...~ Chapter 18 ~...
Mansion Wijaya....
Tak lama kemudian Dimas dan Rara sudah sampai di Mansion Daddy Wijaya yang super besar dan mewah yang kini sudah resmi menjadi milik Dimas setelah menikah.
Sepanjang perjalanan masuk, Rara mencoba mengamati Mansion yang ada didepan matanya dengan beberapa pilar-pilar besar bergaya Eropa timur dengan penjaga yang berjejeran sambil berdiri di depan gerbang.
"Eh sebenarnya kamu mau bawa aku kemana sih ? bukanya kita harus pulang ke rumah Daddy kamu yah tapi kok kamu malah bawa aku ke tempat yang mirip kampiun penyekapan sih, banyak banget pengawalnya !" Sahut Rara dengan ekspresi bingung, sebenarnya Rara belum mengetahui sosok Dimas yang kini sudah menjadi suaminya itu adalah seorang anak tunggal dari pengusaha besar dan sukses nomor satu di Australia .
"Bisa nggak itu mulut diam dan nggak banyak ngebacot dulu, aku lagi mode badmood gara-gara sudah resmi menyandang status sebagai suami dari seorang ABG labil yang hobinya bikin masalah dan ngegeselin kayak kamu !" Ketus Dimas
"Ya ampun.... emang kamu aja yang badmood, disini seharusnya aku yang jadi korban karna sudah dipisahin sama orang tua aku setelah pernikahan kita. Ini namanya penyalahgunaan kerjasama, aku bisa menuntut kamu yah !" Sahut Rara menimpali
"Eh dimana-mana kalau seseorang sudah menikah maka otomatis si pengantin wanitanya akan ikut tinggal dengan suaminya. Lagipula Mommy kamu sudah menyetujuinya sejak awal pernikahan kita !" Gerutu Dimas dengan ekspresi kesal
"What's masa ! kok Mama nggak ngasih tahu aku sih, tapi aku tidak mau tinggal dirumah kamu sebagai seorang istri nanti aku diapa-apain lagi, lagipula pernikahan kita kan hanya settingan doang!"
"Ya sudah kalau kamu tidak mau tinggal sebagai istri aku, yaudah kamu tinggal sebagai pelayan aku saja. Gampang kan ! hitung-hitung supaya kamu tidak tinggal gratis di rumah aku ! " Menoleh Ke arah Rara dengan senyum kemenangan
"Ish...mana boleh seperti itu, aku tidak mau. Aku mau pulang saja kerumah aku. Cepat turunkan aku disini ! " Mencoba berontak sambil berpura-pura ingin turun dari mobil Dimas
"Kalau saja dia bukan wanita pilihan Mom dan Daddy, mungkin dari tadi sudah aku turunin dijalanan. Bisanya bikin orang jadi darah tinggi aja !" Dimas membatin sambil melotot tajam ke arah Rara
"Turun !"
"Eh aku cuman bercanda doang serius amat mukanya, santai dikit Napa kek orang kesurupan saja !" Kata Rara sambil bercanda
"Aku bilang turun yah Turun. Kita sudah sampai di Mansion Mommy sama Daddy aku. Emangnya kamu mau terus tinggal didalam mobil sampai pagi hah ?" Ketus Dimas
"Eh kirain aku diusir tadi, nih bule tengil galak banget !" Membuka pintu mobil dengan malas sambil mengomel
"Eh apa kamu bilang ?"
"Nggak bilang-apa kok ! kamu mungkin salah dengar kali !"Sahut Rara dengan sedikit gugup
"Barang-barang kamu nanti biar Pak Mun yang akan membawakannya naik kekamar kita!" Rara hanya menganggukkan kepalanya sambil berjalan mengikuti Dimas
Sepanjang perjalanan menyusuri Mansion Dimas, Rara dibuat takjub dengan arsitektur Mansion milik suaminya itu dengan design dan interior mewah khas ala Eropa yang kini sedang memanjakan matanya.
Ceklek...
"Wah gila ! indah dan megah sekali kayak di film-film barat yang sering aku tonton, eh ini rumah siapa sih sebenarnya ? kamu nggak salah alamatkan nganterin aku kesini, nanti jadinya kayak judul lagunya sih ayu Ting Ting !" Seloroh Rara masih dengan ekspresi takjubnya
"Salah alamat ? Ayu Tingting ?. Nih bocah ingusan bahas apaan sih nggak jelas banget, mansion ini adalah milik aku yang nantinya disini kita akan tinggal bersama kedua orang tua aku ! " Sahut Dimas sambil terus berjalan didepan Rara
"Masa sih ? aku nggak percaya kalau A si muka kanebo kering macam kamu itu bisa punya tempat tinggal semewah ini. Apa jangan-jangan kamu melihara tuyul yah ? "
"Muka kanebo kering ? Tuyul ? apa itu tuyul ?" Sahut Dimas yang tidak mengerti dengan arah pembicaraan Rara karna sebenarnya dirinya sangat kelelahan dan sedang banyak pikiran
"Ya ampun kau ini bodoh sekali, Tuyul itu adalah makhluk halus yang bisa menggandakan uang menjadi banyak seperti di film-film horor yang pernah aku tonton. Apa kau memperoleh kekayaan dengan cara seperti itu hingga bisa mempunyai tempat tinggal yang semewah ini ?"
Pletak.....
Dimas yang sudah tidak tahan mendengar ocehan Rara yang semakin menjadi-jadi kini berhenti tepat didepannya dan langsung memutar balik badanya dan menjitak jidat Rara dengan keras karna merasa jengkel dengan ucapannya.
"Kau itu ! ternyata selain gesrek, otak kamu juga ternyata sangat dangkal, mana mungkin aku dan keluargaku memperoleh kekayaan dengan seperti itu. Sebaiknya segera kekamarmu sebelum kesabaranku habis" Pekik Dimas
"Masalahnya aku tidak tahu kamarku ada di mana ? inikan bukan rumahku tapi rumahmu, ish... kau itu payah sekali ! "
"Ya ampun..... gadis ini benar-benar membuatku jengkel setengah mati. Pengen aku sumpel mulutnya pakai bakso kuah mercon supaya nggak asal ngebacot lagi !" Umpat Dimas dalam hati
"Diam dan jangan bicara lagi, ikut saja denganku akan kutunjukkan dimana kamarmu !"
Rara pun berjalan mengikuti Dimas menaiki tangga yang cukup tinggi.
"Ya ampun kenapa jauh sekali, apa disini tidak ada lift kakiku pegal sekali!" Gerutu Rara saat berjalan menaiki tangga menuju kamarnya yang berada di lantai 4.
Dimas yang merasa kesal terus berjalan tanpa menoleh ke arah Rara sambil tersenyum kecil. Dia memang sengaja memindahkan kamarnya yang dulu berada di lantai dua naik ke lantai empat karna kamar itu sudah didesign untuk mereka berdua setelah menikah.
Hosh...
Hosh...
Hosh...
Setelah sampai di lantai empat, Rara langsung berhenti mengambil nafas dalam-dalam sambil ngos-ngosan.
"Gila ini rumah tangganya kok nggak mau habis-habis sumpah ini lebih parah daripada aku pergi nanjak di gunung Bromo kemarin Weh !" Sahut Rara denga nafas yang memburu
Sebenarnya kamar Dimas punya lift rahasia untuk akses cepat menuju kamarnya, namun untuk mengerjai istrinya yang kelewat cerewet itu Dimas menyuruhnya naik menggunakan tangga darurat agar dia tidak punya tenaga lagi untuk mengoceh.
"Ini belum seberapa masih ada kejutan lain yang akan menantimu !"Batin Dimas dengan senyum menyeringai
"Hei Rubah centil, cepetan masuk sini !"
"Tunggu bentar ! aku ambil nafas dulu" Rara segera berdiri menyusul Dimas ke kamarnya
Ketika Dimas membuka pintu kamarnya Rara sangat terkejut ketika melihat isi kamar Dimas yang begitu luas dan megah di dominasi oleh warna hitam dan putih.
"Ini kamar kamu yah ? terus kamar aku dimana ?"
"Disini ! "
Membuka sebuah pintu yang menghubungkan kamarnya dengan kamar Rara yang hanya dibatasi oleh kaca yang memiliki kain Gorden tipis.
"What's ? kok kecil banget sih, ini mah 2 kali lipat kecilnya daripada kamar aku yang ada dirumah" Protes Rara yang hanya menatap sekilas kamarnya sambil memutar bola matanya dengan malas
"Jangan banyak protes, lihat dan masuklah kedalam dulu baru asal nyerocos. Aku tidak punya banyak waktu untuk menjelaskan semuanya padamu, aku mau mandi !"Dimas menutup pintunya dan segera beranjak menuju bathroom meninggalkan Rara yang masih berdiri seperti orang bodoh.
"Uuuh....dia menyebalkan sekali, eh tapi walaupun kamarnya kecil tapi kalau dilihat-lihat kayaknya isi kamarnya padat banget. Jadi penasaran apa aja isi didalamnya, unboxing aah...."Rara pun berjalan masuk kedalam kamarnya yang persis berada di ruangan yang sama dengan Dimas hanya dibatasi oleh sekat pembatas yang terbuat dari kaca transparan saja.
"Ah aku ingin melihat isi lemarinya dulu deh !" Rara pun langsung membuka pintu lemari pakaiannya
Dan betapa terkejutnya ketika melihat isi didalamnya.
"What's pakaian apa ini ? "Pekik Rara
... ...
... ~ Bersambung ~ ...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 87 Episodes
Comments
Febriyantari Dwi
😀😀😀..kurang bahan ya Ra?!?
2021-10-03
0
tyasasih
lanjut
2021-10-02
0
Yen Lamour
Lanjut kak ❤️❤️
2021-10-01
0