Arsya sudah bersiap untuk kembali ke negara asalnya, karena tiba-tiba saja orang tuanya menghubungi dirinya untuk cepat kembali, hingga akhirnya Arsya menurut pada mereka. Aryan sudah menyiapkan mobil untuk mengantarkan tuannya ke bandara. Namun perasaan tak enak hinggap begitu saja, hatinya terasa akan terjadi sesuatu hal yang buruk.
"Ah mungkin hanya perasaan ku saja." gumamnya namun terdengar jelas oleh Aryan.
"Ada apa tuan?." tanya Aryan
"Tidak, aku hanya merasakan perasaan tak enak." ucapnya.
"Apa anda sakit tuan?." tanya Aryan memastikan lagi.
"Tidak aku baik, sudah kita berangkat sekarang." titahnya, Aryan pun menurut. Mereka melaju menuju bandara menyusuri jalanan ramai Jepang.
Di perjalanan Arsya lebih banyak diam dan hanya memandang keluar kaca mobil, sedangkan Aryan fokus pada jalanan. Mereka sama-sama dalam pikiranya masing-masing, sesekali Aryan melihat tuannya dari kaca spion, di lihat wajah lesu dari Arsya yang tak biasa di lihatnya.
💕💖💕💖💕💖💞
Di sisi lain seperti biasa Karla dan Katrin berangkat ke sekolah Dinar tak bisa mengantarkan keduanya, dan mereka pun berangkat tanpa di antar ibu mereka. Karla dan Katrin bergandengan tangan menyusuri jalan ramai di pagi hari.
"Ayo kak jalannya di percepat,kota bisa terlambat sekolah." rengek Katrin menunggu Karla sedari tadi yang berjalan santai.
"Iya ini juga sudah cepat." jawabnya dengan santai, Karna sangat suka menggoda adiknya, apalagi ketika Katrin mengerucutkan bibirnya membuatnya semakin menggemaskan.
Mereka menyebrang jalan yang cukup ramai, karena kendaraan masih berlalu lalang dengan kesibukan mereka masing-masing. Apalagi kota Jepang temasuk kota tersibuk yang tidak bisa melakukannya dengan santai apalagi dalam hal pekerjaan dan belajar.
Karena keduanya sedang tergesa-gesa dalam menyebrang jalan, hingga tanpa mereka sadari ada mobil yang sedang mengebut ke arah Katrin yang masih tertinggal di belakang Karla. Karla yang menyadari jika adiknya dalam bahaya, dia pun berlari untuk menyelamatkan Katrin. Dengan gerakan cepat Karla berhasil mendorong tubuh Katrin sampai dia terjatuh ke pinggir jalan.
"Katrin awas.....!!. " teriaknya dengan keras sembari mendorong sang adik hingga menjauh dan berhasil lolos dari kecelakaan.
Brukkkk.....
Bersamaan dengan tubuh Katrin yang terjatuh di pinggir jalan, tubuh Karla juga ikut tergeletak di tengah jalan dengan sudah bersimbah darah, ya akhirnya Karla lah yang mengalami kecelakaan demi menyelamatkan Katrin yang sangat dia sayangi. Siku Katrin mengalami lecet hingga dia meringis saat akan berdiri dari jatuhnya.
"Auwww..... " rintihnya dengan memegangi sikunya yang sakit, Katrin belum sadar jika kakaknya sudah tergeletak tak berdaya.
"Heh lihat ada yang kecelakaan." teriak salah satu orang yang melihat tubuh anak kecil yang sudah tak sadarkan diri akibat benturan keras di kepalanya.
Namun seakan angin lalu mereka tak peduli, dan tetap dalam kesibukan mereka, mereka hanya melihat tanpa mau menolong, sedangkan Katrin yang sudah berdiri mencari Karla yang sudah tak ada di sampingnya.
"Kakak di mana ya." Katrin masih mencari sang kakak, namun otaknya mengingat jika ada yang menolong nya dan membuat dia selamat dari kecelakaan.
"Apa jangan-jangan.... tidak itu tidak mungkin.... kakak.... " jerit nya setelah mengingat apa yang terjadi, Katrin berlari ke tempat kecelakaan dimana di sana hanya orang lewat tanpa peduli, Katrin melihat dengan tubuh bergetar nya.
Matanya membuat sempurna, dadanya naik turun melihat saudara kembarnya sudah tergeletak tak berdaya, Katrin mendekati tubuh Karla yang sudah bersimbah darah, jatung nya seakan berhenti berdetak dia tak sanggup untuk melihat keadaan kakaknya yang tak pernah dia bayangkan sebelum nya.
"Ka... kakak.... " ucapnya terbata, dan memeluk tubuh Karla, orang-orang hanya melihat tanpa ada yang tergerak ingin menolong.
Katrin tersadar saat ini kakaknya harus segar mendapat pertolongan pertama agar nyawanya bisa terselamatkan. Katrin berdiri sambil menangis meminta bantuan .
"Tolong bantu saudara saya.... bantu kakak saya tolong." teriaknya sambil terisak, dia tak tahu harus meminta bantuan pada siapa.
Katrin terus berusaha dan mencari bantuan kesana kemari. Hingga dia terpaksa memberhentikan mobil yang sedang melaju sedang, hingga membuat sang supir berhenti mendadak.
"Ada apa? ." tanya Arsya yang ikut merasakan ren dadakan mobil yang di tumpangi nya.
"Maaf tuan ada anak kecil memberhentikan mobil kita, sebentar saya akan melihat dulu." Arsya hanya mengangguk dan fokus kembali pada ponselnya.
Aryan turun dari mobil, dan betapa terkejutnya ternyata anak kecil itu adalah Katrin yang sedang menangis. Katrin langsung menarik tangan Aryan, namun Aryan menahannya, dia masih tak mengerti apa yang di lakukan bocah kecil yang tiba-tiba menarik tangannya.
"Hey... Katrin ada apa? kenapa kamu menangis?, jangan menarik tangan paman." Aryan mencoba melepas tangan Katrin padanya.
"Hiks.... hiks..... hiks.... paman Aryan... kakakku dia... " Tangis Katrin semakin mengeras membuat Aryan semakin bingung. Aryan menekuk lututnya agar bisa mengimbangi tinggi Katrin.
"Ada apa dengan kakakmu?." tanya Aryan yang mulai khawatir akan penuturan Katrin.
"C-cepat paman... ikut aku, kakak kecelakaan tak ada yang mau menolong nya, dia sudah banyak mengeluarkan darah... cepat paman... " ucapnya sambil menangis. Arsya yang mendengar tangisan keras Katrin akhirnya dia juga keluar untuk melihat apa yang terjadi.
"Ada apa Aryan?." tanya Arsya yang baru keluar dari mobil.
"Kita harus menolong kakak anak ini, dia kecelakaan tapi tak ada yang peduli tuan." jelasnya langsung.
"Siapa yang kecelakaan?."
"Ayo paman nanti kakak tidak bisa di selamatkan... " Katrin tersisa menarik tangan Aryan dan terus memaksanya.
Arsya menjadi terharu lagi-lagi perasan buruknya membuat dia iba terhadap Katrin. Arsya mengangguk tanpa bicara, Aryan segera berlari mengikuti Katrin yang masih menarik tangannya, begitu juga Arsya yang mengikuti dari belakang.
Dengan berlari Arsya segera menghubungi ambulance, Aryan terkejut melihat keadaan Karla yang tergeletak tanpa ada yang mendekatinya ataupun sekedar menolong nya.
"Oh ya ampun Karla... " Aryan tak tega melihat keadaan Karla, Arsya yang juga sudah ada di sana matanya membulat di saat tubuh kecil itu di angkat oleh Aryan, jantungnya berdetak sangat cepat perasaan khawatir tiba-tiba melanda hatinya, keringat dingin sudah mengucur di keningnya.
"Ada apa ini....? jantungku... " batinnya saat matanya melihat tubuh lemah Karla.
"Karla bangunlah.... bertahanlah... kami akan segera bawa kamu ke rumah sakit.. " Aryan menyebut nama Karla agar bisa bertahan. Ambulance pun datang Aryan segera membawa tubuh kecil itu dan menaruhnya ke ambulance, para perawat membantu dan segera memberi pertolongan pertama agar Karla bisa terselamatkan.
"Tolong selamatkan anak ini kumohon." pinta Aryan dengan nada khawatir, Katrin masih menangis dia tak bisa berhenti dan terus saja mengeluarkan air mata. Karena lukanya yang sudah teramat parah akhirnya mereka segera membawa Karla menuju rumah sakit.
"Kakak.... hiks.... hiks.... hiks... " isaknya, Aryan yang sadar jika Katrin terus menangis, segera menggendong tubuh kecil Katrin yang masih bergetar hebat, dia tahu jika bocah imut itu sangat syok melihat kembarannya mengalami kecelakaan. Aryan segera membawa Katrin ke tempat Arsya yang sedang duduk.
"Katrin jangan menangis ya.... Karla pasti akan baik-baik saja." Aryan mencoba menenangkan Katrin, namun Katrin semakin keras dalam terisak. Arsya menatap keduanya dengan penuh tanda tanya, kenapa Aryan bisa mengenal kedua anak kecil itu, pikir Arsya.
Aryan mengusap air mata di pipi mulus Katrin, namun air matanya terus mengalir deras.
"Kakak.... " panggil nya dengan masih terisak.
"Siapa mereka Aryan? jelaskan padaku?." tanya nya langsung, dia masih belum tahu siapa kedua bocah itu.
"Maafkan saya tuan, nanti saya akan menjelaskan, tapi saya mohon izinkan saya untuk mengantarkan Katrin ke rumah sakit sekarang." pinta Aryan memohon agar atasannya bisa memberikan izin, karena jadwal penerbangan nya masih satu jam lagi, mereka sengaja berangkat awal karena agar tak terjebak macet.
Arsya berfikir sejenak, antara mengizinkan dan tidak, namun karena melihat Katrin yang terus menangis dan memanggil nama kakaknya membuatnya tak bisa menolak.
"Baiklah.... tapi kau harus menjelaskan semuanya." jawabnya dingin. Arsya tak melihat wajah Katrin dengan jelas di karenakan dia masih dalam tangisnya membuat Arsya tak bisa melihat dengan jelas wajah Katrin.
"Terima kasih tuan, anda sangat baik." binar nya dengan bahagia, dia tak tega meninggalkan Katrin sendiri. Arsya hanya berdehem dan masuk ke dalam mobil, di susul Aryan dan Katrin yang masih dalam gendongannya. Mereka pun segera menyusul ke rumah sakit, Arsya tak keberatan akan hal itu.
**Jangan lupa untuk memberikan dukungan pada karyaku dengan memberi like, vote dan comment agar author semangat upnya🤗🤗😊🙏
Don't forget guys 😊🙏🙏
Terima kasih sudah melaungkan waktu untuk mampir semoga terhibur 🙏😊😊😊**
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 137 Episodes
Comments
═ NISA ═
uuh aku yg tegang... takut ...
2023-05-14
0
Wati Wati
deg deg an
2022-11-07
0
Mini Rukmini
knp di likenya ssh bnr ya , gak mo brubah warnanya
2022-01-22
1