Arsya telah mendarat di Paris setelah penerbangan nya dari negeri sakura, jemputan sudah menunggu di sana. Arsya berjalan dengan gagahnya banyak pasang mata yang mengagumi ketampanannya.
Dia belum menemukan Alan musuh nya, setelah kejadian itu Arsya benar-benar melupakan hal penting tersebut, karena akibat ulah Alan nama baiknya hampir hancur, namun semua itu tak berhasil.
Setelah Alan tahu jika Dinar gagal mereka langsung mengatur siasat untuk pergi meninggalkan Paris tanpa jejak, bahkan perusahaannya pun ikut berpindah.
"Dimana gadis itu... aku mencarinya bertahun-tahun tapi tak bisa menemukan jejaknya. Sial...!!... " gerutunya dengan kesal, selama delapan tahun dia masih bersabar dan mencari keberadaan Dinar, entah karena perasaan cinta atau hanya sekedar ingin bertanggung jawab, karena yang dia takutkan adalah Dinar akan mengandung benihnya.
Tring.... tring.... tring.....
Suara nyaring ponselnya membuatnya tersadar dari lamunannya, dia pun mengangkat sambutan telepon nya.
"Ada apa?." tanyanya dengan nada ketus, karena telah berani mengganggunya.
"Apa?!... bedebah.... aku akan segera kesana." Arsya langsung mematikan sambungan sepihak, dan menyambar jasnya lalu pergi dari mansion nya.
💕💖💕💖💕💖💕
Sementara itu.....
Sesuai rencana yang telah mereka berdua sepakati kemarin, misi pertama akan mereka lakukan yaitu mengambil perhatian Aryan. Pagi ini seperti biasa meraka di antar sampai ke gerbang sekolah mereka.
"Dah Bunda..... " Karla dan Katrin bergantian mencium pipi Dinar.
"Belajar yang pintar sayang." Dinar mencium pucuk kepala mereka.
Mereka memasuki sekolah dengan bergandengan tangan, wajah mereka adalah wajah yang berbeda dari orang jepang, mereka lebih dominan rusia dari pada asia.
"Heh kalian berdua.... " panggil seorang perempuan yang paling sombong di sekolahnya bersama tiga orang lainnya. Mereka memang sering mengganggu Karla dan Katrin, namun itu bukan masalah meski mereka sering kena bogeman dari Karla itu tak membuat mereka jera.
Karla dan Katrin menengok ke arah mereka yang sedang menatap remeh pada keduanya sambil berdecak pinggang bersama yang lainnya. Umur mereka dua tahun ada di atasnya yang berarti ada seniornya, terlebih tubuh mereka lebih besar dari Karla dan Katrin.
"Ihh kesel ada gadis sombong... " kesal Katrin, karena lagi-lagi mereka mengganggu.
"Udah diem aja gak usah di ladenin." ucap Karla santai dan tenang seakan tak terjadi apapun.
Tanpa menghiraukan meraka Karla dan Katrin pun pergi tanpa mengucap apapun. Serasa di acuhkan mereka berempat mengejar Karla dan Katrin. Mereka pun akhirnya kejar-kejaran, hingga tangan Katrin pun tercekal oleh gadis yang memiliki postur tubuh yang lebih besar di antara keempatnya.
"Kena kau...... " dia pun menarik paksa tangan Katrin, hingga Katrin meringis kesakitan.
"Kakak.... tolong aku.... awww." teriaknya meminta bantuan pada Karla.
Karla pun segera menghampiri mereka berempat, untuk menolong Katrin yang sudah berada di antara mereka berempat.
"Lepaskan dia..!!!... " tegas nya dengan wajah dinginnya.
"Hahahaha.... " tawa mengejek mereka.
"Lihatlah cebol itu dia bersikap layaknya seorang pahlawan." cerca nya
"Iya anak kecil jangan terlalu bergaya, nanti kalau kalah nangis merengek pada orang tuanya... hahaha... memalukan." ejeknya lagi. Karla mengepalkan tangannya tak terima dengan ejekan mereka.
Namun dia berusaha menahan agar tak terjadi perkelahian, apalagi dia sekarang berada di lingkungan sekolah.
"Kita apakan cebol ini?."salah satu dari mereka rupanya ingin membuat Katrin celaka. Tubuh Katrin bergetar dia takut mereka melakukan hal buruk padanya.
"Don't hurt my sister."
"Jika kalian menyakitinya,aku tak segan-segan menghajar kalian." ancam Karla dengan menatap tajam mereka, namun tak di udah kan oleh mereka seakan itu hanya lelucon bocah kecil.
"Lihatlah dia mengancam kita, kami tidak takut dengan ancaman dari cebol sepertimu." ucapnya seakan menantang Karla.
"Ok kita pemanasan dulu cebol." ucapnya tangannya sudah berpindah di rambut milik Katrin. Mereka menarik rambut Katrin dengan keras.
"Awwww sakit... lepaskan aku.. hiks... hiks... hiks... " pekiknya.
Bruk....
Tubuh Katrin di dorong dengan keras hingga membentur kursi hingga keningnya berdarah, membuat Karla naik darah kini dia sudah tak bisa menahan amarahnya. Katrin memegangi kepalanya yang berdenyut nyeri.
"Sakit sekali kepala ku." lirihnya , Karla pun menghampiri Katrin.
"Katrin...." Dia pun membantu Katrin bangun.
"Aku tak apa kak."
Setelah berdiri Katrin bersembunyi di belakang tubuh Karla, dan menatap takut mereka. Karla menatap tajam mereka.
"Oh jadi kalian ingin bermain denganku rupanya, baiklah akan aku ladeni, karena kau telah berani menyakiti adikku." ucapnya dengan tersenyum smirk menatap tajam mereka.
"Wah si cebol nantangin kita, udah berani ya sama senpai(senior) rupanya." Mereka pun bersiap untuk melawan Karla dengan senang hati.
"Kakak jangan, kumohon." pinta Katrin memohon.
"Tidak Katrin ini terakhir kali mereka akan mengganggu kita, aku akan buat mereka jera, agar tak mengusik kita lagi, kau tenang saja ok." ucap Karla dengan tersenyum, agar Katrin tak semakin takut.
"Hiyaa..... " teriak salah satu di antara mereka menyerang Karla secara tiba-tiba. Karla pun menangkis kepalan besar tangannya dengan tangan kirinya.
"Wah.... besar juga nyalimu senpai.... " ucapnya dengan nada mengejek sambil tersenyum miring dan.....
Bugh.....
Bogenan mentah mendarat sempurna di wajah putihnya, hingga di tersungkur ke lantai. Mereka yang melihat hal tersebut membelalakan matanya tak percaya jika Karla akan melakukan hal seperti itu.
Mereka pun menyerang Karla dengan keroyokan, mambuat Katrin semakin tak bisa menghentikan sang kakak, dia takut jika Karla akan berbuat lebih buruk dari biasanya kepada mereka.
Karla menendang mereka hingga terjatuh namun mereka tak menyerah, mereka bangkit lagi dan menyerang Karla brutal, ternyata mereka adalah geng anak nakal yang paling di takuti di sekolah, jadi cara mereka bertarung lumayan bagus.
"Brengsek kau.... " ucapan ketuanya sambil menyeka darah di ujung bibirnya, akibat dari tinjuan keras Karla. Ketiganya sudah di lumpuhkan oleh Karla, dan tersisa satu lagi.
"Hahaha.... lihatlah siapa yang akan merengek pada orang tuanya." ejek Karla melihat seorang yang tadi mengejeknya dan mengatakan ulang perkataan gadis tersebut.
Katrin melihat situasi semakin panas akhirnya dia berlari mencari bantuan untuk memisahkan Karla, karena Karla sudah sangat marah bisa saja dia melukai lawannya tanpa ampun.
"Akan ku habisi kau. " teriak dari gadis itu kepada Karla. Karla hanya tersenyum meremehkan.
"Coba saja kalau bisa, kau akan merasakan akibatnya telah melukai adikku."
Gadis itu melayangkan kakinya untuk menendang wajah Karla, namun Karla bisa menghindarinya dengan lihai bahkan tak tersentuh sedikitpun.
"Heh jika kau melakukannya dengan cara seperti itu, kau pasti akan kalah...."
Bugh......
Karla langsung menjotos keras wajahnya dan berhasil mengenai hidungnya hingga berdarah. Karla tersenyum puas.
"Ingatlah ini senpai..... jika sekali lagi kau mengusik kami, aku tak segan-segan merobek mulutmu yang banyak menghina dan meremehkan seseorang, camkan itu." Ancam Karla dengen penuh ketegasan dan tekanan di setiap ucapannya.
"Dan untukmu, jika kau menyentuh adikku dengan tanganmu maka bersiaplah untuk aku hilangkan." bisiknya tepat di telinganya membuat bulu kuduk nya berdiri seketika. Ucapan Karla bagaikan sang penguasa dunia hitam yang sedang mengancam musuhnya karena telah berani mengusiknya.
Katrin datang bersama guru, dia terkejut melihat keadaan keempat anak tersebut yang sudah tepar di lantai dengan wajah yang babak belur.
"Karla kau tak apa?." tanya sangat guru khawatir, Katrin memberitahunya jika kakaknya sedang di keroyok oleh kakak kelas.
"Aku baik Hinana-sensei (guru), ibu tak udah khawatir." ucapnya santai.
"Kakak... " panggil Katrin dan memeluk erat Karla.
"Katrin apakah lukamu masih sakit? ." tanyanya khawatir karena tadi Katrin terluka.
"Masih sedikit sakit, tapi aku tak apa, kau juga tak terluka kan?."
"Kau baik-baik saja."
"Sebenarnya apa yang terjadi Karla, kenapa kau sampai di keroyok?." tanya Hinana agar bisa lebih tahu situasi sebenarnya.
Akhirnya Katrin yang berbicara, karena Karla enggan untuk menjelaskan biasa sang dewi antartika akut. Katrin pun menjelaskan semuanya dengan detail tanpa terlewat.
"Ya sudah lebih baik adikmu di bawa pulang untuk beristirahat, dan mereka biarkan ibu yang mengurus. " Hinana menyuruh mereka pulang, karena melihat Katrin yang terluka. Dia juga akan memberitahu masalah ini pada kepala sekolah.
"Baik bu terima kasih atas keringanan nya, kalau begitu kami permisi." pamit mereka dan meninggalkan Hinana dengan keempat anak brandal itu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 137 Episodes
Comments
Wati Wati
menarik Thor
2022-11-07
1
Frando Kanan
Hinana atau Hinata???
2022-06-22
0
Mocca
semangatt
2022-02-12
0