Dedrick dan Andrean terkejut, bisa-bisanya seorang wanita menamparnya. Ini sebelumnya belum pernah terjadi.
“Hei, kau berani sekali menampar Kakakku!”
“Memangnya kenapa? Dia pantas untuk itu, lelaki kurang ajar yang tidak memiliki hati, tidak bertanggungjawab atas perbuatan sendiri, pengecut! Setelah memperkosa wanita, malah kabur melarikan diri!” sarkas Billa.
Sakinah menatap Dedrick dan Andrean cukup lama, kemudian...
Plak! Ia menampar Andrean.
Andrean terkejut, ia menyentuh pipinya yang perih. “Bukankah hanya ingin mendonorkan ginjal? Tidak perlu membuat keributan sehingga mengganggu istirahat anakku.” Mata Sakinah masih menatap tajam Andrean.
Mata itu seolah menaruh dendam mendalam.
“Apa kau ingin mengatakan sesuatu?” tanya Sakinah pada Dedrick.
“Ti... Tidak ada,” kata Dedrick menunduk.
“Kalau begitu, kita harus menghubungi dokternya segera,” ucap Shalsabila.
________________
“Tidak cocok? Kenapa bisa? Apa jangan-jangan Hacker itu menipu kita? Dia sebenarnya bukan anak Kakak!” ucap Andrean dengan nada tinggi saat mendengar penjelasan dokter jika Dedrick tidak bisa menjadi pendonor.
Ia masih kesal dengan bekas tamparan Sakinah tadi, rasa sukanya menjadi menurun gara-gara kejadian itu.
Dedrick menatap Andrean, lidahnya entah kenapa tak bisa bergerak memberitahukan yang sebenarnya. Ia mengetahui jika Sakinah adalah wanita yang diperkosa adiknya.
Ia tak menyangka foto yang diberikan oleh bawahannya sangat berbeda dengan yang asli, baginya yang di dalam foto biasa saja, sedangkan yang asli seperti bidadari turun mandi. Eh!
“Bagaimana dengan kamu? Kenapa tidak kamu yang mendonorkan? Kenapa meminta pria lain untuk bertanggungjawab!” Nada suara Kinah meninggi membuat kening Andrean berkerut.
“Kenapa harus aku?” tanya Andrean juga dengan nada protes.
Entah keberanian darimana yang di dapatkan Sakinah, ia memang samar mengingat wajah pria yang memperkosanya, namun setelah melihat Andrean, mendengar suaranya. Ia sangat yakin, pria di depannya inilah yang melakukan tindakan tidak senonoh itu.
Suara yang masih terngiang di telinganya.
Ia berjalan mendekat ke arah Andrean, ia membuka paksa baju kemeja yang dipakai Andrean.
“Hei, Wanita! Apa yang kau lakukan?!” Andrean memegang tangan Sakinah. Wajahnya memerah.
Srak! Dengan kasar Sakinah membuka kancing baju itu, sekilas beberapa adegan kasar saling menari dipikiran masing-masing. Andrean terkejut saat adegan itu muncul, sama persis dengan wajah Sakinah saat ini.
Sakinah melihat luka di dada Andrean. “Kau yang seharusnya mendonorkan ginjal...” Ia terdiam sesaat, “Bukan dia!” Sakinah melepaskan tangannya dan berjalan menjauh dari Andrean.
Andrean terdiam, ia menatap lukanya. ‘Apa maksudnya luka ini... Dia yang melakukan malam itu?’ Ia bergumam.
Hening cukup lama sampai suara Andrean terdengar.
“Baiklah, aku akan mencocokan ginjalku dengannya.” Andrean pergi menemui Dokter.
Dedrick hanya diam, Sakinah dan Shalsabila juga. Mereka larut dalam pikiran masing-masing.
‘Apa dia sudah tahu dari awal?’
“Maafkan Adikku, Nona. Ia masih belum dewasa, aku akan bertanggungjawab.” ucap Dedrick masih dalam posisi menunduk, tak berani menatap Sakinah.
“Tak perlu, semuanya sudah berlalu. Aku baik-baik saja bersama anakku. Hanya...” Sakinah menggantung kalimatnya.
“Jangan khawatir, Nona. Jika ginjal Adik saya cocok, dia pasti akan mendonorkan ginjalnya, jika tidak cocok kami akan mencarikan ginjal yang cocok sampai dapat.” janji Dedrick tegas.
Setelah bertemu Dokter, Andrean mendaftarkan dirinya untuk menjadi pendonor ginjal, ia berbincang ini dan itu tentang persyaratan transplantasi ginjal. Setelah paham, Andrean pun berbaring untuk pemeriksaan.
Darah Andrean telah diambil, Dokter memeriksa kecocokan darah, gen dan lainnya.
Cukup lama menunggu. Kini, hasilnya, ginjal Andrean cocok untuk Ardhen, namun ia adalah pria dengan status perokok tinggi, peminum alkohol, jadi kandungan darahnya tidak baik.
Dokter menyarankan menunda 3 bulan untuk pemulihan, tetapi Dokter berharap sebelum menunggu selama itu akan ada ginjal yang cocok untuk Ardhen.
Andrean termenung cukup lama. Sebelum memutuskan keluar dari ruangan itu. Ia berjalan mendekat ke arah Sakinah.
“Maaf, ginjalku harus menunggu 3 bulan lagi.”
______________
Kejadian ini diceritakan Dedrick pada Wizza.
“Pa, ginjalnya hanya cocok dengan Andrean, namun harus menunggu 3 bulan lagi karena dia perokok dan peminum.” jelas Dedrick di telepon.
“Andrean masih kecil, ia masih belum dewasa. Jika papa mengizinkanku, aku akan menikahi wanita itu dan bertanggungjawab, Pa.” sambung Dedrick lagi.
‘Tidak Dedrcik, anak itu harus bertanggungjawab atas kelakuan nakalnya, kau tidak bisa menanggung semua perbuatannya! Papa akan datang ke Batam bersama Mamamu. Tut!’ Wizza mematikan telepon Dedrick secara sepihak.
“Pa...”
Huuuft! Dedrick menghela nafasnya. Menatap benda pipih yang telah berlayar hitam itu. ‘Apa yang harus aku lakukan?’ gumamnya.
Beberapa hari kemudian, Wizza dan Sekar sudah sampai di Batam.
“Pa, Ma,” sapa Dedrcik dan Andrean saat menjemput mereka di Bandara.
“Mari kita berhenti di restoran dulu, Mama sudah sangat rindu dengan makanan Indonesia.” Sekar berucap antusias.
“Ya, Ma.”
Mereka sampai di restoran. Sekar meminta hidangan spesial sampai meja mereka penuh berlimpah.
“Sudah kau atur pertemuan dengan wanita itu?” tanya Wizza menatap Dedrick.
“Belum, Pa.” jawabnya.
“Nanti malam ajak dia makan malam, kita akan membahasnya.”
“Baik, Pa.” sahut Dedrick lagi.
Andrean hanya diam saja, ia tahu Papa selalu tak pernah berpihak padanya, hanya Mama dan Dedrick yang akan selalu membela apapun yang terjadi padanya. Ya, ini memang karena salahnya.
“Kamu bagaimana sih? Masa mengajak wanita makan malam dalam keadaan anaknya sakit? Aku sih, jika putraku sakit, aku tak akan bertemu dengan siapapun.” ucap Sekar Ayu, lalu memasukkan sayur lalapan ke dalam mulutnya.
Wizza dan Dedrick menatap Sekar. Berpikir.
“Bagaimana setelah makan, kita ke rumah sakit lagi. Melihat keadaan anak itu juga Ma, Pa.” usul Andrean.
“Nah, baru kali ini putraku pintar. Apa karena sudah menjadi seorang Ayah?” Senyum terukir dibibir ranum Sekar saat berucap.
“Ah, iya. Ini mungkin karena kita semua tegang. Jadi, tak terpikirkan.” balas Dedrick.
Setelah makan, mereka pergi menjenguk Ardhen, di sana sudah ada Arhen dan Sakinah. Namun Arsen sedang pergi bersama Jimi dan Billa.
Mereka semua terkejut melihat Arhen, anak laki-laki yang mirip dengan video itu. Dedrick maju ke depan tanpa sadar, memegang wajah Arhen.
“Kau nyata?” tanyanya menatap wajah Arhen.
“Tentu saja, Papa. Karena aku anakmu.” balas Arhen tersenyum.
“Arhen, dia bukan Papamu!” tegas Sakinah melotot. Arhen mengerucutkan bibirnya tak suka.
Dedrick tersenyum kecil, sedangkan Andrean masih membeku. ‘Sebenarnya mereka anak siapa? Anakku atau anak Kakak?’ Ia bingung sendiri. Namun hati kecilnya berharap anak-anak di depannya ini adalah anaknya.
“Sore, perkenalkan saya Sekar, Ibu mereka berdua dan ini suami saya, ayah mereka.” Sekar memperkenalkan diri.
“Maaf sebelumnya, kami sungguh menyesal dan meminta maaf atas perbuatan anak kami. Kami sungguh tidak tahu,” Sekar memegang erat kedua tangan Sakinah lembut.
...***...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 293 Episodes
Comments
C2nunik987
belum ketemu km ma Arsen si genius ....cucumu Oma Sekar 🤣😍🤣
2025-03-22
0
Ndhe Nii
belum dapat surprise yg ketiga... ketemu biangnya s arsen 🤣🤣🙏
2022-04-07
2
Sean
kerennya
2022-03-18
0