Sesuai kesepakatan, mereka langsung menuju mall sepulang sekolah. Ada yang berbeda dari penampilan Freya, gadis itu memakai hotpats dengan kaos pendek. Sedangkan yang lainnya tidak jauh berbeda, mereka langsung membeli baju ganti di mall, karena enggan pulang dulu ke rumah.
Freya berbelanja gila-gilaan, memanjakan dirinya dengan membeli baju, tas, sepatu, dan aksesoris khas anak muda.
"Tuh empat jin enggak ngikutin kita, kan?"
"Aman."
"Mereka ngapain sih, ngintilin kita terus?"
"Suka kali sama kita."
"Sok ganteng banget mereka."
"Tapi memang ganteng, sih."
"Dih!"
Shopping membuat para kaum hawa lupa waktu, termasuk mereka. Jam delapan malam Freya baru tiba di rumah Arby. Dia menghela nafas sebelum masuk ke rumah hantu itu.
Di ruang keluarga, Arby, papi dan maminya sedang menonton film.
"Kamu kok baru pulang, Ya? Ponsel kamu dari tadi tidak bisa dihubungi."
Mereka melihat penampilan Freya yang tangannya menenteng banyak kantong belanjaan. Freya melewati mereka begitu saja.
Freya masuk ke kamarnya dan langsung mandi. Dia sudah sangat lelah, ingin segera tidur namun di ruang keluarga mereka masih menonton. Tidak ada pilihan lain, Freya terpaksa tidur di kamar itu. Dia langsung menuju sofa dan tidak lama kemudian sudah ada di alam mimpi.
Arby masuk ke kamarnya, dia melihat Freya yang sudah tidur dengan nyenyak.
Tumben enggak belajar.
Dia langsung menyalakan laptopnya dan mengerjakan tugas. Tidak ada niat untuk memindahkan Freya ke atas kasur.
⚡⚡⚡⚡⚡
Jam tiga Freya bangun, dia langsung menuju dapur dengan membawa bahan-bahan untuk membuat kue yang dia beli di mall.
Arby terbangun pada jam empat lewat lima. Dia melihat Freya yang tidak ada di kamarnya. Dia langsung turun ke bawah dan melihat Freya yang sudah sibuk dengan kue-kue buatannya.
"Kamu lagi apa?"
Freya tidak menjawab, dia memasukkan kue-kue itubke dalam box plastik untuk dititipkan dibwarung-warung.
"Untuk apa kamu buat kue sebanyak ini?"
"Ck, untuk aku jual, lah."
"Kamu jualan kue?"
Freya diam saja.
"Kamu enggak boleh jualan!"
"Apa urusan kamu?"
"Ya urusan aku, lah. Apa nanti kata orang-orang kalau tahu menantu papi mami jualan kue. Malu tahu, enggak."
"Bukan urusan aku, lagian kalian masih punya malu?"
"Pokoknya kamu enggak boleh jualan!"
Mereka tarik-tarikan kotak-kotak itu, membuat kotak-kotak itu terjatuh dan kue-kuenya berantakan di lantai.
Freya berteriak marah.
"Dasar cowok gila, aku sudah bangun pagi-pagi dan capek-capek bikin kue ini, tapi kamu seenaknya merusak kue-kue aku."
"Memangnya aku peduli."
Freya memungut kue-kue itu, membuat Arby kesal.
"Jangan dipungut lagi!"
Arby langsung menginjak kue-kue itu tanpa perasaan.
Freya menangis sesenggukan, bukannya menenangkan dan memeluk Freya, tapi Arby langsung menarik tangan Freya dengan kuat dan membawanya ke kamar.
"Dasar sinting, lepasin brengsek!"
Arby mendorong tubuh Freya ke atas kasur.
"Mulai sekarang kamu enggak boleh jualan kue-kue lagi!"
"Tapi aku butuh uang."
"Nih buat kamu!"
Arby mengeluarkan kartu kreditnya dan ATM lalu melemparnya ke wajah Freya.
"Aku enggak butuh uang kamu, kamu kira aku enggak bisa cari uang sendiri?"
"Kenapa, kamu enggak mau yang gratisan?"
"Iya."
"Kalau gitu kamu kasih tubuh kamu ke aku."
Plak!
"Dasar an*ing!"
Arby mencengkram dagu Freya, mengarahkan wajah cantik itu ke hadapannya.
"Dengar baik-baik, Frey, mulai sekarang kamu enggak boleh lagi jualan kue, kalau sampai itu terjadi, aku akan menghancurkan warung-warung itu. Ingat, aku enggak pernah main-main sama ucapan aku."
Pria itu langsung ke kamar mandi, melihat wajahnya yang merah bekas tamparan Freya. Dia menyugar rambutnya, mencoba meredakan amarahnya.
Dasar brengsek!
Dua puluh menit kemudian dia keluar dari kamar mandi, melihat Freya yang tertidur di atas kasur dengan posisi meringkuk. Wajanya sembab dengan rambut yang menempel di wajahnya. Lengannya merah bekas cengkraman Arby.
Arby membuka ponselnya, melihat foto-foto gadis pujaannya. Jam enam lewat lima belas menit Arby ke luar kamar tanpa membangunkan Freya.
"Freya mana, Ar?"
"Nanti nyusul."
Selesai sarapan, dia langsung berangkat ke sekolah.
Jam tujuh kurang Freya terbangun. Dia melihat jam, sudah terlambat untuk pergi ke sekolah, namun dia tetap bersiap-siap.
Jam tujuh lewat dia turun, pergi ke sekolah tanpa sarapan dan tidak berpamitan pada siapapun.
🌿🌿🌿🌿🌿
Jam istirahat
"Freya mana?" tanya Nania dan Marcell berbarengan.
Jika Nania bertanya pada Arby, maka Marcell bertanya pada Nania.
"Ar, Freya mana?"
"Sakit," jawabnya singkat dan asal.
"Sakit apa?"
"Demam," lagi-lagi menjawab asal.
"Nanti kita tengok, yuk."
"Oke," kali ini Marcell yang menjawab.
"Siapa yang ngajak kamu?"
"Enggak ada, tapi aku punya inisiatif sendiri."
Terasa ada yang berbeda tanpa kehadiran Freya. Keempat gadis itu saling melengkap.
Freya yang paling cuek namun dia yang paling peduli. Dalam artian dia akan mengingat apa yang orang suka atau tidak dan paling nyaman diajak curhat, karena dia akan jadi pendengar yang baik dan tidak suka menggurui.
Nania yang manja namun bijak, akan jadi penengah kalau ada yang beda pendapat, juga sedikit pelupa.
Nuna yang galak gengsinya paling gede dan bermulut ember.
Aruna yang kalem, tapi kalau ngomong suka enggak lihat-lihat sikon, bisa bikin orang malu.
🌸🌸🌸🌸🌸
Freya melihat Miko, cowok satu sekolah yang sering bolos, yang saat itu mengedipkan matanya pada Freya.
"Kamu bolos?"
"Kamu juga bolos."
Mereka duduk di salah satu cafe yang jauh dari sekolah. Seragam sekolah mereka sudah diganti dengan pakaian biasa.
"Kamu sakit?" tanya Miko, karena dia melihat wajah Freya yang pucat dengan mata sembab dan bengkak.
"Enggak, tapi aku kelaparan."
Miko tertawa renyah.
"Ya udah, pesan yang banyak, aku yang traktir."
"Asik. Eh, kalau ada kerjaan aku mau dong."
"Lah, aku saja masih SMA, Ya."
"Ck, ya kali aja kamu punya saudara atau apa gitu."
"Hmmm, tapi kalau bisa, yang dikerjakan secara online ya."
"Serius?"
"Iya."
"Sini, deh."
Miko langsung membisikkan sesuatu ke telinga Freya.
"Serius?" kali ini Freya yang bertanya.
"Iyalah."
"Mau mau mau!"
Freya tersenyum.
"Aku pasti enggak akan ngecewain kamu."
🌿🌿🌿🌿
"Freya!"
Teriak Nania, Nuna dan Aruna. Mereka tidak peduli bahwa ini adalah rumah Arby.
"Non Freya belum pulang," ucap salah satu asisten rumah tangga.
"Ke mana?"
"Loh, tadi pagi kan ke sekolah."
"Sekolah?"
Mereka langsung melihat Arby. Yang ditatap menghela nafas, dan langsung ke kamar, disusul oleh Nania, Nuna dan Aruna. Marcell, Vian dan Ikmal akhirnya ikut-ikutan.
Arby membuka lemari, baju-baju Freya masih utuh, tapi bukan berarti gadis itu tidak kabur lagi, kan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 151 Episodes
Comments
Mamah Dara
seru
2022-05-17
0
Moena Al Madinah
makin menarik juga cerita masa SMA nya, persahabatan yg saling mendukung
2022-05-16
0
Gahara Rara
harus saya akui.. ceritanya beda dari novel pernikahan SMA lainnya
.. bagua Thor
2022-02-26
2