ya susah, lah. Aku itu masih muda, masih sekolah, punya banyak impian. Mereka menjual aku karena kesepakatan bisnis. Mereka lebih mentingin perusahaan dari pada anak. Coba kalau keluarganya Arby miskin, mana mungkin mereka mau menikahkan aku dengannya. Yang ada mereka takut dibuat susah sama menantu kere, apalagi masih sekolah. Nanggung kebutuhan aku saja mereka pelit, apalagi harus bantu kebutuhan Arby. Secara logika, mana ada orang tua yang mau menikahkan anak mereka di usia sekolah kalau enggak ada apa-apa. Hamil di luar nikah saja enggak."
"Dia sih enak, tahun depan lulus sekolah, bisa kuliah di tempat yang dia suka. Bisa ngerasaain jatuh cinta sama cewek yang dia suka. Kalian enggak tahu, kan kalau dia diam-diam suka sama cewek. Bisa aja nanti mereka kuliah bareng dan pacaran diam-diam. Sekali pun dia sudah enggak perjaka, enggak ada tandanya, beda sama cewek. Sekalinya enggak perawan, enggak akan bisa ditutup-tupi."
"Coba kamu ikhlasin semuanya."
"Enak kamu bicara seperti itu, bukan kamu yang merasakan. Coba kalau kamu yang ada di posisi aku, dipaksa nikah gitu saja tanpa dipedulikan pendapatnya, gimana? Dikit-dikit dibilang anak durhaka, dikit-dikit dibilang istri durhaka. Suka sama cowok lain dibilang selingkuh," Freya mengeluarkan semua isi hatinya.
Sementara itu ada empat pria yang mendengar perdebatan mereka.
"Kalian tahu apa yang dikatakan si Arby itu? Dia bilang aku bikin malu keluaranya karena jualan kue. Dia membuang kue-kue yang aku buat dari jam tiga. Dia juga enggak ngerasain gimana jadi aku."
"Ya, maksud aku ...."
"Halah, sudahlah. Percuma juga ngomong sama orang yang enggak mau mengerti, suatu saat nanti kalau kamu merasakan saja sedikit dari yang aku rasakan, maka kamu baru paham."
Saat Freya membalik badannya, dilihatnya empat pria yang menatapnya dengan tatapan yang berbeda-beda.
"Cih, dasar tukang nguping."
Freya melewati mereka dan dengan sengaja menyenggol Arby.
"Apapun yang Freya pilih nanti, aku tidak akan melarangnya, karena aku tahu menjadi dirinya itu berat," Nania memberikan pendapatnya.
"Freya, tunggu aku!"
Nania mengejar Freya, sangat jelas kepada siapa dia berpihak. Dia pun menyenggol Arby dan Marcell, antara sengaja dan tidak.
Suasana hening, kecanggungan terjadi antara enam remaja yang masih ada di taman itu.
🌻🌻🌻🌻
Seorang murid SMA sedang merokok di pojok gudang belakang sekolah. Asap mengepul di hadapannya. Kepalanya menengadah menatap langit, wajahnya terlihat datar, tidak bersedih tidak juga terlihat senang.
Entah sudah berapa banyak rokok yang doa hisap, meninggalkan aroma nikotin di wajah dan bajunya, namun dia tidak peduli.
Rasanya dia bisa tenang duduk seorang diri di sini, tanpa ada yang mengusiknya. Matanya terpejam, menikmati semilir angin yang menyejukkan wajahnya. Di sampingnya ada minuman soda yang isinya tinggal setengah. Seperti ini, membuatnya merasa sedang menikmati hidup. Hidup seorang remaja yang bebas tanpa beban pelajaran atau desakan orang tua yang menuntutnya ini itu.
Haruskah dia memikirkan nilai?
Tidak!
Tidak jauh darinya, ada yang melihatnya merokok, orang itu tidak mendekatinya, tidak juga menjauhi. Dia hanya diam menatap, membiarkan orang yang ditatap tetap sibuk dengan rokok yang panjangnya tinggal sepanjang kelingking dan puntungan-puntungan lainnya berserakan di tanah dekat kakinya, juga bungkus rokok yang sudah terinjak, menandakan bahwa isinya telah habis.
Dia kembali meneguk minumannya hingga habis, lalu meremuknya dan membuangnya ke sembarang arah, menimbulkan bunyi saat kaleng itu membentur tembok. Lalu tangannya kembali mengarahkan rokok itu ke bibirnya, menghisapnya dalam-dalam, setelah itu membuangnya ke tanah dan menginjaknya.
Welcome to my paradise
🌻🌻🌻🌻
Perdebatan tidak terjadi dengan tim cewek saja, tapi juga tim cowok.
"Menurut aku orang tua kalian memang egois," seru Ikmal.
"Jangan ikut campur, Mal," kata Vian.
"Siapa yang ikut campur, aku kan hanya memberi pendapat."
"Tapi perkataanmu itu memojokkan Arby,"
"Dih, siapa yang memojokkan Arby. Aku kan sudah bilang hanya memberi pendapat. Lagian orang tua mereka yang aku bilang egois, bukan Arby."
"Sudah-sudah, jangan berantem," Marcell menengahi, tidak ingin mereka ikut bertengkar seperti Freya dan sahabat-sahabatnya.
"Benar kata Freya, kita saja yang lebih tua dan laki-laki, masih ingin senang-senang, bebas ke mana aja. Di larang orang tua saja suka kesal, apalagi harus dilarang suami atau istri. Hilang kebebasan kita yang masih muda ini."
"Aku kan enggak pernah larang dia main sama teman-temannya," Arby membela dirinya sendiri.
"Tapi kamu melarang dia jualan kue, kan."
"Ya lagi buat apa juga dia jualan kue, aku bisa kok ngasih dia uang. Malahan aku sudah kasih dia ATM dan kartu kredit."
"Mana mau dia terima sesuatu dari orang yang dia benci. Sama orang tuanya saja dia sudah benci, apalagi sama kamu."
"Ngomong-ngomong, memang kamu lagi suka sama cewek, Ar?" tanya Vian.
Arby tidak menjawab, cukup dia saja yang tahu tentang perasaannya. Saat dia mengatakan sedang suka seseorang pada Freya, dia keceplosan.
"Aku saranin, sebaiknya kamu lupakan cewek yang kamu suka itu, Ar, atau kamu lepasin Freya sebelum pernikahanmu berlangsung lebih lama lagi. Dari pada kalian saling menyakiti. Kasihan Freya, dia perempuan. Status janda dan status duda itu memiliki pandangan yang berbeda-beda dari setiap orang, mereka punya pemikiran dan penilaian sendiri. Jangan sentuh dia kalau kamu tidak bisa mencintai dan mempertahankan dirinya. Karena sekali lagi, benar apa yang dikatakan Freya, sekali perempuan sudah tidak perawan, tandanya akan selalu ada. Beda dengan cowok, dia bisa berpura-pura masih perjaka meski sudah memiliki anak di tempat lain."
Ikmal menepuk pundak Arby, lalu meninggalkan Arby, Marcell dan Vian.
Arby berpikir, haruskah dia melepaskan Freya karena tidak ada cinta?
Oh, tentu tidak.
Bukan karena dia sudah menyukai Freya atau tidak.
Apa karena masalah orang tua?
Atau karena gengsi harus menjadi duda di usia dini?
Apapun alsannya, dia tidak peduli. Yang sudah menjadi miliknya harus selalu menjadi miliknya, kecuali jika dia sudah bosan, maka dia akan membuangnya.
Persetan dengan perasaan Freya. Masalah hatiku, biar menjadi urusanku. Tidak ada yang boleh mengaturnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 151 Episodes
Comments
Tiwi Pratiwi
kok aku gx suka ya sama karakternya freya... terlalu berlebihan... gx ada sopan2nya sama sekali.. terlalu keras kepala
2024-12-18
1
Rhima Erdhina
freya... jgn gk sopan sama mertua.siapa tau mrk lebih baik dr yg lainnya.
ar... agak lembut napa klo sama2 keras jd apa peenikahan kalian?
2022-07-18
0
Anisnikmah
keras iya akan keras klo di kerasin apalagi keadaan gak mendukung
2022-03-07
0