"Sarapan dulu, Ya," ajak mami.
Freya tidak menyahut, apalagi memandang tiga orang itu. Dia langsung ke luar rumah untuk ke sekolah, tanpa sarapan apalagi berpamitan. Arby pun masa bodo, tidak punya inisiatif untuk mengejar.
Di halte, Freya menunggu ojol yang akan menjemputnya, namun tak kunjung datang. Arby melihat Freya yang berdiri dengan rambut yang sedikit berantakan karena tertiup angin.
Dia begitu saja melewati Freya, tanpa ada niat untuk mengajak atau mengawasi dari belakang.
Memangnya kamu saja yang bisa cuek, aku juga bisa.
Freya yang melihat mobil Arby lewat di depannya, mendengkus. Bukan karena dia ingin ditawari untuk menumpang atau dipedulikan.
Dua puluh menit kemudian Freya tiba di sekolahnya.
Nania, Nuna, Aruna, Arby, Marcell, Vian dan Ikmal melihat Freya yang terlihat tak bersemangat seoerti biasanya, bahkan gadis itu melewati ketiga saabatnya begitu saja, tidak menegur seperti biasanya.
"Freya kenapa, ya?"
🍁🍁🍁
Istirahat tiba, mereka kini berada di kantin. Freya memesan banyak makanan dan minuman, tak seperti biasanya.
"Kalian pesan apapun yang kalian mau, aku yang traktir," ucap Freya tanpa memandang mereka, terutama empat pria tak tahu malu yang selalu saja mengekori mereka.
"Kami juga, kan?" Marcell yang tak tahu malu itu tak mau rugi, rupanya.
Freya hanya mengangguk.
Mereka, para cowok tak berakhlak itu memesan gila-gilaan. Lebih tepatnya Marcell dan Vian yang memesan, karena Arby dan Ikmal duduk anteng di bangku mereka.
Mereka makan dengan fokus, lebih fokus dari pada saat belajar.
"Lagi banyak uang, Ya?" tanya Ikmal.
"Iya."
"Kerjaan ada yang acc?" tanya Nania.
Kerjaan?
Keempat pria itu menatap Freya.
"Bukan."
"Terus uang dari mana?"
Freya tak mungkin menghambur-gamburkan uangnya begitu saja. Bukannya pelit, hanya saja dia sudah memisahkan uang untuk kuliah dan kehidupannya di luar negeri, untuk jalan-jalan dan sebagainya di berbagai rekening. Saat dia mendapatkan pekerjaan dan sudah mendapatkan bayarannya, maka dia tidak akan pelit untuk mentraktir sahabat-sahabatnya.
"Jual cincin, lah."
Mereka tersedak.
"Cincin?"
"Cincin kawin?"
"Memangnya aku punya cincin yang lain?"
FLASHBACK ON
Freya tidak pergi ke toilet, tapi menuju toko perhiasan. Dia memasuki Tiara's Jawellery, toko perhiasan yang didirikan oleh Tiara Group, perusahaan perhiasan yang sangat terkenal, yang didirikan oleh Carlos Anderson.
Dia ingin menjual kedua cincin itu. Seorang penjaga wanita melihat penampilan Freya, gadis remaja berseragam sekolah.
"Sebaiknya adik ke FJ saja, ini buatan khusus toko tersebut, hanya bisa dijual kembali ke toko itu."
"Owh, gitu ya, mbak? Makasih, ya."
Freya langsung keluar dari Tiara's Jawellery dan menuju FJ, toko perhiasan yang juga cukup besar, dengan lambang seorang wanita yang memakai mahkota.
"Ada yang bisa kami bantu?"
"Mbak, saya mau jual cincin?"
"Bisa kami lihat dulu?"
Freya menunjukkan sepasang cincin itu. Pegawai toko langsung mengenali cincin tersebut, namun dia tetap meliatnya untuk memastikan.
Seratus persen asli!
Sama seperti toko sebelumnya, mereka memandang curiga pada Freya, namun tidak ingin sembarang menuduh karena seragam yang dipakai oleh Freya merupakan seragam sekolah elit yang terkenal dan hanya kalangan tertentu saja yang bisa sekolah di sana.
Tidak mudah ternyata menjual cincin tersebut, Freya harus memberikan identitas dirinya. Nomor ponsel, alamat rumah, foto copy kartu pelajar (karena belum memiliki KTP).
Ribet amat sih, jual ya jual aja kali. Tahu gini mending aku jual di pasar, sekalian. Biarin walau murah juga!
Akhirnya, Freya berhasil juga menjual sepasang cincin kawin itu. Bahkan cincin untuk pria tersebut belum pernah disematkan di jari Arby.
Jangan ditanya harganya, prosedurnya saja susah, sudah pasti harganya memang fantastis. Freya tersenyum penuh kemenangan.
Freya lalu mengecek uangnya yang sudah masuk ke rekening, lalu membaginya ke beberapa rekening lainnya, setelah itu dia menuju ATM untuk mengambil beberapa juta.
Selesai mengambil uang, dia menuju toko buku, selanjutnya ke toko sepatu untuk menyusul Nania, Nuna dan Aruna.
FLASHBACK OFF
Mereka menggaruk tengkuk, tak menyangka bahwa Freya serius mengatakan ingin menjual cincin tersebut.
Freya sedikit melirik Arby dari ekor matanya, pria itu biasa-biasa saja, terlihat kesal.
Iya juga sih, mana mungkin dia kesal. Dia kan enggak pernah suka aku, menikah juga terpaksa. Cih, dasar munafik, enggak suka tapi juga enggak nolak. Sok jadi anak berbakti tapi suami dzolim.
Yang lain juga melirik Arby, sedikit kasihan. Ingat ya, hanya sedikit. Lalu mereka melirik makanan yang tadi sangat mereka nikmati.
Arby ikhlas enggak ya, cincin kawinnya dijual untuk traktir makanan-makanan ini?
Jangan sampai aku sakit perut gara-gara makanan ini. Yang gara-gara kamerin saja perutku belum normal, masa mau ditambah lagi yang ini.
Dibuang sayang, enggak dibuang takut ada yang enggak iklas.
Berbagai pikiran berkecamuk di otak mereka, dan akhirnya mereka memiliki jawaban yang tepat.
Ah, bodo amatlah!
Mereka kembali makan dengan lahap, lupa bahwa baru saja mereka galau.
"Ya, kalau gitu nanti kita ke mall lagi, yuk. Makan-makan, nonton, shopping, ya pokoknya senang-senanglah. Kamu kan lagi banyak uang."
"Ayo, aku juga mau beli dress untuk sweet seventeen-nya Nania."
"Kalian para cowok enggak boleh ngintilan kita lagi!"
"Tahu tuh, cari cewek kek sana. Kalau kalian dekat-dekat kami terus, nanti para cowok jadi ragu mau ngajak kami pedekate."
"Nanti sekalian kita ke salon."
Segala rencana mereka bicarakan, mereka tidak tahu saja bahwa para cowok itu juga sibuk berdiskusi satu sama lain melalui ponsel yang disilent.
Entah karena suka atau apa.
Arby memang diam-diam menyukai salah satu gadis itu.
Marcell memang ingin terus menggoda sang mantan agar tidak bisa move on darinya.
Vian dan Ikmal?
Mereka juga tidak jelas.
Sesekali Ikmal melirik ke salah satu gadis itu, lalu melirik Arby. Seperti itu terus sambil tangannya menulis pesan.
Ikmal melihat Freya, ada yang aneh dari Freya. Gadis itu tak seceria biasanya, tatapan matanya sedikit redup, wajahnya pucat.
Binar yang selalu hadir di wajah gadis itu, tak terlihat hari ini.
"Kamu sakit, Ya?" tanya Ikmal akhirnya.
Freya menggeleng, matanya melirik Arby yang terlihat tak peduli.
Sebenarnya mereka semua itu saling lirik-lirikan diam-diam, dasar ABG.
Freya melihat seseorang yang duduk di pojok kantin, cowok yang berpenampilan sedikit urakan. Sebenarnya penampilannya masih biasa-biasa saja, tapi jika dibandingkan dengan semua murid yang ada di sini, dialah yang paling urakan. Dia duduk bersama genknya.
Lalu mata Freya melihat ke arah lain, sekelompok murid perempuan yang sedang tertawa.
Freya menghela nafas.
Sama seperti sekolah pada umumnya, di sekolah ini juga murid-muridnya berkelompok, namun tidak ada yang namanya pembullyan. Mungkin karena semua yang sekolah di sini selain kaya, mereka juga pintar, jadi semuanya hampir sama rata.
Mata Freya kini kembali ke cowok tadi. Merasa ada yang memperhatikan, cowok itu menenhok k arah Freya. Pandangan mata mereka bertemu, lalu dia mengedipkan matanya kepada Freya, membuat Freya sedikit tersenyum geli.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 151 Episodes
Comments
Whatea Sala
Arby.."diam diam menyukai salah satu cewek itu"gak di kasih keterangan siapa yang disukai arby.
tapi yang pasti yang disukai arbi ya freya ya kan thor...😁😁
2023-05-03
1
Desak Reni
lanjut thor up ny dikit 2 banget
2021-08-30
3