Karla membawa pulang Katrin dia kasihan melihat Katrin mengeluh kesakitan di bagian keningnya.
"Apa masih sakit?." Tanya Karla khawatir, jika menyangkut adiknya dia tak akan segan untuk membalas mereka yang telah menyakiti nya.
"Sedikit, tapi kakak tak usah cemas." ucapnya agar Karla tak khawatir.
"Apa kita akan menjalankan rencana kita sekarang kak?."
"Tidak Katrin, kesehatanmu lebih penting kita akan menjalankan misi setelah kamu membaik, apa kau mengerti. "
Katrin mengangguk mengerti, mereka pun pulang lebih awal untuk mengobati luka Katrin. Sesampainya di rumah Karla menyuruh Katrin untuk langsung ke kamar, sedangkan dia mengambil air hangat dan kotak P3K untuk mengobati luka adiknya.
Karla masuk ke kamar Katrin yang berada di sebelah kamarnya, kamar mereka terpisah karena mereka yang menginginkan hal itu.
"Aku akan mengobati mu dulu." Karla duduk di sebelah Katrin, Karla membersihkan dengan perlahan kening Katrin dengan air hangat.
"Awww... " pekiknya, rasa perih dan nyeri mendominasi jadi satu.
"Apakah sangat sakit?." Karla menjadi tak tega mendengar rintihan kecil Katrin.
"Nggak cuma perih aja kak, ya udah lanjutin aja."
Dia mengoleskan antiseptik ke bagian lukanya dan setelah itu memberi betadine agar tidak infeksi, dan setelah itu membungkus luka Katrin dengan kain kasa dan plaster.
"Beres... " Karla membereskan semuanya.
"Kak apakah Bunda tak akan marah? aku takut bunda akan memarahi kita." tanya Katrin, dia takut akan kena marah oleh sang bunda.
Karla tersenyum dan memandang adiknya, dia tahu jika Katrin sangat takut jika sang bunda marah pada mereka.
"Jangan takut, nanti kakak yang akan menjelaskan semua pada bunda, pasti bunda tak akan memarahi kita, ya sudah ganti pakaianmu setelah itu istirahat." ucapnya dengan bijak, di umurnya yang baru menginjak tujuh tahun tapi pemikirannya sangatlah dewasa.
"Iya kak makasih.... aku sayang kakak." tuturnya berterima kasih. Karla pun keluar dari kamar dan tersenyum sebelum menutup kamar Katrin.
"Terima kasih Kak, kakak selalu menjagaku dengan baik, aku sangat menyayangi mu kak...aku tak akan kuat jika kau terluka, semoga Tuhan selalu melindungimu seperti halnya kau selalu melindungiku." batinnya menatap pintu kamarnya.
💕💖💕💖💕💖💕
Arsya mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi membuat pengguna jalan banyak yang mengumpatinya dengan sumpah serapah mereka, namun Arsya tak mengidahkan mereka.
Kini dia berada jauh dari jalanan, dia memarkirkan mobilnya jauh dari lokasi yang dia tuju, karena tak ada yang tahu akan kedatangannya. Dia jalan perlahan agar pergerakannya tak di ketahui siapapun, jarak lokasi dan tempat dia kini hanya berjarak sekitar seratus meter, Arsya mendekat dan bersembunyi di balik pohon untuk memastikan keadaan.
"Brengsek mereka memang licik, baiklah karena mereka telah berani mengusik ketenangan adikku kini saatnya bermain." ucapnya dengan smirk iblisnya. Jiwa psikopatnya telah bangkit bagaikan arwah gentayangan yang sangat menyeramkan.
Dengan santai dia berjalan dengan sangat gagah dan angkuh, di tambah tatapan tajam dengan rahang tegasnya membuat siapa saja yang melihat itu akan bergidik ngeri. Mereka yang melihat seseorang datang, semua mata tertuju padanya, ada yang memandang remeh karena Arsya datang seorang diri, ada pula yang memandang takut akibat tatapan membunuh Arsya yang menusuk.
Jumlah mereka lumayan banyak, markas dari adik angkatnya sudah di porak-poranda kan karena serangan mereka mendadak bahkan mereka tak menyadarinya, hingga mereka kalah telak, para mafioso adiknya hanya bisa mengalahkan sebagian dari mereka.
"Dafa kau benar-benar membuatku repot.... " decihnya karena sekali lagi membuat dia repot.
Dafa yang mendengar sang kakak datang pun senang akhirnya mafianya bisa terselamatkan, Dafa sudah babak belur dia sudah di jatuhkan oleh musuhnya membuat harga dirinya jatuh sebagai leader mafia, oleh karenanya dia diam-diam menelpon Arsya.
"Akhirnya dia datang juga, Demon King telah tiba." Dafa bernafas lega sampai-sampai dia menyebut julukannya.
Dengan gerakan cepat dan gesit Arsya menyerang pasukan musuh tanpa aba-aba, dan serangannya langsung mengenai sang ketua dari mafia musuh adiknya. Semua orang membelalakan matanya tak percaya Arsya mengenai target yang tepat sasaran.
Dia pun bangkit dari jatuhnya, dengan hidung yang sudah mengeluarkan darah segar, dia mengusap kasar belum pernah ada orang berani menyerangnya secara langsung.
"Apa yang kalian lihat hah....!! cepat serang dia. " titahnya dengan berteriak, mereka semua pun menyerang Arsya ramai-ramai.
Namun dengan gerakan cepat dia mengambil pistol yang sudah dia siapkan selalu di jasnya, dia menembak dengan tepat sasaran. Karena pelurunya habis dia pun melempar pistol nya yang sudah tak berguna.
"Ck... menyebalkan sedang asyik bermain malah seperti ini, ok kita akan beradu otot sebentar." Arsya merenggangkan ototnya dan melepaskan jasnya menyisakan kemeja putihnya.
Lawan Arsya jumlahnya masih banyak, melihat hal itu Dafa pun bangkit dari duduknya sambil menahan sakit di wajahnya yang sudah berlumur darah dan juga luka lebam, dia pun bersama para bawahannya yang tak terluka parah ikut membantu Arsya.
Terjadilah baku hantam di antara kedua mafia tersebut dan pindah pimpinan menjadi Arsya sebagai ketuanya. Arsya menghabisi pasukan musuh dengan sangat brutal dan harus akan darah, yang hanya di pikirannya adalah membunuh tanpa ampun.
Bugh....
Bugh....
Krak....
Bruk.....
Arsya menjatuhkan musuh hingga ada yang mengalami patah tulang, akibat smakedown yang Arsya lakukan di membanting musuhnya dengan keras bagaikan orang yang sedang panen padi.
Dafa dan yang lainnya juga melumpuhkan sebagian dari mereka dan tersisa lah beberapa tangan kanan dan orang yang memiliki tubuh besar dak kekar serta sang leader mafia.
"Wah kak kau hebat.... bunuh mereka tanpa ampun kak... " puji Dafa, namun tak di hiraukan oleh Arsya, dia masih sibuk dengan permainannya.
"Fokuslah.... " singkatnya dengan wajah dinginnya, membuat Dafa kesal. Dalam waktu sekejap mereka berhasil melumpuhkan semuanya dan tersisa lah wakil mafia dan juga leadernya.
"Ini yang kau bilang mafia terbaik." ejek Arsya sambil tersenyum iblis.
"Aku akan menguliti semua pasukanmu di sini, di depan matamu secara live, ok aku akan mulai dalam hitungan tiga, dan setelah itu giliran kalian berdua." jiwa psikopat akutnya pun di aktifkan.
"Dafa suruh orang untuk menyiapkan alat untuk menyiksa mereka berdua di tempat penyiksaan." titahnya.
"Kak jangan bilang kau.... "
"Sudah turuti saja apa mauku." tegasnya memotong ucapan Dafa, Dafa menghela nafas panjang, Dafa tahu jika kakanya akan berbuat hal yang di luar akalnya.
"Baiklah terserah kau saja." Dafa menyuruh bawahannya untuk menyiapkan semua yang di butuhkan seperti biasa dan menelfon beberapa bawahan dari markas yang lain, untuk membantu membersihkan semuanya setelah kakanya selesai. Dafa sudah melihat seberapa kejamnya seorang Arsya bahkan di dunia hitam meskipun dia bukanlah seorang mafia, dia sangatlah populer dan di beri julukan Demon King yang artinya raja iblis.
Dafa sudah menjadi saksi kekejaman Arsya, bahkan ini bukanlah kali pertama dia melihat penyiksaan kakaknya kepada para manusia yang sengaja mengganggu ketenangan dari keluarganya, ini adalah yang ke sekian kalinya dia melihat hal tersebut.
"Dia memang gila darah.... oh ya ampun dia sungguh psikopat tidak waras menyiksa yang sedang sekarat." gumamnya mengumpat tidak jelas kepada Arsya yang benar-benar sudah miring otaknya.
Arsya mencari orang yang masih bernafas untuk dia bunuh secara sadis dan tidak manusiawi, bagaikan binatang yang menjijikan.
"Wah ternyata masih banyak yang masih bernafas, baik kita mulai dari sini. " Arsya mengeluarkan belati kecil super tajamnya, dia mulai menguliti mereka memiliki satu persatu tanpa terlewat, suara rintihan serta teriakan kesakitan memenuhi markas yang kini sudah di penuhi darah.
Kemeja Arsya pun sudah berubah warna akibat dari cipratan darah dari mereka, hingga dia selesai menguliti mereka hingga tubuh mereka sudah di penuhi warna merah kental bau amis mulia menyeruak, membuat beberapa orang merasakan mual.
Dan terakhir Arsya mengambil katana dan menebas kepala mereka satu persatu, membuat wakil dan leader mafia nya terdiam menyaksikan kehancuran dari mafiosonya sendiri. Arsya membantai semua yang masih bernafas tanpa ampun.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 137 Episodes
Comments
Qaisaa Nazarudin
Sifat Arsya menurun ke Carla..
2024-03-26
0
Mocca
seruuuu, aq syukaaaa
2022-02-12
0
Elazmi Puji
sama adik angkatnya aja Arsya sayang bgt...ga sabar Arsya ketemu sama 2 princess nya
2022-02-03
2