Keesokan harinya saat sarapan, Freya kembali harus mendengar pembicaraan orang tuanya mengenai pernikahan. Dia pikir, tadi malam itu dia hanya mimpi.
Ya ampun, apa mereka tidak berpikir bahwa anaknya ini masih di bawah umur? Bagaimana bisa seorang anak dipaksa menikah dini, toh dia juga tidak hamil, kan.
Mingkin, jaman dulu wajar jika orang-orang menikahkan anaknya di usia muda dengan berbagai alasan, ekonomi misalnya.
Tapi ini? Sekarang jaman modern, keluarganya juga bukan keluarga dengan ekonomi yang kekurangan.
"Jadilah anak berbakti!"
"Memangnya aku kurang berbakti? Selama ini aku pernah meminta apa pada papa mama? Aku sekolah dengan beasiswa, tidak pernah meminta uang jajan yang berlebihan seperti Ayla dan Nayla, nilai-nilai selalu memuaskan. Papa mama jangan dzolim pada anak. Jangan pilih kasih!"
Brak!
Wildan menggebrak meja.
"Jangan kurang ajar kamu!"
"Bilang saja kalau aku anak pungut. Jadi aku tahu alasan kalian selalu membeda-bedakan aku dengan Ayla dan Nayla."
"Cukup! Masuk ke kamar kamu sekarang."
Tanpa disuruh pun, Freya memang ingin pergi. Tidak ada yang membelanya. Baik mamanya, kakaknya, apalagi adiknya yang masih kecil itu.
Freya melangkahkan kakinya ke luar rumah, setelah tadi mengambil dompetnya di kamar. Dari pembicaraan antara papanya dan papi Arby yang dia dengar diam-diam, mereka akan dinikahkan sebelum tahun ajaran baru.
Freya sengaja meninggalkan ponselnya di kamar, agar tidak ada yang melacak keberadaannya.
Ya, Freya memutuskan untuk kabur. Mana sudi dia menikah dini, mengorbankan masa remaja dan impiannya hanya untuk menikah dengan pria yang tidak dia sukai.
Memang sih, Arby itu gantengnya kelewat batas, kaya dan masih banyak lagi kelebihannya, kata orang-orang.
Namun bukan berarti Freya menyukainya. Bagi Freya, saat ini adalah memperoleh impiannya. Apa harus perjuangannya selama ini kandas di tengah jalan. Dia belajar siang malam, bangun sepagi mungkin untuk membuat kue lalu dititipkan di warung-warung, belajar berbagai bahasa asing secara otodidak. Ditambah dia juga belajar bisnis sendiri.
Tidak, tentu saja Freya tidak sebodoh itu.
Impiannya harus tercapai.
Freya tiba di kontrakan kecil. Selama ini dia menjadikan kontrakan ini sebagai tempat untuk dia berkreasi terhadap resep-resep baru dengan tenang tanpa gangguan orang rumah.
Di rumah ini, sudah ada baju-bajunya, juga beberapa buku untuk dia belajar. Bagi gadis itu, buku itu seperti pacarnya, ke mana saja maunya dibawa.
Makan malam di rumah keluarga Zanuar berlangsung tanpa kehadiran Freya. Tidak ada yang menanyakan keberadaannya.
"Jadi bagaimana, Pa?" tanya Ami pada suaminya.
"Dia harus mau."
Sementara itu, teman-temannya Freya sejak tadi pagi sulit untuk menghubungi gadis itu. Ponselnya tidak pernah aktif, tidak biasanya seperti itu.
🍁🍁🍁
Hingga tiga hari berlalu, tidak ada yang menyadari ketidak hadiran Freya di rumah itu selain asisten rumah tangga. Marni, asisten rumah tangga di rumah Freya merasa cemas. Saat dia membersihkan kamar Freya, dia melihat ponsel Freya yang adadi atas meja belajarnya. Temoat tidurnya masih rapih dan dingin. Tidak aja baku kotor. Kamar itu benar-benar terlihat tidak berpenghuni selama tiga hari.
"Maaf tuan, nyonya," Marni menjeda ucapannya, bingung bagaimana cara mengatakannya.
"Ada apa, bi?"
"Itu, nona Freya selama tiga hari ini tidak ada di rumah."
"Oh, mungkin dia menginap di rumah temannya atau liburan bersama mereka. Kan sebentar lagi mulai kembali sekolah."
Marni diam saja melihat sikap kedua majikannya itu yang terlihat santai, lalu kembali ke dapir untuk melanjutkan pekerjaannya.
🌹🌹🌹
Satu minggu lagi rencananya pernikahan itu akan diadakan. Arlan, Elya dan Arby mendatangi rumah Wildan untuk membicarakan pernikahan lebih lanjut.
Suara bel berbunyi, salah satu asisten rumah tangga membuka pintu. Ketiga tamu itu memasuki rumah dan disambut oleh Wildan dan Ami.
"Sih, panggil Freya," perintah Wildan.
"Nona belum pulang juga sampai sekarang," ucap Wasih.
"Coba papa hubungi Freya."
"Ponsel nona ada di kamarnya, tuan."
Wildan berdecak kesal.
"Mungkin Freya bersama teman-temannya, coba kamu hubungi salah satu temannya," Arlan memberikan saran kepada Wildan.
"Bi Marni punya nomor ponsel temannya Freya?"
"Tidak tuan, saya juga tidak tahu siapa saja yang menjadi teman-temannya nona Freya."
Jangankan saya, tuan dan nyonya saja yang orang tuanya tidak tahu.
"Ar, kamu tahu siapa saja yang berteman dengan Freya?" Elya menatap wajah anaknya itu yang mengkerutkan alisnya.
"Tahu, mereka Nania, Nuna dan Aruna."
"Punya nomor ponselnya tidak, Ar?"
"Enggak, tapi aku coba tanya ke Marcell dulu."
Arby langsung mencari kontak Marcell, tidak lama kemudian panggilan itu diangkat dan di loudspeaker oleh Arby.
"Halo Cell, kamu punya nomor ponselnya Nania kan? Minta, dong."
"Wah parah, mau nikung sahabat, ya?"
"Dih, bukan tipe aku dia, mah."
"Terus buat apa nomor Nania?"
"Ya adalah, mau tahu aja."
"Ya harus lah, kalau enggak mau ngasih tahu, enggak akan aku kasih nomornya."
"Mau nanya, Freya ada sama salah satu dari mereka, enggak."
"Freya? Ada apaan kamu nanya Freya? pedekate, ya?"
"Bawel amat, sih. Buruan!"
"Cerita dulu."
"Ck. Buruan, Cell!"
"Cerita dulu."
Arby kendengkus kesal, malas berdebat dengan sahabat yang mengesalkan itu.
"Orang tuanya nyariin, katanya Freya enggak ada di rumah sudah ...."
Dia menanyakan kepada orang tuanya Freya.
"Sudah berapa lama, Om?"
"Sudah satu minggu, den," jawab Marni.
Arby mengkerutkan keningnya.
"Sudah satu minggu Freya belum pulang dan tanpa kabar. Enggak bisa dihubungi juga," jelas Arby pada temamnya yang sangat kepo itu.
"Ngapain kamundi rumah Freya?"
"Cell, plis deh. Bukan saatnya kamu banyak nanya."
Elya langdung menambil ponsel dari tangan Arby.
"Marcell, ini maminya Arby. Tolong ya kalau kamu punya nomor ponsel temannya Freya atau tahu keberadaan Freya, kasih tahu kami."
"Eh, iya tan. Aku kirim nomor ponsel Nania. Kirain tadi Arby becanda. Maaf ya, tan."
"Cepat ya, Cell."
"Iya, tan. Aku kirim sekarang."
Elya mematikan sambungan itu dan tidak lama kemudian sebuah pesan masuk. Arby melihat nomor kontak Nania yang diberi nama Calon Bini , oleh Marcell. Arby terkekeh pelan, melihat nama itu. Segera dia menghubungi Nania, juga diloudspeaker.
"Halo, siapa?"
"Ini Arby?"
"Arby, temannya cowok yang sok cakep itu?"
"Iya."
"Ngapain nelp-nelp?"
"Mau nanya, Freya ada sama kamu, enggak? Atau sama yang lain?"
"Freya?"
"Iya, Freya."
"Sudah satu minggu ini kami susah menghubungi Freya. Ponselnya juga tidak pernah aktif. Kok nanya Freya?"
"Sudah satu minggu Freya enggak ada di rumahnya juga?"
"Hah? Freya hilang?"
"Iya."
"Ck, emang ya tuh orang tuanya, anak sudah satu minggu hilang baru dicari sekarang. Kebangetan banget!"
Nania tersulut emosi.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 151 Episodes
Comments
💕febhy ajah💕
nah denger tuh temenya freya, udah nga dianggap langsung mau dijodohkan, dasar orng tua pilih kasih.
2022-08-01
1
Kod Driyah
orang tua egois main jodoh2an freya umurnya jg msh terlalu muda knp g sm alya sj yg umurnya sdh dewasa
2022-07-23
0
Mamah Dara
lanjut ......seru ortu apa ortu itu ma anak engga peduli
2022-05-16
0