"Arby, kamu apakan sahabat kami sampai dia menghilang lagi?" bentak Nania.
"Enggak diapa-apakan, tadi aku pergi sekolah juga dia masih tidur, kok."
Sejak tadi pagi memang Freya tidak dapat dihubungi.
"Awas ya kalau sampai Freya kenapa-kenapa!"
Ketiga gadis itu langsung ke luar dari kamar itu.
"Bi, ada makanan enggak?" tanya Nuna kepada asisten rumah yangga yang kebetulan lewat di hadapannya.
Marcell, Vian dan Ikmal saling pandang, kemudian mendengkus, sedangkan Arby masih di kamarnya, mengira-ngira ke mana Freya pergi.
Kartu ATM dan kartu kredit masih ada di kamar itu, ponselnya juga ada di atas nakas, buku-buku masih tersusun rapih di atas meja belajar.
Dia jadi teringat saat Freya kabur dari rumah orang tuanya dulu, saat itu gadis itu juga pergi hanya dengan pakaian rumah biasa tanpa membawa apa-apa, hanya membawa dompet saja.
Sementara Arby gelisah di kamarnya karena takut mendapatkan amukan dari orang-orang, mungkin, maka paea cewek tak tahu malu itu sedang berada di ruang makan menikmati santap siang dengan ayam bakar, rendang, dan makanan lainnya.
"Eh, ada teman-temannya Arby dan Freya, ya?" tanya Elya yang datang bersama Arlan.
"Makan, tan," tawar Nuna yang masih dalam mode tak tahu malu, membuat ketiga cowok yang tadi kembali mendengkus. Mereka juga tak tahu malu, karena ikut makan tanpa kehadiran tuan rumah.
Elya dan Arlan ikut bergabung di meja makan itu.
"Arby dan Freya mana?"
"Arby lagi galau, soalnya Freya kabur lagi dari tadi pagi, pura-pura pergi ke sekolah tapi gak datang-datang sampai pulang, di rumah juga enggak ada pas kami ke sini," beri tahu Nuna, si mulut ember.
"Arby!" teriak Arlan dan Elya bersamaan.
Arby tersadar dari lamunannya saat mendengar teriakan orang tuanya, dia menghela nafas dan mengelus dada, lalu segera ke luar untuk mendapatkan ceramah panjang lebar.
Arby tiba di ruang makan yang ramai dengan kedua orang tuanya dan enam manusia berseragam sekolah tak tahu malu. Dia melihat enam piring yang sudah bersih, namun diisi kembali oleh mereka, alias nambah.
Dih!
"Butuh tenaga untuk memikirkan keberadaan Freya saat ini," ucap Vian yang diangguki oleh yang lain, tumben sepakat.
"Arby, apa yang kamu lakukan pada Freya?" tanya Arlan.
"Enggak ada. Mungkin dia ngambek gara-gara tadi pagi ...."
"Tadi pagi kenapa?" potong Elya.
"Tadi pagi aku enggak bangunin dia pergi ke sekolah."
"Tumben Freya bangun siang?" tanya Nania yang masih tetap makan.
"Sepertinya dia kelelahan," jawab Arby.
Iya kelelahan, lelah menangis dan lelah bathin.
"Wah, jangan-jangan tadi malam mereka sibuk malam pertama," Aruna berteriak heboh.
Suasana hening seketika.
"Cie ... yang sudah enggak perjaka," seru Marcell, Vian dan Ikmal bersamaan.
Arby menoyor ketiga temannya itu dengan wajah kesal.
"Jangan asal kalau ngomong!"
"Bukan, ya?" tanya Ikmal penasaran.
"Wah, jangan-jangan Freya lagi ngurus surat perceraian," lagi-lagi Aruna berteriak heboh yang kembali menciptakan suasana hening.
Apa iya, ya? Pikir mereka bersamaan.
Hingga malam yang ditunggu tak juga pulang. Orang tua Arby sudah menanyakan orang tua Freya, tapi memang tidak mungkin gadis itu kembali ke rumahnya setelah dia keluar dengan cara seperti itu.
Para bodyguard juga sudah mencari, namun belum mendapatkan hasil. Nania dan yang lain jugaasih berada di rumah itu.
Tidak lama kemudian Freya pulang dengan wajah tanpa ekspresi.
"Freya!" Nania, Nuna dan Aruna memeluk heboh.
"Kami kira kamu kabur lagi."
"Enggak, aku tadi habis jalan-jalan."
"Ya sudah, karena kamu sudah pulang, kami juga mau pulang ke rumah. Besok jangan bolos lagi, loh."
"Oke."
Nania dan yang lain pulang, setelah itu Freya dan Arby masuk ke kamar.
Arby diam saja melihat Freya yang masuk ke kamar mandi, tidak ada niat untuknya bertanya keana saja Freya pergi seharian ini.
"Aku mau kita cerai secepatnya!"
Freya menyampaikan itu dengan singkat padat dan jelas tanpa basa-basi dan kebimbangan.
"Kamu kira orang tua kita akan setuju?"
"Bodo amat sama mereka, kan yang menjalankan kita, bukan mereka."
"Kamu kira jadi duda itu enak?"
"Lah, kamu kira jadi janda itu enak?"
"Ya udah, enggak usah cerai. Biar aku enggak jadi duda, kamu enggak jadi janda."
"Tapi sayangnya aku lebih suka jadi janda tuh, dari pada punya suami seperti kamu."
"Itu urusan kamu!"
Arby langsung ke luar kamar dengan membanting pintu. Freya langsung berlari ke arah pintu dan menguncinya.
"Mampus, tidur di luar sana."
Jam sepuluh Arby menuju kamarnya, diputarnya gagang pintu namun pintu itu ternyata pintu itu terkunci. Sekarang giliran dia yang harus tidur di luar. Bisa saja dia meminta kunci kamar tamu pada mamanya atau asisten rumah tangga. Tapi malu, lah, masa baru pengantin baru sudah pisah ranjang. Walau sebenarnya memang iya, sejak awal mereka nikah, kan memang selalu pisah ranjang.
🌸🌸🌸🌸
Tinggal di bawah atap yang sama
Berpijak di lantai yang sama
Menghirup udara di ruangan yang sama
Namun keinginan tak pernah sama
Hidupku terbelenggu oleh keegoisan
Hatiku terkekang oleh status yang mereka tentukan
Aku melukai diri
Namun akan aku buat mereka yang merasakan sakit
Racun itu akan menggerogoti
Perlahan namun pasti
Di masa ini
Seharusnya aku merasakan masa indah dunia remaja
Jatuh cinta atau dicintai
🌸🌸🌸🌸
Freya bingung dimana dia harus meletakkan barang-barang belanjaannya. Dia lalu membuka salah satu lemari, namun sebelum lemari itu terbuka, Arby langsung berteriak.
"Jangan dibuka!"
"Apaan sih, bikin kaget saja."
"Jangan dibuka!"
"Kenapa?"
"Aku bilang jangan dibuka, ya jangan dibuka."
"Bodo amat, aku mau lihat isinya apa."
Arby langsung mendorong tubuh Freya, membuat gadis itu terjatuh.
"Kasar banget sih jadi cowok!"
"Makanya kalau aku bilang jangan dibuka, ya jangan dibuka."
"Pasti kamu nyembunyiin sesuatu, kan? Film bokep ya? Foto bugil? Dih, dasar mesum!"
"Sembarangan."
Arby langsung menyentil kening Freya, membuat gadis itu kembali meringis.
"Apa jangan-jangan itu berhubungan dengan cewek yang kamu suka, kan?"
Arby diam saja, tapi Freya bisa melihat wajah Arby yang sedikit gugup. Dia langsung mengunci lemari itu dan menggenggam kunci itu.
"Pokoknya aku mau lihat!"
Mereka berebutan kunci. Bukannya Freya cemburu, tapi kalau dia tahu siapa gadis yang di suka oleh Arby, akan lebih mudah baginya.
Arby mengangkat kunci itu tinggi-tinggi, membuat Freya harus berjinjit atau loncat-loncat karena tubuhnya yang tinggi, tapi masih lebih tinggi Arby.
Lalu Arby menyembunyikan di balik badannya, sambil berputar-putar, membuat Freya harus merebutnya dari arah depan, sehingga mereka seperti sedang berpelukan. Mereka bisa mencium aroma tubuh masing-masing.
"Jangan-jangan kamu suka sama tante-tante, ya?"
"Apa sama istri orang?"
"Apa sama orang yang aku kenal?"
"Jangan-jangan guru kita?"
"Jangan-jangan teman aku?"
Freya terus saja bertanya.
"Arrgggg ... Freya, dasar cewek barbar!"
Freya menggigit tangan Arby karena pria itu berhasil mengantongi kunci lemari, padahal Freya sudah berusaha merebut kunci itu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 151 Episodes
Comments
💕febhy ajah💕
kok kurang yg like ya padahal ceritanya bgus. semangat tor, aku suka dgn ceritamu.
2022-08-01
0