“Tapi apa?” tanya Wizza menatap Dedrick serius.
“Hm,” Dedrick mengelus tengkuknya sendiri. Ragu untuk menceritakan pada ayahnya.
“Katakanlah!” pinta Ayahnya.
“Tujuh tahun yang lalu, Andrean meniduri seorang wanita tanpa alat pengaman, maksudku lebih tepatnya dia memperkosa wanita itu,” ucap Dedrick melirik ayahnya.
“Dasar anak nakal! Dia selalu saja berulah!” Wizza emosi.
“Sudah, Pa. Sabar. Jangan marah-marah, mari kita berpikir jernih.” ucap Dedrick menenangkan Ayahnya. “Wanita itu di usir dari kampungnya dalam keadaan hamil. Aku sudah meminta orang untuk menemukannya sampai sekarang, sangat sulit.”
“Jadi, maksudnya anak itu anak Andrean?”
“Mungkin Pa, tetapi karena seseorang ingin membuat perusahaan kita hancur, jadi dia mengedit wajahnya mirip denganku. Itu menurutku, Pa.”
“Hm,” Wizza mengangguk, ia mengelus kumisnya yang tebal berwarna coklat tua itu.
Ya, itulah prediksi terakir yang di pikirkan Dedrick. Selama ini, ia tak suka alkohol, adapun minum hanya sebatas menghargai tamu kehormatan, bahkan sering digantikan oleh Asisten pribadinya. Ia tak pernah terbangun dalam keadaan t*lanjang atau meniduri perempuan. Ia akan merasa tak nyaman jika didekati wanita. Jadi, mustahil itu anaknya.
________________
Arsen terkejut saat laptopnya memberitahu ada situs yang mencoba masuk ke akun yang telah ditandainya itu. Itu bukanlah Dedrick atau Andrean, data yang masuk menggunakan akun baru.
Arsen tersenyum, lalu ia menghidupkan mode siaga, tangannya mulai lincah menekan tombol-tombol ajaib ciptaannya. Tara! Seseorang telah masuk dalam jebakannya, walaupun memakai akun palsu. Ia masuk langsung ke dalam sistem di laptop yang dipakai Irfan.
Batam sangat dekat dengan daerah Singapore, berjarak satu jam perjalanan menaiki kapal. Jimi sering bolak balik ke sana, setiap ke sana ia akan meminta laptop seken merek apapun, dari mulai yang rusak hingga yang bagus.
Dari berumur 3 tahun, Arsen sudah sibuk membongkar laptop. Jika anak kecil berumur 3 tahun bermain mobil-mobilan, maka dia bermain laptop, membongkar pasangnya layaknya mobil-mobilan.
Arsen tersenyum devil, ia mengambil handphonenya, menekan tombol. Lalu, di sana, tepatnya di Belanda, tiba-tiba handphone milik Irfan bergetar. Pria paruh baya itu menggesernya, ada pesan masuk, pas ia buka.
Bzzzz! Handphone itu langsung berlayar hitam, lalu mati. Ia mengetuk handphone itu berkali-kali, lalu ia menchargernya, berpikir mungkin handphone itu kehabisan baterai. Tetapi di Batam, Arsen sedang menyalin data dan kontak di handphonenya.
Tak berapa lama, handphone menyala kembali dengan sendirinya. Sedangkan laptop langsung memberi tanda munculnya advas anti-virus, lalu laptop mati seketika. Di situlah, Arsen kembali menyalin data Irfan.
“Selamat menikmati hari-harimu stalker!” ucap Arsen menyunggingkan senyumannya. Kemudian ia menekan tombol ciptaannya kembali Ar3Kill ok.
Laptop Irfan kembali hidup. Pria paruh baya itu mengerutkan keningnya. Baterai laptop dan handphonenya masih penuh.
“Sekarang giliranmu, Papa. Kau sepertinya bukan pria gentleman, tak menepati janjimu dan menunda ginjal untuk adikku. Aku akan memberimu sedikit pelajaran. Selamat menikmati hari indah.” ucap Arsen menatap data Dedrick dan Andrean.
Ia mencuri data perusahaan, lalu mengirimnya pada sekutu bisnis Dedrick. Ya, Arsen sudah melacak sekutu itu. Ia adalah teman dekat Wizza. Kemudian ia mengirim data itu pada wanita yang juga menjadi sekutu dengan PT. Antaman Wizgold, Sekar Ayu.
Satu hal yang belum diketahui Arsen. Sekar Ayu bukan hanya pengusaha dari Indonesia saja, tapi Ibu kandung dari Andrean dan Dedrick. Ia mengira tak ada hubungan apa-apa.
Arsen sengaja, ia tak ingin menghancurkan pencarian Calon Papanya juga, hanya ingin memberi pelajaran.
Sekar ayu dan teman Wizza terkejut mendapatkan kiriman itu cuma-cuma. Lalu, ada pesan. ‘Katakan pada Dedrick aku menunggunya. Jika tidak, aku bisa saja menyebarkan banyak data lain ke sembarangan orang!’
Mereka berdua menemui Wizza dan Dedrick di restoran, bahkan Andrean juga datang.
“Katakan, apa sebenarnya yang terjadi?” tanya Wizza.
“Kenapa kalian diam?” desak Wizza.
“Aku menerima tantangan Hacker itu... Dengan imbalan ginjal salah satu dari kami.” ucap Andrean.
“Ginjal?” Wizza berdiri dari duduknya. “Tidak bisa!” ucapnya dengan nada tinggi.
“Tenanglah, mari bicara baik-baik.” ucap Sekar Ayu lembut.
“Dimana orang itu?” Sekar Ayu menatap kedua putranya lembut.
“Di Batam, Ma.”
“Indonesia? Ah, itu bagus.” Wajah Sekar Ayu langsung berubah, ia kembali ke model lebaynya.
Andrean dan Dedrick mendesah. Darah Ibunya sangat kental, Indonesia mendarah daging. Ya, begitulah menurut mereka berdua.
“Kalian berdua temuilah orang itu, mungkin saja sebenarnya yang butuh ginjal itu adalah anak yang di dalam video. Mungkin dia anak kalian?” Sekar Ayu memutar bola matanya ke kiri dan ke kanan, menatap dan memilih. Dan akhirnya tertuju pada Andrean.
“Sepertinya anak nakal ini yang punya anak itu!” sambungnya lagi.
Wizza yang tadi marah dan tak setuju hanya bisa pasrah dan mendesah. Jika Mrs Wizza Hallen alias Sekar Ayu yang bicara, apapun dituruti.
_____________
Akhirnya Dedrick dan Andrean sampai di rumah sakit, Batam. Mereka mencari kamar rawat Ardhen. Saat ia masuk tak ada siapapun di dalam, hanya ada Ardhen yang sedang tertidur pulas.
Dedrick dan Andrean menatap wajah anak yang terbaring dengan selang infus itu. Wajah yang sangat mirip dengan Andrean. Mereka berdua sama-sama menelan salivanya.
“Kak, bukankah wajah anak yang di dalam video itu mirip denganmu? Lalu, kenapa sangat mirip denganku sekarang?” Andrean menatap wajah Ardhen sangat dekat.
“Dia sangat mirip denganku, apakah dia anakku? Tapi aku selalu memakai alat pengaman dan tidak ada wanita yang mengaku hamil denganku,” ucapnya masih menatap setiap garis wajah Ardhen.
“Kau lupa? Kau memperkosa seorang wanita tujuh tahun yang lalu.” jawab Dedrick.
Andrean diam sejenak, pikirannya terbang menerawang. Ia hanya mengingat sekilas wajah cantik berhijab, hanya itu.
Krek! Terdengar suara pintu tertutup. Arsen berjalan keluar. “Aku lihat dulu, Kak. Mungkin ada seseorang.”
Seorang wanita berpakaian perawat datang bersama anak kecil yang memakai masker dan topi. Yang pertama ia menempelkan tisu di gagang pintu yang di pegang Andrean, kedua ia meletakkan tisu di tempat tidur yang di sentuh Dedrick.
Perawat berpura-pura menjatuhkan sesuatu mengenai tangan Dedrick sampai terluka. Anak kecil bermasker tersenyum, ‘Ikan asin yang diharapkan malah dapat ikan segar, kenapa tidak memanfaatkannya.’ Ia bergegas memegang jari tangan Dedrick, menempelkan benda kecil sebesar chip di sana.
“Ini obat biar tidak iritasi, Om.” ucapnya berbohong. Jelas-jelas itu perangkap penyedot darah.
“Tempelkan kapas ini, Om.” Setelah ia mengambil benda kecil itu.
“Apa ini?” Andrean curiga dan mengangkat sesuatu yang terbungkus.
“Aaaah!” Andrean terpekik, terkejut dan menahan perih. Tangannya dijepit sesuatu dan luka.
Arsen tersenyum senang.
“Berhati-hatilah, Om. Jangan sembarangan bergerak,” ia tepuk pundak sembari mencabut rambut pemuda itu.
“Pak, bisa bantu kami menggeser ini sebentar,” ucap perawat tadi. Andrean membantu perawat itu.
“Om, tolong saya membenarkan baju ini.” pinta Arsen. Saat Dedrick mendekat ia cabut pula rambut pria itu.
...***...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 293 Episodes
Comments
C2nunik987
Arsen duplikat Andrean tampan licik dan smart 🤣🤣🤣
2025-03-22
0
cah wetlep
bocah licik hahaha
2022-03-12
1
Nanda Puspita Dewi
emang bisa ya???
2022-03-11
0