Hup!
Freya jatuh dapam pelukan seseorang. Mata mereka saling menatap, sampai deheman seseorang menyadarkan keduanya.
Freya mengerucutkan bibirnya, si Arby itu selalu saja membuyarkan semuanya. Freya langsung turun dari gendongan Ikmal. Benar, Ikmal lah yang menangkap tubuh Freya sebelum mendarat jelek di atas tanah.
"Awas, Ar, pebinor di depan mata!"
Vian mendapat toyoran dari Marcell.
"Jangan asal kalau ngomong. Masa Arby belum dapat malam pertama sudah ditikung sama orang!"
Vian dan Marcell cekikikan lalu melakukan tos. Dasar teman lucknut, memang.
"Aaa ... ampun, Ya!"
Freya menarik rambut Marcell.
"Habisin ... habisin ... habisin!"
Ketiga cheerleader itu menyoraki Freya untuk memberinya semangat dari atas balkon.
"Sekali lagi ada yang ngomong malam pertama, bakalan aku santet!"
Akhirnya, keempat pria itu yang harus memanjat pohon mangga dan memetik buah-buah lainnya untuk dirujak oleh empat gadis jelmaan Nyi Pelet itu.
"Yah, sepertinya kamu memang gagal malam pertama, Ar," seru Vian.
"Awas, nanti kena santet sama ratu dedemit," Marcell mencoba menakut-nakuti Vian.
"Enggak apa, tapi santet cinta ya!"
Pelayan mengantarkan ulekan, pisau dan bahan-bahan untuk membuat bumbu rujak. Sedangkan untuk menaruh buahnya menggunakan daun pisang.
"Rumah kamu kok banyak pohon buah-buahan, Ya?" tanya Nuna.
"Hm, semua ditanam sama nenek aku."
Selama ini mereka memang tidak pernah ke rumah Freya meskipun sudah bersahabat sangat lama dengan gadis itu.
Freya sendiri tidak betah di rumahnya, jadi untuk apa dia mengajak mereka ke sana. Waktu yang Freya habiskan di rumah hanya untuk belajar, itu pun selalu di dalam kamar, mau itu di meja belajar, di atas kasur maupun di teras kamarnya yang menghadap taman belakang atau yang menghadap halaman depan. Kamarnya memang sangat luas namun minim barang-barang.
Keempat pemuda yang masih berada di bawah teras itu mulai memanjat kembali pohon mangga, bukan untuk memetik buah mangga, tapi untuk menyelinap ke balkon kamar Freya.
"Pada enggak tahu terima kasih banget sih, basa-basi kek, ngajakin kita rujakan," rajuk Vian.
Keempat gadis itu pura-pura enggak dengar.
"Heh, ngapain kalian ke sini. Ini kamar cewek, tahu."
"Aku mau lihat kamar pengantin baru kaya gimana."
Dengan tak tahu malu Marcell celingak-celinguk melihat kamar Freya.
"Gila, keren banget nih kamar."
Marcell, Vian dan Ikmal berdecak kagum melihat kamar Freya.
Sedangkan Arby mencuri-curi pandang pada gadis pujaannya.
Jangan ditanya apakah kamarnya dihiasi dengan kelopak-kelopak mawar yang ditaburi dibatas kasur, dengan hiasan bebek yang yang saling menghadap membentuk hati, atau lilin-lilin aroma terapi.
Kamar itu justru seperti kapal pecah. Selimut teronggok tak manusiawi di atas lantai.
Bantal guling tersebar di mana-mana.
Bungkus makanan dan minuman, gelas, dan piring berserakan.
Laptop di atas kasur.
Potongan kebaya Freya yang seperti kain lap.
Dan masih banyak lagi.
"Bener-benar luar biasa."
"Malam pengan ...."
Sebelum Vian sempat menyelesaikan kalimatnya, mulutnya sudah disuguhi mangga asam dengan bumbu rujak ekstra pedas yang banyak oleh Freya.
"Aaaa ... pedas pedas pedas ... asaaammm!"
Keempat gadis itu langsung memeluk air minum mereka sebelum diambil oleh Vian. Memang kalau soal membully, keempat gadis itu jagonya.
Arby, Marcell dan Ikmal meringis. Mulut mereka berdecap-decap seolah merasakan sensasi perpaduan mangga asam dan bumbu manis namun kebanyakan pedasnya itu.
Karena tidak bisa mendapatkan air yang layak minum, akhirnya Vian menuju ke kamar mandi Freya untuk minum air keran. Bodo amat, dah. Yang penting pedasnya hilang, kelamaan kalau dia harus ke bawah lagi.
🍁🍁🍁
Hari senin, hari dimana orang-orang kembali beraktifitas setelah kemarin libur. Begitu juga dengan Freya cs dan Arby cs.
Tadi malam Freya tidur di kamarnya dengan sahabat-sahabatnya. Sedangkan Arby cs tidur di kamar tamu. Orang tua mereka tidak mau protes, yang penting sah saja dulu, yang lain urusan belakangan.
Di hari Senin pagi ini, Freya ngotot pergi ke sekolah. Mana mungkin gadis berprestasi seperti dia membolos dengan alasan 'pengantin baru'.
Mereka ke sekolah menggunakan mobil Aruna untuk tim cewek, dan mobil Ikmal untuk tim cowok.
Ngomong-ngomong, perut Vian tidak baik-baik saja sejak adanya kolaborasi mangga muda asam, bumbu pedas dan air keran yang dia minum.
Suara misterius berbunyi.
"Anjir, bau banget."
"Kaya bau ******."
Vian hanya tertawa meski wajahnya pucat.
Arby, Marcell dan Ikmal langsung membuka seluruh jendela.
"Awas aja tuh si Freya, enaknya aku apain ya?" Vian ngedumel kesal.
"Culik aja An, minta tebusan sama lakinya."
"Emang lakinya mau, ngasih tebusan buat bini judes kaya gitu?"
"Jangan-jangan lakinya malah bersyukur, istrinya ilang."
"Terus ...."
"Cari bini lagi ... teret teret teret ... teret," mereka serempak bernyanyi.
Arby langsung memiting leher Vian dan membekapnya di ketiaknya, tidak peduli bahwa sahabatnya itu masih lemes karena diare. Sedangkan Marcell dia jambak. Ikmal belum diapa-apakan karena dia yang menyetir, bisa-bisa nanti mereka berakhir di rumah sakit.
"Gini-gini juga aku enggak mau jadi duda remaja."
Mereka bertiga ngakak mendengar perkataan Arby.
Duda remaja?
"Duda kembang, kali?"
Apalagi itu duda kembang?
Sudah pasti lawannya janda kembang.
"Ya iyalah dia mana mau, kan belum dapat jatah malam pertama."
"Awas, nanti didengar ratu dedemit."
"Enggak ada orangya ini."
"Tapi ada lakinya."
"Emang lakinya dianggap?"
Arby mengelus dada. Dosa apa dia punya sahabat-sahabat tak berakhlak dan istri barbar?
🍁🍁🍁
"Pulang sekolah kita ke mall, yuk?" ajak Aruna.
"Ayo, aku juga mau beli buku."
Freya cs berjalan di koridor, mereka berpapasan dengan guru BK. Jika biasanya Frya akan menyapa dan mencium tangan para guru yang ditemuinya, maka sekarang tidak lagi.
Rasa hormatnya kepada guru BK, wakil dan kepala sekolah telah sirna tak berbekas. Bukankah sudah tanamkan di hati dan pikirannya, bahwa siapa saja yang kemarin hadir di acara tersebut, sekarang menjadi musuhnya, kecuali sahabat-sahabatnya.
Sorot matanya memancarkan kebencian, dia melewati guru itu dengan mendengkus.
Sepanjang koridor kelas, Freya mendengar pujian-pujian dari para murid perempuan soal Arby. Kebanyakan dari mereka adalah kelas satu yang memang berada dalam fase pemula, karena mereka belum tahu apalagi pengalamam soal dicuekin oleh Arby.
Di dalam kelas, Freya memikirkan cara bagaimana dia bisa bercerai dengan Arby. Biarlah dia menjadi janda di usia muda, toh tidak akan ada yang tahu pernikahannya selain mereka yang hadir di sana kemarin. Itu hanya acara akad nikah yang dihadiri oleh kedua keluarga besar saja, bukan resepsi yang dihadiri oleh orang luar.
Yang penting dia bisa bercerai dengan keadaan perawan, jadi tidak ada jejak yang tertinggal dari Arby.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 151 Episodes
Comments