‘Mom, tadi di sekolah teman-teman bilang, kami tidak mempunyai Papa, Huhuhu... Huhuhu....’ Arhen dan Ardhen mengadu sembari menangis.
‘Mereka mengatakan Papa tak sayang kami, buktinya Papa meninggalkan kami? Kenapa Papa cepat pergi ke surga? Kenapa tidak membawa kita juga, Mom?’ Lagi, Arhen dan Ardhen mengadu.
‘Mom, wajah Papa seperti apa? Kenapa Mom tak pernah memasang foto Papa, tak ada satupun foto Papa? Wajah kami juga berbeda-beda. Kami penasaran, Papa wajahnya seperti siapa? Mirip aku, Adik atau Abang, Mom?’ Pertanyaan Arhen yang tak mampu ia jawab.
‘Tanganmu terluka Arsen?’ tanya Sakinah khawatir.
‘Tadi Abang bertengkar dengan teman-teman,’ Ardhen menjawabnya dengan tertunduk.
‘Kenapa sampai bertengkar? Apa masalahnya?’ Kinah menatap Arsen.
‘Mereka mengejek kami, mengatakan adik-adikku anak alien, rambut dan mata adik-adik berbeda dengan yang lain. Lalu, mengatakan aku bukan saudara Arhen dan Ardhen.’ jelas Arsen.
‘Itu tidak benar, Nak. Kalian anak-anak Mom, kalian bukan anak alien.’ Sakinah memeluk Arsen. ‘Mereka hanya salah paham, rambut Arhen dan Ardhen bagus, mata kalian juga bagus, berwarna abu-abu kebiru-biruan. Sedangkan mereka memiliki warna bola mata hazel.’ Sakinah membujuk ketiga putranya
‘Lain kali Abang gak boleh berantem lagi, ya. Harus selesaikan dengan baik, gak boleh berantem. Mereka hanya tidak tahu saja, kalau rambut dan mata kalian itu sangat unik.’ sambungnya lagi.
‘Kalau begitu, berikan kami foto Papa Mom. Kami akan memamerkan pada mereka.” pinta Ardhen.
‘Bawa kami ke pusara Papa, kami ingin mengobrol dengan Papa. Apakah Papa bahagia di sana? Jika tidak, ayo berkumpul dengan kita.’
Sakinah terhenyak, dadanya terasa berat.
Sekelebat bayangan kenangan berputar memenuhi isi kepala Sakinah.
“Mom,”
“Mom!”
“Mooooooom...!!” Arhen sedikit mengguncang tubuh Sakinah, Ia baru saja melamun mengingat kejadian beberapa waktu lalu.
“Mom kenapa? Kenapa melamun?”
“Tidak apa-apa,” jawabnya. ‘Anak-anak memang membutuhkan figur seorang Ayah, namun hatiku belum siap,' Sakinah bergumam seraya menatap wajah anak-anaknya.
_________________
Irfan telah meminta bawahannya mengikuti Sekar dan Wizza. Dia sangat penasaran, setelah kepergian Andrean dan Dedrick yang mendadak setelah video itu. Sekarang, di susul oleh Wizza dan Sekar datang ke Indonesia.
“Menarik, sangat menarik!” Matanya menatap tajam ke arah layar handphonenya dengan senyuman licik.
“Jadi, wanita ini memiliki dua orang anak yang sangat mirip dengan Dedrick dan Andrean? Anak siapa sebenarnya mereka ini?” Irfan mengetuk-ngetuk cincin batu akiknya di atas meja.
“Aku tak peduli anak siapa, yang jelas ini adalah kabar baik, bukankah anak ini sangat mirip dengan Dedrick.”
Ia menyebarkan video itu, sehingga Wizza yang berada di Indonesia mengetahui kabarnya.
“Aku harus memancing anak ini, dia yang paling bisa ku pengaruhi,” kata Irfan, kemudian dia menelfon Andrean.
‘Ja, wat is er gebeurd, Oom? Waarom heb je me gebeld?’ tanya Andrean di seberang telepon. (Iya, ada apa Paman? Tumben kau menelfonku?)
“Apa kau sudah mendapatkan kabar jika Dedrick memiliki anak? Aku tak menyangka Kakak laki-lakimu yang tak pernah dekat dengan siapapun memilik anak. Terkadang, aku berpikir mungkin saja Calista bisa merebut hatinya, namun selama ini ia tak memiliki celah. Suatu berita yang mencengangkan dan juga membahagiakan.”
‘In wezen, wat wil je me vertellen Oom?’ Andrean bertanya. (Intinya, Paman ingin mengatakan apa padaku?)
“Aku ingin mengatakan hal baik untuk kita semua, Dedrcik selama ini tak pernah dekat dengan siapapun. Sepertinya dia sangat menyukai gadis berhijab itu, tak ku sangka ia memiliki dua orang putra.”
‘Het zijn mijn kinderen!’ (Mereka anakku)
Irfan terdiam, memikirkan rencana. “Anakmu? Bagaimana mungkin? Anak itu sama mirip dengan Dedrick? Apa kalian memperebutkan wanita yang sama?”
Andrean terdiam cukup lama, “Paman berharap kau mengalah pada Kakakmu, dia selama ini tak bisa dekat dengan wanita manapun, tetapi dengan wanita berhijab itu dia bisa berdekatan. Kau pasti mengerti 'kan?”
Mereka mengakhiri perbincangannya di telfon. Andrean termenung cukup lama, mencerna masukan dari Irfan.
Dedrick bahkan terlihat salah tingkah di depan Sakinah, bukan ke jijik, pikirnya. “Apakah benar Kakak bisa berdekatan dengannya? Waktu itu Kakak juga pernah bilang bersedia menikahi wanita itu padaku? Apa Kakak menyukai wanita seperti itu?” Andrean bergumam.
‘Kak, lihat ini! Aku mendapatkan peringkat satu!’ Andrean kecil berlari.
‘Kak, lihat ini! Aku mendapatkan hadiah karena aku berhasil.’
‘Kak, lihat ini!’ Andrean kecil masih memamerkan dirinya pada Dedrick kecil.
‘Kak, ayo, kita main!’ ajaknya.
‘Kak, ayo, kita makan, ini makanan kesukaan Kakak, 'kan? Aku sudah meminta para Mermaid menyusunnya di sana, Ayo, Kak!’
Ajakan demi ajakan Andrean kecil ditolak bahkan sering diabaikan Dedrick.
Usia mereka terpaut 5 tahun.
‘Mama, kenapa Kakak selalu mengabaikan aku? Apa Kakak membenciku? Apa aku berbuat nakal? Hiks... Hiks...’ Andrean mengadu pada Sekar, Mamanya.
‘Tidak, Kakak sedang tidak enak badan, jadi jangan ganggu dulu ya,’ ujar Sekar menenangkan Andrean.
‘Kak... Aku....’ Andrean menghentikan ucapannya saat melihat Dokter keluarga memeriksa Dedrick.
Setelah Dokter itu keluar, ia bertanya padanya. ‘Uncle, what happen?’’
Dokter itu menjelaskan jika Dedrick kurang enak badan, namun Andrean tak tenang, ia ingin tahu lebih. Hingga suatu malam, ia melihat Dedrick memeluk lututnya, menangis.
‘Tidak! Aku tidak buruk! Tidak! Aku bisa! Aku bisa!’ Ia berteriak-teriak.
‘Kakak... Kakak kenapa?’ Andrean kecil berlari dan memeluk Dedrick.
Dedrcik mendorongnya, ‘Menjauh dariku!’ Lalu, ia naik keatas ranjangnya, menutup tubuhnya dengan selimut.
Perlahan, Andrean mulai mengerti, ia juga menanyakan pada Dokter. Dengan berat hati, Dokter itu menjelaskan dengan terpaksa karena diancam oleh Andrean.
Dedrick mengalami trauma setelah ia ditolak cinta oleh seseorang. Gadis remaja yang jauh lebih besar darinya, gadis itu mengejeknya, membandingkan semuanya, membullynya bersama-sama. Apalagi akhir-akhir ini, nilai sekolahnya menurun dan salah satu yang membuat traumanya kembali muncul, Andrean selalu memiliki nilai yang baik, membuat harga dirinya semakin luntur.
Saat itu Andrean langsung berubah, ia tak pernah lagi membanggakan nilainya. Bahkan ia tak pernah berniat belajar sekalipun, agar Kakak yang sangat ia sayangi itu tidak menjauhinya.
“Sepertinya benar kata Paman, jika Kakak menyukai wanita itu, biarlah Kakak menikahinya. Aku tak mungkin mengambil wanita itu, selama ini Kakak tak pernah dekat dengan wanita manapun. Aku tak ingin ia tak percaya diri lagi.” Andrean berdiri di balkon kamarnya, menatap ke atas langit.
...***...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 293 Episodes
Comments
C2nunik987
ruwettt ahhh🙈🙈🙈
2025-03-22
0
SiapaSaya
kok berbelit-belit sih🗿 bilang saja langsung Thor.
2022-06-20
0
perjuangan ✅
sakinah ini langsung aja bilang,, berbelit² banget sih ,,
2022-02-02
1