Sore harinya Dinar pulang dari kantor dan seperti biasa Dania ikut ke rumah, Dinar tak melihat kedua putrinya menyambut seperti biasa.
"Karla.... Katrin... " panggilnya sambil melepaskan sepatu di susul dengan Dania.
"Dimana mereka?."
"Mungkin mereka sedang di kamar." Dania dan Dinar pun menuju kamar si kembar.
"Aku sudah mengganti perban nya agar tak infeksi." ucap Karla setelah selesai mengganti perban sang adik. Dinar membuka pintu dengan cepat setelah mendengar tutur Karla.
"Katrin ada apa sayang?." Dinar pun langsung melihat keadaan Katrin, sedangkan Karla sedang membereskan kotak P3K dan juga air hangat.
Dania membantu Karla membereskan semuanya, setelah itu ikut melihat keadaan Katrin.
"Sayang kenapa bisa seperti ini? Karla kenapa adikmu bisa terluka?." Dinar pun sangat khawatir karena Katrin terluka. Karla pun duduk di sebelah Katrin yang sedang berbaring.
"Ceritanya panjang bunda." Karla menghela nafas.
"Sebentar aku periksa dulu." Dania pun memeriksa keadaan Katrin takut ada luka serius.
"Kamu tenang Dinar putrimu baik-baik saja dia hanya terbentur dan tak ada luka serius." jelas Dania yang memeriksa keadaan Katrin. Dinar bernafas lega saat dia tahu jika Katrin tak papa.
"Jelaskan sayang kenapa adikmu bisa terluka?." Karla pun menceritakan semuanya pada bundanya.
Dinar meneteskan air matanya, dia tak rela jika ada yang melukai putrinya, dia pun memeluk Katrin dan juga Karla, hatinya sakit melihat anaknya jadi korban bullyan.
"Bunda jangan menangis.... aku tidak apa-apa." ucap Katrin yang mendengar isakan tangis ibunya.
"Iya bunda Karla akan menjaga Katrin dengan baik, maaf karena Karla, Katrin jadi terluka." Karla merasa bersalah karena tak hisap menjaga adiknya dengan baik.
Dinar melepas pelukannya dan mengusap air matanya, Dani juga ikut duduk di dekat kedua anak perempuan itu.
"Sayang kamu gak boleh bilang begitu, harusnya bunda yang minta maaf karena tak bisa menjaga kalian berdua." ucapnya dengan air mata yang menetes. Seorang ibu tak akan tega melihat anaknya di lukai.
"Bunda tak perlu meminta maaf, kami yang salah maafkan kami." mereka menundukkan kepala, mereka tak tega melihat bundanya menangis. Dania menjadi terharu mendengar semua itu, tanpa terasa air matanya ikut menetes namun dengan cepat di ucapnya.
Karla dan Katrin mengusap air mata bunda nya lembut dan penuh kasih sayang.
"Bunda kami janji tak akan membuat bunda menangis lagi, dan kami janji akan menjaga diri kami baik-baik agar bunda tak khawatir." ucap mereka berdua bergantian membuat Dinar semakin bersedih.
Dia pun memeluk erat lagi kedua putrinya, menahan tangis agar mereka berdua tak merasa bersalah.
"Tidak sayang bunda tak akan menangis lagi." ucapnya dan melepas pelukannya.
"Ya sudah kalian berdua juga jangan nangis lagi ya... " hibur Dania agar mereka tak bersedih lagi, Dinar mengusap air matanya.
"Ayo kita ke bawah bunda akan masak makanan kesukaan kalian." Dinar pun mengajak kedua putrinya agar mereka melupakan kejadiannya.
Mereka mengusap air matanya dan langsung tersenyum bersemangat, seketika melupakan semuanya. Mereka pun turun dan menyiapkan makan malam dan makan bersama. Setelah selesai Karla dan Katrin pergi ke kamarnya untuk beristirahat, sedangka Dinar dan Dania duduk menikmati malam terang dengan mengobrol menghilangkan penat.
"Apa kamu tidak ingin mempertemukan mereka dengan ayahnya?." tanya Dania membuka pembicaraan.
"Aku tak bisa Nia.... mereka adalah permata hatiku, aku bahkan tak berfikir ingin mempertemukan mereka dengan ayahnya."
"Tapi Nar .... mereka juga harus tahu siapa ayah. mereka, apa kamu tidak kasihan?."
"Aku kasihan pada mereka Nia... tapi aku tak bisa memberikan nya begitu saja, yang aku takutkan adalah dia tak mau mengakui kalau mereka adalah putrinya. " Dinar takut jika Arsya tak mau mengakui mereka, dia juga khawatir kalau Arsya akan membenci Karla dan Katrin.
"Iya aku tahu yang kamu khawatir kan, tapi mereka juga butuh ayahnya, mereka butuh kasih sayang Dinar, tak ada salahnya mencoba."
"Sampai kapanpun aku tak akan mencobanya, aku tak mau mereka terluka karena ayahnya tak mau mengakuinya." Dinar tetap kekekuh dengan prinsipnya dia tak bisa melihat Karla dan Katrin kecewa jika sang ayah tak mau mengakuinya.
"Tolong beri waktu untuk aku memikirkan hal itu Nia, aku mohon." pintanya agar Dania tak memaksanya.
"Baiklah.... tapi pikirkanlah dengan bijak dan jangan karena egomu, karena itu akan menyakiti banyak pihak." nasihatnya Dania tak mau jika Dinar mengambil keputusan yang salah.
"Iya aku akan mencobanya." Tanpa di sadari mereka, Karla dan Katrin mendengar semua pembicaraan Dinar dan Dania, Katrin nampak lesu di saat bundanya tak ingin mempertemukan mereka dengan ayahnya.
Karla hanya memasang wajah datarnya seperti biasa seakan tak peduli dengan pembicaraan mereka.
"Kak bagaiamana ini? aku sangat rindu daddy. " keluhnya merka memang sangat merindukan sosok ayah.
"Kita akan tetap menjalankan misi kita, kamu jangan khawatir kita berdoa saja agar bunda memperbolehkan kita bertemu ayah." Karla pun mencoba memenangkan adiknya agar tak khawatir dengan ucapan mereka kedua orang dewasa tersebut.
"Iya kak, kita harus berusaha agar nantinya daddy dan bunda bisa bersatu dan kita juga akan hidup dengan lengkap." mereka hanya bisa berharap suatu saat keluarga mereka akan bersatu dan bahagia bersama. Karla tersenyum dan mengusap pucuk kepala adiknya, mereka pun masuk ke kamar agar bunda mereka tak curiga jika mereka berdua mendengar percakapan mereka.
💕💖💕💖💕💖💕
Arsya sudah melakukan tugasnya dan membawa adiknya ke rumah sakit, bajunya sudah berlumuran darah, selama tiga bulan dia akan mengerjakan urusan perusahaan sendiri karena Aryan di tugaskan di Jepang untuk mengawasi pembangunan hotel di sana.
Dia bukanlah leader mafia hanya saja dia sering membantu Dafa agar mafia nya berkembang, Arsya lebih suka mengurus perusahaan dan menghabiskan waktu di sana, dia memang suka membunuh tapi tak suka masuk dunia hitam, alhasil sang ayah memberikan dan mewariskan mafia nya pada Dafa anak angkatnya bukan karena pilih kasih, tapi itu yang di inginkan Arsya, dan Dafa pun dengan senang hati mengurus mafia ayahnya.
Sedangkan kakak kandung Arsya sudah memiliki perusahaan sendiri, dia juga sudah berumah tangga dan tinggal jauh dari keluarganya. Ayahnya memang mantan leader mafia, tapi karena sudah pensiun dia digantikan oleh Dafa.
"Kenapa dia selalu ceroboh jika menyangkut keamanan markas? dasar tak bisa di andalkan." kesal Arsya, dia bahkan belum beristirahat sepulang dari Jepang dan malah
membantu adiknya berolahraga otot.
Sampailah dia di mansion mewah miliknya, dia hanya tinggal seorang diri dan hanya ada pelayan dan para penjaga yang menemaninya. Di pikirannya tak berniat ingin menikah, yang dia ingin adalah menikahi gadis yang pernah dia tolong itulah yang selalu dia tunggu hingga saat ini.
"Beginilah hidup seorang diri tanpa seorang istri." keluhnya sudah lama dia ingin menikmati tubuh wanita, tapi tak pernah ada yang sesuai dengan seleranya, hingga dia selalu bersolo dengan membayangkan wajah cantik Dinar.
Semua sudah dia lakukan untuk mencari keberadaan Dinar, namun selama delapan tahun belum ada hasil, Dinar bagaikan hilang di telan bumi.
Kedua orang tuanya sudah tak sabar ingin melihat putra kesayangannya menikah, namun Arsya tetap tak mau di paksa meski di jodohkan dengan wanita yang cantik dan seksi sekalipun. Entah sampai kapan dia akan terus menunggu.
"Aku tak boleh lelah mencari keberadaannya, aku akan selalu menunggu meski dengan waktu lama sekalipun." gumamnya Arsya tak akan
melepaskan dia yang sudah terikat dengannya.
Meskipun dia tak tahu jika Dinar hamil atau tidak, tapi tetap saja Arsya hanya ingin tubuhnya untuk seseorang yang sudah menyentuhnya pertama kali, dan orang itu adalah Dinar seorang lah yang sudah menyentuhnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 137 Episodes
Comments
Qaisaa Nazarudin
Terlalu berasumsi sendiri, Menurut ku Dinar ini terlalu Egois,Ketemu juga belom dengan bapaknya,Dari mana kamu tau bapaknya gak mau nerima mereka..🤦
2024-03-26
0
Rara Kusumadewi
baik ..banget Arsya....setia sama Dinar meskipun hanya 1 kli bertemu....
2023-06-22
1
Mocca
pria yg punya prinsip
2022-02-12
0