Arby memalingkan wajahnya melihat penampilan Freya, sedangkan yang lain menatap cengo.
Marcell, Vian dan Ikmal hanya bisa diam, takut memberikan komentar di acara yang seharusnya sakral dan haru ini, namun mendadak menjadi horor dan seolah berubah menjadi arena peperangan.
Gadis itu memakai ... apa ya? Kebaya kekurangan bahan?
Bagaimana bisa kebaya yang tadinya panjang dan terlihat elegan, kini panjangnya hanya sebatas perut, bahkan pusar Freya terlihat, untung saja perutnya rata dan putih mulus. Lalu kain batiknya dipotong pendek sampai pertengahan paha. Belum lagi rambutnya yang sudah ditata, kini dicepol asal layaknya orang bangun tidur. Mukanya juga bersih dalam arti yang sebenarnya, tidak ada riasan karena sudah dibersihkan. Bagian leher kebayanya dibentuk sabrina.
Kebaya dengan harga puluhan juta itu kini tak lagi berharga. Penampilan Freya itu cukup seksi untuk gadis seumurannya. Meskipun kebaya itu sudah dipotong, namun sebenarnya tidak mengurangi pesona Freya, dan jujur saja, kebaya itu kini terlihat seperti baju dengan gaya anak muda.
Lalu bagian bawahnya, Freya memakai sandal rumahan dengan model lumba-lumba.
"Freya, apa-apaan kamu ini, kenapa berpenampilan seperti itu?" Wildan terlihat sangat marah dan malu.
"Apanya yang salah? Oya, apa aku harus memakai baju hitam ya, sebagai bentuk bela sungkawa, ck."
Freya menepuk keningnya, berpura-pura merasa kecewa dengan pilihan pakaiannya. Matanya memang masih sembab dan bengkak, suaranya juga masih serak karena kebanyakan menangis.
Nania, Nuna dan Aruna sudah deg-degan. Mereka bertiga bergandengan tangan. Entah siapa yang sebenarnya harus dikuatkan di sini, mereka yang ketakutan atau Freya yang nasibnya malang?
Yang hadir di sana saling bisik, sedangkan kakak dan adik Freya juga cemas. Tidak ada yang menduga Freya akan bersikap seperti ini, menentang kedua orang tua mereka tepat di hadapan orang-orang.
"Apa kamu tidak punya malu?"
"Apa kalian tidak malu menikahkan paksa anak di bawah umur?"
Freya memperhatikan orang-orang yang hadir, sebagian dia tahu karena mereka adalah kerabatnya. Namun matanya melebar tak percaya saat melihat beberapa orang yang ada di sana.
Kepala sekolah
Wakil kepala sekolah
Guru BK
"Mereka ini kerabat kami," Elya memberi tahu Freya.
"Sekolah itu milik papi mertuamu," lanjutnya memberi tahu.
Freya menghela nafas panjang, menyesali apa yang tidak jadi dia lakukan saat itu.
FLASHBACK ON
Saat ini Freya ada di depan kantor KPAI yang ada di Jakarta Pusat. Dia ingin mengadukan perbuatan orang tuanya dan mencari perlindungan. Dia berjalan mondar-mandir dengan perasaan takut dan gugup.
Masuk?
Jangan?
Masuk?
Jangan?
Dia meremas roknya, bibirnya dia gigit hingga menimbulkan bekas gigi.
Brugh!
Dia menabrak seseorang saat mondar-mandir.
"Kamu tidak apa-apa, dek?" tanya seorang pria.
Freya semakin ketakutan. Rasanya dia ingin menangis. Dia sangat ingin mengadukan hal yang menimpanya. Namun dia takut dan malu. Dia takut kalau orang-orang menjadi tahu bahwa dia akan dinikahkan. Freya tahu, bahwa kasus yang melibatkan anak di bawah umur akan menjadi sorotan yang menyita perhatian publik. Baik itu kasus pelecehan seksual, kekerasan fisik maupun verbal, eksploitasi anak, human traficking, penculikan, penelantaran anak, pembunuhan dan kasus lainnya.
Dia akan menjadi terkenal, namun bukan karena prestasi, tapi karena aib. Teman-temannya satu sokalah akan membicarakannya. Mungkin dia kannditatap penuh iba, mungkinnada juga yang bilang dia mencari sensasi. Dia juga masih memikirkan keluarganya dan keluarga Arby yang mungkin akan menanggung malu, tapi haruskah dia masih memikirkan mereka, sedangkan mereka sendiri tidak memikirkan dirinya?
"Dek, kamu tidak apa-apa?"
Pria itu memegang pundak Freya yang wajahnya terlihat sekali ketakutan dan ingin menangis, bahkan wajahnya sudah pucat.
"Enggak apa-apa, Om. Permisi."
Freya langsung berlari, sedangkan pria itu menatap curiga pada gadis berseragam sekolah tersebut, yang dia tahu bahwa itu sekolah elit.
Di rumah Aruna, Freya membuka formulir pengaduan online. Formulir itu sudah dia isi, hanya tinggal dikirimkan saja.
"Ayo kita nonton!"
Freya langsung menutup formulir itu tanpa dia kirim.
Keesokan harinya, pagi-pagi sekali Freya sudah membuka nomor WA KPAI, dia ingin mengadu.
"Kamu sudah bangun, Ya? Mandi duluan sana!"
WA itu langsung Freya tutup. Mungkin nanti dia akan mengirim WA, formulir pengaduan online atau email saat jam istirahat saja.
Di jam istirahat, dia berpikir mungkin sebaiknya dia mengadu lebih dulu kepada guru BK-nya, selanjutnya akan diteruskan ke kepala sekolah.
Dia kembali berjalan mondar-mandir di depan ruang guru BK. Dia harus yakin, jika dia tidqkndapat melawan karena masih anak-anak, maka orang dewasalah yang harus bertindak.
Orang dewasa vs orang dewasa.
"Freya, kamu kenapa?" tanya bu Atika, guru BK.
"Bu, saya ingin cerita."
"Ayo masuk."
"Kamu mau cerita apa?"
"Hmmm ... hmmm ...."
Hanya itu yang keluar dari mulut Freya.
"Kenapa Freya?"
"Itu ... aku ... orang tua aku ... maksudnya, teman aku ... duh, gimana ya?"
Freya jadi bingung sendiri, haruskah dia ceritakan semuanya, tapi lagi-lagi dia takut dan malu.
Bel berbunyi, menghentikan Freya yang ingin cerita.
"Sudah bel, kamu masuk kelas dulu. Nanti kalaunsudah siap cerita, kamu bisa menemui saya kembali."
Selama empat hari Freya datang ke kantor KPAI tanpa melakukan apa-apa.
Minggu depan deh aku ke sini lagi, aku harus menyimpan bukti kalau nanti mereka mengelak atas perbuatan mereka. Aku akan merekam pembicaraan mereka.
Selama berhari-hari ini Freya memang tidak dijaga oleh bodyguard, karena mereka tahu bahwa Freya menginap di rumah sahabatnya. Lagi pula, gadis model Freya ini tidak akan menyia-nyiakan pendidikannya untuk membolos, buktinya saja setelah dua minggu menghilang, dia tiba-tiba muncul di sekolah.
Namun sebelum hal itu terjadi, di Sabtu siang saat pulang sekolah, dia dibius untuk dibawa pulang ke rumah, menggagalkan niatnya untuk melapor kepada KPAI.
FLASHBACK OFF
Freya menyesali sikapnya yang tidak tegas saat itu. Seharusnya saat pertama kali datang ke kantor KPAI, langsung saja dia mengadu. Lalu guru BK dan kepala sekolahnya, apa pada saat Freya ingin mengadu kepada bu Atika, guru itu sudah tahu bahwa dia akan dinikahkan dengan Arby? Toh mereka memiliki hubungan keluarga.
Dia merasa dikhianati oleh mereka. Guru dan kepala sekolah yang seharusnya menjadi panutan, kini ikut menjerumuskannya. Bukankah seharusnya mereka menentang? Karena dia dan Arby belum cukup umur.
Lalu dia melihat penghulu, bukankah seharusnya penghulu itu tahu, bahwa ini pernikahan sepihak, tanpa ada persetujuan dari pengantin perempuan. Mungkin itu alasannya dia baru disuruh keluar setelah ijab kabul selesai, agar dia tidak membuat masalah.
Nasi sudah menjadi bubur.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 151 Episodes
Comments
Whatea Sala
Klu baca cerita,orang tua kaya maupun miskin,pasti selalu egois,miris banget liat ortu seperti mereka,tapi untungnya hanya cerita😁😁😁
2023-05-03
1
Anisnikmah
wah bener2 nih
2022-03-07
1
ajiu jiu
Arby spt ny tdk akn ad MP buat Klian, author tak "pandai" adegan it 🤭🤭
2021-08-27
1