Di kediaman Zanuar
Freya dan saudara-saudaranya sedang bersiap-siap untuk makan malam. Kata mamanya, mereka akan kedatangan tamu spesial. Memang sespesial apa sih, sampai-sampai mereka harus berdandan cantik seperti ini. Bahkan menu makan malam kali benar-benar dibuat sebaik mungkin. Mulai dari menu pembuka, menu utama hingga penutup. Para koki sudah sibuk sejak tadi siang untuk menyiapkan semuanya.
Freya memakai dress putih tanpa lengan dengan leher berbentuk V. Kulitnya yang kuning langsat itu nampak berkilau. Tubuh yang cukup berisi di usia enam belas tahun, kaki jenjang dengan pinggang yang ramping. Belum lagi ukuran dada yang cukup pas.
Kalung dengan bandul kecil menghiasi lehernya. Rambutnya yang biasa dikuncir kuda, kali ini hanya diikat setengah dengan jepit rambut berbentuk bintang kecil.
Freya menyemprotkan minyak wangi beraroma lembut di pergelangan tangan dan lehernya. Gadis itu terlihat semakin cantik di usianya yang baru enam belas tahun beberapa hari yang lalu.
Mereka sudah berkumpul di ruang tamu untuk menyambut tamu spesial itu. Lima menit kemudian, suara mobil terdengar memasuki pekarangan rumah Freya.
"Hai, Ar," sambut Wildan merangkul bahu sahabatnya itu.
Lalu Ami memeluk Elya.
Pandangan mata Freya dan Arby terpaut.
Freya, gumam Arby pelan. Freya tak kalah bingungnya melihat sosok Arby kini berada di rumahnya.
"Ayo masuk!"
Wildan mempersilahkan mereka untuk masuk. Freya dan Arby duduk berhadapan tanpa mengatakan apa-apa. Mereka masih sama-sama bingung. Jika Freya sudah pasti bingung apa tujuan mereka berkumpul, maka Arby bingung dengan kenyataan bahwa sebentar lagi yang akan menjadi istrinya itu adalah Freya.
Bagaimana nanti tanggapan Freya? Menolak atau menerimanya?
"Ar, ini Freya."
"Iya, Mi. Kami satu sekolah, kok."
"Wah kebetulan sekali ya. Berarti kamu bisa menjaga Freya juga saat di sekolah."
Freya mengernyitkan keningnya bingung, kenapa dia haru dijaga?
Pembicaraan hanya diisi dengan masalah bisni dan mengenang masa-masa sekolah mereka.
"Ayla ini sering melakukan pemotretan, dia memang hobi dengan dunia modeling. Sedangkan Naira ini, walau masih kecil, sepertinya lebih tertarik bermain musik," terang Ami.
"Ya sudah, ayo kita makan malam dulu."
Wildan lebih dulu berdiri, memimpin yang lain untuk ke ruang makan.
Keempat orang tua itu makan dengan oenuh suka cita. Arby sesekali melirik pada Freya, lalu diam-diam menghela nafas.
Sepertinya Freya belum tahu.
Kegelisahan Arby itu sebenarnya diketahui oleh orang tua Arby dan Freya, hanya saja mereka pura-pura tidak tahu.
Selesai makan, mereka kembali ke ruang tamu.
"Jadi begini, kita mulai saja ke acara intinya," Arlan memandang Freya dan Arby sejenak.
"Maksud kedatangan kami ke sini, ingin melamar kamu, nak Freya."
Hening
"Freya!"
Ami mengusap tangan Freya, sepertinya gadis itu sedang melamun.
"Apa?"
"Kami ke sini, ingin melamar Freya untuk menikah dengan Arby."
"Hah?"
"Kamu dengar kan, Ya?"
"Hmmm, maaf sepertinya aku salah dengar."
"Kamu enggak salah dengar, kok."
"Mungkin Om salah menyebut nama. Mungkin seharusnya Kak Ayla, bukan Freya."
"Benar kamu, kok."
"Maksudnya, aku menikah? Dengan Arby?"
"Benar."
"Enggak mau!"
"Freya!" Wildan memanggil nama anaknya itu dengan keras.
"Kenapa aku? Kan ada kak Ayla."
"Loh, kok aku? Aku kan masih kuliah, masih harus mengejar impian aku dulu."
"Apalagi aku. Baru beberapa hari yang lalu umurku enam belas tahun. Aku masih di bawah umur. Masih sekolah, aku juga mau kuliah dan mengejar cita-cita aku."
"Ya, umur Ayla itu lebih tua dari Arby," Ami menginterupsi.
"Ya tapi kan umurnya lebih layak nikah dari pada aku. Kenapa aku yang dikorbankan? Pokoknya aku enggak mau."
"Kamu tidak boleh membantah."
"Nayla saja sana yang dinikahkan."
"Jangan ngaco deh, Ya."
"Aku masih enam belas tahun, belum mau menikah. Apalagi aku mau kuliah."
"Ya kan tidak ada yang melarang kamu untuk kuliah setelah lulus SMA nanti."
"Tapi aku mau kuliah di luar negeri."
"Buat apa kuliah di luar negeri, di sini juga banyak kok universias yang bagus," Wildan geram dengan sikap Freya di depan Arlan dan Elya.
"Tuh kan, belum apa-apa sudah dilarang. Aku masih mau menikmati masa remaja aku. Jalan sama teman-teman, pacaran dengan cowok yang aku suka, nongkrong di mall, nginap di rumah teman. Bukannya malah ngurus suami yang juga masih ABG. Pokoknya aku tidak mau menikah dini. Titik!"
"Kamu tidak berhak menolak."
"Aku berhak menolak, karena aku yang menjalankannya. Dan kamu ...."
Freya menunjuk muka Arby dengan telunjuknya. Wajahnya terlihat sangat marah.
"Aku tidak suka kamu, jadi bilang sama orang tua kamu agar tidak egois dan merusak masa depan anak perempuan karena keinginan gila mereka."
Freya melangkah menuju kamarnya yang ada di lantai atas.
Brak!
Pintu kamar itu dibanting dengan keras hingga terdengar jelas sampai ruang tamu.
"Maafkan sikap Freya ya, Ar."
"Kami mengerti."
"Kami akan membujuk Freya."
"Aku tunggu kabar dari kamu, Wil. Aku juga akan mengurus pernikahan Arby dan Freya sebelum tahun ajaran baru."
"Aku mengerti."
"Kalau begitu kami pamit dulu."
Mereka mengantarkan Arby dan kedua orang tuanya hingga depan pintu ruang tamu.
"Untung bukan aku yang harus menikah," ucap Ayla.
Kedua orang tuanya diam saja. Sedangkan Nayla, meskipun umurnya masih sangat muda, bukan berarti dia tidak mengerti.
Dia juga heran mengapa orang tuanya menikahkan kakaknya yang masih berumur enam belas tahun itu menikah. Kenapa bukan kakaknya saja yang sudah lebih dewasa.
Freya menonjok bantal gulingnya. Dia sangat marah kepada kedua orang tuanya. Kenapa dia? Kenapa lagi-lagi dia yang harus mengalah. Kenapa bukan Ayla yang sudah lebih dewasa.
Ponselnya berdering, namun tidak dia pedulikan. Air matanya mengalir.
Rasanya, dunia tidak adil untuknya.
Di dalam perjalanan, Arby diam saja. Dia tidak kaget dengan sikap Freya itu. Siapa sih yang tidak kaget dengan lamaran tiba-tiba ini.
Aku tidak suka kamu
Kata-kata Freya itu terngiang-ngiang dalam benak Arby. Remaja itu mendengkus. Tentu saja setiap orang ingin menikah dengan orang yang dia cintai dan mencintainya, dengan keadaan siap lahir batin.
Arby memejamkan matanya, wajah cantik gadis pujaannya melintas dalam pikirannya. Kata orang, masa remaja terutama masa SMA itu menyenangkan. Memang menyenangkan, jika Arby bisa terus melihat wajah menggemaskan itu.
Arlan melirik putranya itu dari kaca spion. Wajah putranya terlihat datar. Bagaimana pun juga, dia akan menikahkan Arby dengan Freya, entah bagaimana caranya. Mengingat pergaulan remaja yang sekarang juga sangat mengkhawatirkan. Bukannya dia tidak percaya dengan putranya, tapi pengaruh dari luar juga ikut andil mengubah perilaku orang. Dia juga ingin anaknya belajar bertanggung jawab.
Katakanlah dia egois, seperti yang Freya katakan tadi.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 151 Episodes
Comments
Qaisaa Nazarudin
PERNIKAHAN BUKAN LAH JALAN SATU2 NYA UNTUK MENGHENTIKAN ANAK2 DARI PERGAULAN BEBAS,BANYAK YG BERCERAI SETELAH MENIKAH AKIBAT DARI MASIH MENGAMALKAN KEHIDUPAN BEBASNYA,KARENA SUDAH TERBIASA...YANG ADA SI CEWEKNYA YG RUGI,UDAH TITLE JANDA,DI SELINGKUHIN LAGI..CKK MIRIS..
2025-03-24
1
Qaisaa Nazarudin
Dari sini keliatan banget Ortu yg pada Egois,Lagian Arbi dan Ortunya apa gak merasa terhina saat Freya ngomong menohok kayak gitu,Sudah menginjak harga diri Arbi dan keluarga,Tapi malah diam aja..Ogeb..
2025-03-24
1
Qaisaa Nazarudin
Lagian kenapa sih buru2 banget nikahin mereka,kayak anak gak laku aja..
2025-03-24
1