“Assalamu'alaikum, Bila. Aku sudah sampai, memakai baju warna biru.” ucapnya di telfon.
“Hai, aku di sini.” Seorang wanita melambaikan tangannya pada Sakinah.
Ia pandangi wanita cantik bak model itu, tinggi 175cm dengan body slim, rok selutut, betis putih mulus, rambut panjang diblonde. Ia terlihat seperti model.
Ia langsung merangkul Sakinah yang hanya tinggi 160 cm. “Wah, kau tidak banyak bertumbuh lagi, ya, sejak SD.” selorohnya.
Dulu waktu SD, Sakinah jauh lebih tinggi dari Shalsabila.
“Ayo, masuk!” Bila telah masuk terlebih dahulu ke dalam mobil berwarna merah miliknya. Sakinah masuk, menutupnya pelan.
30 menit di perjalanan, Ia telah sampai di perumahan elit di Batam Centre. Rumah yang mendominasi cat berwarna putih.
“Ayo.”
“Nah, ini kamarmu. Maaf ya, kurang rapi, soalnya tempat ini sebelumnya aku jadikan tempat penyimpan buku, perpustakaan mini ala aku. Hehehe.”
“Maaf ya Bila, merepotkan kamu dan orangtuamu. Terimakasih.” ucap Sakinah menangis dalam senyum, bulir airmata menetes di pipinya, ia sangat terharu atas kebaikan Bila sekeluarga.
“Jangan nangis. Ayo, aku bantuin.”
_____________________
7 Tahun kemudian.
Teng! Teng!Suara sendok memukul tutup panci.
“Mom, wake up! Don't malas-malasan deh!” Perlahan Sakinah membuka matanya, 3 bocah laki-laki berumur 6 tahun menatapnya tajam.
Anak laki-laki yang memegang tutup panci dan sendok itu menatap Kinah lembut, wajahnya yang teduh menenangkan, bola mata bulat, rambut berwarna coklat, bibir merah berisi, hidung mancung, persis seperti wajah Andrean waktu kecil.
“Mom, wake up!” (Ibu, bangun!)
“Aku sudah memasak, Mom belum juga selesai mandi! Malah, tidur kembali!” ucapnya.
Ia adalah putra ke-tiga Kinah. Namanya Ardhen, Ia memiliki IQ 140, lemah lembut dan jago memasak.
Sedangkan di samping kirinya, anak laki-laki kecil itu, sejak tadi mengelus dagunya dengan tatapan tajam, kemudian menarik selimut Kinah.
“You know, Mom? Jika dipikir-pikir, mulai dari tubuhmu hingga pakaianmu, kau selalu tidak merawatnya, padahal aku sudah bilang, jangan kebanyakan makan dan tidur, berdandan biar cantik seperti Miss Billa.” Berkacak pinggang.
Lagi, lagi dan lagi. Kinah akan dibandingkan dengan Shalsabila temannya itu oleh anak-anaknya. Fix!
Ia adalah Arhen, putra kembar ke-dua Kinah.
Sifatnya biasanya riang, style banget, jago akting dan hebat berfoto untuk model. Tiap hari selalu cerewetin Kinah untuk menjaga penampilannya. Wajahnya juga tampan, ia memiliki rambut kuning keemasan, persis menyalin wajah Dedrick waktu kecil. Ia juga memiliki IQ 140 sama seperti adiknya Ardhen.
Sedangkan anak kecil yang berada di samping kiri Ardhen, Ia adalah putra kembar pertama Kinah, ia memiliki sorot mata tajam, bibir merah berisi, memiliki mata sipit seperti Kinah dan rambutnya juga hitam seperti Kinah.
Ia pemberani, pendiam, sangat pintar, memiliki IQ 180, lebih tinggi dari dua adik kembarnya. Ia genius dalam bidang IT.
Cuek dalam hal lain apapun, kecuali berhubungan tentang dua adiknya, Kinah, Daddy dan Miss Billa, teman Ibunya.
Nama dia adalah Arsen.
Arsen menyedekapkan tangannya di dada, menatap Ibunya tajam. Kinah mendesah.
Mereka adalah Anak kembar fraternal atau kembar tidak identik. Hal ini karena kembar identik prosesnya berasal dari sel t*lur dan sp*rma yang sama (disebut monozigotik). Sementara kembar fraternal berasal dari sel t*lur dan sp*rma berbeda yang disebut sebagai kondisi dizigotik. Makanya, fisik mereka berbeda.
“Hello, my childrens. What are you doing now? I Miss you so much!” (Hai, anak-anak. Apa yang kalian lakukan sekarang? Aku merindukan kalian!) Ceracau seseorang setengah berteriak dari luar.
“Hellooo... Anybody here? Arhen, Ardhen, Arsen, where are youuuuuu?” (Hallo, apakah ada orang di sini? Arhen, Ardhen, Arsen, dimanakah kalian?) sambungnya kembali berteriak.
“Mom cepat mandi, kami akan menunggu di bawah.” Arhen dan Ardhen terlebih dahulu keluar dari kamar, sedangkan Arsen masih menatap ibunya tajam dengan menyedekapkan tangan di dada.
“Ok, Mom mandi.” Tersenyum kecil saat melihat tatapan tajam Arsen.
Sakinah bangun dari tidur, lalu mengelus kepala Arsen. Kinah masuk ke dalam kamar mandi. Setelah Kinah masuk, barulah Arsen keluar dari kamar.
“Daddy!” Arhen dan Ardhen berlari memeluk pria dibelakang Miss Billa.
“Hei, Aku di sini, tapi kalian malah memeluknya!” Berkacak pinggang tak terima.
Ya, dia adalah Shalsabila, teman Kinah. Perempuan cantik yang selalu seksi. Ia adalah seorang guru bahasa Inggris di SMA Asia Global Internasional Batam. Anak-anak Kinah lancar berbahasa Inggris dan bisa bahasa lainnya tak luput dari Shalsabila yang juga ikut andil mengajarkan mereka, walaupun aslinya mereka memang anak-anak yang genius, sekali lihat buku pelajaran yang dibawa Shalsabila mereka bisa hafal semua.
Mereka memanggilnya dengan panggilan Miss Billa.
Sedangkan pria dibelakangnya ini adalah suami Billa. Mereka baru menikah beberapa bulan yang lalu. Namanya Jiming Ho Chen, dipanggil Jimi. Ia keturunan Indonesia-China. Ayahnya China dan Ibunya Indonesia. Ia adalah putra dari pemilik SMA Asia Global Internasional Batam.
Pertemuan mereka tanpa disengaja, saat itu Ia menabrak Billa yang sedang berjalan hendak pulang mengajar, di sana saling tumbuhlah cinta mereka. Lalu menjalin hubungan. Berpacaran cukup lama, baru menikah.
Ia berprofesi sebagai fotografer. Ia juga seorang YouTuber.
Arhen dan Arsen belajar dari dia. Arhen sering berfoto dan di share ke sosial media. Bahkan dapat tawaran untuk iklan produk. Sedangkan Arsen, Ia lebih tertarik dengan handphone, komputer dan laptop miliknya. Ia tak pernah tertarik dengan yang lainnya.
“Wah, putra-putra Daddy sudah rapi dan mandi, ya. Sudah wangi dan tampan.” Ia membalas pelukan Arhen dan Ardhen.
Huh! Billa mendengus, kemudian merentangkan tangannya lebar setelah melihat Arsen berjalan ke arah mereka.
Arsen malah melewati Billa, Ia langsung duduk dimeja makan.
“Hei, apa-apaan itu sifat kalian?! Ini sangat menjengkelkan, pantas saja Kinah sering cemberut setiap pagi dengan sikap kalian.”
Billa berjalan dan duduk di samping Arsen. Sedangkan Jimi menggendong dua anak laki-laki itu. Menurunkan mereka setelah sampai di meja makan. Dua bocah laki-laki itu masih saja tertawa.
“Miss seperti tidak tahu saja dengan sikap Abang. Pufft!” Arhen tertawa menutupi mulutnya, menertawakan Billa yang tadi merentangkan tangannya pada Arsen. Kemudian mereka duduk dikursi masing-masing.
“Huh! Terserah kalian saja.” Mengambil piring terlebih dahulu.
“Aku lapar! What are you cooking, Handsome?” (Apa yang kamu masak, Tampan?) Mengerlingkan matanya pada Ardhen.
“Miss bisa lihat sendiri, taraaaa!” sahutnya sembari membuka tudung saji dimeja makan.
“Wow, I think it's really delicious! Let's try!” (Wah, ini sungguh terlihat enak! Mari mencoba) Billa langsung menyendok makanan ke dalam piringnya.
Jimi hanya bisa tersenyum kecil.
Billa sejak dulu tidak bisa memasak, ia lebih sering memesan makanan. Adapun ia belajar memasak belum pernah berhasil. Rasanya benar-benar tak enak.
Ardhen mengambilkan makanan untuk Jimi, Arhen dan Arsen.
“Ok, cobain makanan terbaru saya, ya.” ucap Ardhen bangga, ia tersenyum menanti pujian.
Mereka menyuap makanan, menikmati. Sedangkan Billa makan dengan lahap sejak tadi, tak ingin ikut komentar, jawabannya akan selalu enak, enak dan enak.
“Bagaimana rasanya?” tanya Ardhen dengan wajah berbinar.
“Tidak buruk.” jawab Arsen. Ardhen mendengus, ia selalu tidak suka mendengar jawaban dari kakak pertamanya itu. Selalu menyebalkan.
“Ini sangat enak Adik, aku selalu suka masakanmu daripada masakan Mom dan Miss,” sahutnya dan melambatkan menyebut Mom dan Miss.
“Hei, aku mendengarnya, Bocah!”
Hahahaha! Mereka malah tertawa mendengar sahutan Billa.
“Bagaimana Daddy?” Ardhen menanti jawaban Jimi.
“Seperti kata Arhen, selalu enak. Kalau Daddy paling suka daging ini.” jawabnya tersenyum dengan menunjuk daging yang dilapisi keju.
“Makasih, Daddy.” Ia tersenyum, kemudian duduk di kursinya.
“Wah, kalian sudah datang. Lama menunggu?” tanya Kinah yang baru saja datang.
“Kemana saja kamu, baru bangun tidur jam segini?” Billa menoleh pada Kinah yang baru saja menghenyakkan pantatnya di kursi.
“Lihatlah, kamu sekarang sudah sangat gemuk, sudah seperti emak-emak banyak anak.” Billa mengomel, Arhen mengangguk setuju.
“Emang aku emak-emak banyak anak, nih sudah punya tiga putra.” jawabnya polos. Ia mengambil piring, lalu menyendok makanan.
“Kamu ini, sudah aku ingetin, masih saja membandel. Dandan biar cantik, anak-anakmu tampannya minta ampun kayak bule. Nah, kamu kayak emak-emak komplek.” Masih mengomel.
“Aku, 'kan emang tinggal di komplek perumahan. Jadi, emang emak-emak komplek dong.” sahut Kinah lagi dengan polosnya.
Arhen malah terkekeh mendengar jawaban Ibunya. Jimi juga ikutan menahan senyum. Sedangkan Billa bersungut-sungut kesal.
...***...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 293 Episodes
Comments
C2nunik987
Sakinah kpn ketemu ayah bule dr anak anaknya 👻👻👻
2025-03-14
0
Maura
viaual dong thor
2025-01-23
0
Halu
bocil jaksel
2023-02-06
0