"Ayo, sekarang memasangkan cincin kawin," Elya mencoba mencairkan suasana.
Arby ingin memasukkan cincin kawin itu di jari Freya, namun gadis itu mengepalkan tangannya, membuat Arby tidak dapat melakukannya.
Arby menatap Freya kesal, yang dibalas dengan tatapan mengejek dari Freya. Akhirnya, dengan susah payah dan drama panjang lebar dengan pemeran pembantu kedua orang tua mereka, bisa juga jari manis Freya terpasang cincin itu.
"Sekarang giliran Freya yang memasangkan di jari Arby."
Freya mengambil cincin itu, bukan memasangkannya di jari Arby, gadis itu malah melemparnya.
"Mimpi saja sana!"
Arby mengepalkan tangannya, mencoba menahan kesal. Arlan dan Elya pun merasakan hal yang sama, tidak terima anaknya diperlakukan seperti itu.
"Nania, Nuna, Aruna, ayo kita jalan."
"Ke mana?"
"Shoping, nonton, makan, lihat-lihat cowok ganteng. Tapi sebelum itu, jual cincin ini dulu, hari ini aku yang traktir kalian. Cincin mahal nih, harganya pasti ratusan juta."
Freya memain-mainkan jarinya yang terdapat cincin kawin itu, lagi-lagi dengan wajah tersenyum mengejek.
Nania, Nuna, Aruna, Marcell, Vian dan Ikmal menelan saliva mereka. Mereka semakin cemas, sama sekali tidak menyangka bahwa Freya akan melakukan protes dengan cara seperti ini.
Freya menghentak-hentakkan kakinya.
"Ayo, dong! Kalian juga ingin berbalik mengkhianatiku?"
Gimana nih, maju salah, diam di tempat juga salah.
Mereka bertiga hanya saling lirik.
"Hmm, Ya ... mungkin sebaiknya kamu menyiapkan diri dulu," Aruna mencoba mencari alasan.
"Nyiapin diri buat apa?"
"Ya malam pertama, Ya," jawabnya asal.
Blush ....
Kembali wajah Freya dan Arby memerah.
Sedangkan para orang dewasa menahan tawa.
Gadis tengil ini, dia yang paling kalem, tapi kenapa kalau ngomong suka enggak lihat situasi dan kondisi, ya. Sering bikin malu.
Pikiran-pikiran para kawula muda mulai travelling.
Jika saat itu pikiran Freya berselancar ke dunia para oppa, kali ini imajinasinya menuntunya ke pria bule.
Judul: Malam Pertama Season 2
Sang istri menyentuh lengan berotot milik suaminya, perutnya yang kotak-kotak, lalu ....
Ehem ....
Deheman pelan itu membuyarkan lamunan Freya.
Lagi-lagi wajah menyebalkan Arby menghancurkan imajinasinya.
"Enggak mau! Apa jadinya kalau aku harus melakukan itu dengan pria yang tidak aku sukai? Bukannya rasanya itu seperti diperkosa atau menjalangkan diri?"
Freya bergidik ngeri, kali ini dia tidak ingin mengkhayalkannya. Secara naluriah dia juga menutup bagian dadanya dengan kedua tangannya dan menyilangkan kakinya serapat mungkin.
Berbagai ekpresi dan pikiran orang-orang bermunculan dengan sikap gadis polos namun menyebalkan tersebut. Mereka tahu, bagaimana pun juga Freya itu remaja labil dengan berjuta ekpresi. Seperti sekarang ini, dia menunjukkan ekpresinya dengan cara protes dan melakukan hal-hal yang menyebalkan.
"Kamu enggak boleh pergi!" larang Arby dengan lantang.
"Siapa kamu ngelarang aku?"
"Aku suaminya, mulai beberapa menit yang lalu."
Freya merinding mendengarnya, belum pantas baginya memanggil seseorang dengan panggilan suami ... suamiku.
"Bodo amat, kamu mah suami gak dianggap. Sudah aku bilang jangan pernah mimpi!"
"Freya, cukup! Jangan jadi istri durhaka kamu!"
"Pada enggak nyadar diri. Kalian lah yang menjadi orang tua dzolim!"
Wildan ingin menampar Freya, namun ditahan oleh Ami.
"Freya, masuk kamar!" ucap Ami pelan.
Freya melangkah meninggalkan mereka.
Prang ....
"Maaf pa, anakmu yang durhaka ini tidak sengaja."
Wildan menghela nafas, bukan karena Freya yang baru saja memecahkan guci antik kesayangannya dengan harga milyaran secara sengaja, tapi karena sikap Freya yang sekarang jadi pembangkang.
Di pertengahan anak tangga, Freya kembali turun lalu memungut cincin kawin Arby yang tadi dilemparnya, lalu dia juga melepas cincin kawinnya.
"Satu aja kalau dijual dapat banyak, apalagi dua. Kaya mendadak, aku."
Freya mengedipkan mata pada Arby, dengan tingkah menggoda.
"Nania, Nuna, Aruna, ayo kita ngedrakor. Mendingan lihat oppa-oppa yang ganteng itu dari pada di sini. Jangan lupa bawa cemilan!"
Freya mengambil beberapa makanan dan minuman lalu melangkah.
"Ayo!" ucapnya lagi.
Nania langsung menyusul Freya. Lebih baik dia mengikuti Freya dari pada tetap berada di ruangan horor ini.
Nuna langsung mengambil beberapa kue.
"Aku mau yang ini. Tadi Freya enggak bawa yang ini," ucapnya nyengir kepada Aruna.
"Aku juga mau yang ini, ah." Aruna ikut-ikutan membawa beberapa makanan dan minuman.
"Maafkan atas sikap Freya," Wildan menunduk malu.
"Ar, kedepannya, kamu jangan terlalu keras menghadapi Freya. Anak itu, semakin dikerasin semakin melawan. Sabar ya, lama-lama kalian akan saling cinta," Ami mencoba memberikan pengertian kepada menantu mudanya itu.
"Ya sudah, kamu makan dulu. Setelah itu kamu susul Freya ke kamarnya."
Menyusul Freya ke kamarnya? Yang ada aku kena tabok.
Di kamar Freya
"Ya, apa kamu tidak keterlaluan?" tanya Aruna.
"Maksudnya?"
"Ya gitu-gitu kan, Arby sudah jadi suami kamu sekarang."
Freya mendengkus, bukan salahnya jika dia seperti itu. Suruh siapa mereka memaksanya menikah muda. Mungkin kalau mereka dinikahkan saat Freya sudah lulus kuliah, dia akan menerimanya.
"Sudah, jangan bikin mood Freya jelek lagi." Nania mencoba menengahi, dia tahu bagaimana tabiat Freya.
Di taman belakang
"Sepertinya susah bagimu mendapatkan malam pertama, Ar," Marcell menatap iba pada Arby. Pria yang memakai jas hitam mendengkus mendengar kalimat ejekan dari Marcell.
"Ternyata Freya galak juga, ya," Vian ikut menimpali.
"Mereka berempat itu mulutnya harus dipasang penyaring," saran Ikmal, pria yang sedari tadi sibuk mengunyah brownies.
Pluk, ada yang melempar mereka dengan kaleng bekas minuman soda. Mereka melirik ke kanan kiri, tidak ada orang.
Kulit-kulit kacang bertaburan bagai salju, mengotori rambut mereka.
"Siapa, sih?"
Pluk
"Huaaa!" teriak Marcell.
Kali ini ada cicak jatuh di atas kepalanya. Badannya menggeliat seperti cacing kepanasan.
Pluk
"Aaaaa!"
Ulat bulu berukuran besar bewarna hitam jatuh di atas tangan Vian.
Tidak lama kemudian ada suara cekikikan, membuat mereka menengok ke atas.
Empat orang gadis berwajah cantik namun berkarakter nenek sihir sedang menertawakan mereka.
"Anjir, sini kalian turun, beraninya di atas!"
"Kita ini senior mereka, tapi kenapa malah kita sih, yang sering dibully mereka?"
Freya dan Arby main pelotot-pelototan.
"Ya, pohon buah-buahan kamu lagi berbuah, mau dong."
Nania menatap halamam belakang rumah Freya dari teras kamar Freya yang menghadap taman belakang.
"Oke."
Freya langsung meraih dahan pohon mangga yang berada dekat dengan teras kamarnya. Dengan terampil dia memanjat dari satu dahan ke dahan lainnya.
Arby menatap horor pada Freya. Bukan karena takut Freya jatuh atau kenapa-kenapa. Tapi lihat saja penampilan gadis itu, dia masih memakai rok mini, membuat paha mulusnya terekspose.
Pria itu menepuk punggung sahabat-sahabatnya dengan kencang.
"Kondisikan mata kalian."
"Namanya mata, tak mampu menolak yang indah-indah, Ar."
Pluk
Marcell kena timpuk botol air mineral. Nania menatap Marcell dengan tatapan tajam.
"Kamu cemburu ya, Beb? Tenang saja, mataku memang menjelajah ke mana-mana, tapi hatiku tetap berlabuh padamu."
Kali ini Marcell mendapat toyoran dari Ikmal.
"Wah, Ar, enak banget ya jadi kamu," Aruna berucap ceria.
"Maksudnya?" tanya Arby tak mengerti.
"Iya, di sini banyak pohon buah-buahan. Ada mangga, pepaya, rambutan, belimbing, jambu. Jadi nanti kalau Freya ngidam, kamu enggak repot-repot nyari mangga muda. Tinggal manjat dari sini aja." Aruna menunjukkan wajah cerianya.
Tangan dan kaki Freya tergelincir saat mendengar perkataan bodoh dari sahabat terkalem namun suka tahu malu itu, membuatnya terjun bebas dari atas pohon.
"Freya!" teriak mereka ketakutan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 151 Episodes
Comments
Qaisaa Nazarudin
ORTU BODOH,KENAPA BARU SEKARANG TDK TERIMA?? UDAH DARI AWAL PERTEMUAN,FREYA MEMPERLAKUKAN ANAK KALIAN DAN MENGHINA ARBY DAN KALIAN JUGA,TAPI KALIAN MALAH DIAM AJA,MALAH NEKAT BANGET MAU JODOHIN ANAK KALIAN DENGAN FREYA..🙄🙄
2025-03-24
1
ajiu jiu
jgn takut Freya, Arby ad di bawah 😂😂
2021-08-28
1