Freya terbangun, dia mendapatkan dirinya kini tengah berada di kamar yang sudah cukup lama tidak dia tempati. Dia mencoba untuk duduk, namun rasa pusing yang menyerang kepalanya membuatnya kembali memejamkan mata. Setelah merasa cukup kuat, Freya kemudian duduk sambil bersandar di kepala ranjang.
Freya beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Setelah itu dia keluar, namun pintu kamarnya dikunci. Gadis itu menggedor-gedor pintu kamarnya dan berteriak, tetap saja tidak ada yang membukakan pintu.
Dia menuju jendela, dilihatnya empat orang bodyguard menjaga tepat di bawah jendela dan teras kamarnya. Tidak ada jalan untuk melarikan diri.
🍁🍁🍁
"Kamu yakin Ar, mau menikah muda?" tanya Ikmal.
"Sudah berapa kali sih aku bilang, ini kemauan orang tua aku."
"Memangnya kenapa orang tua kamu mau kamu menikah cepat-cepat, kamu kan masih muda banget."
Arby memandang Ikmal.
"Mereka enggak bilang apa-apa, aku hanya ingin menjadi anak yang berbakti."
Jawaban Arby membuat Ikmal mencibir.
Si Ikmal kenapa sih, sepertinya tidak suka dengan jawabanku. Apa jangan-jangan dia suka sama Freya, ya?
🍁🍁🍁
"Jadi kita ke rumah Freya, nih?" tanya Aruna.
"Iya, dari pada dia kenapa-kenapa."
Ketiga gadis itu menuju rumah Freya. Meskipun mereka belum pernah ke rumah Freya, bukan berarti dia tidak tahu di mana Freya tinggal.
Di rumah Freya sudah ada Arby dan kedua orang tuanya. Tentu saja mereka membicarakan masalah pernikahan yang sempat tertunda. Menghilangnya Freya tidak membuat lernikahan itu batal, hanya diundur.
"Maaf tuan, ada teman-teman nona Freya ingin bertemu dengan nona."
"Suruh masuk saja, bi."
Nania, Nuna dan Aruna melihat Arby dan kedua orang tuanya. Mereka bertiga memeletkan lidah mereka kepada Arby, membuat kedua orang tua Arby dan Freya tertawa.
Mereka bertiga diantar oleh salah satu asisten rumah tangga. ART itu memutar kunci pintu kamar Freya.
Freya dikurung di dalam kamar?
Kasihan banget Freya.
Tega banget orang tuanya.
Itulah yang ada dalam pikiran mereka. Jangan salahkan jika Freya menjadi pemberontak, orang tuanya saja egois dan tidak perhatian.
Freya mendengar pintu yang dibuka, tiga wajah yang sangat dikenalnya muncul di hadapannya.
"Nania, Nuna, Aruna? Kalian kok bisa di sini?"
"Kami khawatir sama kamu."
"Kami mau menginap di sini menemani kamu."
Mereka berempat berpelukan ala Teletubies. Di dalam kamar itu mereka bercerita, tidur-tiduran, juga menonton drama. Baik itu drama Jepang, Korea, China atau Thailand.
Jam tujuh, ART memanggil keempatnya untuk makan malam. Ternyata masih ada Arby dan kedua orang tuanya.
Bisa Nania, Nuna dan Aruna lihat bahwa dalam keluarga Freya memang kurang hangat, lagi-lagi membuat ketiganya merasa kasihan.
"Freya, besok pagi kamu akan menikah dengan Arby."
Perkataan papanya itu menghentikan gerakan Freya yang akan memasukkan makanan ke dalam mulutnya.
Hilang sudah ***** makannya.
"Sudah aku bilang, aku tidak mau."
"Tidak ada bantahan!"
Freya membanting sendok yang dipegangnya.
"Kalian egois! Aku benci kalian, sangat benci!"
Byur!
Freya menyiram air ke wajah Arby, sebagai bentuk kekesalannya karena cowok itu tidak berpihak padanya.
"Lihat saja, ini baru permulaan. Aku yang akan membuat hidupmu bagai di neraka jika pernikahan itu terjadi."
Freya berlari ke kamarnya, tidak mungkin dia kabur lagi karena rumah sudah dijaga dengan ketat.
Nania, Nuna dan Aruna mengikuti Freya.
"Kalian harus bantu aku kabur, please!"
Freya menangis tersedu, membuat ketiga sahabatnya ikut menangis.
Arby, yang berdiri di depan pintu kamar itu mendengar suara tangis gadis itu yang terdengar sangat pilu. Dia mengurungkan niatnya untuk berbicara dengan Freya.
"Gimana caranya, ya?" tanya Nania.
"Pura-pura pingsan aja."
"Paling dokter yang ke sini, bukannya dibawa ke rumah sakit."
"Pura-pura bunuh diri, deh."
"Nuna!"
"Ya maaf, habis kalian punya ide lain?"
Mereka menggeleng.
"Nanti malam saja sat semua orang sudah tidur, baru kita kabur."
Akhirnya mereka sepakat menunggu tengah malam. Kenyataan tentu saja tak selalu bisa sesuai harapan, mereka tak bisa kabur. Para bodyguard itu masih terus berjaga bergantian, tidak terpengaruh tipu muslihat gadis-gadis itu.
Akhirnya jam tiga mereka tidur dengan keadaan pasrah menunggu esok pagi tiba.
Keesokan paginya
Freya memandang kebaya modern yang ukurannya. Teman-temannya juga sudah disiapkan dress entah oleh siapa.
Penata rias mendandani Freya dengan menahan emosi karena gadis muda itu terus memberontak.
Perias itu akhirnya keluar dari kamar Freya setelah selesai melakukan tugas mereka.
Freya membuka kebayanya, dan menggunting sesuka hatinya.
"Freya!"
Freya terkikik menatap ketiga sahabatnya yang melihat perbuatannya.
"Mereka pikir aku main-main! Lihat saja, aku akan membuat mereka semua malu."
Sedangkan orang-orang yang ada di bawah sibuk mengobrol, menunggu proses akad nikah dimulai.
"Dia tidak membuat ulah lagi kan, ma?" tanya Wildan kepada Ami. Ami menggeleng pelan. Tamu-tamu yamg hadir adalah kerabat dan sahabat-sahabat Arby.
Sahabat-sahabatnya itu juga tak menduga bahwa hari ini Arby dan Freya akan menikah, padahal baru kemarin mereka mengobrol di sekolah.
Di kamar Freya
"Ingat, jangan ada yang masuk!"
Freya memberikan instruksi kepada mereka. Nuna membuka pintu sedikit, untuk mencari tahu apa yang sedang berlangsung.
"Sebentar lagi ijab kabulnya mau dimulai, kayaknya."
Wajah Freya kembali sendu.
Di ruang tamu
Arby menjabat tangan Wildan dengan berbagai pikiran, tangannya juga keringat dingin.
Sebentar lagi aku akan menjadi suami
Sebentar lagi aku akan menjadi suami
Sebentar lagi aku akan menjadi suami
"Arby Erlangga Abraham, saya nikahkan engkau dengan putri saya, Freya Canaya Zanuar dengan mas kawin uang tunai 888.888.888 rupiah dan satu unit rumah."
"Saya terima nikahnya Freya Canaya Zanuar dengan mas kawin tersebut dibayar tunai."
Arby mengucapkannya dalam satu tarikan nafas.
"Bagaimana saksi, sah?"
"Sah."
Resmi sudah Freya dan Arby menjadi sepasang suami istri. Kedua orang tua mereka menarik nafas lega. Kakak dan adik Freya tersenyum, ikut merasakan kebahagian dua keluarga besar, tapi bukan pengantin perempuan yang berbahagia.
Marcell, Vian, dan Ikmal menepuk punggung Arby.
"Selamat ya!" ucap mereka bergantian.
Sementara itu di kamarnya, Freya kembali menangis.
"Kami bingung, mau ngasih selamat, tapi kamu enggak bahagia. Mau ikut nangis, tapi seharisnya ini jadi hari bahagia."
"Aku mau ke kamar mandi dulu."
Pintu kamar Freya terbuka, maminya Arby dan mamanya Freya masuk.
"Mana Freya?"
"Lagi di kamar mandi, tan. Nanti biar saja kami yang menemani Freya ke luar."
"Ya sudah, jangan lama-lama ya."
"Mungkin Freya gugup."
"Iya, dari tadi katanya mules-mules."
Teman-temannya mencoba melindungi Freya, tidak tega kalau sahabat mereka itu dimarahi lagi.
"Sudah minum obat?" tanya mami Arby.
"Hanya minum air putih tan."
"Ya sudah, nanti biar diperiksa, ada dokter keluarga juga di bawah."
Mami dan mama itu turun, tidak lama kemudian Freya keluar dari kamar mandi.
"Kamu yakin Ya, mau ke luar dalam keadaan seperti ini?"
"Yakin enggak yakin, tetap saja aku harus ke luar."
Mereka berempat menuruni tangga. Mata orang-orang terperangah melihat penampilan Freya yang ... sulit dijelaskan dengan kata-kata.
Kedua orang tua Freya menunduk menahan malu, sedangkan Freya menatap penuh kebencian kepada mereka semua yang hadir di sana, kecuali sahabat-sahabatnya.
Ini hanya salam pembuka, Arby!
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 151 Episodes
Comments
Qaisaa Nazarudin
Hadeeuuhh Ortu pada nekat semu..
Aku dapat merasakan berada di posisi Freya saat ini,Di umur yg masih sangat muda,Baru beranjak Remaja tapi dipaksa Nikah,dan direnggut paksa kebebasan nya,🤦🤦🥺🥺
2025-03-24
1
Qaisaa Nazarudin
Alasan.. Bilang aja kalo kamu itu senang banget bisa di Jodohin dgn pujaan hati,makanya kamu gak nolak..
2025-03-24
1
El_Tien
seneng denger yang nikah
2022-02-16
0