“Kamu dari mana saja?” tanya Billa pada Arsen. Ia baru saja sampai di rumah setelah menyelesaikan aksinya.
“Dari sana.” Ia tunjuk lapangan hijau tadi.
“You think i'm stupid? Want to lie to me?!” (Kamu pikir aku bodoh? Kau ingin membohongiku?!) Billa berkacak pinggang. “Aku tadi dari lapangan itu, kamu tidak ada.” sambungnya lagi.
Arsen mendengus. Memilih mengabaikan Billa, kemudian ia memilih duduk di teras rumah.
‘Uh! Dasar!’ Billa mengikuti Arsen, memilih duduk saling berhadapan di teras itu.
“Miss, Apa dulu... Mom nikah dengan Papa dijodohkan?”
“Tidak. Apa kau tadi mencari kuburan Ardi?” tanya Billa penuh selidik, ia curiga, Arsen pun menjawabnya dengan mengangguk.
‘Anak ini benar-benar berbahaya, aku gak bisa menembus pikirannya, beda sama anak-anak lain,’ Billa bermonolog dengan hatinya.
“Kau sudah menemukannya?” Billa bertanya lagi, Arsen pun menjawabnya dengan mengangguk kembali.
“Haaaaaaahh...” Billa menghembuskan nafas panjang. Ya, inilah watak Arsen, ia sudah menduganya.
“Aku bertemu dengan wanita yang mengaku kakaknya Papa.” katanya kemudian.
“Hanum?!!!” Billa terkesiap. Belum apa-apa, Arsen sudah bertemu dengan wanita itu.
“Entah. Aku tak tahu Miss. Yang jelas bersama dua orang Ibu-ibu yang kita jumpai tadi dirumah ini.” jelas Arsen.
“Kamu harus menghindari wanita itu beserta Ibunya.” ucap Bila dengan menggoyangkan telunjuknya sebagai peringatan. “Ah, satu lagi, hindari rumah diujung sana yang berwana kuning pudar itu.” tunjuk Billa pada rumah yang cukup jauh, sejauh mata memandang.
“Kenapa?”
“Jangan banyak tanya. Hindari saja.” Billa menatap serius Arsen, “Mengerti anak pintar?” tanya Billa.
“Hm.” sahut Arsen. Billa mengelus rambut Arsen dengan tersenyum.
Bukan Arsen namanya jika ia patuh dengan larangan sepele seperti itu. Semakin dilarang ia akan semakin penasaran.
Setelah Billa sibuk berbincang dengan sanak keluarganya, Arsen memilih diam-diam berjalan ke arah rumah diujung yang di ingatkan Billa tadi.
Di rumah itu ia lihat seorang kakek tua berjalan dengan tongkat. Kakek itu terbatuk-batuk.
“Ayah jangan keluar, tidak baik. Ayah belum sembuh betul dari demam, batuk Ayah juga semakin parah. Ayo masuk lagi.” Terdengar suara perempuan dari dalam rumah.
Arsen menatap Kakek tua itu.
“Entah kenapa seolah ada seseorang yang akan bertamu ke rumah kita, seseorang yang kita nanti-nanti.” sahut Kakek itu.
Perempuan muda itu mulai memapah sang Ayah masuk kembali ke dalam. “Ayah mungkin terlalu merindukan Kak Kinah.”
‘Kinah? Bukankah terdengar seperti panggilan Mom? Apa jangan-jangan... Ini rumah Mom.’ Arsen berpikir keras.
‘Jadi... Mom meminta Miss menyembunyikan rumahnya dariku? Baiklah, mari kita mencoba keberuntungan!’ Arsen tersenyum penuh arti.
Toktoktok! Arsen mengetuk daun pintu yang terbuka lebar.
“Ya, sebentar!” Terdengar sahutan setengah berteriak dari dalam.
Ruksha muncul, ia menatap Arsen cukup lama. “Adik cari siapa?” tanyanya lembut.
“Tante aku haus, aku tersesat. Bisa aku meminta segelas air minum?” pinta Arsen memelas.
“Tentu saja, ayo masuk.” Rukhsa mempersilahkan Arsen masuk.
“Siapa Sa?” tanya Ayahnya yang duduk bersandar di sofa.
“Ada anak-anak tersesat meminta air minum.” jawabnya.
“Adik duduk di sini dulu, ya. Tante akan ambilkan air minum dulu.” Arsen mengangguk patuh.
Ayah Ruksha menatap Arsen dengan tersenyum, hatinya menjadi bahagia melihat wajah anak laki-laki itu. “Kenapa kamu bisa tersesat, Cu?”
“Aku tadi main bola Kek, bolanya terbang jauh saat aku tendang. Lalu, setelah aku cari kemana-mana, bolanya tidak bertemu dan aku pun sudah sampai di sini.” jawabnya dengan wajah polos.
“Aku belum pernah melihat wajahmu sebelumnya, siapa nama Ibu atau Ayahmu, Cu?”
“Nama Ibuku Sakinah dan Ayahku Ardi.” jawab Arsen.
Ayah Ruksha terkejut. Apalagi Ruksha, ia sampai menjatuhkan gelas air minum yang ia bawa sampai pecah. Arsen langsung berdiri mendekati Ruksha dan membantunya.
“Tante tidak apa-apa?” tanyanya.
“Maaf, Tante kurang fokus. Nama orangtuamu mengingatkan Tante pada Kakak Tante. Tunggu lagi ya, Tante ambilkan lagi airnya. Hati-hati, kembali lagi duduk di sana, nanti terkena pecahan kaca.
Rukhsa kembali mengambilkan air minum, lalu membersihkan pecahan gelas kaca.
“Maaf, sekarang orangtuamu dimana?”
“Mom lagi kerja, Papa sudah meninggal dunia. Aku ke sini sama Miss Billa.” jelas Arsen.
“Miss Billa?” Ruksha mengerutkan keningnya. Ia tak mengenal nama itu.
“Nama asli Miss Billa itu Shalsabila, anak Pak RT dua periode kata ibu-ibu yang berkunjung ke rumahnya. Apa Tante tahu?” Arsen bertanya dengan wajah polos, seolah ia benar-benar tersesat. Jelas-jelas ia sangat hafal jalan yang hanya berjarak 15 rumah dari rumah Billa.
Deg! Ruksha dan Ayahnya berdebar hebat.
“Apakah wajah ibumu mirip dengan foto yang tertempel di dinding itu?” tanya Ruksha menunjuk foto di dinding ruang nonton.
Arsen berjalan mendekat ke arah dinding itu. “Waaaaaah, kok ada foto Mom di sini?” ucapnya terkejut dibuat-buat, padahal sejak tadi ia sudah melihat foto itu.
“Dia Ibumu?” tanya Ruksha, Arsen mengangguk.
Ruksha langsung memeluk Arsen, “Kau anak kakak perempuanku, kau keponakanku....” Ia menangis.
Ayah Ruksha juga berjalan perlahan, mendekat. Airmatanya sudah menggenang di pelupuk matanya. “Kau cucuku?” Ia bergumam kecil.
“Cucuku....” Kakek tua itu langsung memeluk Arsen penuh rindu.
Hatinya yang merindu terasa luntur menggugur, terobati oleh pelukan balasan dari tangan kecil Arsen.
______________
Keesokan harinya, ia diam-diam kembali bermain ke rumah Sakinah.
“Ada apa? Sejak tadi melamun, apa makanannya tidak enak?” tanya Ayah Kinah.
“Tidak, tetapi....” Arsen diam cukup lama.
“Tetapi kenapa?” Ayah Kinah menjadi khawatir.
Arsen masih diam, cukup lama. “Katakan saja, apa kamu mau makan yang lain?”
“Aku tidak apa-apa Kek. Sungguh!”
“Kalau tidak kenapa-kenapa, kenapa wajahmu tiba-tiba seperti ini?”
“Sebenarnya ini rahasia, Kek. Apa Kakek mau membantuku?” Arsen berbisik pada Ayah Kinah.
“Katakan, Kakek akan membantumu, Sayang.”
“Aku alergi makan kacang, Kek. Jadi....”
Ayah Kinah terkesiap mendengarnya, “Astagfirullah, kenapa kau tak mengatakannya? Kalau begitu, ayo, kita berobat!”
“Iya, tetapi harus ke Dokter khusus, Kek. Harus ke rumah sakit, tidak bisa dengan Bidan biasa. Aku akan bertambah gatal-gatal. Aku ada sedikit kelainan. Maaf, apa Kakek mau mengantar dan menemaniku ke rumah sakit di Kecamatan, tetapi jangan katakan pada Tante Ruksha dan Miss Billa. Ini hanya kita yang tahu, kalau mereka tahu, Mom juga akan tahu dan memarahiku.” jelas Arsen.
Arsen memang di larang makan kacang, ia alergi. Namun anak itu tidak makan kacang, ia hanya sedang mencari akal untuk melakukan tes DNA untuk menguji hubungan kekerabatan.
“Baiklah, Kakek akan menemanimu, tetapi bus untuk ke Kecamatan cuma ada jam 8 pagi, jadi kita hanya bisa besok ke sana.” ucap Kakek sendu.
“Tak apa, Kek. Aku ada obat, ini.” Arsen menunjukkan obat pada Ayah Kinah. Sebenarnya itu hanya permen berbentuk obat.
“Mom sudah menyediakan obat untuk antisipasi sebelumnya, makanya selalu dibawa. Aku sering ceroboh, Kek.” Wajah Arsen tertunduk, wajahnya terlihat mengiba.
“Syukurlah. Pagi-pagi, kita akan bersiap ke rumah sakit di Kecamatan.” Ayah Kinah mengusap kepala Arsen.
“Makasih, Kakek.” Arsen memeluk Ayah Kinah erat, senyuman licik tersungging dari bibirnya.
...***...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 293 Episodes
Comments
Putri Minwa
semangat terus thor
2023-04-30
0
chaeruddin adam
lanjuttt
2022-05-18
0
Erie
si kecil yg cerdik
2022-03-31
1