Empat orang remaja perempuan bermain kejar-kejaran di pantai yang ramai oleh para turis itu.
Freya, Nania, Nuna dan Aruna.
Empat remaja itu terlihat sekali menikmati hari pertama mereka liburan.
Freya, gadis itu memakai kaos pendek berwarna putih dengan celana pendek selutut. Seperti biasa, rambutnya dikuncir kuda.
Nania, gadis berkulit sawo matang itu memakai tengtop pink dengan hotpant berwarna senada. Rambut sebahunya dibiarkan tergerai.
Nuna, gadis itu memakai kaos tanpa lengan, juga memakai hotpant.
Aruna, yang paling terlihat seksi. Memakai tengtop pendek yang menunjukkan sedikit bagian perutnya, juga memakai hotpant berwarna hitam.
"Gila, ganteng-ganteng banget sih, tuh para bule."
"Yang kaos biru, ototnya bagus banget."
"Aku suka yang celana hitam, brewoknya uwu banget."
"Aku yang pakai kaca mata hitam, dadanya itu loh, pelukable. Gimana ya rasanya sandaran di sana."
"Klo gitu aku yang pegang kamera deh, punggungnya lebar. Pasti nyaman banget kalau digendong sama dia."
Keempat ABG itu mengambil ponsel mereka untuk memfoto para bule ganteng itu.
"Sayangnya di sekolah kita enggak ada yang seperti ini."
"Ya jangan disamain, Nun. Mereka kan masih pada bocil, bodynya belum terbentuk sempurna."
Tidak ada yang menyadari ada empat remaja pria yang juga diam-diam mendengarkan pembicaraan para gadis itu.
"What, secara tidak langsung kita dibilang bocil? Apa kabar mereka, yang lebih bocil dari kita," keluh Vian.
"Tapi kayanya kecantikan kita kalah saing nih sama bule perempuan."
"Tapi kita ini cantiknya udah maksimal, loh."
"Apanya yang kurang ya?"
Mereka berempat berpikir, lalu menemukan jawabannya.
"Kurang montok!" jawab mereka serempak.
"Masa iya, perasaan dada aku udah lumayan gede, loh."
Secara reflek, mereka (termasuk para pria penyelundup itu) melihat ke arah dada Nuna.
Sontak wajah pria-pria itu memerah, dan pikiran-pikiran liar mulai mengotori otak mereka yang akan bertransmigrasi ke dunia halu para kaum adam.
"Kita harus fitnes. Tante aku punya tempat fitnes dengan instruktur yang profesional. Kita bisa membentuk tubuh biar lebih wow."
Keempat gadis itu penuh semangat.
Yang ada dalam pikiran para pria, apakah perempuan seribet itu? Toh nanti saat mereka beranjak dewasa juga ukuran tubuh mereka akan membesar dan membentuk dengan sendirinya.
Dasar, perempuan memang ribet!
"Kita juga harus fitnes. Kita juga bisa kok memiliki punggung yang nyaman untuk menggendong."
"Pundak yang enak untuk bersandar."
"Perut kotak-kotak yang enak untuk dilihat, diiraba, ditrawang."
"Tapi aku enggak mau punya brewok seperti yang itu."
Cih, dasar cowok.
Mumpung masih muda, mereka harus membentuk diri untuk bisa memikat para kaum hawa. Syukurlah mereka mendengar sendiri apa yang kebanyakan para perempuan sukai dari seorang pria, selain uangnya, tentu saja.
Seharian mereka menikmati bermain di pantai. Menikmati es kelapa, jagung bakar dan rebus, juga jajanan lainnya.
Namanya anak muda, semangatnya masih sangat besar. Setelah puas bermain di pantai hingga menjelang magrib, malamnya mereka berwisata kuliner, sekaligus shoping, karena tidak terlalu banyak membawa baju biar tidak ribet.
Seharian ini juga diam-diam Arby memotret gadis kesayangannya, lalu menyimoannya di galery rahasia.
"Sampai kapan sih kita mau nguntitin mereka?"
"Sampai mereka balik lagi ke Jakarta."
"Ck, mendingan kita nyari cewek."
"Lah, yang kita ikutin kan cewek."
"Diikutin doang, enggak bisa didekati."
"Tujuan kita ngikuti mereka liburan ke bali sebenarnya apa, sih?"
Mereka saling pandang, bingung juga sebenarnya untuk apa. Emang dasar enggak punya kerjaan.
💞💞💞
Seluruh tempat wisata di pulau Bali sudah mereka jelajahi. Sudah tak terhitung juga berapa banyak uang yang mereka keluarkan untuk shoping dan wisata kuliner. Untung saja Freya memiliki sahabat yang baik. Dia tidak terlalu banyak mengeluarkan dana, bukan berarti juga dia mendapatkannya dengan cuma-cuma. Tidak, Freya bukan gadis matre yang akan memanfaatkan teman.
Dengan kemampuannya memasak dan berbisnis di usia muda ini, tentu saja dia memanfaatkan keahliannya itu. sahabat-sahabatnya juga mendukungnya, dan ikut mempromosikan dirinya. Meskipun dia tidak memiliki keluarga yang menyenangkan, setidaknya dia memiliki para sahabtbyang mendukung. Itulah yang sangat dia syukuri.
"Kamu jadinya nanti mau kuliah di mana, Ya?"
"Belum pasti. Kalau kalian di mana?"
"Masih bingung juga, sih."
Setelah tiba di villa, mereka melanjutkan dengan menonton drama korea thriller.
Di Villa lain, yang ditempati para cowok itu, mereka sedang bermain game online sambil menikmati soda dan berbagai makanan yang dibuat oleh chef pribadi.
"Itu ciwik-ciwik lagi pada apa, ya?"
"Palingan ngegosip."
"Atau ngehalu."
"Atau ngedrakor."
Tentu saja mereka tahu istilah ngedrakor dari teman-teman sekelas mereka yang setiap pagi dan di jam istirahat selalu heboh menceritakan tentang drama-drama yang mereka nonton, juga para pria berkulit mulus yang menjadi pemainnya. Membuat kuping mereka bosan, namun samoai sekarang tidak ada niat untuk mencari tahu siapa artis-artis itu.
"Ulang tahun Nania yang ke 17 aku mau kadih hadiah apa, ya?" tanya Marcell.
"Boneka aja," jawab Ikmal.
"Tapi boneka santet," saran Vian.
"Jadi bisa nyantet kamu," Arby juga ikut-ikutan.
Marcell berdecak kesal mendengar perkataan sahabat tanpa akhlak itu.
❤❤❤
Dari villa laki-laki, mereka bisa melihat cahaya lampu kelap-kelip menghiasi villa yang ditempati para cewek. Merah, kuning, hijau, seperti lalmpu lalu lintas. Namun di sisi lainnya, lampu berwarna biru, ungu dan warna lainnya juga menghiasi villa itu.
"Lihat ke sana, yuk!"
Yang lain mengangguk, karena mereka juga kepo.
Di villa cewek
"Udah siap semua belum?"
"Udah!"
Lampu Villa tiba-tiba saja mati total.
"Freya! Freya!"
Freya yang merasa dipanggil, berjalan dengan pelan.
"Nan, Nun, Ar!"
"Frey, tolongin aku."
"Kamu di mana?"
"Di luar!"
Freya melangkah ke luar, tangannya yang satu meraba tembok, sedangkan yang lain mengarah ke depan.
Tiba-tiba saja seperti ada yang menggelitik tengkuknya, tamun terasa halus dan dingin. Bayangan putih melesat di jendela. Entah itu kuntilana atau pocong, Freya tidak peduli.
Dia langsung berlari ke luar, menabrak (mungkin) guci-guci.
Brukkk
Dia menabrak sesuatu. Kembali ada yang memegang tengkuknya.
"Arrgghhh!" teriaknya.
"Hey!"
Suara seorang pria. Freya membuka matanya, dan melihat wajah Arby yang tangannya memegang tangan Freya.
"Kenapa?"
Freya tidak menjawab, matanya beralih pada Marcell, Vian dan Ikmal.
"Kamu kenapa?" tanyanya lagi.
"Frey, tolong!" teriak Nania.
Marcell yang mendengar Nania berteriak meminta tolong dengan suara yang ketakutan, tanpa pikir panjang langsung memasuki halaman villa.
Freya juga menyusul, diikuti yang lainnya.
"Nan, Nun, Ar? Kalian di mana, sih?"
Kali ini terdengar suara Nuna yang sepertinya kesakitan. Langkah orang-orang itu semakin cepat. Arby melihat tubuh Freya yang gemetaran, juga mendengar teman-temannya yang berteriak membuat dia cemas.
Apa yang sebenarnya terjadi?
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 151 Episodes
Comments
ajiu jiu
PU cwok ny blm muncul ???
2021-08-22
1