Tahun ajaran baru, dengan pikiran dan suasana hati baru untuk para pelajar. Namun tidak untuk ketiga gadis cantik lainnya. Mereka semakin cemas dan takut. Takut bahwa sewaktu-sewaktu ada kabar di berita tentang ditemukannya sosok gadis pelajar yang teronggok tak bernyawa, atau berita buruk lainnya.
Arby, Marcell, Vian dan Ikmal benar berdiri berhadapan dengan Nania, Nuna dan Aruna di depan gerbang kampus. Sekedar menanyakan keberadaan Freya pun, sudah pasti itu hanya basa-basi.
"Nania, Nuna, Aruna ... i miss you!" teriak heboh seorang gadis.
"Freya?"
Ketujuh orang itu membulatkan mata mereka. Gadis yang selama dua minggu menghilang dan membuat orang-orang khawatir, tiba-tiba saja muncul di hadapan mereka dalam keadaan ceria, cantik dan memakai seragam sekolah.
"Taraaa ... ini hadiah buat kalian."
Freya memberikan paper bag kepada Nania, Nuna dan Aruna bertuliskan kota Jogjakarta.
"Kamu dari Jogja?" Arby langsung bertanya.
Freya menatap cowok itu dengan wajah paling judes. Dia tidak menjawab, sorot matanya memancarkan kebencian.
Keempat gadis itu melewati empat pria yang masih berdiri terpaku. Apa kecemasan mereka selama dua minggu ini sia-sia?
Freya menyenggol bahu Arby saat gadis itu melewatinya. Aroma lembut menyapa indra penciuman Arby.
"Jadi selama ini kamu ke Jogja?"
Mereka berempat duduk di taman, melihat kegiatan murid-murid baru dari kejauhan. Freya mengangguk.
"Kok enggak ngasih kabar?"
"Orang tua kamu nyariin."
"Kami juga cemas."
Ketiga sahabatnya itu terus berbicara. Orang tuanya mencarinya? Paling-paling hanya karena ingin menikahkan dia, juga karena malu kepada orang tua Arby.
"Kamu ngapain di Jogja?"
"Nyari bule ganteng. Oya, aku juga kenalan dengan mahasiswa-mahasiswa di sana. Gila, mereka ganteng-ganteng banget, tahu."
"Terus ini apa?"
Nuna membuka paper bag pemberian Freya, diikuti oleh Nania dan Aruna.
Wingko, gantungan kunci, kemeja batik, dan berbagai barang ciri khas kota tersebut.
"Kami tidak dikasih, Ya?"
Ikmal cowok bermata sedikit sipit itu tanpa malu bertanya pada Freya. Freya mendelik tajam kepada mereka. Biasanya dia yang paling masa bodo dengan orang, namun sejak mengetahui bahwa dia dijodohkan dan dipaksa menikah dini dengan Arby, sikapnya mulai berubah.
"Aku mau bicara sama kamu, Frey!"
Arby rasa, dia harus meluuskan sesuatu kepada Freya. Sikap Freya yang pura-pura tidak dengar itu membuat Arby kesal.
Sok dibutuhin banget nih, cewek.
Akhirnya Freya berdiri dari tempat duduknya, karena dia juga berpikir bahwa masalah ini hatus diselesaikan dengan cepat.
Dasar cowoknsok ganteng, dia pikir dia segalanya?
"Langsung saja, aku tetap dengan pendirian aku yang tidak mau menikah sama kamu. Seperti yang aku bilang sebelumnya, aku masih muda, mau menjalani masa remaja aku dengan sebaim mungkin, jalan sama teman-teman tanpa haru dilarang dan izin dari suami. Pacaran sama cowok yang aku suka dan sebagainya ...."
Freya terus mengeluarkan segala uneg-unegnya.
Arby dengan tenang mendengarkan Freya.
"Aku hanya ingin membuat kedua orang tuaku bahagia. Memangnya kamu pikir aku tidak sedang menyukai seseorang? Aku juga menyukai seseorang, dan sangat ingin bersamanya," ucap Arby setelah mendengar celotehan gadis di hadapannya itu.
"Ya kalau gitu kamu tolak dong perjodohan itu. Jadi kamu bisa jadian sama dia."
"Kan tadi aku udah bilang, aku ingin membuat kedua orang tuaku bahagia."
"Ya membahagiakan orang tua enggak begitu juga, kali. Masih banyak cara lain."
"Tapi itu yang mereka mau dari aku."
"Memangnya aku peduli. Itu urusan kamu sama orang tua kamu."
"Kita akan tetap menikah, selama kedua orang tua kita menginginkannya."
"Jangan egois!"
"Aku enggak egois. Ini semua demi orang tua aku."
"Jangan harap aku mau menikah dengan anak manja seperti kamu, yang hanya mengandalkan kekayaan orang tua dan bermodal tampang."
"Apa kamu bilang?"
"Kamu cowok enggak berguna!"
Arby mengepalkan tangannya. Kalau saja yang dihadapannya ini bukan perempuan, sudah pasti dia sudah menonjok wajah itu.
"Tahu apa kamu tentang aku?"
"Untuk apa aku tahu tentang kamu. Enggak penting banget, deh."
Bicara sama cewek ini butuh kesabaran yang ekstra.
Dari jauh, keenam remaja lainnya memperhatikan mereka.
"Serius banget kelihatannya, mereka bicara apa, sih?"
Pembicaraan antara Arby dengan Freya terpotong dengan kedatangan murid baru yang meminta tanda tangan Arby dan Freya. Murid perempuan itu memandang kagum kepada Arby dengan senyum semanis mungkin dia tunjukkan untuk seniornya, membuat Freya mendengkus. Bukan karena gadis itu cemburu, hanya saja dia jengah dengan orang-orang yang memuja-muja cowok itu.
🍁🍁🍁
Freya tak percaya melihat dihadapannya kini ada empat orang menghadang langkahnya. Keempat orang itu adalah orang suruhan papanya. Salah satu orang itu membukakan pintu mobil, memintanya untuk masuk. Tentu saja dia menolaknya.
Dia bukannya diperlakukan bagai nona muda yang siap diantar jemput oleh sopir dan dikawal oleh bodyguard, tapi Freya tahu ini semua dilakukan agar dia tidak kabur lagi.
Dia semakin kesal kepada Arby, pasti cowok itu yang mengadu kepada keluarganya kalau dia sudah kembali ke sekolah. Freya memang tidak kembali ke rumahnya, tapi dia pulang ke kontrakan kecilnya.
"Sebanarnya kamu punya masalah apa sih, Ya?" tanya Nania.
"Iya, enggak biasanya seperti ini." Nuna juga penasaran dengan masalah Freya.
"Kamu tidak mau cerita pada kami?" Aruna ikut menimpali.
"Nanti aku ceritakan, yang oenting sekarang bagaimana caranya menyingkirkan mereka biar kita bisa jalan-jalan."
"Serahkan saja padaku, tunggu sepuluh menit lagi."
Nuna langsung menuju gudang sekolah, beberapa menit kemudian dia menuju mobil para bodyguard itu dan melemparkan sesuatu tanpa dilihat orang-orang. Setelah itu dia kembali kepada Freya, Nania, Nuna dan Aruna.
"Beres, ayo kita jalan."
"Nona, kami diperintahkan okeh tuan besar untuk membawa nona pulang," ucap salah satu bodyguard dengan brewok tipis.
"Ini aku sama teman-teman mau pulang, kalian ikuti saja dari belakang."
"Tapi nona ...."
"Jangan ribet, deh. Ikuti saja dari belakang!"
Freya memasuki mobil Aruna diikuti Nania dan Nuna. Sedangkan keempat remaja pria yang melihat mereka, diam-diam mengikutinya dan menyaksikan mobil bodyguard itu yang mendadak berhenti.
"Kamu apakan mobil mereka?" tanya Freya.
"Aku taburin paku payung yang banyak dekat ban mobil mereka," jawab Nuna santai.
Mereka saling melirik, kemudian tertawa puas.
"Jadi ke mana kita?" tanya Aruna yang tentunya menjadi sopir untuk ketiga temannya.
"Ada cafe baru, ke sana saja, yuk!"
"Siap, bos!"
Dua puluh menit kemudian Freya dan teman-temannya tiba di cafe yang cocok untuk anak muda seperti mereka.
Mereka memilih duduk di pojokan, dekat dengan kolam ikan. Arby dan teman-temannya yang juga tiba di cafe itu, diam-diam duduk tidak jauh dari mereka. Si kepo Marcell tentu saja ingin mendengarkan pembicaraan mereka.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 151 Episodes
Comments
Qaisaa Nazarudin
Heran aja dengan Arbi and the geng,Kayak gak ada kerjaan selalu ngikutin Freya and the geng..
2025-03-24
1
Qaisaa Nazarudin
Wkwkwkwkwk..Pinter banget tuh anak...😂
2025-03-24
1
Mamah Dara
ntar bucin deh freya
2022-05-17
0