Setiap orang punya cerita tentang rumitnya jalan hidup yang ia jalani. Bagaimana sulitnya dia menghadapinya, bagaimana air mata menjadi saksi betapa luar biasa ujiannya. Namun kenyataannya, hingga saat ini segalanya bisa terlewati dan kuncinya adalah cukup jalani saja. Apapun yang ada, bagaimana alurnya, semua itu sudah menjadi rencana terbaik dari Tuhan.
Seperti yang di jalani Sakinah, ia mendapatkan musibah bertubi-tubi sejak dulu, kesabaran dan keikhlasan kuncinya. Kini, semuanya berbuah manis, ia menatap dua putra tampannya Arsen dan Arhen. Ia tersenyum.
“Mom berangkat kerja dulu, titip Adik kalian Ardhen, ya. Cup!” Ia kecup kening mereka berdua, lalu pergi.
Semenjak ia memiliki tiga putranya, ia bekerja keras dari subuh datang hingga malam memeluknya.
“Kak, naikkan tempat tidurnya,” pinta Ardhen setelah kepergian Sakinah.
Arhen memutar pemutar agar ranjang pasien bergerak. “Bagaimana kemarin?” tanyanya menatap Ardhen dan Arsen.
“Berhasil,” kata Ardhen tersenyum malu-malu.
“Hm, apa dia mirip denganku?” tanyanya lagi.
“Tidak, Papa sangat tampan, mirip denganku.” sahut Ardhen.
“Hei, ada apa dengan wajahmu, jelas-jelas yang tampan itu aku!” Arhen protes.
Plak! Arsen memukul bahu Arhen, “Kakak, kau melakukan kekerasan dalam dunia peradikkakakkan!” rengut Arhen, Arsen tak peduli.
“Sudah, jangan berdebat, mengalahlah pada yang kecil!” ucapnya, lalu menatap wajah Ardhen.
Arsen memegang dagunya, berpikir.
“Kenapa Abang menatapku seperti itu?” tanya Ardhen, ia malu ditatap seperti itu.
“Kalian berdua benar-benar mirip dengan mereka, aku jadi bingung.” ucap Arsen.
“Kenapa kita tidak tanyakan pada Mom saja,” usul Arhen.
Pletak! Arsen menggentik kening Arhen.
“Bodoh! Jelas-jelas Mom merahasiakan siapa Papa kita selama ini, bahkan kita sudah berumur 6 tahun tak tahu rupanya. Ia juga tidak bilang kita anak Ardi, tetapi dalam kartu keluarga jelas tertulis Ardi ayah kita. Artinya, semua ini rahasia, kita harus menemukan misterinya, mengerti?”
Arhen dan Ardhen mengangguk.
Ya, waktu Sakinah hamil, ia memang tidak mengurus surat meninggal suaminya, sampai ketiga putranya lahir, jadi data mereka anak Ardi.
“Lalu, apa rencana Abang? Apakah Papa akan mengakui kita jadi anaknya nanti?”
“Tentu saja harus mengakuinya! Jelas, aku sudah melakukan tes DNA, salah satu diantara mereka memang ayah kandung kita,” jelas Arsen.
“Tapi bagaimana kalau tidak, Bang?” Arhen bertanya kembali.
“Aku akan memaksanya mengakui.” Arsen tersenyum penuh arti, “Kalian pasti mengerti, 'kan? Aku memiliki banyak cara untuk membuat dia mengakuinya.”
“Kau memang Abang kami number uno,” kata Arhen mengacungkan jempolnya. “Ya, 'kan Ardhen?” Meminta persetujuan adiknya, anak laki-laki itu mengangguk menanggapinya.
“Aku yakin Papa akan mengakui kita,” Ardhen tersenyum, pipinya memerah.
Kemarin ia hanya pura-pura tidur saat ditatap Andrean, ia menyukai pria itu.
“Itu pasti.” ucap Arsen.
Arsen duduk di kursi, memainkan handphonenya. Arhen lebih memilih merapikan rambut Ardhen.
“Adik, aku sangat merindukan masakanmu, kue kita bahkan kurang laku sekarang, ada yang protes rasanya berbeda.” Arhen mengeluskan hidungnya manja ke pipi Ardhen.
“Menjijikkan!” dengus Arsen melihat kelakuan dua beradik itu.
Ya, Arhen yang riang dan suka manja-manja, Ardhen yang lembut dan perhatian, sedangkan Arsen, dingin, sangat pintar dan pemberani tidak suka hal begitu kecuali jika dicium Sakinah.
‘Nanti sore, kembali datang ke rumah sakit!’ Arsen mengirim pesan ke email Dedrick.
Ia tersenyum licik setelah mengirim pesan itu.
_____________________
Sore hari,
Arhen dan Arsen pulang bersama Jimi, sekarang Sakinah dan Billa yang berada di rumah sakit untuk menjaga Ardhen.
“Beberapa hari ini aku dijadwalkan lembur,” Sakinah menghela nafas, ia duduk bersiloncor di kursi.
“Bagus dong, kau akan dapat uang tambahan untuk jajan anak-anak,” sahut Billa.
“Bukan begitu maksudku, bagaimana dengan Ardhen, bagaimana dengan anak-anak yang sering aku tinggalkan?”
Hening sejenak, “Jangan khawatir, aku akan meminta Jimi menemani Ardhen di pagi hari sewaktu Arhen dan Arsen ke sekolah, lalu saat mereka pulang sekolah, ada aku atau Arsen dan Arhen yang menjaga Ardhen. Aku akan memeriksa pelajaran mereka juga, jadi jangan khawatir pasti mereka mengerti. Anak-anakmu anak yang cerdas dan pengertian.”
“Aku tak enak selalu merepotkanmu dan Jimi, Billa,”
“Hei, aku bukan hanya menganggapmu sahabatku, tapi saudaraku, ingat itu! Aku menyayangimu, jadi tak ada yang merepotkan bagiku. Anak-anakmu adalah anak-anakku juga.”
“Terimakasih, Billa.” Sakinah memeluk haru Billa.
Brak! Pintu tiba-tiba saja terbuka tanpa di ketuk.
Tentu saja itu membuat Sakinah melepaskan pelukannya dengan Billa. Mata mereka berdua membulat sempurna saat melihat dua pria tampan di depan pintu.
Ya, mereka adalah Dedrick dan Andrean.
‘Siapa mereka? Kenapa mirip sekali dengan Arhen dan Ardhen?’ Hati Sakinah berkata.
‘Apa salah satu diantara mereka Ayah anak-anak? Wajahnya mirip sekali dengan Ardhen dan Arhen.” Billa bermonolog dengan hatinya.
Bukan hanya Billa dan Sakinah, tetapi Andrean dan Dedrick masih dalam keadaan terpana, ternganga, terpesona, terlena.
Andrean melihat wanita yang sering ia mimpikan itu, wanita yang samar ia ingat, wanita yang kemarin ia lihat membawa rantang nasi, wanita cantik berhijab itu. Ya, dia Sakinah.
Untuk pertamakalinya, darah Dedrick berdesir, jantungnya memompa dengan hebat, ini bukan rasa cemas phobia yang ia rasakan sebelumnya, hingga ia sampai merasa jijik pada wanita. Ini adalah getaran lain, ia hanya ingin menatap wajah cantik berhijab itu terus menerus.
Dua pria tampan itu seolah melihat ada bunga bermekaran dan cahaya bersinar-sinar mengelilingi Sakinah, mereka jatuh cinta.
Dedrick mengatur nafasnya yang memburu, tangannya sampai berkeringat, rasanya ia ingin bersimpuh di kaki Sakinah, lalu mengeluarkan cincin Ruby berbentuk hati, ‘Will you meried me, girl?’
Membayangkan itu, jantungnya sudah berdendang bertalu-talu.
“Aa...A..” Dedrick dan Andrean sama-sama di serang gugup, hingga mereka sama-sama terbata.
Andrean menatap Dedrick, begitupula Dedrick juga menatap Andrean tak percaya. Adiknya yang mahir dengan ratusan wanita? Kini, gugup.
“Cari siapa?” tanya Billa, membuat Andrean dan Dedrick menoleh ke arah wanita yang berdiri di samping Sakinah, barulah alam sadar mereka kembali.
“Kami ingin menemui keluarga Ardhen,” sahut Dedrick.
“Ya, saya Ibunya.” jawab Sakinah.
Jantung Dedrick berdetak hebat, ia menelan salivanya, gugup, “I... ini... A... Aku mau mend...”
Andrean menepuk bahu Dedrick, “Mendonorkan ginjalku padanya,” sambungnya sedikit berteriak. Ia sodorkan kertas DNA pada Sakinah, tetapi wajahnya memerah dan menatap kearah lain.
Sakinah mengambil kertas itu, matanya terbelalak. Billa mengintip juga ikutan membulatkan matanya.
“Jadi... Kau Ayahnya Ardhen?” tanya Billa.
“Hm, itu...”
Plak! Satu tamparan keras dihadiahkan Billa pada Dedrick sebelum ia menyelesaikan ucapannya.
“Pria kurang ajar!” serunya marah.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 293 Episodes
Comments
C2nunik987
Bella salah tampar orang 🤣🤣🤣
2025-03-22
0
cah wetlep
ya elah, Bella main gampar aja 😊
2022-03-12
1
nichic
wow, sakinah hebat. adik kakak lsg jatuh cinta
2021-12-12
0