Saat acara usai, Putra pemilik perusahaan itu kembali ke Belanda. Sebelumya, mereka juga mampir di Singapore, pusat perusahaan PT. WILZ PLANTGROUPS.
Pemuda berambut kuning keemasan dengan jambang yang rapi di wajahnya. Masih mendengar penjelasan dari bawahannya, ia adalah Dedrick Ryker Van W Hallen, putra sulung Wizza Van Helen.
Bawahannya menemukan Adik atasannya sedang dalam keadaan kacau, dadanya terluka dan berdarah. Saat bawahannya memeriksa, yang ia temukan hanya ikat rambut perempuan dan celana d*lam yang robek, sepertinya pria itu memperkosa seorang wanita desa. Begitulah penjelasannya.
“Hij is een onruststoker! (Dasar pembuat onar!)” Matanya tajam, gerahamnya tampak bergetar.
Abbe Van Andrean Halen, adik Dedrick. Sering di panggil Andrean. Pemuda berambut coklat, hidung mancung, bibir berwarna merah berisi, Ia terkenal sangat tampan dan pemain wanita. Umurnya sudah 24 tahun.
Hampir setiap hari Dedrick memarahinya.
“Mijn hoofd wordt grijs omdat ik teveel denk!” (Kepalaku ditumbuhi uban karena terlalu banyak berpikir!) desahnya kesal.
“Meer te weten komen over die vrouw!” (Caritahu lebih banyak tentang wanita itu!) pintanya pada bawahannya.
“Ok.”
Ia menghela nafasnya, memijat keningnya.
Adiknya Andrean selalu saja membuat onar dimanapun. Ia teguk arak di gelas kecil yang terletak dimejanya. Masih saja mendesah. Kemudian ia berdiri, pergi berjalan ke kamar adiknya, menarik kerah baju adiknya yang sedang tertidur.
Andrean terbangun!
“Apa yang kau lakukan di Indonesia beberapa waktu lalu? Kau membuat kekacauan lagi!”
“No! Im only litle drink alkohol. Hm....” Menggaruk kepala sembari berpikir.
Brugh! Satu pukulan di perut Andrean.
“I'm not doing something! Really!” pekiknya. Dedrick menatap tajam.
“Sungguh! Aku tak melakukan apapun!” Melindungi wajah tampannya dari amukan Kakak lelakinya, Dedrick.
“You said, No?! Huh?!” Bertanya dengan suara tinggi. “Kau bahkan memperk*sa seseorang!” sambungnya lagi.
“Ah?!!!” Andrean terkejut mendengarnya. Ia benar-benar tak ingat apapun. “I'm only broken heart....” ucapnya menundukkan kepala.
Pertama kali dia terbangun pagi itu, ia sudah mendapati luka di dadanya, kalungnya hilang, namun ia mengingat samar wajah seorang wanita berhijab.
“Aku sudah melarangmu minum alkohol, apalagi di Indonesia!” Dedrick mendesah.
“Sorry, i really sorry,” ucapnya lirih.
“You always say sorry, sorry and sorry! But, never change!” Dedrick merebahkan tubuhnya di ranjang, masih kesal. Lalu, ia pejamkan matanya.
_________________
Di Indonesia,
Sakinah selalu saja teringat akan kejadian malam itu.
Gosip-gosip para tetangga, ada yang mengatakan kalau ia menggoda para suami mereka. Bertambah lagi beban pikiran Sakinah, jelas-jelas ia hanya berdiam diri di rumah, keluar sekali-kali jika belanja ke warung. Ia bahkan menundukkan pandangannya saat berjalan.
Tiga bulan telah berlalu, wajah Sakinah semakin pucat, ia bertambah kurus.
“Kinah, ayo kita ke klinik. Ibu cemas padamu, Nak. Kamu terlihat selalu pucat akhir-akhir ini.”
Dia dan Ibunya pergi ke klinik, di sana ia di periksa,
“Haid Ibu sudah berapa lama tidak datang?” tanya Bidan yang memeriksanya.
“Saya tak mengingatnya, Bu. Akhir-akhir ini haid saya tidak lancar, sering telat bahkan tak datang.” sahutnya.
“Baiklah, kalau begitu kita tes urine ya, Bu, untuk memastikannya.” Bidan itu langsung mengambil alat testpeck untuk memeriksa kehamilan melalui urine.
“Silahkan buang air kecil di kamar mandi di ujung sana, tampung di wadah ini ya, Bu.” jelasnya. Sakinah mengangguk.
Ia cemas, untuk pertama kalinya ia gugup saat test urine. Setelah ia buang air kecil, ia serahkan pada Bidan.
Bidan mencelupkan strip test kehamilan ke dalam urine Sakinah, tak lama, hasilnya sudah tampak, garis merah dua yang sangat jelas, artinya Sakinah positif hamil.
Sakinah dan Ibunya tercengang beberapa saat, “Hamil, kamu hamil, Nak?!” Ia menatap sakinah, matanya langsung berlinang air mata.
“Sungguh, anak saya hamil, Bu?!” bertanya pada Bidan karena masih tak percaya.
“Iya, Bu. Selamat ya.” jawab Bidan itu tersenyum.
“Anakku, pasti Ardi sangat bahagia di alam sana. Ini adalah anugerah, hadiah dari Tuhan.” Ia memeluk Sakinah sambil berurai air mata.
“Mari kita pulang, kita harus kabari berita bahagia ini ke Ayahmu, Adik-adik mu serta keluarga Ardi.” ucap Ibunya antusias.
Sakinah dilanda bingung dan ragu, wajahnya yang pucat tadi semakin pucat. Bagaimana jika anak yang ia kandung ini bukan anak suaminya, tetapi anak pria yang memperk*sanya malam itu. Entah siapa pria itu, bahkan ia tak tahu dengan wajahnya.
Berita kehamilannya pun tersebar dari mulut adiknya, Salwa. Sehingga keluarga Ardi mendatangi Sakinah ke rumah. Masih dalam keadaan tak percaya.
“Ayo kita ke rumah sakit harapan bunda di kecamatan, kita bisa USG di sana. Apakah benar kau hamil atau hanya pura-pura.” Mereka tak percaya jika Sakinah hamil.
Mereka pergi bersama ke rumah sakit itu, kurang lebih satu setengah jam perjalanan.
Sakinah di USG.
“Bayinya sehat, denyut jantungnya bagus, berat badannya cukup, semuanya dalam keadaan baik.” jelas Dokter tersenyum sembari menggoyang transducer USG, menekan ke kanan dan ke kiri, memperlihatkan bentuk janin.
“Sudah berapa usia cucu saya, Dok?” tanya Ibu Sakinah.
“Masuk 12 minggu.” jelas Dokter. Ibu Sakinah terkejut, ia teguk salivanya.
‘Masuk 12 minggu?’ Semua orang saling berkata dalam hati masing-masing.
Setelah keluar dari rumah sakit, Linda dan Hanum langsung berkata tajam.
“Tak ku sangka, bahkan belum habis masa Iddah mu, kau telah melakukan perbuatan yang memalukan. Itu jelas bukan anak Adikku!” ucap Hanum.
“Anakku telah meninggal dunia 4 bulanan, setidaknya kehamilanmu harus 4 bulan lebih. Ini baru masuk 3 bulan!” sambung Linda.
Sakinah diam, ia tak berkutik. Ini memang sangat memalukan.
“Ayo pulang Mak, keluarga miskin! Selama ini sengaja tak ingin hamil, namun hamil dengan pria lain. Dasar wanita sok suci, munafik!”
_______________
Malam hari, Orangtuanya duduk di ruang tamu.
“Katakan Kinah, anak siapa itu?” tanya Ibunya. Ayah Kinah sejak tadi berwajah sangar.
Sakinah hanya diam saja, ia tak mampu menjawab pertanyaan itu.
“Jawab, Kinah!”
“A-A-Aku tidak tau, Bu.” jawabnya terbata, ia takut telah mengecewakan kedua orangtuanya.
“Bagaimana mungkin kau tidak bisa tau, Kinah! Katakan saja siapa lelaki itu, dia harus bertanggungjawab atas perbuatannya!” Ayah Sakinah menghardiknya dengan suara tinggi.
“A... Aku diperkosa, Ayah. Aku sungguh tidak tau siapa lelaki itu. Kejadian itu saat acara desa 3 bulan yang lalu.” jelas Sakinah pelan, airmatanya mengalir.
“Apa? Jadi, bayi ini bukan anak Ardi?!” Ibu Sakinah terhenyak lemah, kemudian ia kesulitan bernafas saking terkejutnya. Ia kejang-kejang, lalu jatuh tersungkur.
Ayah Sakinah menggendong Ibu Sakinah ke rumah bidan yang berada di Desa. Namun diperjalanan, sepertinya Ibu Sakinah sudah tiada karena kekurangan oksigen. Setelah di periksa, rupanya beliau memiliki riwayat jantung yang lemah, berbahaya jika ia sangat-sangat terkejut atau syok.
“Aku benar-benar jijik denganmu, Kinah!” ucap Salwa tak sopan, tanpa panggilan Kakak lagi padanya.
“Kau terlihat sok baik dan sok suci, rupanya hamil diluar nikah! Ibu selalu membelamu, menyalahkan aku setiap saat, tapi apa yang kau balas? Kau membuat Ibu meninggal!” Salwa memaki Sakinah.
“Salwa hentikan! Jangan kau sakiti lagi hati kakakmu, Ibumu meninggal sudah takdir-Nya.” sahut Bapak melerai. “Pulanglah kerumahmu! Kau kembalilah ke kamar, Kinah!” sambung Ayah Sakinah.
Ruksha adik bungsu Sakinah yang masih kelas 1 SMP, menggandeng tangan Sakinah masuk ke dalam. “Sabar, ya, Kak.”
“Kakak harus kuat, aku dan Ayah percaya sama Kakak kok,”
“Jagalah tubuh kakak dan bayinya. Aku sudah sangat lama menunggu kopanakan dari Kakak.” ucapnya tersenyum, menghibur Sakinah, menyemangatinya.
_______
Hari ini Sakinah kedatangan tamu,
“Begini Nak Kinah, Bapak dan Ibu paham dengan masalah kamu, namun banyak warga merasa resah dan mengadu, mereka ingin kamu pergi dari kampung ini.” ucap Kepala Desa.
“Bagaimana kalau kamu ikut putri kami ke kota Batam, setidaknya sampai semua gosip reda, sampai kamu melahirkan.” usulnya.
Sakinah akhirnya pergi dari kampung menunju kota Batam, dimana anak Kepala desa berada, namanya Shalsabila. Mereka dulu berteman akrab saat SD, tetapi setelah SMP sampai sekarang mereka tak berjumpa lagi, karena Bila selalu sekolah di luar kota.
Ia sampai di bandara, naik pesawat berangkat jam 11 pagi. Sampai di bandara Hang Nadim, Batam jam 12.15 WIB.
...***...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 293 Episodes
Comments
C2nunik987
itu anak andrean iahhh bibit premium bule punya kinah 🙈🙈
2025-03-10
0
Erie
top cer y
2022-03-31
0
Sean
langsung hamil ya
2022-03-18
0