Dinar dan Kenzo telah sampai di rumah sakit, Dinar segera mencari ruangan putrinya di rawat. Hatinya masih tak tenang jika tak melihat langsung keadaan putrinya, rasa khawatir dan takut masih menyelimuti nya. Dinar pun bertanya pada salah satu perawat.
"Maaf Sus dimana ruangan pasien bernama Karla Louisa?." tanya Dinar dengan nada cemas, Kenzo juga merasa cemas namun dia lebih menutupinya.
"Ohh mari tuan, nona saya antar." Mereka pun pergi ke ruangan dimana Karla di rawat. Arsya dan Aryan sudah pergi dari rumah sakit, sehingga Dinar tak tahu jika mereka telah menolong Karla. Perawat itu mengantar nya sampai ke ruangan Karla.
"Bunda..... " panggil Katrin yang sedang menunggu di luar ruangan Karla, karena belum boleh ada yang masuk ke ruangan Karla.
"Sayang.... " Katrin pun langsung memeluk erat Dinar, Dinar menyetarakan dirinya dengan tubuh kecil Katrin. Kenzo hanya tersenyum melihat jika Katrin baik-baik saja.
Dinar merasakan jika tubuh putrinya bergetar menandakan jika, Katrin sedang menangis di dalam pelukannya. Dinar tahu jika Katrin begitu sedih melihat saudara kembarnya terbaring lemah di atas brankar.
"Sayang... jangan menangis, Karla pasti baik-baik saja." Dinar mencoba memenangkan putrinya. Katrin pun melepas pelukan bundanya dan menatap bundanya dengan mata yang sudah basah.
"Bunda.... maafkan Katrin, ini semua terjadi karena Katrin hiks..... hiks.... hiks.... " ucapnya sambil menangis, membuat Dinar tak tega melihat putrinya menangis.
"Sayang ini bukan salah kamu sudah jangan menangis lagi, lebih baik kita doakan kakak agar cepat sembuh."Dinar mengusap air mata Katrin yang sudah membasahi pipinya. Kenzo pun ikut menekuk lututnya di depan Katrin agar dia bisa ikut menghibur.
"Iya manis jangan sedih lagi ok.... Karla pasti kuat, dia pasti akan segera sembuh." Katrin tak begitu menyukai Kenzo meskipun dia sering membantu bundanya, tapi itu tak merubah apapun karena Kenzo bisa merusak rencana mereka berdua untuk menyatukan kedua orang tuanya.
"Iya bunda Katrin tak akan menangis lagi, kita akan do'akan kakak agar baik-baik saja."ujarnya dan mengusap air matanya. Dinar hanya bisa melihat Karla di balik jendela ruangan rawat Karla, hatinya sakit melihat keadaan putrinya yang terbaring lemah, yang biasanya dia melihat Karla dengan wajah datarnya, namun penuh kehangatan.
"Bunda kapan kakak sadar? aku sangat rindu dengan kakak." Katrin yang berada di sebelah Dinar juga masih setia melihat keadaan kakaknya.
Dinar mengusap air matanya yang tanpa dia sadari telah menetes, dia memandang Katrin dan tersenyum.
"Sebentar lagi pasti kakak sadar." ucapnya meyakinkan. Sementara Kenzo hanya diam mendengarkan perbincangan keduanya, dengan matanya yang masih menatap Karla.
"Semoga cepat sadar manis.... jangan buat bunda dan saudara kembarmu khawatir."batin Kenzo berharap Karla cepat sadar. Dinar duduk dengan memangku Katrin, mereka menunggu di dana sampai Karla sadar, Dinar belum bertanya pada Katrin siapa yang menolong Karla, karena kini yang di pikirannya hanyalah Karla.
💕💖💕💖💕💖💕
Arsya sudah berada di bandara beberapa menit lalu, tinggal menunggu penerbangan yang akan berlangsung ssetengah jam lagi, Aryan sudah menjadwalkan penerbangan Arsya setelah tadi dia mengundurkan jadwalnya. Setelah menunggu sekitar setengah jam, pesawat mereka pun lepas landas, mungkin besok pagi mereka akan mendarat di Indonesia.
"Setelah dari sini langsung pergi ke rumah sakit untuk memastikan semuanya, kau berikan sempel itu pada Hayfa biarkan dia yang mengurusnya." titah Arsya, yang ingin segera mengetahui siapa kedua bocah kembar imut itu.
"Baik tuan."
Beberapa jam kemudian Arsya telah sampai di bandara, sopir dari keduanya utama telah menjemputnya, sesuai dengan perintah Arsya, Arsya langsung pergi ke mansion Hayfa untuk segera memberika sempel rambut Katrin dan juga Arsya, untuk melakukan tes DNA.
"Kenapa nona Hayfa? pasti nanti dia curiga, jika tuan Arsya sudah punya anak, aduh bagaimana ini? di tambah nona Hayfa juga menyukai tuan Arsya." Aryan tak bisa melakukan tes DNA pada Hayfa, dia tahu persis jika Hayfa sangat mencintai Arsya, hanya saja Arsya tak pernah menggubris nya, tapi tetap saja itu akan mempersulit semuanya.
"Baik hanya kali ini aku tak menuruti perintah mu tuan, maafkan aku..... aku akan melakukan tes DNA pada dokter lain yang lebih terpercaya." ucapnya bermonolog sendiri, Aryan memutuskan untuk mencari dokter lain.
Aryan sudah sampai di kediaman keluarga Azhar, ibu dan ayahnya sudah menyambut kepulangan putra kesayangannya dengan penuh kehangatan. Arsya berjalan dengan penuh wibawa dengan wajah tampannya.
"Sayang kamu kembali juga." ucapnya dan memeluk tubuh putranya.
"Iya aku pulang." jawabnya datar dan memaksa pelukan ibunya.
"Bagaimana kabarmu?." tanya ayahnya yang berada di sebelah istrinya.
"Aku baik ayah.... bagaimana denganmu?." tanyanya balik, namun masih dengan wajah datar, mambuat Devan muak dengan wajah datar putranya.
"Seperti yang kamu lihat." jawabnya ketus, namun Arsya tak peduli, membuatnya semakin kesal. Mereka memasuki mansion baik istana tersebut.
Kini mereka sedang berada di ruang pribadi keluarga Azhar, karena akan ada pembicaraan penting, dan Arsya langsung menurut karena masih hanya yang harus dia lakukan.
"Sebenarnya ada apa Mamah menyuruhku pulang? padahal proyek Arsya belum selesai di Jepang." tanya Arsya to the poin.
"Ada hal penting yang ingin kami bicarakan padamu nak.... ini masalah pernikahan." Haya sudah tak bisa membiarkan Arsya hidup sendiri tanpa pendamping.
Arsya memutar bola matanya malas, dia tahu jika kedua orang tuanya selalu bersikeras ingin menikahkan Arsya, mengingat kini dia sudah berkepala tiga, dan sudah tak pantas melajang.
"Iya nak.... ayah juga ingin melihat kamu menikah, dan bahagia bersama keluarga kecilmu. " tambah Devan yang juga mendambakan seorang menantu dari anak bungsu nya, meskipun ada Dafa tapi tetap saja Arsya adalah anak bungsu karena Dafa hanyalah putra angkat, tapi walau begitu Devan juga sangat menyayangi Dafa seperti putranya sendiri.
"Huft.... jadi kalian ingin aku bagaimana?." tanya Arsya yang sudah muak dengan permintaan kedua orang tuanya, karena Arsya masih setia menunggu wanita delapan tahun silam, yang membuatnya selalu memikirkan dirinya.
"Mamah akan menjodohkan kamu dengan rekan mamah, kamu pasti akan setuju."Arsya membelalakan matanya tak percaya jika ibunya akan menjodohkannya.
"Apa?! tidak Mah.... Arsya tak mau di jodohkan, pasti bukan kriteriaku." pekiknya.
"Kamu harus mau, jika kamu menolak maka ayah akan memaksamu menikahinya." tegas Devan yang tak mau mendengar penolakan Arsya.
"Tapi Yah..... Arsya... "
"Tak ada tapi-tapian, kamu harus setuju." potong nya agar Arsya tak berbicara lagi. Arsya pun berfikir, dia akan menyetujuinya jika di izinkan bertemu dulu dengan siapa calonnya. Arsya menghela nafas dia tak mungkin bisa menolak apalagi ayahnya yang memintanya.
"Baik... Arsya setuju, tapi besok aku harus bertemu dengannya hanya berdua saja, karena kau ingin lihat siapa calon yang pantas menjadi menantu keluarga Azhar." keputusan Arsya sudah bulat, dia ingin lihat sendiri siapa yang aja di jodohkan dengannya.
Haya berbinar dengan keputusan Arsya, akhirnya dia mau di jodohkan dengan wanita pilihannya.
"Terima kasih sayang." ucapnya dengan senang.
"Tapi ada syaratnya, Arsya tidak mau langsung menikah, jadi tunggu sampai dua bulan, jika Arsya yakin dengan dia maka Arsya akan menikahinya, tapi jika tidak cocok maka aku tidak mau menikah dengannya." pintanya lagi, membuat Haya kesal.
"Dua bulan? lama sekali nak.... mamah maunya sebulan." tolak Haya, dia tak mau menunggu lama.
"Jika mamah tak mau ya sudah, Arsya tak akan menikah." tegasnya, dia tak mau jika harus menuruti kemauan mamah nya. Haya pun mengalah dan menyetujui persyaratan dari putranya.
"Baiklah Mamah setuju." singkatnya dengan raut wajah yang sudah di tekuk. Devan pun tak bisa mengganggu gugat syarat dari putranya, keputusannya sudah benar, agar nantinya Arsya tak salah dalam memilih pasangan.
Sebenarnya Arsya tak yakin dengan wanita yang akan di jodohkan padanya, dia harus lebih waspada karena zaman sekarang banyak wanita yang hanya menginginkan uang, bahkan bisa sampai melakukan hal kotor, oleh karenanya dia meminta waktu dua bulan sampai Arsya bisa menemukan dan membuktikan gadis delapan tahun silam, dan akan dia bawa sebagai calon istrinya.
"Ya sudah Arsya pamit ke kamar mau istirahat." pamitnya tanpa menunggu jawaban dari orang tuanya, Arsya pergi begitu saja membuat Haya semakin geram.
"Dasar anak tak tahu diri. " gerutunya mengumpati Arsya.
"Sudahlah mah apa yang dikatakan Arsya benar, memangnya mamah mau dapet menantu yang sifatnya jelek? gak kan?." Devan berusaha menenangkan Haya yang kenal dengan sikap tak peduli Arsya.
"Bela terus tuh anaknya, dasar ayah sama anak sama saja." kesalnya dan meninggalkan Devan sendiri, Devan hanya menggelengkan kepalanya dengan tingkah istrinya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 137 Episodes
Comments
Qaisaa Nazarudin
Harusnya Arsya jangan setuju dulu,Test DNA aja belum di bikin,Ntar kalo ternyata dia anak kamu gimana??ckk
2024-03-26
0
Dewi Kijang
thoor bikin cepet sadar ys
2022-10-09
0
Shafira Asri
mohon di perhatiin tiponya thor...pusing aneee!!
2021-10-16
2