"Jadi, apa yang sebenarnya terjadi dengan kamu dan keluarga kamu?" tanya Nania, karena sebesar apapun masalah yang selama ini Freya alami, tidak pernah gadis itu menghilang tanpa kabar, apalagi sampai dua minggu.
"Kalian tahu tidak, orang tua aku tuh egois banget. Masa aku dijodohkan dan harus menikah sebekum tahun ajaran baru dimulai. Mana sudi, aku!"
"Hah?"
"Apa?"
"Yang benar?"
Reaksi ketiga teman Freya sudah Freya duga. Sementara itu, Arby menghela nafas pelan, sedangkan ketiga sahabatnya juga tak kalah kaget.
"Iya, jadi aku kabur saja."
"Kamu di jodohkan dengan om-om perut buncit kepala botak?"
Freya mendengkus mendengar pertanyaan dari Aruna.
"Bukan. Tuh cowok masih muda. Mungkin udianya satu atau dua tahu lebih tua dari aku."
"Wah, masih muda juga dong. Ya sudah, Ya, mau saja." Nuna justru memberikan dukungan.
"Enak saja, memangnya aku enggak laku, apa. Masih muda begini dipaksa nikah."
"Memang siapa yang akan jadi calon suami kamu?"
"Dih, jijik banget aku dengarnya, calon suami. Jadi mau muntah." Freya bergidik dengan muka merah karena geli.
"Siapa cowok itu?" Nuna tak sabar mendengar penjelasan Freya.
"Ck, ya ada lah. Enggak penting banget tuh cowok."
"Siapa, sih?"
"Arby!" jawab Freya pelan.
"Arby? Arby salah satu personil musuh kita itu?" tanya Nania.
"Iya."
"Apa?"
Bukan hanya Nania, Nuna dan Aruna, tapi Marcell, Vian dan Ikmal juga teriak tak percaya. Arby kembali menghela nafas, dia tak mengira bahwa Freya akan menceritakan semua itu kepada Nania, Nuna dan Aruna, bahkan Marcell, Vian dan Ikmal ikut mendengar.
Keempat gadis itu menengok kepada keempat pria tersebut.
"Woy, dasar tukang nguping. Enggak punya kerjaan lain, apa?" protes Nania.
"Itu benar, yang diceritakan oleh Freya?" tanya Vian, tak mempedulikan protes Nania.
Mereka menatap Freya dan Arby bergantian, tidak ada yang menjawab, seperti membiarkan mereka menarik kesimpulan sendiri.
"Jadi benar?" Nuna bertanya heboh.
Arby dan Freya saling tatap. Kalau wajah Freya cemberut, maka wajah Arby terlihat datar.
"Wah, beruntung banget kamu, Ya bisa menikah sama Arby. Kalau aku jadi kamu, aku tidak akan menolak." Nuna kembali berbicara dengan wajah ceria.
Arby menunduk, menahan senyumnya saat Nuna berkata seperti itu. Freya melebarkan matanya, lalu menoyor kening Nuna.
"Ih, apaan sih, Ya."
Nuna mengusap keningnya dengan bibir yang mengerucut.
"Kamu saja sana yang nikah sama dia."
"Kalau bisa sih, gitu. Tapi kan bukan aku yang dijodohkan dengannya. Gimana kalau kita itu tukaran orang tua untuk sementara."
Nuna terkikik, merasa lucu dengan perkataannya sendiri.
Apa gadis galak ini menyukai Arby?
Itulah yang ada dalam pikiran mereka.
💞💞💞
Beda orang, beda juga pemikirannya.
Nania mengerti mengapa Freya menolak pernikahan itu mati-matian. Sedangkan Nuna, gadis itu berkata, "Enggak apa, Ya. Yang penting calon suami kamu masih muda dan ganteng. Orang tuaku juga menikah muda dan dijodohkan, tapi langgeng dan bahagia."
Entah sejak kapan mereka yang tadinya hanya berempat saja, sejak tahun ajaran baru kini menjadi berdelapan. Arby dan gengnya itu terus mengintilin cewek-cewek itu, dengan niat masing-masing. Kalau Marcell ingin menggoda Nania, maka Arby ingin dekat dengan gadis pujaannya. Sedangkan Ikmal dan Vian, entah hanya ngikut saja, atau memang punya niat terselubung juga.
"Tapi kalau jadi menikah, jangan sampai hamil dulu, Ya. Kamu kan masih sekolah dan terlalu muda, rahimmu belum cukup kuat," saran Aruna yang ibunya merupakan dokter kandungan.
Blush ....
Wajah Freya dan Arby memerah, diikuti oleh yang lain kecuali Aruna, tentunya.
Arby dan Freya menatap horor Aruna, masih dengan wajah merah. Entah karena malu, kesal, atau apa.
Kenapa sih Aruna membicarakan ini tak kenal tempat dan waktu. Bisa kan bicara hanya jika ada mereka berempat saja, tanpa kehadiran cowok-cowok itu.
Namun, pikiran-pikiran yang hobi berfantasi itu tentu saja sulit dikendalikan.
Ikmal menoyor kepala Marcell.
"Jangan mikir mesum."
Gantian, Marcell yang menoyor kepala Ikmal.
"Kamu juga mikir mesum, kan?"
Kedua pria itu menaik turunkan alis mereka.
"Lanjutkan!" ucap mereka serempak.
Freya, gadis itu tentu saja ikut membayangkan hal tersebut. Dia bukan gadis polos yang tak mengerti apa-apa, meskipun belum pernah berpacaran dan kutu buku, tapi secara teori dia tentu tahu apa yang terjadi antara suami istri.
Pikirannya mulai berkelana, saat malam pertama dengan suaminya (tanpa mengingat siapa suaminya).
Dimulai dengan tatapan malu-malu dan wajah sedikit merah.
Selanjutnya berdeham pelan untuk mencairkan suasana.
"Aku mandi duluan, ya," ucap salah satu dari pengantin baru itu untuk pura-pura menghindar, padahal ngarep.
Selanjutnya, di tempat masing-masing, mereka saling memegang dada mereka yang jantungnya berdetak keras.
Lalu sang perempuan ke luar dari kamar mandi dengan menggunakan bathrobe karena lupa membawa baju ganti.
Bergantian, kini sang suami yang mandi.
Sang istri buru-buru mencari pakaiannya yang ada di koper, yang ternyata isinya hanya ada satu lingerie berwarna merah menyala.
Mulutnya komat-kamit mengumpat pada orang yang melakukan ini padanya (padahal itu mamanya sendiri).
Lalu secepat mungkin dia memakai lingerie itu dan membungkus tubuhnya dengan selimut hingga rapat, pura-pura tidur.
Sang suami keluar hanya dengan memakai handuk saja untuk menutupi bagian bawahnya.
Selanjutnya ....
Sebelum ke adegan elus-elus dan a i u e o, ada yang berdeham.
"Kamu kenapa, Ya?"
"Woy Freya, kamu kenapa sih?"
Freya senyum-senyum, lalu cekikikan geli.
"Aku lagi ngayal malam pertama sama oppa kesayangan aku, hihihi ...."
Seketika ada yang menoyor kepala Freya. Bukan Nania, Nuna maupun Aruna, melainkan Arby.
Khayalan Freya yang tadinya manis, langsung menjadi pahit melihat wajah Arby di hadapannya.
"Masih bocil sudah mesum!"
Arby mendengkus.
"Dih, enggak nyadar diri. Aku yang masih bocil ini dipaksa nikah sama orang tua kamu ya, asal kamu ingat."
Freya membalas menoyor Arby. Jadilah mereka main toyor-toyoran.
"Ya ampun, belum menikah sudah KDRT," Vian menggelengkan kepalanya.
Bukannya melerai, mereka justru menikmati adegan itu.
"Ayo ayo ayo!" Ikmal mengompori.
"Ini romantis versi mereka," ucap Nania sambil menyeruput jus mangga.
"Kita juga bisa, Beb," Marcell tersenyum menggoda.
Sekarang giliran Marcell yang mendapat toyoran dari Nania.
"Kalian junior songong banget, sih."
"Dasar senior enggak ada akhlak!"
Kembali terjadi pertengkaran yang entah sudah keberapa kalinya antara dua kubu itu sejak memasuki tahun ajaran baru, namun tidak membuat jera tim cowok untuk merecoki tim cewek.
Selama beberapa hari ini Freya menginap di rumah Nania, Nuna, atau Aruna. Doa tidak ingin pulang ke rumah, juga tidak ingin kembali ke rumah kontrakannya agar tidak ada yang mengetahui rumah itu.
Sejauh ini, semuanya masih aman terkendali hingga saat pulang sekolah, tiba-tiba saja mulut Freya dibekap dari belakang, dan tidak lama kemudian Freya pingsan.
Nania, Nuna dan Aruna yang melihat itu dari jarak yang cukup jauh berteriak meminta tolong. Mereka mengejar Freya yang sudah lebih dulu dimasukkan ke dalam sebuah mobil hitam.
"Dah enggak apa-apa. Mereka orang suruhan papanya Freya."
Nania, Nuna dan Aruna saling lirik. Begitu juga dengan Marcell, Vian dan Ikmal. Yang ada dalam pikiran mereka adalah, apa Arby dan Freya akan segera menikah?
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 151 Episodes
Comments
Qaisaa Nazarudin
Gadis pujaan Arbi udah pasti Freya,Makanya dia setuju2 aja di Jodohin..
2025-03-24
1
Gahara Rara
penasaran sama cewek inceran arby...
2022-02-26
2
ajiu jiu
lanjut lg....
2021-08-27
2