"Sok sibuk banget mereka. Orang tuaku juga sibuk, tapi masih sempat ngajak aku liburan dan sebagainya."
Nania masih saja mengoceh, mengeluarkan kekesalannya. Orang tua Freya menghela nafas.
"Kalau kamu tahu kabar tentang Freya, tolong kasih tahu aku ya."
"Enggak, ah. Kenapa aku harus ngasih tahu kamu?"
Kembali Arby harus menghela nafas panjang. Tadi Marcell yang membuatnya kesal, sekarang Nania. Memang pasangan yang cocok, mereka.
"Ini orang tuanya nyariin."
Arby berusaha menahan sabar.
"Kenapa enggak mereka aja yang nyari sendiri? Memangnya kamu asisten mereka? Mereka kan punya uang, suruh orang dong buat nyari. Memangnya harta mereka buat apa? Aku masih di Bandung, Nuna di Semarang dan Aruna di Sidney. Kami balik ke Jakarta secepatnya."
"Ya sudah, kalau ada kabar, kasih tahu ya."
"Usaha sendiri dong, enak aja main nyuruh aku. Memangnya aku babumu!"
Tutt ....
Sambungan dimatikan oleh Nania.
Nania langsung menghubungi Nuna dan Aruna untuk mengabari berita tentang Freya yang menghilang. Kedua sahabatnya itu juga panik medengar berita itu. Mereka bertiga langsung memutuskan untuk kembali ke Jakarta dan mencari keberadaan Freya.
🍁🍁🍁
Ponsel Freya yang sengaja ditinggal di rumahnya, tentu saja membuat mereka tidak bisa melacak keberadaan Freya. Dilihat dari CCTV, gadis itu hanya membawa dompet dengan pakaian biasa, tanpa membawa baju. Mereka jadi berpikir bahwa Freya diculik, atau bisa jadi mengalami kecelakaan.
Tidak ada penarikan uang melalui ATM atau kartu kredit. Tentu saja, Freya memang sudah mengantisipasinya.
Arby meminta bantuan Marcell, Vian dan Ikmal untuk mencari Freya.
"Kamu punya hubungan apa sama Freya?" tanya Ikmal.
"Orang tuaku sama orang tuanya bersahabat."
"Terus waktu itu ngapain kamu di rumahnya Freya?" kali ini si kepo Marcell yang bertanya.
"Diajak papi mami main kerumahnya."
"Oh, kirain mau lamaran," Marcell terkekeh kecil melihat ekspresi Arby.
"Terus, kita mau nyari ke mana?" sambung Marcell bertanya.
Tidak ada yang menjawab, karena mereka juga bingung.
"Teman-temannya enggak ada yang tahu?"
"Kalau teman-temannya tahu, itu namanya enggak hilang, An."
Sementara di rumah Nuna, mereka bertiga juga mengira-ngira ke mana Freya pergi. Tempat yang suka Freya datangi selain perpustakaan adalah toko buku.
Freya juga suka mengunjungi festival-festival yang diadakan oleh kedutaan luar negeri, seperti Japan Fair. Itu juga hanya di saat-saat tertentu. Atau mengikuti acara yang diadakan beberapa universitas yang memiliki jurusan sastra asing, untuk melihat budaya dan mengambil brosur-brosur universitas yang ada di negara tersebut.
Tidak ada bayangan lain ke mana sahabat mereka itu akan pergi selain mall, yang tentu saja Freya akan pergi ke mall selain ke toko buku, tentu saja untuk nonton dan jalan-jalan yang pastinya selalu bersama mereka.
💕💕💕
Dua hari setelah Freya pergi dari rumah.
Freya terpaksa menggunakan sebagian uang tabungannya untuk ke luar kota. Dia tahu, kalau dia masih di Jakarta, mereka bisa menemukannya. Freya memilih pergi ke Jogjakarta, kota pelajar.
"Mau ke mana, dek?" tanya seorang pria paruh baya. Kepalanya sedikt botak dengan wajah mesum. Bajunya yang sedikit ketat itu menunjukkan perut buncitnya.
Freya bergidik jijik. Bukan karena pria paruh baya itu botak dan gendut. Tapi wajahnya itu loh, mesum banget!
"Saya mau tanding karate, om. Pertandingan tingkat nasional yang diadakan universitas."
"Kok pergi sendiri?"
"Seharusnya sama teman satu tim dan pelatih. Tapi tadi kesiangan."
"Enggak takut pergi sendiri?"
"Kenapa harus takut? Kan punya bekal bela diri sabuk hitam. Kalau ada yang macam-macam, patahin saja tangan dan kakinya, lehernya sekalian."
"Nanti dipenjara, loh."
Pria itu berusaha menakut-nakuti Freya, sedsngkan Freya juga menakut-nakuti pria tua itu.
"Bukannya sombong ya, Om. Keluargaku punya orang dalam jadi aku aman-aman saja. Minggu lalu aku habis matahin tangan preman yang malak sahabat aku."
Pria itu menelan salivanya. Wajah Freya yang terlihat sungguh-sungguh membuatnya percaya. Untuk lebih menyakinkan, Freya memutar video pertandingan karate di ponselnya. Ponsel yang nomornya tidak diketahui oleh siapapun.
Dia memberikan komentar mengenai gerakan-gerakan yang dilakukan oleh dua petarung itu. Tentu saja dia mengerti, karena Freya memang bisa karate. Hanya saja dia berbohong tentang pertandingan nasioanal yang akan dia ikuti, juga tentang mematahkan tangan preman itu.
Dan di sana lah Freya berada selama berhari-hari. Pergi ke perpustakaan universitas-universitas yang ada di Jogja. Freya memilih kosan agar bisa mendengar pengalaman dari mahasiswi-mahasiswi yang kost di sana.
Di usia muda itu, perencanaannya memang sangat matang. Dia ingin sukses dengan usahanya sendiri dan menunjukkan kepada orang-orang, terutama keluarganya, bahwa dia bisa mewujudkan impiannya.
🍁🍁🍁
Wildan dan Arlan sudah mengerahkan anak buah mereka untuk mencari Freya. Mereka mendatangi semua rumah sakit, kantor polisi, bahkan mengecek ke bandara, namun hasilnya nihil.
Jika Freya diculik, mengapa hingga saat ini tidak ada yang meminta tebusan kepada Wildan.
💕💕💕💕💕💕
Jika Freya tidak menghilang, seharusnya hari ini adalah hari pernikahannya dengan Arby. Arby terdiam memikirkan bahwa saat ini, dia adalah calon pengantin pria yang ditinggalkan oleh calon istrinya.
Kabur kemana tuh, Freya?
Apa jangan-jangan dia diculik, dirampok, diper**sa, ditipu, dibunuh bahkan dimuti**si?
Sahabat-sahabatnya sampai menangis mencemaskan keberadaan Freya.
"Kalau dia diapa-apain sama orang jahat, bagaimana?"
Suara gadis itu sudah sangat serak.
"Katanya, Freya pergi hanya membawa dompet."
"Kita juga sudah mendatangi warung-warung yang biasanya Freya titipkan kue-kue buatannya, mereka bilang sudah lebih dari satu minggu Freya tidak pernah datang."
"Tuh anak ke mana ya kira-kira?"
Mereka bertiga masih saja berembuk, hingga keempat pria muda itu datang menghampiri mereka.
Mereka berempat melihat mata ketiga gadis itu yang bengkak dan merah. Marcell mendekati Nania dan memeluk gadis itu.
Puk!
"Jangan modus!"
Nania menoyor kepala Marcell, sedangkan yamg ditoyor memanyunkan bibirnya.
"Apa jangan-jangan Freya kawin lari, ya?"
Kali ini ikmal yang mendapatkan toyoran dari Nuna.
"Kalian dari pada tambah merusak suasana hati kami, lebih baik kalian pergi, sana!"
"Akur dikit dong, seenggaknya sampai Freya kembali."
Mereka melihat Arby yang memegang keningnya. Suasana kembali hening, hingga seorang pelayan cafe mengantarkan pesanan Nania, Nuna dan Aruna.
🍁🍁🍁
"Jadi bagaimana ini, Pi?" tanya Elya kepada Arlan.
"Kita lihat nanti lah, Mi. Semoga saja Freya baik-baik saja."
"Freya pasti kabur karena tidak ingin dijodohkan."
"Kami sudah mencari anak itu ke mana-mana, dia mau kabur ke mana? Pasportnya ada di rumah, tidak ada pengambilan atau transaksi dari ATM-nya atau di bank manapun."
Arlan membuka sebuah map, membaca laporan yang ada di dalamnya dengan serius, setelah itu dia menghela nafas berat.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 151 Episodes
Comments