... ~ Chapter 4 ~...
Dimas pun naik kembali kedalam mobilnya dengan perasaan berkecamuk, baru kali ada orang yang benar-benar kurang ajar sama dirinya.
"Awas aja tuh anak kalau sampai gue ketemu lagi sama dia, bakalan gue kasih pelajaran supaya tidak seenaknya lari dari tanggung jawab, Awas aja loh !,"
Dimas pun melajukan mobilnya menuju Kampus Universitas Indonesia, salah satu kampus Terbesar yang menjadi Vaforit mahasiswa baru di Jakarta.
... ~~~...
"Alhamdulillah Vi, kita sudah sampai di gedung registrasi dengan selamat. Untung tadi kita berhasil kabur dari kejaran orang itu, hampir aja dia malak kita dengan uang segede gaban gitu dapat dari mana coba," Rara mengelus dadanya merasa lega lolos dari situasi menegangkan tadi
"Ra loh memang jago banget bawa motornya, aku saja sampai kayak mau jantungan dibonceng sama kamu. Aku ngerasa kek udah diboncengin sama pembalap sekelas Valentino Rossi tau, yang ada gue kenyang makan angin hahaha...!"
"Ah bisa aja kamu Vi, btw kita langsung masuk aja kedalam. Kayaknya Maba yang datang belum terlalu banyak, jadi kita ngga perlu nunggu lama deh untuk verivikasi berkasnya," Sahut Rara dengan penuh semangat
"Oke Ra ! Sapiiiii Go......!" Vivi menirukan gaya Rajoo disinetron Upin dan Ipin sambil menarik tangan Rara masuk ke gedung registrasi.
Rara pun hanya tertawa kecil melihat tingkah lucu sahabatnya itu yang suka sekali nonton serial kartun Upin dan Ipin favoritnya.
Sementara itu Dimas pun juga sudah sampai dikampusnya. Ia langsung memarkir mobilnya di Dekat lapangan basket supaya dia lebih mudah untuk mengambil baju gantinya saat akan bermain basket.
Tak lama kemudian Dua sahabat dekatnya Rizky dan Bima pun menghampirinya.
"Dimas, tadi pak WD 1 (Wakil Dekan) memanggil kita bertiga keruanganya !,"
"Kenapa tiba-tiba Pak WD 1 manggil kita bertiga ?" Tanya Dimas penasaran
"Kayaknya ini ada hubungannya dengan persiapan penerimaan mahasiswa baru bulan ini !," Sahut Bima
"Duh Gue sebenernya malas jadi panitia Penerimaan mahasiswa baru lagi, Gue eneg lihat muka Maba yang susah banget diatur !," Gerutu Dimas sambil berjalan keruangan WD 1
"Tapi kita nggak mungkin kan nolak permintaan Pak Rio, secara dia itu adalah salah satu Dosen yang pro banget sama kegiatan organisasi di fakultas kita. Kalau kita menolaknya, dia bisa-bisa menghentikan semua aktivitas organisasi kita," Terang Riski
"Okelah, terserah kalian saja. Gue ngikut bagaimana keputusan kalian saja," Mereka bertiga pun masuk kedalam Ruangan Pak Rio yang seorang Wakil Dekan yang sangat dihormati di kampus.
Ternyata benar dugaan Bima, ternyata Pak Rio benar-benar menyuruh mereka bertiga untuk jadi Ketua Inti dalam rangka penyambutan mahasiswa baru dan juga pengenalan lingkungan kampus yang akan berlangsung selama 1 pekan sebelum kuliah perdana dimulai.
"Bapak sengaja memilih kalian, karna kalian adalah para mahasiswa yang patut menjadi teladan untuk junior kalian nantinya. Kalau bergabung di organisasi itu tidak akan mempengaruhi nilai akademik seseorang, justru hal itu bisa menjadi poin plus seorang mahasiswa untuk lebih berprestasi lagi seperti kalian ini," Puji Pak Rio
"Terimakasih banyak Pak atas pujiannya, kalau begitu kami bertiga kekelas dulu pak," Bima pun mulai pamit undur diri bersama kedua rekannya.
"Yes, gue seneng banget bisa jadi panitia lagi tahun ini. Kita bisa modusin lagi Maba yang masih polos dan lugu-lugunya untuk dikerjain !" Rezky nampak sangat senang sekali
"Emang dasar otak loh nggak beres, beruntung kalau mabanya mau nurut sama kita. Lah kalau mabanya keras kepala sama susah diatur kan kita juga yang kewalahan brow," Gerutu Bima
Lain halnya dengan Dimas, dia tak mau ambil pusing hal itu. Dia hanya terus kepikiran rencana perjodohan dari orang tuanya.
"Duh bagaimana kalau wanita yang dijodohkan sama mama dan papa itu adalah perawan tua, atau Tante-tante girang. Deh kelar hidup gue, jangan sampai ya Allah. Maafkan Dimas kalau sudah banyak dosa," Batin Dimas dengan cemas sambil mengusir pikiran kotornya
Mereka bertiga pun masuk ke kelas mereka masing-masing untuk mengikuti jadwal perkuliahan yang akan berlangsung.
Sementara itu Rara dan Vina sudah selesai menyerahkan berkas untuk tahap registrasi di panitia Verifikasi kampus.
Mereka pun diberikan surat panggilan untuk tahap seleksi berikutnya yaitu tahap wawancara dan penentuan pembayaran uang kuliah tunggal atau yang biasa dikenal mahasiswa dengan singkatan UKT.
"Ra gue benar-benar nggak nyangka bisa kuliah dikampus kebanggaan almamater kuning ini. Secara gitu, otak gue pas-pasan banget nggak kayak loh yang memang sudah dari Sononya encer banget," Celoteh Vivi dengan ekspresi tidak percaya
"Duh Vivi sayang, kita ini sama-sama bersyukur bisa masuk Universitas impian kita lewat jalur SNMPTN, jadi menurut gue kita itu hanya beruntung saja wkwk," Canda Rara
"Ra, Gue haus nih cari minum dulu deh. Tuh disana ada kantin, sekalian kita jalan-jalan melihat calon tempat nongkrong kita nantinya pas udah kuliah perdana," Vivi menunjuk sebuah kantin yang berada di dekat taman fakultas.
" Okedeh gue juga laper nih, sekalian kita beli makanan dulu deh",
Rara dan Vivi pun segera kekantin dan membeli beberapa minuman dingin dan burger lalu membawanya ke bangku yang ada didekat taman baca kampus.
"Wah nih kampus view-nya keren banget, kayaknya gue bakalan betah kuliah disini deh," sahut Rara yang melihat ke area sekelilingnya
"Bener Ra, tempatnya keren dan banyak bangku untuk membaca buku cocok banget sama si kutu buku seperti kamu," Vivi menambahkan
Sementara itu Dimas dan kedua sahabatnya sudah selesai kelas, merekapun memutuskan untuk makan bareng dikantin andalan mereka.
"Brow mau makan apa ?" Tanya Bima
"Apa aja, terserah loh !" sahut Dimas
"Heleh jawaban macam apa itu, kalau gue mau makan batu ! emang loh juga mau ikutan makan. Maksud gue sebutin kek menunya gitu, jangan kek cewek kalau diajak makan bawaannya bilang terserah loh. Ujung-ujungnya banyak protes," Bima terlihat kesal pada Dimas, dia sudah berpengalaman menghadapi Dimas yang super cuek itu.
"Ya sudah gue pergi pesan sendiri aja, kalian tunggu gue disini !," Dimas beranjak dari tempat duduknya untuk pergi memesan makanan soto ayam Lamongan Vaforitnya
"Mba gue mesen menu yang ini, nanti dibawain ke meja sebelah sana," Dimas menunjuk ke meja tempat Bima dan Rizky sedang duduk
Saat hendak kembali ke tempat duduknya, Dimas tidak sengaja menemukan buronan yang dia cari. Mereka tampak asyik memakan makananya sambil memainkan ponselnya di bangku dekat taman baca.
"Akhirnya mangsa yang gue cari mengantarkan dirinya sendiri kekandangnya," Dimas pun tersenyum licik sambil mengendap-endap ke arah mereka hendak menangkapnya.
Haap.........
Dimas langsung merebut ponsel yang dipegangnya hingga membuat ponsel itu melayang keatas kemudian menangkapnya dengan satu tangan sambil mengejutkan mereka.
"Eh balikin ponsel gu....e," Rara berteriak sambil terbata-bata saat melihat ke arah pria yang merebut ponselnya itu.
"Hei bajingan kecil akhirnya kita bertemu lagi, ternyata dunia sesempit itu yah," Dimas tersenyum kearahnya sambil menatap tajam
"Wah mampus gue, kenapa dia bisa ada disini. Jangan-jangan orang yang tadi berhasil ngikutin gue sampai ke kampus," Batin Rara dengan ekspresi bingung
"Kak balikin ponsel aku dong, itu punya Rara," Ingin merebut ponselnya dari pria tersebut
"Kalau gue nggak mau gimana, siapa suruh kamu cari masalah sama gue," Sahut Pria tersebut sambil meninggikan tanganya hingga Rara terlihat kesulitan meraihnya
"Kak balikin ponsel gue dong, pleasee," Mulai memohon
"Kalau gue nggak mau yang enggak, maksa banget sih,"
"Kak jangan coba cari masalah yah sama aku, kalau nggak mau balikin aku teriak nih," Ancam Rara
"Teriak aja sana, gue akan balikin ponsel kamu asalkan kamu mau ganti rugi kerusakan mobil gue dan minta maaf sama gue sekarang !" Pria tersebut memberikan syarat kepada Rara
"Tapi kan mobil kakak cuma lecet dikit doang, lagian aku nggak sengaja nyenggol motor kakak karna buru-buru. Aku nggak mau ganti rugi, lagian aku bukan orang bodoh yang bisa dimanfaatin begitu saja," Mulai berbicara formal karna banyak orang yang menyaksikan perdebatan mereka
"Yaudah kalau nggak mau ganti rugi, lihat ini ponsel kamu yang akan jadi korbannya !",
Wushhhhh.....praang...cretack.....
Ponsel iPh*ne 5s dengan warna pink soft keluaran terbaru milik Rara pun akhirnya melayang di udara kemudian terjung bebas membentur kursi taman dan akhirnya turun menyentuh tanah.
Alhasil ponselnya kini hancur tak terbentuk, layar ponsel retak, softcasenya terlepas hingga membuat ponselnya terbagi menjadi dua bagian yang sudah penyok.
"Innalilahi wa Inna ilaihi Raji'un, Aaaaaaa...ponsel akuuuuu," mengulurkan tangannya hendak menangkap ponselnya namun usahanya hanya sia-sia, ponselnya kini hanya tinggal kenangan saja
"Eh sembarang banget kalau ngomong, kamu kira gue meninggal apa !, Teriak pria itu karna kaget mendengar ucapan Rara
"Bukan kakak yang meninggal tapi ponsel aku. Anda Benar-benar jahat, apa salah ponsel itu sama kakak hingga membuatnya berakhir tragis seperti itu," Mata Rara mulai berkaca-kaca
"Ini semua kamu yang mulai duluan, siapa suruh nggak mau ganti rugi kerusakan mobil gue. Jadi sekarang kita impas," Menjawab tampa rasa bersalah
"Asal kakak tau, aku harus nabung selama tiga tahun dan nyisihin sebagian uang jajan aku untuk membeli ponsel ini. Teganya kakak merusaknya sampai seperti ini Hiks...hiks...hiks..." Rara pun menangis sesegukan sambil memungut ponselnya yang berserakan di tanah
"Ra udah jangan nangis lagi, malu tau diliatin banyak orang. Mana kita bukan anak sini lagi," Vivi mulai menenangkan Rara
"Ah bodo amat, aku nggak peduli mereka liatin aku atau nggak. Intinya aku mau ponsel aku diganti dengan yang sama persis dengan merk, bentuk dan warna yang sama dengan ponsel aku yang rusak ini," Berteriak ke arah Pria yang telah merusak ponselnya
"Idih udah gede masih aja nangis kayak anak kecil. Jangan mimpi gue mau gantiin ponsel kamu yang rusak itu, kamu juga nggak usah ganti mobil aku yang kegores jadi sekarang kita impas kan !,"
"Udah gue mau pergi, sampai ketemu lagi gadis cengeng!," Berbalik meninggalkan Rara dan sahabatnya dengan senyum penuh kemenangan
"Awas aja kamu, aku pasti akan memberikan kamu pelajaran sudah membuat ponselku seperti ini," Teriak Rara
"Silahkan, bodoh amat gue ngga peduli," Pria tersebut hanya menjawab Rara sambil terus berjalan meninggalkannya
"Dasar pria jahat, kejam dan egois. Tunggu saja, pasti suatu saat kamu akan mendapatkan karma dari perbuatanmu ini. Maafkan aku ponsel udah nggak bisa nolongin dan hidupin kamu lagi Hiks... hiks...," Masih menangis
"Ra mendingan kita pulang saja, semoga nantinya kamu mendapatkan ganti ponsel yang lebih Bagus daripada ini," Sahut Vivi mengajak Rara pulang karna mereka berdua sudah jadi pusat perhatian sama mahasiswa lainnya.
Mereka berdua pun segera pulang dari kampusnya dengan perasaan sedih.
... ~ Bersambung ~...
Jangan lupa like, vote dan komentar untuk dukung terus karya aku agar rajin update. Happy Reading ❣️
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 87 Episodes
Comments
Cherry
gila nih Dimas
2021-11-07
1
Rini Sarmilah
Ok sudah mampir ayo kita saling mendukung 🥰🙏🏻
2021-09-10
0
Entin Fatkurina
lanjut lanjut lanjut lanjut lanjut lanjut lanjut lanjut
2021-09-09
3