Drrrrt! Drrrrt! Handphone Sakinah bergetar sejak tadi. Ia mengabaikannya karena sedang antri di tempat scan kartu absen untuk pulang.
‘Cih, siapa sih yang mengganggu? Awas kalau nomer yang gak penting, apalagi cuma SMS dari operator dan SMS penipuan yang gak penting!’ gerutu Sakinah.
Ya, handphonenya sering mendapatkan SMS dari nomor yang tak di kenal dengan pesan.
‘Pelanggan 0813xxxxxx, Selamat! Nomor Kamu di Hape Ini Baru Saja Dapat +2000 COIN PULSA, cek link di bawah ini.’
Bahkan, ada nomor baru yang mengatasnamakan bantuan dari pemerintah dan lainnya.
‘Anda mndptkan Subsidi Pemerintah Rp 289.000.000 PIN PEMEN4NG; FF1178A info Wa:0831xxxxxxx Hubungi segera!’ Gila, kaya banget pemerintah sampe kasih uang cuma-cuma sampai 289 juta.
‘No sim_CARD anda terpilih mndptkan cek tuN4i dri give_away indo Rp 175jt pin token ck805kun INFO klik bit.ly/infogebyar2021’
Begitulah sebagian dari deretan pesan yang tidak penting.
Sakinah akhirnya keluar dari kerumunan. Ia kini sedang berdiri di parkiran tempat motornya terparkir. Ia meraih Handphone yang sejak tadi bergetar.
Begitu banyak pesan melalui SMS, lalu Wa. Belum sempat ia buka dan baca, nomor baru itu telah menelfonnya kembali.
“Hallo, ya, saya sendiri. Bicara dengan siapa, ya?” tanya Sakinah.
“Maksudmu... Kau ingin berjumpa denganku sekarang?”
“Aku sedang di parkiran PT. Satya Persada aja, tdk. sekarang,” sahut Sakinah lagi.
“Baiklah, aku akan menuju ke tempat itu setelah ke rumah sakit.” ucapnya akhirnya.
Sakinah menuju Seilapan Kitchen Resort di daerah Batam Centre setelah menemui ketiga putranya di kamar inap Ardhen. Tak lama, ia pun sampai. Andrean telah menunggu di depan parkiran, ia bersandar di badan mobil yang cantik berwarna kuning.
“Mari, masuk.” ajaknya setelah Sakinah sampai.
Sakinah mengikuti Andrean. “Kenapa ruangan ini tertutup dan hanya kita berdua?” tanya Sakinah dengan mimik wajah khawatir.
Mereka berada dalam VVIP Room.
Kenangan buruk ia diperkosa pun muncul seketika. Andrean mendekat. “Aku ingin membicarakan hal penting, silahkan duduk.” Andrean menggeser kursi bening yang terlihat seperti kaca itu ke belakang.
Sakinah duduk, ia tundukkan pandangannya, jemarinya mulai meremas jemari lainnya. Jemari itu saling meremas. Andrean menatap Sakinah, tak lama, hanya sekilas, kemudian ia memencet tombol.
Tak lama, menu spesial terhidang. “Mari kita makan terlebih dahulu, sebelum kita ke intinya.” Andrean mulai mengambil sendok dan garpunya.
Sakinah menatap meja makanannya. Jujur, kali ini ia menatap sendok-sendok yang berjajar. Ada banyak sendok dan garpu berbagai ukuran, lalu pisau. Bukan hanya itu, ada beberapa gelas kosong yang berbeda ukuran juga. Sakinah menelan salivanya.
Perlahan dia meletakkan kain di dada dan paha, mengambil sendok berukuran sedang. Ia ambil juga apapun yang diambil oleh Andrean kecuali daging. Ia tak tahu daging apa yang dipesan oleh Andrean.
Andrean selesai makan, ia menuangkan minuman di gelas yang paling kecil. Sakinah pun meniru, mengambil minuman di gelas kecil.
Alis Andrean sedikit terpaut, kemudian ia tersenyum kecil.
Jujur, Sakinah tak bisa menikmati makanannya. Ia hanya bersikap sopan dan hal yang paling utama adalah ia masih belum terbiasa dengan cara makan seperti ini.
“Apa kau sudah selesai makan?” tanya Andrean.
“Ya,” jawab Sakinah.
Tak lama, pelayan pun membersihkan mejanya, lalu meletakkan dessert.
“Ini adalah surat-surat kesehatan Papaku. Ia telah mencocokan dengan ginjal Ardhen. Ia ingin kita menikah.” Andrean berkata langsung pada intinya seraya meletakkan berkas di atas meja dan menyodorkannya pada Sakinah.
“Jika kau menikah denganku, Ardhen akan segera mendapatkan ginjal dan diselamatkan. Aku akan menanggung semua biaya kehidupan kalian, kau tak perlu lagi bekerja. Tidak lama, cukup dua tahun saja, kemudian kau bisa mengajukan surat perceraian.”
Kening Sakinah berkerut.
“Jika kau tidak mau, aku juga tidak bisa memaksa. Tetapi ada hal yang tidak kau ketahui, Papaku selalu mengabulkan apapun keinginan Mamaku. Sepertinya, Mamaku sangat menyukai cucunya, aku yakin Papa akan bisa merebut mereka darimu. Jika kau menikah denganku, lalu bercerai, mereka tak akan mengambilnya secara sepihak.”
“Aku akan menyerahkan hak asuh padamu saat itu.” Jelas Andrean.
“Maksudmu kau mau menikahiku seperti kontrak kerja? Kau mengontrakku dua tahun? Lalu bercerai? Kau pikir menikah itu permainan?! Sebuah pekerjaan?!” Intonasi Sakinah meninggi, Ia langsung berdiri dari duduknya.
“Sungguh betapa murkanya Allah pada seseorang yang mempermainkan sebuah pernikahan. Tuhanku tak pernah Ridho pada umatnya yang bermain dalam pernikahan.”
Andrean mengusap wajahnya. “Tenanglah wanita, duduklah kembali. Aku tak akan meminta hak ku, aku tak akan menyentuhmu, hanya sebuah kertas pernikahan yang dibutuhkan, tidak ada hal lain. Jadi tenanglah.”
Sakinah mendengus. “Sungguh berbeda pikiran orang Luar Negri rupanya, ya.” sarkasnya.
Mimik wajah Andrean tampak berubah saat mendengarkan itu. Ia kembali mengingat ucapan Wizza, bahwasanya harus bisa membujuk Sakinah.
“Maaf, maaf, bukan begitu maksudku. Kau tahu, 'kan? Aku non Muslim, saat kita melakukan pernikahan nanti bukankah aku harus masuk ke dalam agamamu, Muslim?”
“Jadi kau mau mengatakan kalau kau terpaksa dan mengalah, lalu mengatakan kau berkorban demi pernikahan ini? Kemudian meminta aku berkorban juga untuk pernikahan ini?” Sakinah sungguh jijik mendengarnya.
“Ya, itu juga sebagian maksudku. Tapi, aku hanya ingin membantumu. Aku tau kita tak saling menyukai, tapi izinkan aku membantumu dengan cara itu. Aku akan menikahimu hanya dengan waktu 2 tahun saja. Aku tak akan menyentuhmu selama itu.”
“Berpikirlah secara baik, jangan dulukan egomu, Ardhen butuh ginjal segera, ingat itu.” tutur Andrean.
“Lalu, kenapa tak langsung kau bantu saja? Dia itu anakmu, kenapa harus menggunakan syarat mengikatku menikah denganmu?!”
Andrean memutar video di handphonenya dan menyerahkannya pada Sakinah. “Lihatlah, video ini di unggah di situs perusahaan kami. Jika kita tidak menikah, nama Kakakku akan tercemar, perusahaan akan goyah.”
“Jadi, kau ingin menikahiku hanya karena demi perusahaan? Bukan karena ingin bertanggungjawab pada anak-anak?”
“Tentu saja juga demi mereka, lalu perusahaan, karena tanpa perusahaan, aku tak akan bisa memenuhi kebutuhan anak-anak bukan?”
Sakinah membulatkan matanya menonton video itu. Di sana jelas terlihat putranya, Arhen.
“Aku akan menunggu jawabanmu, ku harap kau akan menyetujui pernikahan kita segera, agar Ardhen secepatnya ditransplantasi ginjalnya.” Ia mengambil kembali handphonennya setelah Sakinah menonton video itu.
“Bill!” ucapnya pada pelayan.
Andrean membayar makanan dengan memberikan uang tips pada pelayan.
“Terimakasih sudah meluangkan waktumu, saya akan pergi dulu, ada urusan mendesak. Ini kartu namaku. Jika ada apa-apa, kau bisa langsung menelfonku di nomor yang tadi menelfonmu.”
Andrean berjalan pergi meninggalkan Sakinah yang masih termangu. Berkas-berkas tentang kesehatan Wizza beserta kartu nama Andrean terletak di depannya. Ia memegang dan menatap itu semua.
‘Apa yang harus aku lakukan?’ gumamnya.
...***...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 293 Episodes
Comments
C2nunik987
jgn bikin Arsen meradang hancur perusahaan unclenya 😡😡😡
2025-03-23
0
Mazree Gati
arsen goblok,,serang perusahaan ayahnya tolol
2025-02-13
0
Erie
bisa berubah seiring waktu
2022-03-31
0