Arsen tersenyum, memberikan jempol pada wanita yang berpakaian perawat. “Ehem, terimakasih banyak, Pak. Kalau begitu saya permisi dulu.” ucapnya, lalu berlalu pergi bersama Arsen.
Andrean menatap kepergian mereka, terasa aneh, bagaimana mungkin di rumah sakit ini membiarkan perawat membawa anak kecil saat bekerja.
“Apakah rumah sakit di Indonesia begitu?” tanyanya melihat ke arah Dedrick.
Dedrick hanya mengedikkan bahunya, ia tak tahu harus menjawab apa. Jujur saja, walaupun Ibunya dari Indonesia, mereka bisa berbahasa Indonesia, namun pergaulan dan kehidupan sehari-hari mereka adalah Belanda.
“Seharusnya sebelum kita kemari, kau tanyakan dulu pada Mama tentang Batam seperti apa!” Andrean mendengus.
“Indonesia itu banyak pulau, Mama dari pulau Jawa, sedangkan ini beda lagi pulaunya, kalau tidak salah Sumatra. Jadi, tidak akan sama, Kau yang seharusnya banyak belajar,” sindir Dedrick. Andrean membalasnya dengan mencebikkan bibirnya.
“Coba saja kau pulang ke kampung Mama, kau akan mendengarkan para Uncle dan Aunty beda bahasa saat bicara, tentu saja setiap daerah beda lagi culturenya. Jadi, mungkin saja di Batam boleh bekerja membawa anak.” tutur Dedrick.
Andrean mengerucutkan bibirnya, malas mendengar Dedrick berceramah. Pria yang katanya dingin dan cuek itu sangat cerewet jika memarahinya. “Ok, ok.” jawabnya malas.
“Sekarang bagaimana ini? Tak ada siapapun di ruangan ini? Apa Hacker itu sudah membalas email?” tanya Andrean, kemudian ia memilih menatap keluar kaca ruangan.
“Belum, apa mungkin wanita yang kau tiduri waktu itu bukan wanita biasa?”
“Aku lupa, Kak. Sepertinya dia cukup cantik,” samar Andrean mencoba mengingat. Wajah itu sepertinya memang cantik. Tetapi buaya seperti Andrean selalu saja mengatakan wanita itu semuanya cantik.
“Kau bahkan jika ada nenek tua bahenol akan mengatakan Cantik!” ketus Dedrcik kesal.
“Hei, Kakak, mulutmu tajam sekali padaku! Kau melukai hatiku,” Protes, namun Dedrick mengabaikan. Ia memilih keluar.
“Aku ke toilet dulu, tunggu di sini sampai Hacker itu datang!” pintanya pada Andrean.
Dedrick berputar-putar melihat toilet, beberapa toilet penuh. Ia benar-benar kesal, untuk pertama kalinya ia ke rumah sakit dengan kualitas biasa dengan perawatan biasa, ke toilet secara umum dan antri. Ia berdecak kesal.
Akhirnya gilirannya masuk juga, ia bernafas lega. Setelah melepaskan sesaknya, barulah ia mual-mual karena toilet umum sangat bau. Biasa, CEO yang kaya raya sepertinya memang terlihat lebay dalam posisi seperti ini.
Ia tutup hidungnya, ia tahan mualnya, ia berlari kecil dengan terburu-buru hendak keluar.
Bruk! Ia menabrak tubuh seseorang.
“Auch!” ringih seorang anak laki-laki kesakitan. Dua botol kecil berisi darah berguling, serta kantong yang berisi tisu dan rambut berserakan.
Arsen terkesiap, matanya membulat sempurna, laki-laki di depannya adalah Dedrick, pria yang ia anggap Papanya. Ia tatap wajah pria dewasa tampan itu. Lalu, beralih kembali pada barang-barangnya.
“Maaf, kau tidak apa-apa?” Ia mendekati Arsen, menatapnya dan membantunya berdiri.
“Aku tidak apa-apa,” kata Arsen, bergegas ia mengambil dua botol yang berguling itu. Ia mendesah. Lalu berjalan pergi.
“Eh, tung....” Arsen telah jauh berjalan dengan cepat.
Dedrick menatap punggung Arsen, entah kenapa ia tiba-tiba menyukai anak kecil akhir-akhir ini.
______________________
Arsen menatap dua botol yang berguling tadi, saat duduk di dalam ruangan Dokter. Ia benar-benar tidak tahu yang mana milik Dedrick atau Andrean. Lalu, tisu dan rambut yang sudah tidak berguna lagi karena telah berserakan tadi.
“Ada apa? Kenapa belum memberikan kepada Kakakku?” tanya perempuan yang duduk di sampingnya.
“Ada apa? Apa kamu belum mendapatkan darah itu?” tanya seseorang berpakaian putih.
Ya, dia adalah Kakak temannya, teman yang tadi membantunya menjadi perawat. Wanita itu berhutang budi padanya, jadi kali ini ia akan balas budi, agar setimpal.
“Sudah Kakak, tapi aku ragu yang mana,” lirih Arsen.
Dokter itu menarik nafas dalam. “Jika sekarang aku bisa memeriksanya, nanti sore aku akan bisa mengetahui hasilnya, tetapi kalau menunggu kesempatan kedua, bukan aku lagi yang memeriksa, bukan jadwal.” jelas Dokter itu.
“Kamu tau, 'kan Arsen, aku membantumu karena kau menyelamatkan adikku saat itu. Tetapi sebenarnya ini sangat bahaya untuk pekerjaanku, syarat tes DNA itu harus ada orang dewasa setidaknya.”
“Ya, aku tau Kak. Nih,” Arsen memberikan dua botol itu lalu menyerahkan tangannya untuk di suntik dan diambil darahnya.
Setelah darah Arsen diambil, “Aku akan menunggu hasilnya secepat mungkin. Terimakasih banyak, Kakak.” ucapnya.
Kemudian ia berjalan keluar bersama temannya.
_______________
Andrean terpana melihat sosok wanita berhijab di sana, wanita itu berjalan dengan menenteng rantang nasi. Sejak tadi matanya terpesona, ia tak bisa memalingkan pandangan itu. Entah kenapa....
“Hei, kau memandang apa?” Dedrick menepuk pundak Andrean, menyodorkan kepalanya juga ke kaca yang di lihat Andrean.
“Tak ada, hanya melihat suasana di luar.” sahut Andrean, barulah ia alihkan pandangannya, menatap Ardhen yang masih bisa tertidur pulas sejak tadi.
Ting! Pesan masuk di handphone mereka masing-masing.
“Come back tomorrow.” (Kembalilah besok.) Itulah pesan masuk di handphone mereka.
“Bagaimana kalau kita meletakkan kamera di sini?” usul Andrean setelah membaca pesan, ia berniat memata-matai Hacker.
Dedrick tersenyum tanda setuju.
Ting! Lagi satu pesan masuk.
“Jangan macam-macam! Kembalilah besok!”
Mereka berdua mengerutkan kening, matanya menjadi liar menatap setiap sudut ruangan. Yang jelas, Hacker sudah terlebih dulu memasang jebakan sebelum mereka bertindak. Seperti pengawal mereka yang dikerjai oleh Arsen kini.
________________
Esok sore,
Hasil tes DNA itu sudah diketahui. Diantara mereka berdua positif ayah kandungnya. Arsen senang sekaligus bingung, siapakah ayah aslinya? Dedrick atau Andrean?
Pilihan pertamanya jatuh pada Dedrick.
Menurut kamera pengintainya, dua pemuda tampan itu menuju Hotel RevitelStar bintang lima untuk menginap. Arsen masuk sistem hotel itu beberapa menit untuk memeriksa kamar mereka menginap.
Ia masukkan kertas fotocopy hasil tes DNA ke dalam kotak kecil, ia titipkan dengan ojek pengantar paket.
Malamnya seseorang menekan bel kamar Dedrick. “Terimalah paket itu.” Sebuah pesan email masuk saat ia masih berpikir tentang paket yang datang.
Dedrick mengambil dan membuka paket yang isinya sepucuk kertas. Ia baca kertas itu. Rasanya, bola matanya hampir meloncat keluar.
Dedrick Ryker Van W positif ayah kandung dari Ardhen Kindara.
“Apa kau sudah membacanya? Maka temuilah anak yang dirawat itu besok, dia Ardhen, butuh ginjalmu.” pesan Arsen melalu email.
“Ada apa?” tanya Andrean yang baru saja selesai mandi. Ia mendapati wajah Kakaknya berubah.
Andrean merampas kertas yang masih di pegang Dedrcik. “Wah, kau punya anak, Kak.? Tak ku sangka!” celetuk Andrean.
“Besok kita harus ke sana kembali. Memastikannya.” ucap Dedrick.
“Baiklah, aku setuju, lebih baik kita ke sana untuk menyelidikinya.”
...***....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 293 Episodes
Comments
C2nunik987
Arsen km salah nak papamu adalah adiknya uncle dedrick 🤣🤣🤣
2025-03-22
0
Erie
salah alamat nih
2022-03-31
0
MaMy
wkwkwkwkk, gara2 si tabung darah tak bernama jd salah alamat kan siapa bpk nya
2022-03-28
1