...~ Chapter 8 ~...
Pak Bryan pun mendongak melihat mereka bertiga dan berjalan kearah papan tulis sambil memainkan spidol yang ada ditangannya.
"Dasar mahasiswa jaman sekarang, sudah salah masih saja banyak ngelesnya," Batin pak Bryan
"Kenapa ? kalian bertiga mau protes. Kalau kalian merasa keberatan dengan tugas yang saya berikan. Mendingan tidak usah dikerja, tapi Kalian siap-siap memprogramkan ulang mata kuliah ini tahun depan !" Sahut Pak Bryan sambil menoleh kearah Dimas Dkk.
"Hadeuwh...buset ternyata nih Dosen lebih sadis daripada bapaknya," Batin Dimas
"Tapi pak, kita bertiga boleh minta kelonggaran batas waktu buat ngumpulin tugas nggak pak? Soalnya butuh waktu lama untuk mereview ulang jurnal sebanyak itu pak!," Bima mulai menegosiasi meminta keringanan tugas
"Saya sudah memperhitungkan berdasarkan rumus matematika tentang perbandingan kecepatan dan waktu, jika sepulang dari kampus kalian mengerjakan tugasnya dengan serius dan sungguh-sungguh. Maka tugasnya bisa selesai sebelum jam 12.00 malam. Saya rasa keputusan ada ditangan kalian, jangan membuang-buang waktu saya. Teman-teman kalian mau belajar," Kata Pak Bryan dengan ekspresi datar
"Kelompok yang merasa punya masalah yang sama dengan mereka bertiga, silahkan ikut keluar bersama mereka. Soal perihal tugas yang di berikan silahkan diskusikan diluar kelas, mengerti ...!," Sahut pak Bryan menambahkan
"Baik pak, kami akan mengumpulkan tugasnya tepat waktu," Gumam Dimas dan disusul kedua temannya lalu berjalan keluar kelas.
Ternyata kelompok Dimas tidak sendirian keluar kelas, ada dua kelompok lain lagi yang disuruh keluar kelas menyusul kelompok Dimas.
Saat di Luar Kelas........
"Gilaaaa, semester ini kita apes banget sih. Kenapa juga harus memilih program mata kuliah yang diajar sama Dosen Killer itu sih, yang lain malah menghindar eh kita dengan sukarela memilih kelasnya mana ada dua lagi, Aaaah siaaaal...!!!!,"Umpat Dimas sambil menendang pinggiran kursi yang ada di pojokan kelasi
"Eh woles aja brow, sekali-kali dapat nilai C transkrip juga nggak' papa kan !," Ucap Rizky dengan santai
"Nggak papa kepala Loh, Loh tau kan selama ini gue nggak pernah dapat nilai C di matkul manapun. Yang ada Bokap Gue bisa narik semua fasilitas mewah yang dia berikan sama gue kalau sampai nanti gue dapat nilai C ," Gerutu Dimas
"Gue juga nggak habis pikir, kok anak sama bapak nggak ada beda-bedanya sama-sama Killer banget. Bisanya buat orang menderita saja," Sahut Rizky
"Yasudah mendingan kita ke warkop aja buat ngerjain tugas tuh Dosen Killer, soalnya nanti malam gue ada acara sama Mama dan papa gue jadi takutnya nggak keburu nyelesaiin semua," Dimas pun mulai menawarkan
"Acara apaan Dim, kok nggak ngundang kita-kita sih ?," Tanya Bima penasaran
"Ada deh nanti kalian juga tahu pastinya, Yaudah kita segera berangkat ke Warkop.
Mereka bertiga pun segera berangkat bersama ke warkop untuk mengerjakan tugasnya.
...~~~...
Sementara itu di rumah Rara.....
Rara merasa sangat bosan tinggal dikamarnya sendirian, apa lagi ibunya tidak mengizinkan dia untuk pergi kemanapun.
"Duuuuh...gabut banget sih gue ! nggak bisa ngapa-ngapain dikamar, mana nih kaki masih sakit lagi. Untung saja udah nggak separah kemaren,"
"Eh btw malam ini kan pertemuan gue sama calon suami gue, duh gimana nih kok gue malah deg-degan kayak gini sih. Ya Allah semoga saja calon suami Rara bukan om-om berkumis tebal, gue kan geli banget Ama yang model begituan. Amit-amit banget Hiiih...," Bulu kuduk Rara tiba-tiba merinding
Tiba-tiba ibunya Rara masuk kedalam kamarnya.
"Bagaimana sayang kakinya, apa sudah tidak sakit lagi ?," Tanya mamanya
"Alhamdulillah udah mendingan kok mah daripada yang kemarin. Obat dari dokter Mama manjur banget hehehe," kata Rara sambil bermanja di ibunya
"Oh ya Mama bawa apaan tuh ?," Melirik dua tentengan besar yang dibawa masuk ibunya
"Ini adalah gaun sama alat make up yang mama belikan buat acara pertemuan nanti malam. Pokoknya wajib kamu pakai nanti malam yah sayang, harus dandan yang cantik pokoknya. Pertemuan pertama dengan calon suami dan ibu mertua harus memberikan kesan yang baik," Terang mamanya
"Aduh mama kenapa jadi rempong banget sih, Mama tahu sendirikan kalau Rara itu nggak suka pakai gaun apalagi pake make up yang super tebal udah kayak badut aja. Pokoknya Rara nggak mau, harusnya mereka bisa menerima Rara apa adanya dong,"
"Sayang bukan seperti itu, nanti mereka berpikir kalau Mama tidak bisa ngajarin hak yang baik sama kamu. Nurut yah sayang, jangan bikin Mama Kecewa. Ntar Mama jadi sedih," Mamanya pun melancarkan aksi rayuan mautnya untuk meluluhkan hati anaknya
"Iya deh mah, yang penting mama jangan sedih," Sahut Rara sambil memeluk ibunya
Yah walaupun diluar Rara terkenal dengan sosok yang bar-bar, gesrek, keras kepala dan pemberani. Namun saat berhadapan dengan ibunya Rara berubah menjadi sosok yang lembut, penurut, manja dan juga penyayang.
...~~~...
Malam Harinya.....
Dimas dan kedua orang tuanya pun sudah bersiap berangkat kerumah Calon istrinya.
Saat diperjalanan muka Dimas tampak tegang, rasanya ia benar-benar belum siap bertemu dengan calon istrinya.
Tak lama kemudian merekapun sampai dikediaman Rumah Pak Haris yang terlihat besar dan mewah.
Ting.........
Terdengar suara bel berbunyi.
"Lah apa mungkin mereka sudah datang, mama buka pintunya dulu yah," tak lama kemudian ibunya Rara pun segera bergegas membuka pintunya.
Ceklek.......
Ternyata benar dugaannya, itu adalah Pak Wijaya dan anaknya yang sudah datang.
"Selamat malam calon besan," Sahut ibu Dimas sambil tersenyum
"Malam juga, Silahkan masuk kedalam," Sahut Ibu Rara membalas sapaannya dengan akrab.
Mereka bertiga pun mulai masuk dan mengobrol bersama di ruang tamu.
"Pah ternyata calon menantu kita tampan yah, semoga aja Rara suka sama dia," Bisik ibunya Rara ditelinga suaminya
"Oh ya anaknya mana Bu, kami mau kenalan dulu sama calon menantu kita," Ucap Ibunya Dimas
"Anak saya masih dikamar, mungkin lagi dandan yang cantik Bu. Maklum dia anaknya agak tomboy gitu,"
Tak lama kemudian Bi Ijah yang barusan datang dari kampung membawakan hidangan untuk para tamu yang datang.
"Oh ya Bi, tolong panggil anak saya dikamar untuk segera turun yah," sahut Ibunya Rara saat melihat Bu Inha datang
"Baik Bu, Bi Ijah keatas dulu,"
Sementara itu didalam kamar......
Tok....tok.... tok......
"Nak Rara bangun.....! Dipanggil ibu untuk segera turun kebawah," Teriak Bi Ijah sambil mengetuk pintu kamar Rara
"Iya Bi....!," Rara hanya menjawab dalam kondisi setengah sadar
Rara yang ternyata ketiduran setelah shalat isya pun tidak mengingat akan ada pertemuan dengan orang tua Dimas.
"Hoahmmmm......! emangnya jamberapa sekarang ?" Ucap Rraa sambil membuka ponselnya
"Weeh.... mampus gue, udah jam 8 malam nih. Gue lupa lagi kalau ada pertemuan penting ! gawat nih mama bisa marahin gue lagi. Mana gue belum ganti baju sama dandan, duuh... gimana nih," Rara pusing sendiri dikamarnya
"Duh gimana nih, gue langsung turun kebawah atau dandan dulu. Tapi kalau gue turunya lama, mama bisa marahin gue. Mana gue belum sempet mandi lagi,"
"Tapi kalau gue turun dalam kondisi kek begini kira-kira Mama bakalan marah nggak yaah ? Ah bodo amat yang penting gue turun aja sekarang, daripada kena marah sama Mama," Rara pun segera beranjak dari tempat tidurnya dalam kondisi badan masih acak-acakan.
Tak...tak....tak....
Rara pun berlari turun dari tangga dengan terburu-buru.
"Ekhm....Rara turun mah, maafin kalau Rara terlam....bat," Suara Rara tiba-tiba terbata-bata saat semua orang menengok kearah dengan ekspresi terkejut.
Tuet....tuet.....tuet....!
Dimas yang tengah meminum minumanya pun seketika menyemburkannya saking terkejutnya melihat penampilan Rara yang hanya memakai baju tidur berwarna putih dengan motif polkadot Doraemon. Rambutnya masih terlihat acak-acakan, memakai sandal tidur beruang Cokelat yang berbulu dan celana tidur digulung sampai lutut mengingat lukanya belum sepenuhnya kering. Meskipun begitu, kecantikan natural yang dimilikinya tetap terpancar.
"Astaghfirullah Pah, lihat itu ! Rupanya anak kita belum siap-siap. Aduh sayang kamu ngapain aja sih dikamar seharian ini, Ya Allah....mau ditaruh dimana muka mama ini Pah," Teriak Ibunya Rara dengan ekspresi kesal sambil menahan malu
"Maafin Rara mah, tadi Rara ketiduran pas selesai sholat. Dan saat Rara bangun eh keburu udah jam delapan, jadi Rara langsung turun aja," Jawab Rara sambil cengisisan tapi dia belum memperhatikan siapa yang datang.
"Ya Ampun..punya anak gadis begini amat Ya Allah, disuruh dandan yang cantik malah turun dengan penampilan begini, bikin malu mama aja kamu sayang," Ibunya Rara pun memijit pelipisnya yang tidak sakit.
"Loh ini anak kamu yah jeng ?," Sahut ibunya Dimas saat melihat Rara duduk bersama mereka
"Iya Bu, maafin yah kalau turun dengan penampilan begini, kami tidak bermaksud tidak menghargai maksud baik kedatangan kalian," Sahut Ibunya Rara yang terlihat tidak enak
"Kamu Rara kan, yang nolongin Tante dari jambret kemarin yang jago berantem itu kan," Sambil tersenyum menatap Rara dengan ekspresi wajah senang
"Apa ? kamu berantem lagi sayang, Ya Allah mama kan udah bilang anak gadis nggak boleh berantem. Kamu benar-benar mau buat mama mati karena jantungan lagi yaah. Aduh Pah jantung mama....," Sambil memegang jantungnya
"Duh mama jangan salah paham, Rara cuman niat nolongin Tante ini dari maling Mah, kan kasian tasnya dijambret orang. Jadi Rara hajar aja malingnya sampai K.O ! " Sahut Rara membela dirinya
"Mama sudah kenal sama anaknya Pak Haris ?," Tanya Ayah Dimas
"Iya Pah, ini anak gadis yang kemarin Mama ceritain yang jago bela diri itu loh. Papa ingat kan !"
"Iya Mah papa ingat kok, wah kebetulan dong dia calon menantu kita"
"Eh loh ngapain ada dirumah gue ?," Tanya Rara saat melihat ke arah Dimas
"Iih suka suka gue dong, bukan urusan Loh juga," Jawab Dimas dengan ketus
"Jadi kalian berdua udah saling kenal ," Tanya ayah Rara
"Asal Mama sama Papa tahu, dia adalah cowok resek yang udah tega ngerusakin ponsel Rara dan nggak mau bertanggung jawab buat ganti yang baru," Sungut Rara dengan wajah kesal
"Eh jangan sembarang nuduh loh yah, lagian Loh duluan yang mulai. Loh udah ngerusakin mobil gue dan kabur begit saja dan satu lagi, kemarin loh udah ngempesin ban mobil gue sampai harus ngedorong sejauh 1 KM," Mereka mulai cekcok dan adu mulut lagi
"Eh sudah-sudah berhenti ! kenapa kalian berdua malah berantem sih," Tegur Mommnya Dimas melerai pertengkaran mereka
"Kita semua fokus dulu ke tujuan inti kita mengadakan pertemuan ini," Ayah Dimas pun mulai bicara.
"Eh Maaf jadi lupa jeng, kenalin ini anak gadis saya satu-satunya, Namanya Rara Anjani. Maafkan segala kekuranganya yah jeng !" Kata Ibunya Rara
"Oh ya kenalin juga ini anak kami namanya Dimas Kenzo Wijaya anak tunggal Tante, Calon suami kamu sayang," Sahut Ibunya Dimas sambil tersenyum kearah Rara
"Oh ya sayang kamu kenalan dong sama anaknya Pak Wijaya, dia kan Calon Istri kamu !" Sahut Ibunya Dimas sambil menegur Dimas yang masih terlihat terkejut.
Dan kini pandangan mata Dimas dan Rara saling bertemu, mereka saling terkejut satu sama lain.
" Apa ! Calon Istri....?"
" Dia ! Calon Suami Gue...?"
... ~Bersambung~...
Jangan lupa tinggalkan jejak like, komentar dan Vote yang banyaak yaah Readers untuk mendukung karya Author, Happy Reading 💞
... 🍃🍃🍃🍃🕊️🕊️🕊️🕊️...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 87 Episodes
Comments
Diandra Kirana
hahaha seru bikin ngakak, suka bacanya ringan dan menghibur thor
2022-12-14
0
IG: Saya_Muchu
Sudah ku fav ya kak, semangat update, jangan lupa saling support.
2021-12-19
0
Nasi Kaput
thor aku datang mendukung...
mampir juga ketempatku thor...
2021-11-13
0