Pulang sekolah, keempat gadis itu pergi ke mall. Seperti biasa, Freya akan pergi ke toko buku terlebih dahulu.
"Aku mau ke toilet, habis itu langsung ke toko buku. Kalian mau ke mana?"
"Aku mau nyari sepatu dulu, deh," sahut Aruna.
Akhirnya Nania dan Nuna menemani Aruna ke toko sepatu.
Ketiga gadis itu memang jarang memasuki toko buku, tidak seperti Freya.
Setelah mendapatkan buku yang dicarinya, Freya langsung menyusul sahabat-sahabatnya yang masih di toko sepatu.
Mereka bertiga membeli sepatu dan akhirnya baju juga barang-barang lainnya.
Sedangkan Freya, gadis itu cukup membeli dua buku saja. Selama menginap di rumah sahabat-sahabatnya, Freya tidak membuat kue, hari ini pun tidak. Dia tidak ingin uang tabungannya untuk di luar negeri nanti habis begitu saja.
Layaknya anak muda, keempat gadis itu menghabiskan sepanjang sore di mall.
🍁🍁🍁
Aruna mengantar Freya pulang terlebih dahulu sebelum mengantar Nania dan Nuna. Mereka melihat sudah ada Arby yang masih memakai seragam sekolah duduk di teras rumah. Freya mengerucutkan bibirnya, sesaat dia lupa dengan statusnya yang sudah menjadi seorang istri.
"Kamu dari mana?"
Tanpa menjawab pertanyaan Arby, gadis itu berlalu ke kamarnya, namun di ruang tamu, ada kedua orang tuanya dan kakak adiknya.
"Kamu dari mana, Ya? Dari pulang sekolah tadi Arby menunggumu.
Freya juga tak menghiraukan mereka. Unjuk rasanya akan terus berlangsung hingga dia berpisah dari Arby.
"Kamu ke kamar Freya saja, Ar!"
Arby mengangguk dan segera menyusul Freya.
Brak!
Pintu kamar dibanting tepat di depan wajah Arby. Freya langsung mengunci pintu kamarnya. Teringat akan perkataan Vian kemarin, yang mengatakan kalau Arby bisa memanjat pohon mangga bila Freya tidak membukakan pintu kamar untuknya, Freya langsung mengunci pintu balkon yang menghadap halaman belakang.
Arby menghela nafas kesal.
Kayaknya tuh cewek harus dikasih pelajaran.
Malam harinya orang tua Arby datang untuk menjemput anak dan menantu mereka. Freya akan mereka boyong untuk tinggal di rumah keluarga Abraham.
Saat makan malam
"Freya, mulai malam ini kamu tinggal di rumah orang tua Arby," papa memberi tahu.
"Jadi sekarang aku diusir?"
"Bukannya diusir, tapi yang namanya istri, harus ikut suami."
"Halah, memang kalian enggak pernah anggap aku anak, kok."
"Jaga bicara kamu!"
"Aku enggak mau tinggal sama mereka. Mereka enggak akan aku anggap suami dan mertua."
"Yang sopan Freya!"
Freya pura-pura tuli, tidak akan selesai jika mereka tidak ada yang mengalah, jadi lebih baik dia pura-pura tuli saja, dari pada mulutnya gatal karena ingin terus menyahuti.
Freya langsung masuk ke kamarnya.
"Yang sabar ya, Ar."
Freya mengurung diri di kamar. Pintu kamarnya terus digedor-gedor membuatnya kesal, lalu dia membukanya.
"Apaan, sih?" bentaknya tanpa melihat siapa yang ada di hadapannya. Mama, mami juga Arby.
"Mau apa? Ganggu saja."
"Siapkan barang-barang kamu, Arby dan orang tuanya sudah lama menunggu."
"Aku enggak mau!"
"Bi, siapkan barang-barang Freya!"
"Baik, Nya."
"Jangan!"
Bi Karti mulai memasukkan baju-baju dan buku-buku Freya ke dalam koper. Freya mengeluarkannya lagi, membuat mamanya kesal. Dia langsung menarik menarik tangan Freya dan membawanya ke bawah.
"Lepasin, aku enggak mau tinggal di sana!"
Namun sekali lagi, tidak ada yang mau mendengarnya, apalagi membelanya. Apa yang salah dalam hidupnya? Kenapa orang tuanya bersikap seperti ini?
Rasa dendam itu semakin tertanam di hati Freya, gadis remaja yang masih labil, yang masih mencari jati diri. Apa dirinya menjadi beban orang tuanya?
Arby melihat tatapan Freya yang mulai kosong, namun dia sama tidak pedulinya. Kakaknya, adiknya juga tidak peduli, apalagi para asisten rumah tangga.
Bi Karti menurunkan tiga koper besar milik Freya yang kebanyakan isinya buku, lalu dia memasukkan koper-koper itu ke dalam mobil milik papi Arby.
Freya meninggalkan rumah itu, tanpa menengok ke belakang, tanpa ucapan perpisahan kepada orang tua maupun saudara-saudaranya, tanpa peluk dan cium. Meninggalkan rumah itu dengan berjuta rasa sakit dan dendam.
Aku bersumpah, apapun yang terjadi tidak akan pernah menginjakkan kaki lagi di rumah ini.
Sepanjang perjalanan kedua orang tua Arby mengajaknya berbicara untuk mencairkan suasana, namun lagi-lagi Freya menulikan diri.
"Orang tua aku bicara sama kamu, Frey. Kamu yang sopan dong, sama mereka!"
Tetap tidak ada sahutan.
Kenapa dia harus menjawab, sedangkan tadi mereka juga menulikan dii saat dirinya mengiba meminta bantuan.
Dia tidak akan lagi peduli pada orang-orang yang ada di sekitarnya, yang juga tidak peduli padanya.
Mereka tiba dengan cepat karena jalan tidak macet. Sebuah mansion yang sangat mewah menjadi pemandangan indah untuk orang-orang yang melihatnya, namun tidak untuk Freya.
Mereka mengantar Freya ke kamar Arby sekaligus ingin beristirahat.
"Ini kamar kamu sama Arby."
"Aku mau kamar lain."
"Kamu kan sudah menikah sama Arby, jadi satu kamar ya."
"Aku mau kamar lain."
"Freya ...."
"Aku mau kamar lain."
"Sudah malam, kalian istirahatlah!"
Lagi-lagi tidak ada yang peduli dengan keinginannya.
Entah siapa di sini yang egois.
Freya mengepalkan tangannya, sekilas Arby melihat senyum bak iblis di bibir Freya, namun dia langsung mengenyahkan pikiran itu.
Arby mendorong Freya untuk masuk ke kamar.
"Ini lemari dan meja belajar buat kamu."
Freya langsung membuka salah satu koper dan mengambil buku-bukunya, lalu mulai belajar.
Arby mengernyitkan alisnya.
Apa dia gila belajar, ya?
Arby memasuki kamar mandi dan membersihkan dirinya. Guyuran air shower langsung membuat badannya segar.
Pemuda itu keluar kamar mandi sudh berpakaian lengkap, lalu dia merebahkan badanya di atas kasur, sesekali melirik Freya yang fokus terhadap buku-bukunya. Arby kemudian membuka laptopnya dan mengerjakan sesuatu.
Jam 11
Arby mulai menguap, sekali lagi dia melihat Freya yang tetap fokus. Sejak tadi tidak ada yang berbicara, tidak ada juga yang berniat memulai pembicaraan.
Jam 12
Freya melirik Arby yang sudah terlelap. Dia lalu ke luar kamar dan berjalan ke ruang tamu. Merebahkan dirinya di atas sofa dan tidak lama kemudian tidur dengan posisi melengkung.
Jam 5
Arby terbangun, dilihatnya Freya yang tidak ada di sebelahnya, di meja belajar maupun di sofa. Dia mengetok pintu kamar mandi, dan tidak ada sahutan. Dia ke luar kamar bertepatan dengan maminya yang ke luar kamar juga.
Di dapur, sudah terdengar suara para asisten rumah tangga yang memasak. Arby melihat ke sekeliling.
"Cari siapa, Ar?"
"Freya, Mi. Dia tidak ada di kamar."
"Kok bisa?"
"Em, itu Nya, nona Freya tidur di ruang tamu."
Arby dan maminya berpandangan, lalu menuku ruang tamu. Mereka melihat Freya yang tidur meringkuk tanpa selimut, hanya menggunakan bantal sofa.
Merasakan ada yang bergerak di dekatnya, Freya membuka mata dan melihat Arby dan maminya di hadapannya.
"Kenapa tidur di sini, Ya?" tanya mami lembut.
Freya, yang tetap dengan sikap kerasnya tidak menjawab. Dia langsung menuju kamar untuk mandi dan pergi ke sekolah, meninggalkan ibu dan anak itu yang sibukndengan pikiran dan perasaan masing-masing.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 151 Episodes
Comments
Herta Siahaan
ini sich bukan barbar atau tomboy tapi mang kurang ajar dan sopan. kurang sreg ma gaya bicara dan sikap nya Freya
2022-11-27
0
Anisnikmah
orang tuanya gak peka. mertuanya peka dikit lah thor.. moga di ep selanjutnya freya bisa terbuka mereka yang tau freya jadi kebuka pikirannya
2022-03-07
0
El_Tien
Semangat
2022-02-21
0