Setelah mereka selesai sarapan. Billa dan Kinah berbincang berdua di halaman belakang. Sedangkan Jimi dan ketiga putra Kinah sedang asik menatap layar laptop.
“Kau yakin mengizinkan Arsen pergi denganku pulang kampung besok?” tanya Billa.
“Ya, bagaimana lagi. Anak itu pasti akan keras kepala, walaupun aku larang. Ada Arhen dan Ardhen kok di sini bersamaku.”
“Bukan begitu maksudku, kamu tau Arsen, 'kan? Dia anak yang sangat pintar dan pemberani. Apalagi dia sering sekali menanyakan Ardi, almarhum suamimu.”
Haaaah! Kinah menghela nafasnya.
“Kadang aku pusing, sampai kapan harus berbohong pada mereka? Untuk membohongi mereka sangat susah. Mereka seperti orang dewasa yang sangat susah untuk dikibuli.” Sakinah memijat keningnya.
“Aku yakin, pria yang memperk*sa kamu saat itu adalah orang pintar. Aku malah yakin banget, sebenarnya mereka anak pemilik perusahaan kebun sawit itu!” Billa berucap dengan antusias.
“Entahlah, aku tak yakin. Aku tak melihat wajahnya.”
“Apakah ada yang memesan makanan padamu?” sambung Sakinah mengalihkan pembicaraan.
“Ada, sudah ku beritahu pada Ardhen.”
“Kenapa padanya, kamu seharusnya memberitahuku!” protes Kinah.
“Untuk apa memberitahumu yang tak bisa diandalkan. Lagian yang akan memasak kue itu juga Ardhen.”
“Aku juga memasaknya!” Tak terima.
“Iya, kamu cuma membantunya.” Menyindir Kinah.
“Apa kau sudah mengizinkan aku membawa Arsen pulang kampung bersamaku.” Billa kembali ke topik pembicaraan pertama.
“Ya, berhati-hatilah pada mantan mertua dan kakak iparku serta adikku, Salwa. Aku tak ingin dia melakukan kejahatan pada putraku.”
“Hahahaha! Aku malah khawatir putramu yang melakukan sesuatu pada mereka.” ucap Billa tertawa lepas.
___________
Hari ini Billa dan Arsen bersiap pergi pulang ke kampung. Mereka hanya berdua saja.
Setelah sampai di kampung, kedua orangtuanya menyambut antusias, serta beberapa tetangga yang menongol.
Ibu Billa langsung menggendong Arsen, ia sangat tertarik dengan anak laki-laki itu.
“Wah, anak siapa ini? Tampan sekali.”
“Gemesnya.”
“Ini anaknya Sakinah.” jawab Billa tersenyum.
“Anak wanita ganjen itu, berarti anak haram!”
Wajah memuji yang tadinya terlihat seperti bulan sabit yang indah, kini berubah kecut seperti kulit jeruk yang kering keriput.
Arsen menatap beberapa orang itu tajam.
‘Inikah alasan Mom tidak bersedia pulang kampung? Bukankah suami Mom meninggal dunia?’
“Kami pamit dulu Bu, Shalsabila, mau main ke rumah Bu Linda.”
Setelah kelompok Ibu-ibu pergi, Billa menghela nafas panjang. “Dasar Ibu-ibu tukang gosip. Pasti mau ngegosip sebarin kalau aku pulang sama putra Kinah ke mantan Mertua Kinah.” rutuk Billa.
“Udah, Cah Ayu. Gak usah urus, mereka memang seperti itu. Yuk, kita makan.” ajak Ibu Billa.
“Ayo, Sayang.” Ibu Billa mengelus rambut Arsen.
Mereka makan di meja makan, sekali-kali berbincang ini dan itu. Arsen menyaringkan pendengarannya tentang informasi yang ia dengar.
“Miss, I want to play there.” tunjuk Arsen ke lapangan hijau. Ia memegang satu buah bola yang ia bawa dari kota.
“Ok! Ingat jangan buat masalah!” Billa mengingatkan.
Diam-diam Arsen berjalan ke arah pemakaman sendirian, bukan ke lapangan. Beberapa belas menit ia akhirnya sampai.
Di pemakaman, ia mencari nama Ardi. Sesuai dengan Kartu Keluarga Ibunya, nama ayahnya tertera Ardi.
Ia berdiri di pemakaman itu. ‘Papa, Aku Arsen, anak Papa. Maaf, baru kali ini berkunjung. Kami sangat merindukanmu. Kau tau, Mom tak pernah membawa kami kemari. Aku sengaja kemari, kami semua merindukanmu. Apakah Papa merindukan kami juga?’ Arsen berjongkok, mencabut rumput kecil yang tumbuh di pusara itu.
‘Pa, Mom sangat kuat. Ia bekerja keras demi kami. Aku dan dua adikku akan membantu dan menjaga Mom. Papa jangan khawatir, ya. Kami janji, Pa.’
Arsen berwajah dingin itu tertunduk. Airmatanya menetes.
‘Teman-teman di sekolah mengatakan kami tak punya Papa. Semua orang di gendong dan diajak bermain bersama Papanya. Mom bilang, kami akan digendong juga nanti di surga. Benarkah itu, Pa?’ Ia masih meneteskan air matanya.
“Hei, kau!” Hanum mendorong bahu Arsen.
Ia bersama dua orang Ibu-ibu yang tadi bertamu di rumah Billa.
“Dasar anak haram! Pergi kau dari pusara adikku. Kau cuma anak haram, bukan anak Adikku!”
Arsen menatap Hanum tajam dari atas sampai ujung kaki. Wanita yang berpakaian muslimah dengan hijab pasmina yang panjang, style model ibu-ibu pengajian zaman now.
“Pergi dari sini anak haram! Kau tak pantas berada di pusara Adikku.” usir Hanum.
“Otakmu tidak sebesar mulutmu, Tante!”
“Apa kamu bilang?!” Hanum emosi. Suaranya meninggi.
“Otak kosong memang paling banyak bicaranya. Senang merendahkan orang lain, menunjukkan kelemahan diri sendiri.” sahut Arsen lagi.
“Dasar anak haram sial*n!” umpat Hanum kesal.
Ia berniat memukul Arsen, bocah itu mengelak, hingga ia hanya bisa memukul angin.
“Anak kurang aj*r! Kau sama seperti ibumu, wanita jal*ng, hamil dengan orang lain!” teriak Hanum.
Arsen terdiam mendengarnya, namun hanya sebentar, “Bercerminlah dahulu sebelum kamu membuat cermin orang lain, atau mungkin kau butuh cermin, Tante? Lihat, sepertinya bedakmu rusak!”
“Aku bukan tantemu Anak Haram!” Hanum berniat menjewer Arsen, namun anak laki-laki itu, lagi dan lagi mengelak dengan lincahnya.
“Karena aku bijak, aku akan menerima satu-satunya orang bodoh yang lebih besar dari orang yang melanjutkan debatnya dan mencari pembenaran atas segala kesalahannya. Aku memang kecil, tetapi berpikir besar. Dari pada besar, berpikir kecil dan sempit. Bodoh!”
“Kurang ajar!” Hanum mencoba mengejar Arsen.
“Aaaaaaah!” Ia terjatuh. Tersandung tepi pusara.
Arsen memilih pergi, sedangkan Hanum dibantu berdiri oleh ke-dua temannya yang menemaninya tadi.
“Anak kurang ajar, sama seperti Ibunya!” bersungut-sungut kesal. “Aaaah! Bajuku jadi kotor, padahal jam 4 sore kita akan pergi ke pengajian di rumah Bu Salamah!” Hanum mengibaskan rok panjangnya yang kotor.
“Ayo ganti baju lagi, baju kamu 'kan banyak.” ajak temannya.
“Tapi ini bajuku paling baru, ini mahal dan tren banget sekarang.”
“Yang satu lagi juga terlihat baru, kok.” jawab temannya.
“Itu sudah aku pakai ke acara Bu Ash!” kata Hanum ketus.
“Baru sekali pakai aja, gak apa-apa kali. Tinggal tutup pakai hijab, lalu kasih aksesoris. Beres!”
___________
Sore harinya, ia diam-diam mengikuti Hanum yang sedang membawa motor, Ia mengikutinya dengan sepeda, menyandang sebuah tas belakang.
Hanum terlihat menjemput seorang anak muda berpakaian putih dengan celana dongker. Seorang pelajar Sekolah Menengah Pertama.
Arsen terus mengintai, ia melihat pria remaja itu berjalan ke arah lapangan dan bermain bola bersama teman-temannya.
Ia memantau setiap sudut lapangan. Melihat berapa jumlah orang dan perkiraan lainnya. Ia tersenyum licik saat semua ide sudah sempurna dalam otaknya, apalagi anak laki-laki yang ia lihat dibonceng Hanum saat itu sedang terjadi masalah dengan lawan mainnya.
Ia mulai ikut memprovokasi, “Wah, kalau begitu, bagaimana dengan adakan lomba sekarang, siapa yang kalah harus mendapatkan hukuman, sedangkan yang menang akan mendapatkan hadiah.” teriak Arsen.
“Heh, Bocah! Diamlah! Kau masih sangat kecil!”
“Aku akan diam, jika diulang bertanding kembali! Seharusnya Kakak berbaju merah itu yang mencetak gol tadi, aku melihatnya. Yang baju biru melakukan pelanggaran.”
“Iya, benar, kata adik itu memang benar. Aku tadi juga melihatnya!”
“Memang siapa yang berani memberikan hadiah?! Jika ada yang berani, kami akan mulai bertanding kembali. Benar, 'kan?” tanya seseorang pada teman-temannya yang satu team.
“Saya!” Arsen mengeluarkan uang biru 5 lembar. “Team yang menang akan mendapatkan 3 lembar ini, sedangkan pencetak gol terbanyak mendapatkan 2 lembar ini. Sedangkan yang kalah harus di hukum menusuk jari tangannya dengan benda ini.” Ia mengeluarkan benda kecil seperti pena, padahal itu adalah jarum suntik yang sudah di modifikasi olehnya.
Mereka diam dan saling menatap. Tentu saja, di desa mereka uang 50.000 adalah angka yang cukup besar untuk jajan anak-anak. “Sini aku lihat uang itu dulu, jangan-jangan palsu!”
Mereka mengambil uang itu, melihatnya seksama. “Uangnya asli teman-teman.” teriaknya setelah memeriksa.
“Kau yakin akan memberikan uang ini pada kami bocah? Kau tidak mencuri uang Ibumu, 'kan?” tanyanya penuh selidik.
“Tidak, itu uang jajanku. Kalau tidak percaya tanya saja pada Shalsabila anak Pak RT.” Mereka semua tersenyum riang. Mereka tau jika Billa adalah keluarga kaya.
“Tapi, aku yang akan menusuk jari tangan siapa yang kalah. Cukup perwakilan saja, tiga orang.” jelas Arsen.
Ya, dia memperkirakan perwakilan itu pasti salah satunya adik laki-laki Hanum. Kenapa begitu? Di dalam lapangan ia telah memberikan beberapa jebakan, sengaja membuat team lawan dari adik laki-laki Hanum kalah.
Ia melompatkan kelereng yang sangat mini beberapa buah saat adik Hanum berlari, melompatkan cairan bening yang sangat licin dan mudah pecah saat diinjak.
Persiapan yang sempurna dengan kejadian yang sangat pas diinginkan Arsen. Team adik laki-laki Hanum kalah. Ia salah satu peserta yang akan menusuk jari tangannya. Arsen sengaja menusuknya kuat dan dalam.
Anak laki-laki itu menjerit karena sakit dan terkejut. Ia diejek dan ditertawakan. Lalu, ditinggalkan.
Arsen menggenggam tangannya setelah mendapatkan darah itu. “Tutup pakai kapas kecil ini, Bang. Supaya darahnya berhenti keluar. Oh, ya. Aku punya permainan baru, Abang mau lihat?” Arsen mencoba mengambil hati anak laki-laki itu.
Ia menatap Arsen seolah mencemooh. “Aku tak suka mainan anak kecil!” tolaknya sembari menutup tangannya dengan kapas pemberian Arsen.
“Ini, coba Abang lihat dulu.” Arsen memberikan ponselnya pada anak laki-laki itu. “Gimana, suka?” tanya Arsen setelah melihat anak laki-laki itu fokus pada permainan.
“Abang bisa pakai, tapi jangan hilangkan handphoneku, ya. Aku akan menjemputnya besok.”
...***...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 293 Episodes
Comments
Erie
menarik
2022-03-31
0
Sean
menarik veritanya
2022-03-18
0
Hesty We En
saya masih bingung...knpa sakinah bisa punya 3 anak? apa waktu hamil bayinya kembar 3?
2022-01-20
0