PART 11

...~Chapter 11~...

Bruuuk..............

Tubuh mungil Rara akhirnya terbanting kedepan hingga keningnya kejedot dashboard mobil yang ada didepannya. Karna kecerobohanya, dia lupa memakai sabuk pengaman yang ada di kursi mobil Dimas alhasil saat mengerem mendadak, badannya otomatis terlempar maju kedepan.

"Aaaaaw.....," Pekik Rara saat keningnya menyatu dengan dashboard mobil Dimas dengan posisi nyungsep.

"Eh, sorry-sorry gue nggak sengaja," Sahut Dimas

"Aaaah... tuh kan apa gue bilang, setiap gue bareng loh selalu kena masalah mulu. Aduuuh ! kenapa kamu nggak bilang-bilang sih kalau mau ngerem mendadak kek gini, setidaknya gue bisa antisipasi supaya kening gue nggak jadi korban," Rara pun mulai mengelus-elus keningnya untuk menghilangkan sedikit rasa sakitnya.

"Yaelah mana gue tahu kalau gue mau ngerem mendadak, yah kalau gue tahu namanya bukan ngerem tapi berhenti. Otak Loh kok Nggak bisa mikir sih."

"Eh loh yaah udah salah bukanya minta maaf malah nyolot gitu sih, lihat nih kening gue jadi benjolan kan. Aduh mami Sakit Hiks....hiks....!" Melihat keningnya di kaca spion mobil yang nampak sedikit benjol kemerahan

Dimas malah tertawa terbahak-bahak melihat tingkah laku Rara yang terlihat menggemaskan dimatanya.

"Duh sumpah muka loh lucu banget kalau lagi nangis gitu, gue kenapa tiba-tiba keinget film kartun Si Sinchan yaaah," Dimas pun terus terkekeh sambil memegangi perutnya yang mulai terguncang-guncang .

Karna merasa kesal melihat Dimas yang terus menertawainya, Rara pun akhirnya berniat membalasnya dengan mencoba mencubit keras pipinya.

"Aaaah sakit, ngapain sih loh nyubit pipi gue. Sakit tauuu, nyebelin banget sih Loh," Dimas pun memegangi pipinya yang terasa sedikit dan nyeri karena cubitan Rara

"Makanya loh jangan tertawa senang diatas penderitaan orang lain," Sahut Rara dengan muka kesel

"Eh asal loh tahu tertawa diatas penderitaan orang lain tuh rasanya buat gue terhibur banget. Puas loh ," Jawab Dimas ketus

"Ya udah sini kening loh gue tiupin supaya sakitnya hilang," Langsung menarik kepala Rara mendekat kearahnya, lalu perlahan meniupnya dengan perlahan.

Gleeeek...........

Manik mata Rara menatap wajah blasteran Dimas yang membuatnya menelan ludahnya dengan kasar, jantungnya tiba-tiba berdetak kencang.

Dimas pun melirik Rara yang nampak terbengong kaku karna perlakuan Dimas padanya. Wajah Rara yang putih tampa memakai riasan apapun membuat jantung Dimas ikut berdetak kencang, pasalnya dia tidak pernah sedekat itu dengan perempuan manapun dikampusnya.

Deg.....deg.... deg...

Keduanya bisa mendengar detak jantung mereka masing-masing, tak ingin berlama-lama dalam kondisi itu. Rara langsung mendorong badan Dimas agar menjauh darinya.

"Eh loh jangan coba coba ambil kesempatan dalam kesempitan kalau deket-deket gue yaah," Kata Rara dengan sedikit gugup

"Siapa juga yang ambil kesempatan, orang gue cuman niat nolongin Loh doang, Yaudah loh pakai aja sendiri nih hansaplast di jidat loh supaya bisa ngurangin bengkaknya," Menimpukkan sebuah hansaplast ke arah kepala Rara.

"Ya udah sini gue pakai sendiri aja, emangnya kenapa tadi Loh terkejut sampai segitunya, saat gue bilang kuliah disitu, jangan bilang Loh juga kuliah di universitas yang sama dengan gue ?," Sambil memakai hansaplastnya sendiri dengan menggunakan cermin spion mobil

"Yah emang bener gue kuliah disitu juga, jadi berarti kita berdua akan terus ketemu dong setiap hari di kampus, males banget gue lihat muka loh setiap hari, yang ada gue bisa eneg tau !"Sarkas Dimas

"Apa ? Ya ampun sempit banget sih circle kehidupan gue nggak bisa jauh-jauh dari orang nyebelin kayak loh. Loh juga jangan kege'eran siapa juga yang mau ketemu tiap hari sama loh, ingat yaah kita itu hanya dua orang asing yang nggak saling mengenal satu sama lain kalau bukan depan mami, papi sama Oma. Jangan pernah lupakan hal itu, jadi kalau loh liat gue, mending segera pergi yang jauuuh sana kalau perlu sampai kelautan juga boleh," Sarkas Rara

"Oke-oke gue bakal ingat baik-baik perkataan Loh, Yaudah kita lanjutin pulangnya nanti gue bisa terlambat kekampus," Dimas pun segera menjalankan mobilnya

Dimas pun langsung mengantar Rara pulang kerumahnya, dan benar saja kedua orang tua Rara sudah menunggunya dengan cemas.

"Mah Rara pulang," Sambil memeluk mamanya yang nampak cemas menunggu kedatangannya.

"Sayang kamu pulang, duh kamu ini jangan kayak jurig yang suka bikin Mama takut dengan main suka menghilang dari rumah. Bagaimana kalau ada orang jahat yang nyulik kamu nak," Sambil memeluk erat anaknya

"Maafin Rara yah Mah, Rara janji nggak akan main kabur-kaburan dari rumah lagi," Melepaskan pelukan ibunya sambil menautkan kelingkingnya di tangannya ibunya

"Nak Dimas Terimakasih banyak sudah membawa Rara pulang, kamu memang calon suami yang bertanggung jawab," Sahut Pak Haris

"Sama-sama Om, kalau begitu Dimas pamit pulang dulu!," Mencium tangan Pak Haris dan Istrinya sambil tersenyum manis ke arah Rara

"Pah ternyata dia anaknya baik dan sopan yaah. Mama jadi tenang Rara ada yang jagain !," Sahut Ibunya Rara

"Dasar licik ! pintar banget dia akting didepan mama sama papa. Mama nggak tau aja dia aslinya gimana, nyebelin abiis," Batin Rara sambil menatap Dimas pulang dengan ekspresi dongkol.

Dimas pun langsung pulang dan segera bersiap-siap berangkat kekampus.

Hari ini adalah hari terakhir Dimas ujian semester akhir pada masa perkuliahannya sebagai mahasiswa semester 6. Dan setelah itu dia kan menjalani masa magangnya.

Setelah keluar kelas Bima dan Rizky sudah menunggunya didepan kelas.

"Eh bagaimana ujian loh tadi aman nggak Dimas ?," Tanya Bima

"Aman kok, yaudah kita langsung kelapangan main basket. Mumpung hari ini adalah hari terakhir kita ujian, kita rayain dilapangan brow," Mereka bertiga pun segera berangkat kelapangan dan bermain basket sampai sepuasnya

...~~~...

Malam harinya.....

Kedua orang tua Dimas sudah menunggunya di ruang tamu.

"Dimas tadi sore mama sama Papa kamu dari rumah sakit menjenguk Oma kamu, ternyata keadaannya sudah perlahan membaik,"Sahut Papanya

"Iya Pih, Dimas sudah tahu kok," Sambil menyeruput kopi panasnya

"Jadi kamu juga sudah tahu kalau pernikahan kamu akan dilaksanakan lusa ?," Tanya papanya

Byuuur...............

Air yang ada di mulut Dimas pun langsung tersembur keluar saat mendengar perkataan papanya saking terkejutnya.

"Apa Pah ? kenapa cepet banget, Dimas belum siap tau !," Gerutu Dimas

"Ini atas permintaan Oma kamu Dimas, jadi Papa tidak bisa menolaknya," Kata Papanya memberikan penjelasan

Dimas pun hanya diam membisu mendengar perkataan Ayahnya, ada perasaan yang berkecamuk dihatinya.

"Pah aku mau ke kamar, Dimas butuh waktu sendiri dulu untuk memikirkan semua ini !," Karna ngambek Dimas pun akhirnya beranjak ke kamarnya dengan ekspresi wajah yang murung.

Saat sampai dikamarnya Dimas pun langsung merebahkan dirinya di kasur.

"Aaaah bagaimana mungkin statusku akan berubah secepat ini, aku masih ingin bersenang-senang dan menikmati masa mudaku dulu, apalagi ini akan menyangkut anak orang lain. Apa pernikahan kita akan berakhir bahagia ? sebuah pernikahan yang dilakukan tanpa didasari rasa cinta sama sekali. Wanita yang akan aku nikahi bahkan sangat membenciku. Yaaah Tuhan aku harus bagaimana ?," Dimas mengusap wajahnya dengan kasar

"Lalu bagaimana dengan pendidikan dan hobiku ? aku belum bisa memastikan diriku bisa menjalani kehidupanku dengan status yang baru. Apalagi sikapku masih labil, aku takut aku bisa melukai perempuan itu nantinya," Dimas memejamkan matanya, pikiran cemas mulai menghantui dirinya hingga membuatnya susah untuk tidur.

Reaksi yang sama juga ditunjukkan oleh Rara, dia begitu syok mendengar dari ibunya kalau pernikahannya dengan Dimas akan segera digelar besok Lusa.

Rara mencoba memejamkan matanya untuk bisa segera tidur, tapi tetap tidak bisa, tubuhnya berguling kesana-kemari tak bisa diam, spreinya bahkan sudah acak-acakan karna badanya berputar seperti gasing diatas tempat tidurnya saking gelisahnya.

"Aaaah..... apakah setiap pasangan yang akan menikah merasakan hal ini, memikirkannya benar-benar membuatku tidak bisa tidur nyenyak, jantungku terus berdebar tak menentu seperti ini," menutup wajahnya dengan bantal

Kini mereka berdua sama-sama tidak bisa tidur memikirkan hari pernikahan mereka yang semakin dekat didepan mata. Lalu apakah mereka bisa melewati hari pernikahan mereka tampa rintangan ? Temukan jawabannya di Chapter berikutnya.

...~ Bersambung~...

Yook jangan lupa tinggalkan jejak like, komentar dan Vote untuk Karya Author. Semoga kebaikan kalian berbalik pada diri kalian juga, mari saling support Author sayang kalian Happy Reading 😄🙏🙏

Terpopuler

Comments

Tutik Sriwahyuni

Tutik Sriwahyuni

makin deg deg an nih, pdhal sama sama ada rasa tuh

2021-10-23

0

Febriyantari Dwi

Febriyantari Dwi

Makin seru ....makin penasaran...
semangat thor

2021-09-21

1

Yen Lamour

Yen Lamour

semangat trus ya thor💪😊😊

2021-09-16

1

lihat semua
Episodes
Episodes

Updated 87 Episodes

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!