Malam ini, Dedrick, Andrean, Sekar dan Wizza sedang berkumpul, mereka makan malam di ruang VVIP salah satu restoran bintang lima di Batam.
Seperti biasa, hidangan spesial telah memenuhi meja itu atas permintaan Sekar. “Aku tak ingin kita membahas apapun dulu, sebelum kita selesai makan. Dan lagi, aku juga tidak suka berbicara dan berdebat saat makan!” pinta Sekar.
“Ayo, makan.” Sekar terlebih dahulu memulai, ia mencicipi semua hidangan.
“Hm... Erg smakelijk!” Matanya berbinar seketika. (Sangat lezat!)
Sekar makan dengan lahap, yang lain pun juga ikut makan dengan anggun.
Tak lama, mereka pun selesai makan, di depan mereka terhidang dessert, sebagai makanan penutup.
“Aku telah memeriksakan kesehatan dan kecocokan ginjalku, semuanya cocok, Sayang.” Wizza berucap setelah menghabiskan makanan di depannya.
Sekar diam beberapa saat, “Lalu, apa kata Dokter?” tanyanya.
“Aku bisa melakukan operasi 2 minggu lagi, untuk selanjutnya akan melakukan diet dan memakan makanan tertentu sebelum operasi.” jelas Wizza.
“Maksud Papa... Pemeriksaan ginjal untuk Ardhen?” tanya Dedrick.
‘Demian! Bangun!’ Wizza kecil menangis pilu. Ia baru saja kehilangan adiknya. Penyakit ginjal turunan yang merenggut nyawa.
Ayah Wizza pecandu alkohol. Ia tak bisa mendonorkan ginjalnya, sedangkan Wizza saat itu masih berumur 10 tahun, itulah penyebabnya ia tak bisa mendonorkan ginjalnya.
Ia berkonsultasi dan merawat dirinya saat itu, kemungkinan besar anaknya nanti akan mengalami hal yang sama. Sejak kejadian itu, Kakek tua ini merawat diri, memperhatikan makanan, tak merokok dan meminum alkohol. Banyak mengkonsumsi buah dan sayur, rutin olahraga sehingga Wizza masih sehat di usianya yang 59 tahun ini.
Wizza memejamkan matanya sejenak, menghilangkan bayangan kepergian adiknya.
“Ya, Papa yang akan mendonorkan ginjal untuknya. Papa telah menyiapkan ginjal ini jauh sebelum kehadiran dia. Dulu, papa mempersiapkannya untuk kalian. Beruntungnya, kalian berdua tidak memiliki riwayat penyakit ginjal. Jadi, biar Papa saja yang akan mendonorkan ginjal itu untuknya.” Wizza menatap kedua putranya yang sudah besar itu.
“Maksud Papa... Ini penyakit turunan?” tanya Andrean tak percaya. Bagaimana pun ia selalu melakukan hal-hal buruk yang tak menjaga kesehatan tubuh.
“Ya.” sahut Wizza tanpa keraguan.
“Lalu, apakah Dia tidak jadi dinikahi?” tanya Dedrick.
“Tentu saja harus!” jawab Sekar cepat.
“Hm... Biar aku saja yang menikahinya. Andrean masih kecil untuk mengemban tanggung jawab itu.” ucap Dedrick. Andrean melirik Kakaknya dengan ekor mata.
“Kau ingin menikahi perempuan itu?!” Sekar bertanya dengan intonasi sedikit meninggi.
“Iya, Ma. Biar aku bertanggungjawab. Andrean masih belum bisa mengurus hal seperti itu.” ujarnya.
“Kau selalu saja membela, menuruti dan menanggung semua kelakuannya. Biarkan dia bertanggungjawab atas perbuatannya, Dedrcik.” ujar Wizza tegas.
Andrean melihat perubahan wajah Dedrick. Ia pun langsung berkata, “Tapi, Pa... Lebih baik Kakak menikahi wanita itu. Anak itu juga sangat mirip dengan Kakak. Aku masih belum berniat menikah, aku masih ingin ber....”
Plak! Satu tamparan keras di pipi Andrean yang dilayangkan Wizza. “Kau benar-benar tak punya otak!” serunya marah.
Andrean mengelus pipinya, sangat perih, dengan mulut sedikit terbuka, ia mendengus kecil. Ini bukanlah tamparan pertama untuknya, ia sudah sering ditampar seperti ini oleh Wizza bahkan di pukul.
Waktu tamat sekolah dulu, ia sampai dihajar habis-habisan oleh Wizza karena tak mau kuliah di luar negri dan berpisah dengan Dedrick.
“Pa...” lirih Dedrick. Ia tak tega Adiknya itu ditampar.
“Dasar anak tidak berguna! Kerjaanmu selalu saja membuat susah orang! Menghambur-hamburkan uang dan bermain wanita, sampai kapan kau melakukan perbuatan tidak terpuji itu?!”
“Pa... Udah. Kontrol emosimu, jangan marah-marah lagi, gak baik untuk jantung.” Sekar menenangkan Wizza.
“Kalian berdua selalu saja membela Anak ini!” Wizza menunjuk Andrean. “Kapan anak ini akan berguna dan berpikir, lama-lama dia akan ngelunjak dan semakin tak berotak!” Wizza masih emosi.
“Tenang dulu, Pa. Ayo, duduk lagi... Nih, minum dulu.” Sekar memberikan segelas air mineral.
Setelah hening cukup lama, Wizza berkata kembali.
“Kau tau, jika Dedrick yang menikahi wanita itu, Irfan akan leluasa menjatuhkan posisinya sekarang dengan menggiring opini, bahwa Dedrcik sama dengan kau yang senang bermain-main dengan wanita, memiliki anak haram.”
“Dulu saat warisan jatuh ke tanganku seutuhnya, dia tidak bisa menerima kenyataan, karena dia hanya anak haram.” tutur Wizza pelan.
“Sejak itu, ia semakin membenciku,” lanjut Wizza.
“Jadi, maksud Papa, Paman itu bukan anak sah Kakek? Bukankah dia adik Papa?”
“Dia anak selingkuhan Kakek, Ibunya meninggal, jadi Kakek membawanya pulang saat Papa berumur 5 tahun, dia sudah berumur 3 tahun.” jelas Wizza.
Andrean dan Dedrick terdiam, mereka baru mengetahui faktanya sekarang. Mereka berfikir, hanya karena Irfan cemburu, ingin menjadi CEO tetapi Kakek tidak mengizinkan karena ia kurang pantas.
Secara garis besar, Irfan terlalu tamak dan kejam, makanya banyak dewan pemimpin dan yang memiliki saham di Perusahaan mendukung Dedrick sebagai pengganti CEO lama, Wizza.
“Karena itu, jika dia yang menikahi wanita itu, berdampak buruk dan lagi yang seharusnya bertanggungjawab itu kamu, Andrean. Mereka berdua adalah anakmu. Sudah sepantasnya kamu belajar dewasa dan bertanggungjawab.” ucap Wizza tegas.
Semuanya terdiam mendengarkan, beberapa saat tanpa suara.
“Baiklah, Pa. Jika begitu, aku akan menikahi wanita itu.” Andrean berucap.
“Baguslah jika kau mengerti,” Wizza menepuk pundak Andrean. “Lakukan yang terbaik, bujuk dia dengan baik, jangan mempermalukan keluarga,” sambungnya lagi.
“Kita sudahi makan malam kita, semuanya sudah jelas, kau segera temui wanita itu dan ajaklah menikah. Sedangkan kau Dedrick, segeralah kembali ke Belanda, begitu banyak tugas yang terbengkalai dan amankan gosip yang disebar oleh Pamanmu itu.”
“Baik, Pa.”
_______________
Keesokan harinya,
Andrean mendatangi kamar inap Ardhen. Di sana hanya ada Jimi.
“Papa,” sapa Ardhen senang.
“Ardhen,” Andrean tersenyum dan membelai lembut kepala Ardhen.
“Papa akhirnya datang, aku merindukan Papa. Aku pikir, Papa tidak ingin datang lagi dan membohongi kami.” Ardhen memanyunkan bibirnya.
“Itu tidak benar. Mulai sekarang, Papa akan selalu bersama kalian.”
“Benarkah, Pa?” tanya Ardhen antusias.
“Iya,” jawab Andrean meyakinkan.
“Oh, ya, Pa. Kenalin, ini Daddy.” Ardhen menunjuk Jimi. “Daddy, kenalin, ini Papa.”
Mereka pun berjabat tangan, saling melempar senyum dan menyebutkan nama masing-masing.
“Mamamu mana, Nak? Papa ingin mengobrol dengannya.”
“Mama lagi bekerja, nanti sore baru datang lagi ke sini. Makanya sekarang yang gantian temani aku di sini Daddy.”
“Terus kembarannya kemana?” tanya Andrean lagi.
“Sekolah, Pa.” jawab Ardhen.
“Apa papa mau mengatakan yang penting pada Mom?” tanya Ardhen, Andrean menganggukan kepalanya.
“Tunggu sebentar,” Ardhen sibuk menyibak bantalnya dan mengeluarkan handphonennya dari bawah bantal itu. “Nih, nomor Mom, Pa. Papa save, ya.” Ia sodorkan handphonenya pada Andrean.
Dengan cekatan Andrean menyalin nomor itu. “Terimakasih, Sayang.”
“Masama, Pa.”
Andrean berbincang-bincang ringan dengan Jimi dan Ardhen, lalu beranjak pergi karena ada urusan mendadak.
...***...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 293 Episodes
Comments
C2nunik987
biarkan mommy kembar nikah ma Andrean... bagaimana pun triplets itu darah daging Andrean 😍😍
2025-03-22
0
perjuangan ✅
knp semua orang bilang nikahi sama dedrick,, GK bisa se enak gtu donk sekali pun kalian tidak suka,, bener kata papa wizza Adrean hrs bertangung jwb,,masa benih di tangung SM kakak nya,,nanti ada lagi benih nya siapa yg bertangung jwb,, baca resapi alur ceritanya,,jgn hanya baca aja,,,
2022-02-02
0
Setiyawan Dani
ko kembaran yg ke tiga di sembunyikan jd g seru ceritanya
2022-02-02
0